Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pandangan Pertama

Aku terbangun jam dua sore kurang sedikit. Sontak aku tersentak, aku lupa punya janji dengan Naura, sahabatku sejak SD. Hari ini dia memintaku menemaninya membeli kado ulang tahun untuk pacarnya. Tanpa buang waktu, aku bergegas mandi, bersiap-siap, lalu menyalakan motor menuju rumahnya.

Sesampainya di sana, aku menyapa kakak Naura yang membukakan pintu. Beliau tersenyum lalu mempersilakanku langsung masuk ke kamar Naura. Dan benar saja, si pemilik kamar ternyata masih terlelap.

"Haduh... anak ini memang enggak pernah berubah," gumamku dalam hati.

Aku mengguncang pelan badannya. "Nau! Bangun, dong! Jadi pergi enggak? Lihat nih, udah jam berapa?!"

Naura menggeliat, mengucek matanya dengan wajah masih terkumpul setengah nyawa. "Jam berapa sih? Masih ngantuk, Sera..."

"Udah setengah tiga! Lo tahu enggak, gue ngebut banget dari rumah karena ketiduran juga. Pas gue sampai, lo malah masih molor!" omelku.

"Yaudah deh, gue mandi dulu. Tunggu ya," balasnya santai.

"Hmm," sahutku malas.

Selagi Naura mandi, aku merebahkan badan di kasurnya. Kamarnya selalu berantakan sejak dulu. Beruntung dia punya kakak yang sangat perhatian, yang rajin membereskan kamarnya dan memanjakannya. Rumah Naura memang besar dan mewah. Ia hanya tinggal berdua dengan kakaknya yang seorang guru dan belum menikah. Orang tua Naura sudah bercerai dan fokus pada kehidupan masing-masing. Karena berteman sejak SD, aku sudah sangat dekat dengan keluarganya, bahkan kakaknya sudah menganggapku seperti adik sendiri.

Tak lama, Naura keluar dari kamar mandi hanya berbungkus handuk. Dia duduk di sampingku dan mulai mengoceh panjang lebar. Inti ceritanya, dia sedang menaruh hati pada cowok baru di sekolah barunya dan berniat mendekatinya. Padahal, dia masih punya pacar, alasan utama kenapa dia sama sekali tak bersemangat membeli kado hari ini.

Aku memotong ocehan tak berujungnya itu. "Mending lo pakai baju dulu deh. Ngeri gue kalau tuh handuk tiba-tiba lepas. Mana dada lo gede banget lagi."

Naura tertawa lepas. "Yee, kayak enggak pernah lihat aja! Kita kan sering mandi bareng dari kecil!" celotehnya sambil berjalan menuju lemari untuk mencari baju.

Sambil memperhatikannya memilih pakaian, aku memberanikan diri bertanya, "Eh Nau... menurut lo, Ray bahagia enggak ya sama Indah?"

Ray adalah mantan pacarku sewaktu SMP. Dia tinggi, tampan, atlet basket, dan digandrungi banyak perempuan. Kami putus hanya karena sebuah kesalahpahaman. Waktu itu, dia baru saja selesai turnamen luar kota dan ingin sekali bertemu denganku di taman tempat biasa

kami berkumpul. Namun, hari itu orang tuaku sedang bertengkar hebat dan aku sama sekali tidak diizinkan keluar rumah. Ray yang tiba-tiba menelepon saat sudah berada di lokasi tidak mau tahu. Dia menganggapku egois dan tidak menghargai pengorbanannya yang bela-belain datang dalam keadaan lelah. Dia marah besar, lalu memutuskanku begitu saja.

Aku bertanya pada Naura karena mereka berada di sekolah yang sama, bahkan masih aktif di komunitas ekstrakurikuler basket bersama.

Sambil mengenakan bajunya, Naura menoleh. "Yang gue lihat sih ceweknya yang kecintaan banget sama Ray. Kalau Ray-nya ya standar lah, dingin kayak biasa. Lagian kenapa lo enggak balikan aja sih? Kemarin dia nyamperin gue cuma buat nanya-nanya soal lo."

