Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:342.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Levia yang Berbeda

Setelah sedikit lebih tenang, Vivian membersihkan diri.

Setelahnya, ia berdiri di depan lemari pakaian Levia. Begitu pintunya dibuka, ia langsung menghela napas panjang.

Hampir semua pakaian di dalamnya berukuran besar dengan model yang menurutnya terlalu monoton. Potongannya longgar tanpa membentuk siluet tubuh, sementara perpaduan warnanya terlihat kurang serasi.

Sebagai seorang desainer, nalurinya langsung terusik.

"Astaga... siapa yang milihin baju-baju ini? Bukannya bikin pemakainya lebih percaya diri, modelnya malah bikin tubuh terlihat makin besar."

Ia menggeleng pelan.

"Sudahlah. Ini cuma sementara. Setelah tubuh ini langsing, aku bakal mendesain pakaian yang benar-benar cocok buat Levia."

Setelah memilih pakaian yang menurutnya paling layak dikenakan, Vivian segera berganti baju.

Tok. Tok. Tok.

"Via, ini Ayah."

Suara Bram Gultom terdengar dari balik pintu. Vivian segera membukanya.

Di depan pintu, Bram tersenyum hangat sambil membawa secangkir teh jahe yang masih mengepulkan uap.

"Ayah buatin teh jahe. Biar badanmu hangat." Bram langsung masuk, lalu meletakkan minuman itu di meja nakas.

Vivian terdiam sejenak. Entah kenapa, dadanya terasa menghangat.

"Inikah rasanya diperhatikan oleh seorang ayah?" batinnya.

Di kehidupan sebelumnya, ayah kandungnya hanya tahu meminta uang. Jangankan membuatkan minuman hangat, menanyakan apakah ia sudah makan saja tidak pernah. Matanya mendadak terasa panas.

"Terima kasih, Yah." Vivian menerima cangkir itu dengan senyum tulus.

"Mulai sekarang... karena aku hidup di tubuh Levia, aku bakal nganggep beliau sebagai ayahku." Tekadnya dalam hati. "Lagipula, siapa yang gak mau punya ayah sebaik ini?"

Bram justru terdiam menatap putrinya. Biasanya, setelah melakukan hal nekat seperti ini, Levia akan menangis sambil mengadu bahwa Vandra tetap bersikeras menceraikannya. Namun sekarang, putrinya justru tampak tenang. Sorot matanya pun terasa berbeda.

"Yah?" Vivian memiringkan kepala. "Kenapa Ayah lihatin aku kayak gitu?"

Bram tersenyum tipis lalu menggeleng. "Nggak apa-apa."

Belum sempat ia berkata lagi, Herman muncul di depan pintu. "Pak Bram, dokter sudah datang."

Bram mengangguk, lalu kembali menatap Vivian. Meski ragu, ia tetap bertanya, "Via, kita cek dulu kesehatanmu, ya?"

Vivian berpikir sejenak. "Diperiksa dokter? Bagus juga," pikirnya. "Seenggaknya aku bisa tahu apakah tubuh ini memiliki penyakit akibat obesitas."

"Iya, Yah," jawab Vivian akhirnya.

Untuk kesekian kalinya Bram terdiam. Putrinya benar-benar berbeda. Biasanya Levia paling benci diperiksa dokter. Sekarang justru mengiyakan tanpa protes sedikit pun.

"Apa karena kejadian di sungai tadi benar-benar mengubahnya?"

"Pak Gultom?"

Suara Herman membuyarkan lamunannya.

"Ah, iya," sahut Bram sedikit tersentak. " Silakan panggil dokternya masuk."

Tak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun memasuki kamar sambil membawa tas hitam berisi peralatan medis. Rambutnya mulai memutih, tetapi sorot matanya masih tajam.

"Selamat sore, Nona Levia."

Levia tersenyum tipis. "Selamat sore, Dok."

Dokter itu sempat terdiam. Biasanya, jangankan menyapa. Levia selalu mengeluh setiap kali ia datang.

"Pak Gultom, biar saya periksa Nona Levia dulu."

Bram mengangguk. "Baik, Dok."

Ia memberi isyarat kepada Herman untuk keluar bersamanya.

Pintu kamar pun tertutup.

Dokter mulai memeriksa tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, hingga memeriksa pupil mata Levia.

"Hasil pemeriksaan awalnya cukup baik. Hanya saja tubuh Anda masih lemas karena hampir tenggelam."

Levia mengangguk pelan. "Dok, boleh saya tanya sesuatu?"

"Tentu."

"Selain obesitas, apa saya punya penyakit lain? Misalnya diabetes, asam urat, kolesterol, atau gangguan jantung?"

Tangan dokter yang sedang mencatat hasil pemeriksaan langsung berhenti. Ia menatap Levia beberapa detik. Pertanyaan seperti itu tidak pernah keluar dari mulut wanita ini.

