Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Hamparan padang rumput perbatasan kini dipenuhi ribuan tombak, perisai baja, dan busur panah yang berserakan di atas tanah.
Tiga ribu prajurit musuh telah kabur meninggalkan medan perang, namun di punggung bukit karang di sebelah barat, sekitar lima puluh pemanah elit Sekte Serigala Besi masih bersembunyi di balik celah bebatuan.
Gu Ran berdiri di tepi jurang bekas hantaman pedang, memandang ke arah lereng bukit tersebut.
“Rupanya masih ada sisa pemanah di atas sana,” gumam Gu Ran pelan sambil merapikan ikatan sandal jeraminya.
Tanpa menunggu para tetua di atas benteng turun, Gu Ran mulai melangkah santai menaiki jalan setapak berbatu menuju lereng bukit tempat para pemanah bersembunyi.
Song Pojun yang baru saja menyeka darah di lehernya tersentak kaget melihat punggung pemuda itu menjauh.
“Nak! Cucu emasku, mau ke mana kau?!” teriak Song Pojun panik sambil berlari mengejar dari belakang. “Di atas sana masih banyak bajingan bersenjata! Kembali ke dalam benteng!”
Gu Ran tidak berhenti. Ia terus berjalan dengan tangan terlipat di belakang punggung, mengabaikan seruan sang Leluhur.
Di balik bebatuan bukit karang, komandan pemanah musuh melihat pemuda berambut putih itu melangkah sendirian tanpa pengawalan.
“Bocah itu datang sendiri!” bisik komandan pemanah dengan mata merah menyala penuh dendam. “Bidikan serentak ke dada dan kepalanya! Lepaskan!”
SIUUU! SIUUU! SIUUU!
Puluhan anak panah berujung besi hitam yang telah diolesi racun katak berbisa melesat menembus udara, mengarah lurus ke dada dan tenggorokan Gu Ran.
Gu Ran tidak menghindar. Ia bahkan tidak mempercepat langkahnya, hanya mengangkat wajahnya menatap hujan panah yang meluncur turun.
WUSSS!
Sebuah bayangan abu-abu melesat lebih cepat dari embusan angin badai.
Song Pojun tiba-tiba muncul tepat di depan dada Gu Ran, merentangkan kedua lengan jubahnya yang lebar bagai sayap burung raksasa.
TANG! TANG! TANG!
Dua puluh anak panah beracun menghantam kain jubah tebal sang Leluhur, patah berkeping-keping menjadi serpihan kayu dan serbuk besi. Song Pojun memutar tubuhnya di udara, menendang sisa anak panah yang meluncur ke arah kaki Gu Ran hingga terpental jauh ke jurang.
“Bajingan-bajingan tengik!” raung Song Pojun dengan wajah memerah menahan marah, menatap ke arah bebatuan di atas bukit. “Beraninya kalian memanah ke arah cucuku!”
Gu Ran melirik ke samping jubah sang Leluhur yang kini berlubang-lubang kecil.
“Tangkisan yang bagus, Orang Tua,” puji Gu Ran datar. “Tapi di sebelah kanan sana kelihatannya masih ada pemanah yang membidik punggungku.”
Gu Ran sengaja berbelok ke arah semak belukar yang dipenuhi jebakan duri beracun.
Mata Song Pojun melotot liar melihat langkah kaki Gu Ran yang hampir menginjak paku jebakan.
“JANGAN INJAK DI SITU!”
Sang Leluhur melompat dengan gerakan akrobatik yang kikuk, menyapu tanah dengan telapak kakinya demi menyingkirkan paku-paku berkarat tersebut sebelum sol sandal jerami Gu Ran menyentuhnya.
Di saat yang sama, tiga anak panah tersembunyi melesat dari balik pohon cemara.
Song Pojun tidak sempat menggunakan pedangnya. Ia langsung menyodorkan telapak tangan kirinya sendiri untuk menangkap ketiga mata panah beracun tersebut tepat tiga inci di depan pelipis Gu Ran.
Krak!
Mata panah besi itu remuk di dalam genggaman sang Leluhur. Ujung duri panah menggores sedikit kulit telapak tangan Song Pojun, membuat sang petapa meringis perih.
Melihat aksi gila tersebut, lima puluh pemanah musuh di atas bukit membeku di tempat.
Busur kayu di tangan mereka terlepas jatuh ke tanah. Mereka saling memandang dengan wajah pucat tanpa warna, tidak mampu mencerna pemandangan di depan mata mereka.
Seorang dewa pedang perkasa di puncak Alam Transformasi Jiwa yang ditakuti seluruh Domain Selatan, rela melompat-lompat di tanah berlumpur, menangkap panah beracun dengan tangan kosong, dan menyapu semak duri hanya agar seorang pemuda fana tidak tergores kerikil.
“M-Menyerah…” bisik komandan pemanah seraya merangkak keluar dari balik batu, bersujud mencium tanah dengan celana yang basah oleh air kencingnya sendiri. “Kami menyerah! Tolong jangan bunuh kami!”
Song Pojun berdiri terengah-engah di samping Gu Ran.
Jubah abu-abunya kini robek compang-camping, janggut putihnya kotor berlumur debu tanah dan jelaga arang.
Sang pendiri sekte berusia tujuh ratus tahun itu memegangi dadanya yang berdenyut ngilu, menatap Gu Ran dengan mata berkaca-kaca menahan kepedihan batin yang tak tertahankan.
Di dalam benaknya, Song Pojun menangis meraung-raung: Aku ini dewa pelindung pegunungan… kenapa hari ini nasibku menjadi tameng daging pemanah liar?!
Gu Ran menepuk debu di bahu jubah Song Pojun dengan lembut, lalu tersenyum tipis.
“Kerja bagus, Orang Tua. Nanti sore kuseduhkan teh melati hangat.”