Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: PERMINTAAN MAAF BRAM DAN PERTEMANAN YANG MENGHARUKAN
Keesokan paginya, Rangga terbangun dengan tubuh yang masih terasa sakit dari pukulan kemarin. Setiap gerakan terasa menyakitkan—wajahnya masih bengkak dan lebam, bibirnya masih robek dengan luka mengering, dan tubuhnya dipenuhi memar berwarna ungu kehitaman di sana-sini. Namun ia tersenyum tipis saat melihat Anisa yang masih tertidur di kursi di samping tempat tidurnya, setia menjaganya semalaman. Gadis itu pasti sangat lelah, pikir Rangga. Ia mengulurkan tangannya dengan susah payah untuk menyentuh rambut Anisa, berterima kasih dalam hati atas kesetiaan dan pengorbanannya.
"Rangga... kau bangun?" Anisa terbangun karena sentuhan itu, matanya masih sembab karena kurang tidur dan menangis semalaman. "Bagaimana perasaanmu? Apa masih sakit?"
Rangga tersenyum, meskipun senyum itu membuat bibir robeknya terasa perih. "Aku baik-baik saja, Anisa. Kau tidak perlu khawatir. Ini hanya memar biasa."
"Hanya memar biasa?" Anisa hampir berteriak, air mata mengalir di pipinya. "Rangga, kau hampir mati kemarin! Mereka memukulimu tanpa ampun! Aku sangat takut... aku pikir aku akan kehilanganmu!"
Rangga meraih tangan Anisa, menggenggamnya erat. "Tapi aku di sini, Anisa. Aku masih hidup. Dan aku masih punya kau. Itu yang terpenting."
Anisa menangis di pelukannya, dan Rangga membiarkannya menangis. Ia tahu gadis itu sangat ketakutan kemarin, dan ia perlu melepaskan semua perasaannya.
Hari itu, Rangga memutuskan untuk tetap masuk sekolah meskipun tubuhnya masih sakit. Ia tidak ingin absen, apalagi setelah kejadian kemarin yang membuat namanya menjadi perbincangan di seluruh sekolah. Anisa memaksanya untuk sarapan dulu dan minum obat sebelum berangkat, dan ia tidak bisa menolak.
"Sekolah bisa menunggu, Rangga. Kesehatanmu lebih penting," kata Anisa dengan nada khawatir sambil menyiapkan teh hangat dan roti untuknya.
"Aku baik-baik saja, Anisa. Aku harus menunjukkan bahwa aku tidak takut. Jika aku tidak masuk, mereka akan mengira aku menyerah," jawab Rangga dengan senyum, meskipun senyum itu membuat bibir robeknya terasa perih.
Ketika Rangga memasuki gerbang sekolah dengan tubuh penuh perban dan luka, semua mata tertuju padanya. Beberapa siswa tersenyum dan mengacungkan jempol, yang lain hanya diam dengan tatapan kagum dan iba, dan beberapa lagi berbisik-bisik tentang keberaniannya. Rangga berjalan dengan kepala tegak, meskipun setiap langkah terasa berat dan menyakitkan. Di sepanjang koridor, siswa-siswa yang melihatnya memberikan tepuk tangan kecil, memberi semangat tanpa kata.
"Rangga! Kau hebat!" teriak seorang siswa dari kejauhan.
"Kami mendukungmu! Jangan menyerah!" seru yang lain.
"Kau pahlawan kami!" teriak seorang siswi dengan mata berkaca-kaca.
Rangga hanya tersenyum dan melambai kecil, tidak ingin terlihat sombong. Ia melanjutkan langkah menuju kelas, tetapi sebelum ia sampai di pintu, ia melihat sesosok tubuh besar berdiri di tengah koridor. Bram berdiri di sana, ditemani oleh beberapa anggotanya. Namun kali ini, ekspresi mereka berbeda—tidak ada lagi ancaman di wajah mereka, tidak ada lagi amarah yang membara. Yang terpancar hanya rasa bersalah, penyesalan yang mendalam, dan keraguan yang menyelimuti mereka.