Aku terbelalak kaget. "Seriusan lo? Dia nanyain apa?"

"Katanya, 'Sera gimana? Di sekolah barunya dia ada barengannya enggak? Kenapa dia enggak satu sekolah sama lo?' Gitu," tiru Naura.

"Terus lo jawab apa?" tanyaku penasaran.

"Ya gue jawab aja, 'Dia masih hidup. Mending lo buka blokiran WA-nya terus tanya langsung ke orangnya.' Habis itu langsung gue tinggalin," jawab Naura santai. "Gue pikir sih dia sebenarnya belum move on dari lo."

Aku mendengus ragu. "Kalau belum move on, kenapa dia udah punya pacar baru?"

"Ya mungkin cuma buat pelarian," sahut Naura cuek.

"Gila lo."

Kami memang terpisah sekolah sekarang. Naura masuk ke sekolah tempat kakaknya mengajar, sementara aku di sekolah lain.

Sore itu berjalan cepat. Aku hanya menemani Naura membeli kemeja untuk pacarnya, lalu kami langsung bersiap pulang.

"Lo enggak mau mampir dulu, Ser? Gue masih banyak cerita nih," tawar Naura saat kami berada di parkiran.

"Entar deh, hari Sabtu gue ke rumah lo lagi," janjiku.

"Awas ya kalau bohong!"

"Iya, rewel. Sini helmnya."

Naura menyerahkan helm padaku, lalu aku menyalakan mesin motor.

"Hati-hati, Ser! Makasih ya!" teriak Naura melambaikan tangan saat aku mulai melaju meninggalkan lokasi.

Sesampainya di rumah, aku memarkirkan motor di garasi dan bergegas masuk ke kamar. Selesai mandi dan bersiap tidur, kubuka ponselku, hari masih menunjukkan pukul delapan

malam. Jariku meluncur menyusuri galeri foto, terhenti pada deretan kenangan bersama Ray dulu. Jujur, ada rasa bersalah dan hampa yang tiba-tiba menyelusup. Aku merasa bersalah pada Ray, berharap dulu dia bisa lebih memahami keadaanku. Aku juga merasa hampa karena tak ada lagi pesan romantis atau seseorang yang cemas menanyakan kabarku.

Lalu kubuka media sosial, dan terlihat Indah, pacar baru Ray, memosting foto berdua dengan Ray lengkap dengan sematan namanya. Aku tersenyum tipis. "Indah baik, cantik... mana mungkin Ray enggak bahagia sama dia. Sepertinya aku enggak perlu mengkhawatirkannya lagi," bisikku dalam hati.

Kutaruh ponsel di meja, beranjak dari kasur lalu mengambil gitar kesayanganku. Gitar akustik yang ku namai Robert, hadiah ulang tahun dari Ray tahun lalu. Kupeluk gitar itu dan kupetik senarnya perlahan. Tanpa terasa, bibirku melantunkan sepenggal lirik lagu:

"Saat kau tak ada... atau kau tak di sini, terpenjara sepi kunikmati sendiri. Tak terhitung waktu 'tuk melupakanmu, aku tak pernah bisa, aku tak pernah bisa..."

Keesokan harinya di sekolah, suasana kelas ramai dan riuh seperti biasa. Pada jam pelajaran Seni Budaya, Bu Rani meminta kami membentuk kelompok bebas untuk tugas musikalisasi puisi. Tentu saja aku langsung berkumpul dengan lima kawanku: Celine, Dea, Irma, Kania, dan Dini.

"Baik Anak-anak, sekarang silakan rundingkan dengan kelompok masing-masing ya. Ibu tunggu hasilnya minggu depan," ucap Bu Rani.

"Baik, Bu!" jawab kami serentak.

Kami berenam langsung berdiskusi menentukan konsep dan lokasi latihan.

