"Dia sudah kembali, ayo kita bercerai."
Menjadi istri pengganti untuk Dokter Zidan, bukanlah keinginan Humaira. Namun saat pernikahan tantenya berlangsung, wanita itu tidak datang. Demi mempertahankan harga diri keluarga, dia ditunjuk untuk menggantikan tantenya menjadi mempelai wanita.
Tak ada yang tahu: sebenarnya Humaira adalah wanita bernoda, karena pernah ditiduri oleh Dokter Zidan. Namun miris, Zidan tak tahu bahwa wanita itu adalah Humaira.
Dan takdir justru berpihak padanya. Dimana, Humaira malah berakhir menjadi istri pengganti bagi pria itu.
Selang beberapa minggu pernikahan mereka, kekasih Zidan akhirnya kembali. Dan Humaira memutuskan untuk bercerai. Tanpa ada yang tahu, dia sudah mengandung anak Dokter Zidan.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Zidan akan setuju bercerai agar bisa kembali pada kekasihnya? Atau dia memilih tetap mempertahankan Humaira—yang baginya hanyalah istri pengganti sementara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Sudah Dilunasi?
Perlahan, Zidan mulai membuka mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa pening yang menghantam kepalanya serta seluruh tubuhnya yang terasa kaku dan pegal.
Samar-samar, telinganya menangkap suara isakan tangis.
Saat kesadarannya mulai terkumpul, Zidan mengedarkan pandangan. Ia merasa tidak asing dengan ruangan itu—adalah kamar apartemen Melodi.
Pria itu mendadak panik ketika menyadari dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun di balik selimut.
Zidan menoleh ke arah sumber suara. Di sudut ranjang, tampak Melodi sedang duduk meringkuk memeluk lututnya sendiri sembari menangis.
"Mel... Melodi?" panggil Zidan berdebar-debar berpikir apa yang sudah dia lakukan?
Melodi tak menjawab, ia hanya semakin memperkeras tangisnya, seperti wanita yang sangat hancur.
"Apa... apa yang terjadi?" Zidan berusaha mengingat-ingat kejadian semalam, namun ingatannya samar, tak bisa ingat apa-apa.
"Kau memaksaku, Mas... aku rusak..." Lirih Melodi dengan tubuh bergetar.
Zidan membeku. Dia melihat ke arah Melodi yang juga hanya ditutupi selimut. Dimana kulit putih gebunya terlihat jelas.
"Tidak... aku tidak merasa kita melakukan itu..." Menggeleng keras. "Melodi, aku tahu kita tidak melakukan apapun!" Zidan langsung menolak, karena memang dia merasa tidak menyentuh Melodi.
"Kau tidak percaya padaku?!" jerit Melodi histeris, menatap Zidan dengan mata sembap penuh yang dibuat-buat. "Lihat itu, Mas Zidan! Lihat!"
Melodi menunjuk ke arah sprei putih di bawah mereka. Di sana, terpercik bercak darah segar yang membekas jelas.
Zidan terpaku tak bisa berkata-kata. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya menegang kaku. Ia tidak menyangka—bahkan tidak percaya—bahwa ia sanggup merusak wanita yang dia cintai dalam keadaan mabuk.
Meskipun sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Zidan merasa sama sekali tidak pernah menyentuh Melodi semalam.
Namun, melihat raut wajah Melodi yang begitu hancur dan histeris, ditambah bukti darah di atas sprei, Zidan mulai ragu.
Rasa bersalah dan cinta mereka yang sudah terjalin selama tujuh tahun membuat Zidan tidak tega.
Pria itu mengalah dan berusaha merengkuh bahu Melodi.
"Maafkan aku, Melodi... Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya..."
"Aku akan bertanggung jawab. Aku janji." Ujar Zidan.
Melodi menepis tangan Zidan, menatapnya dengan raut wajah terluka. "Bertanggung jawab bagaimana, Mas?! Kamu bahkan masih berstatus sebagai suami Humaira! Kamu terus-menerus menunda menceraikan dia! Lalu bagaimana kita bisa menikah!"
Melodi kembali menangis memeluk lututnya.
"Aku menyesal sekali... Kalau tahu akan jadi seperti ini, aku tidak akan mau menjemputmu," ujar Melodi sengaja, memasang raut hancur agar Zidan semakin merasa bersalah dan segera bertindak.