"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

Levia tersenyum canggung. "Saya cuma... ingin mulai menjaga kesehatan."

Dokter itu masih tampak heran, tetapi kemudian menjawab dengan jujur. "Sejauh hasil pemeriksaan rutin terakhir, Anda belum menderita diabetes maupun penyakit jantung. Namun, berat badan Anda memang meningkatkan risikonya. Kalau pola hidup tidak berubah, kemungkinan terkena penyakit metabolik di masa depan cukup besar."

"Syukurlah." Levia mengembuskan napas lega. "Lalu... kalau saya ingin diet, apa yang harus saya lakukan?"

Kali ini dokter benar-benar menurunkan bolpoinnya. "Nona... Anda ingin diet?"

"Iya."

"Bukan karena Kapten Vandra?" tanyanya penuh selidik.

Levia spontan menggeleng. "Bukan." Ia menjawab dengan mantap. "Saya ingin sehat."

Dokter tersenyum tipis. "Itu alasan yang jauh lebih baik."

Ia lalu menjelaskan pola makan yang seimbang, mengurangi makanan tinggi gula dan lemak, memperbanyak protein serta sayur, dan mulai berolahraga secara bertahap agar tubuh tidak kaget.

Levia mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mengangguk sambil mengingat setiap penjelasan dokter.

"Oh ya, Dok."

"Ya?"

"Ayah saya sehat, 'kan?"

Dokter mengernyit. "Maksud Anda Pak Gultom?"

"Iya," jawab Vivian. "Saya lihat beliau sering bekerja. Umurnya juga sudah tidak muda lagi. Saya tidak mau Ayah sakit."

Dokter terdiam. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Levia tanpa berkedip. Sebagai dokter keluarga, ia tahu betul bagaimana Bram Gultom selalu mengutamakan putrinya.

Bahkan saat Levia berkali-kali membuat ulah, pria itu tidak pernah benar-benar marah. Sebaliknya, Levia hampir tidak pernah bertanya tentang kesehatan ayahnya. Hari ini, justru Levia sendiri yang menanyakannya.

"Pak Gultom memang memiliki tekanan darah tinggi dan kolesterol."

Senyum di wajah Levia perlahan memudar. "Apa itu berbahaya?"

"Selama beliau menjaga pola makan, rutin minum obat, mengurangi stres, dan berolahraga ringan, kondisinya bisa tetap terkontrol."

Levia mengangguk pelan. "Nanti saya bantu mengawasi beliau."

Dokter tersenyum hangat. "Itu akan sangat membantu."

 

Di luar kamar.

Bram Gultom mondar-mandir dengan wajah gelisah.

Herman hanya memerhatikan dari balik kacamatanya sambil berdiri tenang.

"Her, menurutmu Via kenapa?"

Herman menggeleng. "Saya juga belum tahu, Pak."

"Dia berubah drastis." Bram berhenti melangkah. "Jujur... aku senang melihat perubahan itu. Tapi... Entahlah. Rasanya seperti melihat Via, tapi juga bukan Via yang biasanya."

Herman tersenyum kecil. "Mungkin kejadian tadi membuat Nona Levia tersadar."

Bram menghela napas panjang. "Atau..." Ia menatap pintu kamar dengan wajah serius. "Jangan-jangan anakku kesurupan hantu air."

Herman sampai berkedip beberapa kali. "Pak... Bapak biasanya paling tidak percaya hal-hal mistis."

"Iya, sih," sahut Bram. "Tapi perubahan Via terlalu aneh."

Herman menahan tawa. "Kalau benar kesurupan, masa hantunya malah membuat Nona berubah jadi lebih baik?"

Bram ikut terdiam. "Iya juga, ya."

"Kalau begitu..." Herman mengulum senyum. "...mudah-mudahan hantu itu betah."

"Her!"

Herman langsung terkekeh pelan. "Bercanda, Pak."

Akhirnya Bram ikut tersenyum meski hanya sesaat.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Dokter keluar sambil melepas kacamatanya.

Bram segera menghampiri. "Bagaimana keadaan putri saya, Dok?"

 

...✨"Tekad untuk berubah lahir bukan karena ingin dipuji orang lain, melainkan karena menghargai hidup yang masih diberi kesempatan."...

..."Kasih sayang orang tua sering kali terasa biasa, sampai suatu hari kita menyadari betapa berharganya perhatian sederhana yang mereka berikan."...

..."Perubahan terbesar bukan terjadi saat hidup memberimu kesempatan kedua, melainkan saat kamu memutuskan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama."✨...

.