"Di rumahku aja gimana?" tawar Kania.

Kami semua langsung setuju. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, kami berangkat bersama-sama menuju rumah Kania.

Sesampainya di sana, kami disambut hangat oleh mama Kania yang ramah dan tampak masih muda. Kania juga punya seorang adik yang masih SD.

"Ayo, ke atas aja kerja kelompoknya!" ajak Kania menuntun kami ke kamarnya di lantai dua.

Rumah Kania besar dengan arsitektur gaya Belanda klasik. Kamarnya memiliki balkon luas yang menghadap ke halaman depan dan jalanan kompleks. Udara di sana terasa sangat sejuk.

Kami duduk melingkar di lantai kamar Kania.

"Ada yang bisa main alat musik enggak?" tanya Celine.

"Aku bisa sedikit, main gitar," jawabku.

Dea menimpali, "Wah, bagus tuh! Yaudah gini aja, Sera main gitar, aku sama Celine baca puisi. Nah, Irma, Dini, sama Kania yang nyanyi."

"Idih... enggak mau! Malu, aku mau nyanyi aja ah!" protes Celine.

"Aku juga enggak mau baca puisi, ah. Mau nyanyi aja, malu!" tambah Kania.

Dea menoleh ke dua teman lainnya. "Kalau Irma sama Dini gimana? Mau tukeran enggak?" Dari raut wajah mereka, aku yakin mereka bakal menolak. Dan benar saja, keduanya kompak menggeleng.

"Nia, haus nih! Minta minum dong, hehe," celetuk Celine memecah perdebatan.

"Yaudah sebentar ya, aku turun dulu," jawab Kania lalu beranjak keluar.

Selagi menunggu Kania, kami berlima kembali berdiskusi. "Gini aja deh," usulku. "Gimana kalau aku sama Dea yang baca puisi, terus kalian berempat yang nyanyi?"

"Terus yang main gitar siapa, Ser?" tanya Celine.

"Aku ambil dua peran: main gitar sekaligus baca puisi. Senang kalian?" ledekku bercanda.

Sontak semuanya tertawa. Sambil menunggu Kania, kami mengobrol banyak hal dan saling melempar candaan. Tak lama, Kania kembali bersama mamanya membawa nampan berisi minuman dan camilan.

Mama Kania menaruh camilan di tengah-tengah kami sambil tersenyum hangat. "Semuanya sudah pada makan belum?"

Tentu saja kami kompak menjawab, "Belum, Tante! Hahaha."

"Kalau gitu Tante masakin dulu ya, tunggu sebentar," ujar mama Kania ramah.

"Yeay! Makasih, Tante!" seru Celine semangat.

"Makasih banyak ya, Tante," timpalku.

Sambil menunggu masakan matang, aku beranjak melangkah menuju balkon. Kuamati area di sekitar rumah Kania. Suasananya masih sangat asri, dipenuhi bangunan-bangunan lama yang rindang dan tenang.

Pandanganku mendadak terhenti pada sosok laki-laki di halaman bawah yang sedang mengeluarkan motor hitam dari garasi. Motor itu terasa tidak asing. Laki-laki itu memegang helmnya, lalu mendongak dan tak sengaja menatap ke arahku yang berdiri di balkon.

Dia tersenyum tipis ke arahku, dan refleks aku pun membalas senyuman itu. Setelah itu, ia mengenakan helmnya, menyalakan mesin motor, lalu melaju keluar kompleks. Aku terus memperhatikan punggungnya sampai sosoknya menghilang di belokan jalan.

Tiba-tiba Kania mengagetkanku dari belakang, "Wey! Ciye, lagi lihatin siapa tuh? Itu Mas Adrian, kakak aku!"

1
wlnnn
gemessss deh adrian😍
wlnnn
gemes deh adrian/Drool/
Sunflower Girl
lanjutkan
Fellyc
unchhh😍
Fellyc
semangat yaa
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!