"Semalam, Davin yang memanggilku untuk menjemputmu. Aku ingin mengantarmu pulang ke rumahmu, tapi aku takut orang rumah khawatir melihat keadaanmu yang mabuk berat. Makanya aku membawamu ke sini," lanjut Melodi dengan nada bergetar.
"Tapi aku tidak menyangka kau malah menyakitiku... Kau merusakku!"
Melodi sangat pintar bersandiwara.
Benar saja, raut wajah Zidan langsung berubah drastis. Penyesalan langsung terlihat jelas diwajahnya.
Ia benar-benar merasa bersalah dan terpukul karena telah merusak wanita di hadapannya.
"Maafkan aku, Sayang... Aku benar-benar minta maaf," ujar Zidan panik, memohon ampun. "Aku janji. Pokoknya aku akan segera menceraikan Humaira. Setelah itu, kita akan menikah."
Melodi menatap Zidan.
"Kamu... tidak cuma asal janji saja, kan?" Tanya Melodi, masih berpura-pura terisak.
"Tidak, aku janji! Kamu tidak perlu khawatir," tegas Zidan melunakkan suaranya.
Mendengar janji itu, Melodi akhirnya melunak dan langsung memeluk tubuh Zidan—menyembunyikan senyum kemenangan yang terkembang lebar di balik pundak pria itu.
Namun, raut wajah Zidan justru sebaliknya. Karena itu tandanya dia harus benar-benar melepaskan Humaira.
______
Dikediaman keluar Zidan.
Humaira melangkah turun menuju lantai bawah.
Lalu masuk ke arah dapur, hendak mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya. Namun, lagi-lagi ia harus mengelus dada—tidak ada makanan satu pun yang disajikan di atas meja.
Saat Humaira berbalik dan berniat untuk pergi mengabaikan rasa laparnya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang menghampirinya.
"Eh, mau ke mana?" tegur Siska dengan nada memerintah. "Masak dulu sana baru pergi kerja!"
Siska berani berbuat sekasar itu karena dia tahu kakaknya, Zidan, sedang tidak ada di rumah untuk membela Humaira.
"Kamu bisa masak sendiri. Kamu kan punya tangan." Jawab Humaira.
Siska tersentak kaget mendengarnya. Ia tak menyangka Humaira yang biasanya diam kini berani melawannya.
"Kamu berani ya melawan aku?!" Ujar Siska dengan napas memburu, tidak terima atas penolakan Humaira.
Humaira menghentikan langkahnya sejenak, membalikkan badan dengan raut tenang namun dingin. "Maaf, Mbak. Tapi aku harus segera ke rumah sakit."
Tanpa menunggu jawaban dari adik iparnya, Humaira berbalik dan melangkah pergi, sama sekali tidak peduli pada Siska yang berdiri geram.
_____
Begitu Humaira sampai di area parkiran, matanya refleks mengedar mencari keberadaan mobil Zidan.
Semalam Zidan pergi dan belum juga pulang ke rumah sampai pagi. Dan ternyata mobil Zidan juga belum ada di parkiran rumah sakit. Menandakan suaminya belum tiba disana.
Ke mana dia? batin Humaira bertanya-tanya.
Mengabaikan pikiran sesat itu, Humaira melangkah masuk, hingga sampai di ruang VIP tempat adiknya dirawat.
Ibunya sudah tidak ada di sana karena harus pulang lebih awal untuk kembali membuat dan berjualan kue demi menopang kebutuhan harian.
Di dalam ruangan, Nabila tampak sudah bangun dan kondisinya terlihat sedikit mendingan.
Namun, Humaira tetap cemas. Karena dalam dunia medis belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan penyakit lupus. Penyakit autoimun itu secara perlahan merusak sistem kekebalan dan organ tubuh adiknya dari dalam.
Humaira tersenyum menguatkan diri, melangkah mendekat. "Bagaimana perasaanmu, Dek? Sudah merasa lebih baik?"
"Iya, Kak," jawab Nabila dengan suara serak, tapi tetap tersenyum.