Bram berjalan mendekati Rangga dengan langkah gontai, kepalanya menunduk seperti anak kecil yang baru saja dimarahi. Genknya mengikuti di belakang, beberapa di antaranya bahkan tidak berani menatap Rangga sama sekali. Rangga berhenti, menunggu dengan tenang meskipun jantungnya berdebar-debar. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi.
"Rangga," kata Bram, suaranya pelan dan tidak seperti biasanya—lembut, penuh penyesalan. "Aku... aku datang untuk minta maaf."
Keheningan menyelimuti koridor seperti selimut tebal. Semua siswa yang lewat berhenti, ingin melihat apa yang akan terjadi. Anisa yang berjalan di samping Rangga segera melangkah maju, siap melindungi Rangga jika ada yang terjadi lagi, meskipun tubuhnya sendiri masih gemetar ketakutan.
Bram terus berbicara, suaranya bergetar dan pecah. "Aku tidak bisa tidur semalaman, Rangga. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat wajahmu yang penuh darah dan lebam. Aku mendengar kata-katamu—tentang apa yang aku cari dengan menjadi preman. Tentang apakah aku bahagia dengan menyakiti orang lain." Ia mengangkat kepalanya, dan untuk pertama kalinya, Rangga melihat air mata di mata pemuda besar itu—air mata yang nyata, yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. "Aku tidak bahagia, Rangga. Aku tidak pernah bahagia selama ini. Aku hanya... aku hanya ingin dianggap hebat. Aku hanya ingin orang lain takut padaku, karena aku tidak tahu cara lain untuk mendapatkan rasa hormat. Tapi kau menunjukkan padaku bahwa ada cara lain. Kau menunjukkan padaku bahwa kekerasan hanya membuat orang semakin membencimu."
Rangga menatap Bram dengan mata yang teduh, tidak menunjukkan rasa takut atau dendam. "Bram, aku tidak membencimu. Aku tidak pernah membencimu. Aku hanya ingin kau sadar bahwa ada jalan yang lebih baik. Jalan yang membuat orang benar-benar menghormatimu, bukan karena takut, tetapi karena kebaikanmu."
Bram mengangguk, air mata mengalir deras di pipinya. "Aku ingin berubah, Rangga. Aku ingin menjadi lebih baik. Tapi aku tidak tahu bagaimana. Aku sudah terlalu lama menjadi orang jahat. Bisakah kau... bisakah kau membantuku? Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Permintaan itu mengejutkan semua orang yang mendengarnya. Beberapa siswa berbisik-bisik, tidak percaya bahwa Bram—preman paling ditakuti di sekolah—sedang meminta bantuan pada anak desa yang ia pukuli kemarin. Beberapa guru yang lewat juga berhenti, terkejut melihat perubahan yang terjadi.
Rangga menghela napas, lalu tersenyum. "Tentu, Bram. Aku akan membantumu. Tapi kau harus serius. Kau harus benar-benar berusaha. Perubahan tidak terjadi dalam semalam, tetapi selama kau mau berusaha, aku akan membantumu."
"Aku akan berusaha," kata Bram dengan tegas, suaranya mantap. "Aku berjanji. Aku tidak akan kembali menjadi orang jahat. Aku ingin menjadi orang yang lebih baik—seperti kau."
Genk Bram juga maju, satu per satu meminta maaf pada Rangga dengan tulus. "Kami minta maaf, Rangga. Kami hanya mengikuti Bram karena kami takut padanya. Tapi sekarang kami sadar bahwa kami salah. Kami tidak akan mengulanginya lagi," kata salah satu dari mereka, matanya berkaca-kaca.
"Kami ingin berubah, seperti Bram. Bisakah kau membantu kami juga?" kata yang lain dengan suara bergetar.
Rangga menerima permintaan maaf mereka dengan lapang dada. "Kalian semua bisa berubah. Tidak ada yang tidak mungkin jika kalian mau berusaha. Aku akan membantu kalian semua."
Anisa yang mendengar semua itu akhirnya tersenyum, air mata haru mengalir di pipinya. Ia memegang tangan Rangga erat-erat. "Rangga, kau benar-benar luar biasa. Kau tidak hanya menyelamatkan dirimu sendiri, tetapi juga menyelamatkan mereka."