To be continued

1
Lucyana H
risa harus tanggung dgn segala resikonya karna emang dia yg salah,harusnya ga gitu jendral,anak salah kok masih di bela
Lucyana H
rasain Risa kena batunya,nikma aja hotel prodeo bareng si Ninis
Lucyana H
Risa jd cewek jgn murahan atuh..kmu itu dokter,anak jendral ,kmu jg berpendidikan pasti tau etika dong,masa ngejar "suami orang ,emang ga malu kmu,udah putus kalo ya urat malunya,salah di vandranya sih..knp ngasih harapan dulunya
Lucyana H
vandra harusnya masalah rumah tangga kmu jgn sampe denger sm orang luar,apalagi si Risa katanya seorang dokter,bapanya jendral masa dtg ke rumah yg masih jd suami orang,pantes jg ga,
Lucyana H
ih..Ninis ga jelas bgt,....ngarep bgt jd si levia...mimpi aja Lo nis
Lucyana H
dih siapa Lo Ninis sadar.....Lo tuh cuma Pembokat...ga usah ngarep .....cih ngehalu
Siska Safitri
lanjut
Sulati Cus
👍🏻
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Ninis ini masih saja ingin mencuri desain Levia. Otaknya perlu dicuci ini orang. Tak ada rasa bersyukur telah ditolong Gultom untuk bekerja dan tinggal di rumah Gultom.

Mimpi kali Ninis. Mau menjatuhkan Levia.

Ninis sendiri nanti yang nyungsep terjerembab karena ditendang keluar dari rumah Gultom.
anonim
Risa jangan berharap banyak pada Vandra yang masih belum mantap ingin menceraikan Levia.

Bagaimana caranya mau bikin Vandra mengurungkan niatnya untuk menceraikan Livia. Niat banget nih Risa.
anonim
Risa ini sudah disikapi dingin Vandra masih juga berharap.

Vandra tidak memberi peluang kepada Risa untuk membahas masa lalu.

Risa mau bikin Vandra cemburu atau marah ketika memberitahu tentang Levia yang menjalin kerjasama dengan Andri Mahesa.

Risa ngomongnya mbulet aja. Sudah Risa, kamu nggak ada peluang lagi untuk mendapatkan Vandra.
anonim
Vandra cemburu sama Andri makanya mengingatkan Levia masih istrinya.

Sekarang pusat dunia Vandra adalah Levia. Levia sendiri pusat dunianya Brenda, sudah bukan sang Kapten lagi.
anonim
Vandra menghubungi Levia, cemburu terselubung. Mengingatkan Levia masih istrinya.

Vandra belum bilang mau membatalkan perceraian. Belum punya nyali dia, belum tahu alasannya apa kalau Levia bertanya😁.

Salahnya sendiri kasih surat cerai untuk ditandatangani Levia. Kini menyesal.
anonim
Selama ini Vandra gigih untuk menceraikan Levia. Kini istrinya banyak mengalami perubahan terutama fisiknya dan tidak mengejar dirinya seperti dulu.

Sekarang Vandra tidak ingin kehilangan Levia. Mau membatalkan perceraian. Bingung sendiri jadinya.
anonim
Rekan-Rekan Vandra semakin gencar ngomong tentang Levia dengan segala perubahannya.

Mereka tertawa tanpa merasa dosa sedikitpun. Sedangkan Vandra tidak ikut tertawa. Ingatannya ada pada foto Levia yang tersenyum, berdiri di samping Andri Mahesa.

Vandra semakin diam, semakin nggak karuan rasanya ketika rekan-rekannya semakin gencar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti.

Rekan-rekan Vandra bicaranya semakin bikin Vandra benar-benar galau. Mereka dengan enaknya bicara seperti mengejek Vandra dengan kenyataan yang ada.
anonim
Rekan-rekan Vandra pada membicarakan Levia yang bekerja sama dengan Mahesa retail.

Yang punya Nahesa Retail masih muda, belum menikah pula.

Daun telinga Vandra panas ngga tuh mendengar obrolan rekan-rekannya.

Mereka juga membicarakan Levia di masa sebelum Vandra mendapat tugas tugas ke Libanon.

Vandra hanya diam.
anonim
Vandra membuka Akun Brenda.

Vandra melihat foto Levia sedang berjabat tangan dengan Andri yang dia tidak mengenalnya.

Perasaannya mulai tidak nyaman mengetahui Andri seorang pengusaha muda, belum menikah.

Vandra menyesal ngga setelah melihat foto-foto Levia dengan aktifitasnya dan segala perubahannya.

Belum bercerai namun sudah memberi surat perceraian untuk ditandatangani Levia.

Sepertinya Vandra masih punya harapan untuk bersama Levia yang belum menandatangani surat cerai.
anonim
Risa siap-siap saja menerima kenyataan kalau Vandra tidak jadi menceraikan istrinya yang sekarang jelas lebih menarik, lebih mandiri, punya perusahaan sendiri dan semua perubahan yang terjadi pada Levia.

Dari dulu Risa saja yang mengganggap remeh Levia.
A.R
knp ngk di ganti tuhh namanx calon mantan suami mu,,ntar dia liat teruss kepedeaan Krn km blum bisa move on
A.R
nihh Ninis jatuh cinta kh SM bpknx Levis atau gmna??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!