Tapi tiba-tiba raut wajah gadis muda itu berubah cemas. "Kak... aku mau pulang saja. Aku takut kalau nanti kita tidak bisa membayar biaya rumah sakit ini."
Permintaan Nabila membuat Humaira teringat dengan ucapan Dokter Zidan baru-baru ini, yang memberitahukan bahwa kedua ginjal adiknya sudah mulai ikut rusak berpengaruh oleh penyakitnya.
Wajahnya redup. Jika adiknya tetap di ruang VIP itu, biaya akan semakin membengkak dan tentu saja semakin mengikatnya tetap disisi Zidan. Dia tidak mau itu, apa lagi melihat sikap Zidan yang sepertinya tidak bisa memilih diantara dia dan Melodi. Humaira tak ingin terus terikat dan menjadi bayang-bayang orang ketiga diantara Zidan dan tantenya.
Namun jika membawa Nabila keluar, ia sangat takut kondisi adiknya tiba-tiba drop dan memburuk.
"Nanti... kita cari solusinya sama-sama ya," Humaira berusaha menenangkan.
"Tapi Kak, aku serius," potong Nabila dengan mata berkaca-kaca. "Aku sudah tidak apa-apa. Di sini aku cuman akan merepotkan Kakak sama Ibu. Kakak tahu sendiri, penyakitku ini penyakit yang mustahil sembuh. Kenapa aku tidak di rumah saja? Di rumah menunggu waktu... daripada harus di sini bayar mahal-mahal."
"Ssssh! Kamu jangan ngomong seperti itu!"
Mata Humaira basah. Tak bisa menahan diri, ia langsung menarik dan memeluk erat tubuh kurus adiknya.
Hatinya mencelos mendengar kata-kata pasrah Nabila. Humaira menangis dalam diam, benar-benar bingung dan hancur menghadapi jalan buntu di hidupnya.
Setelah merasa sedikit tenang. Humaira berpamitan pada adiknya untuk keluar dari ruangan itu.
Humaira turun ke bawah, berniat memeriksa rincian tagihan administrasi Nabila. Ia perlu tahu berapa besar biaya yang sudah berjalan selama adiknya dirawat di sana, agar bisa memperhitungkan langkah selanjutnya.
Humaira mendatangi loket bagian administrasi dan keuangan rumah sakit.
"Permisi, Mbak," sapa Humaira. "Saya mau memeriksa rincian tagihan administrasi atas nama pasien Nabila di ruang VIP."
Petugas administrasi itu tersenyum dan mengangguk, lalu memasukkan data pasien ke dalam sistem komputer di hadapannya. Jemarinya menari di atas keyboard selama beberapa saat sebelum menghentikan gerakannya.
"Pasien atas nama Nabila, ya?" tanya petugas itu memastikan.
"Iya, Mbak. Berapa ya total biaya perawatan dan pengobatan yang sudah berjalan sampai hari ini?" tanya Humaira dengan dada berdebar cemas.
Petugas itu menatap layar monitornya kembali, lalu menggeleng pelan. "Untuk seluruh biaya perawatan, kamar VIP, obat-obatan, hingga tindakan medis atas nama Pasien Nabila... semuanya sudah dilunasi, Mbak."
Humaira terperanjat. "Sudah dilunasi? Mbak tidak salah lihat?"
"Tidak, Mbak. Di sistem keterangannya memang sudah lunas, bahkan termasuk deposit untuk biaya perawatan beberapa hari ke depan," jelas petugas itu yakin.
"Siapa yang melunasinya, Mbak?" tanyanya cepat.
Petugas itu mengecek kembali catatan transaksi pada sistem. "Mengenai hal itu, yang membayarnya berpesan agar kami tidak memberitahukan identitasnya kepada siapa pun, Mbak. Minta agar namanya dirahasiakan."
Humaira terdiam, bingung memikirkan siapa sosok yang tiba-tiba menanggung seluruh biaya perawatan adiknya?
Humaira berpikir, apa itu Dokter Zidan? Tapi mana mungkin, tempat itu jelas-jelas rumah sakit miliknya. Jadi buat apa Zidan melakukan itu?
Lalu siapa? Batin Humaira diliput rasa penasaran luar biasa.
dulu th 2018 aku pernah baca si cowok gay awal aku rada" pas baca TK kira BL story 🤦😂