Rangga menatap Anisa dengan penuh cinta. "Aku hanya melakukan apa yang benar, Anisa. Mereka pantas mendapat kesempatan kedua, sama seperti aku dulu mendapat kesempatan kedua dari Nenek."
Sejak hari itu, perubahan besar terjadi di sekolah. Bram dan genknya berhenti memalak siswa-siswa lain. Mereka mulai datang ke sekolah dengan rapi, mengikuti pelajaran dengan serius, dan bahkan membantu teman-teman yang kesulitan. Bram sendiri mulai sering mendekati Rangga, bertanya tentang kehidupan dan bagaimana ia bisa menjadi lebih baik.
"Rangga, bagaimana kau bisa tetap kuat setelah semua yang kau alami?" tanya Bram suatu hari saat mereka duduk di taman sekolah. "Kau kehilangan orang tua, kau dibuang di hutan, dan kau harus berjuang sendiri. Tapi kau tetap tersenyum. Kau tetap baik pada orang lain. Bagaimana kau melakukannya?"
Rangga tersenyum, memandangi langit yang cerah. "Karena aku punya alasan untuk terus berjuang, Bram. Aku punya Nenek yang selalu mendoakanku, Anisa yang selalu mendukungku, dan teman-teman yang selalu ada untukku. Dan aku punya mimpi—mimpi untuk menjadi seseorang yang berguna bagi banyak orang. Itu semua membuatku kuat."
Bram mengangguk, meresapi setiap kata. "Aku juga ingin punya mimpi. Tapi aku tidak tahu mimpi apa."
"Kau bisa mencari tahu," kata Rangga. "Mulailah dengan hal-hal kecil. Apa yang kau suka lakukan? Apa yang membuatmu bahagia?"
Bram berpikir lama. "Aku... aku suka memasak. Ibuku dulu mengajariku memasak sebelum dia meninggal. Tapi aku tidak pernah melakukannya lagi karena aku malu. Aku pikir memasak itu bukan hal yang keren untuk preman."
Rangga tersenyum lebar. "Itu bagus, Bram! Memasak adalah bakat yang luar biasa. Kenapa kau tidak mencoba lagi? Mungkin suatu hari kau bisa menjadi koki terkenal. Tidak ada yang salah dengan memasak—itu adalah seni!"
Bram tersenyum untuk pertama kalinya, senyum yang tulus dan tidak dipaksakan. "Terima kasih, Rangga. Aku akan mencoba. Aku akan mencoba menjadi lebih baik."
Sejak hari itu, Bram mulai sering mengunjungi pasar malam tempat Rangga berjualan. Ia tidak datang untuk memalak, tetapi untuk belajar. Ia membantu Rangga memasak dan melayani pelanggan, dan perlahan-lahan ia mulai menemukan kembali kebahagiaannya.
"Rangga, terima kasih telah memberiku kesempatan kedua," kata Bram suatu malam saat mereka sedang membersihkan peralatan masak. "Aku tidak akan pernah bisa membalas kebaikanmu. Kau menyelamatkanku dari kehidupan yang gelap."
"Kau tidak perlu membalas, Bram," kata Rangga. "Cukup teruslah berubah menjadi lebih baik. Itu sudah cukup bagiku. Melihatmu berubah adalah hadiah terbesar."
Malam itu, Rangga berdiri di teras pasar malam, memandangi langit yang dipenuhi bintang-bintang. Ia merenungkan semua yang telah terjadi—pertarungan dengan Bram, permintaan maafnya, dan perubahan yang terjadi pada semua orang. Ia merasa syukur yang luar biasa. Ia telah kehilangan begitu banyak dalam hidupnya, tetapi ia juga telah mendapatkan begitu banyak. Ia memiliki Nenek yang selalu mendoakannya, Anisa yang selalu mendukungnya, dan sekarang teman-teman baru yang setia. Ia tahu bahwa perjalanan ini masih panjang, tetapi ia siap menghadapi apa pun yang datang dengan senyum di wajah dan kebaikan di hati.
---
[Bersambung...]
---