"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

"OTORITAS TANPA BATAS: SAGA EMPAT DEWA MULTIVERSE"

Malam Kelahiran di Atas Batuan Akuma

Malam itu langit di atas tanah Akuma sedang mengamuk. Tapi kalau mau jujur, planet gersang yang isinya cuma tumpukan batu hitam ini memang tidak pernah ramah pada siapa pun sejak pertama kali tercipta di alam semesta. Di luar dinding Aula Gerhana, suara angin malam terdengar begitu kasar. Angin itu bertiup kencang membawa aroma karat besi tua dan bau belerang menyengat yang bikin tenggorokan rasanya seperti dicekat. Hujan yang turun malam itu juga bukan air jernih yang segar, melainkan cairan merkuri pekat yang terus-menerus menghantam atap baja menara dengan ketukan yang sangat berisik dan konstan. Tekanan udara di tempat ini rasanya begitu berat. Seolah-olah ada beban ribuan ton yang sengaja ditaruh di atas pundak setiap makhluk hidup yang ada di sini. Di planet neraka ini, kalau tulangmu tidak mengeras dengan cepat sejak lahir, tubuhmu cuma akan berakhir menjadi genangan darah di atas tanah.

Di dalam bilik bersalin yang cuma diterangi oleh beberapa suar lampu minyak tanah yang bergoyang kaku, Putri Hana sedang bertaruh nyawa. Dia terengah-engah di atas dipan kayu tua yang sudah reot. Kain sutra merah khas tanah kelahirannya, Solari, sekarang sudah basah kuyup oleh keringat dan robek di beberapa bagian akibat menahan rasa sakit yang luar biasa. Sepasang lengannya yang gemetar hebat sedang mendekap erat sesosok bayi kurus yang baru saja keluar dari rahimnya. Ada satu hal yang terasa sangat aneh malam itu. Tidak ada suara lengkingan tangis bayi yang memecah kesunyian malam. Bayi itu cuma diam membeku. Tubuh kecilnya nampak pucat pasi, dan gerakan dadanya berjalan putus-menerus dengan ritme yang sangat lambat, seperti tidak punya tenaga untuk menghirup udara Akuma yang beracun.

Raja Juro Shinto berdiri diam tidak jauh dari samping dipan. Jubah hitam polos kebesarannya tersampir longgar hingga menyentuh lantai batu obsidian yang dingin. Sebagai pemimpin tertinggi Kuadran Utara yang memegang takhta pedang tradisional, Juro adalah tipe pria yang jarang sekali menunjukkan rasa cemas di depan orang lain. Namun malam ini, rahang ksatria veteran itu nampak mengencang kaku. Dia melangkah maju dengan derap langkah yang terdengar sangat berat, lalu meletakkan telapak tangan besinya yang dipenuhi kapalan tebal di atas dada mungil anaknya.

Detik itu juga, ada getaran aneh yang langsung menjalar ke ujung jari Juro. Jantung bayi kecil itu bergerak acak, benar-benar kacau dan di luar batas kewajaran makhluk hidup. Terkadang, jantung kecil itu mendadak berdegup sangat kencang bagai deru mesin siber yang sedang rusak parah, memancarkan hawa panas yang membuat kulit tipis bayinya melepuh kemerahan. Namun di ketukan berikutnya, detak itu mendadak hilang begitu saja. Jantungnya berhenti berdetak total selama beberapa menit yang menegangkan, membuat tubuh kecil sang bayi mendingin dengan cepat bagai seonggok mayat kaku yang kehilangan roh.

"Juro..." bisik Hana dengan suara yang sangat serak, nyaris habis karena tenaganya terkuras habis. Dia sedang menahan rasa perih luar biasa pasca-melahirkan yang mencabik-cabik batinnya sebagai seorang ibu. "Tatap matanya, Juro. Kenapa detak jiwanya berjalan patah-patah seperti itu? Kenapa tidak ada pendaran api matahari dari silsilah darah keluargaku atau pusaran angin klan Shinto di sepanjang nadinya? Katakan padaku, Juro... anak kita akan tetap bernapas dan selamat, bukan?"

Juro tidak segera menjawab pertanyaan istrinya. Sepasang matanya yang hitam legam menatap lurus ke arah pintu kayu ek raksasa di ujung aula. Dari balik dinding batu yang tebal, telinga tajamnya sudah bisa menangkap suara derap langkah kaki sepatu laras besi yang berat, kasar, dan berisik. Angin di dalam kompleks kuil ini memang sudah lama membusuk, selalu membawa bau pengkhianat dari balik koridor istana.

"Tenangkan batinmu, Hana," ucap Juro dengan nada suara yang pelan, namun bergaung berat menembus setiap sudut ruangan. "Badai yang sesungguhnya bukan hujan merkuri yang sedang mengamuk di luar sana. Badai itu baru saja melangkah melewati gerbang depan bilik kita."

BRAAK!

Pintu kayu ek raksasa itu mendadak dihantam hancur berantakan hingga engsel besinya terlepas kaku, menyemburkan serpihan kayu mati dan kabut kelabu kotor ke dalam ruangan ritual bersalin. Tetua Kaelen melangkah masuk dengan keangkuhan seorang pemimpin faksi yang tidak tahu malu. Separuh wajahnya dan seluruh lengan kanannya sudah diganti oleh lempengan besi kiriman dari Kekaisaran Vorash, memancarkan lampu indikator mesin berwarna merah pekat yang berkedip-kedip dengan cara yang menjijikkan bagi mata pendekar ortodoks.

Di samping kanan Kaelen, selir tiri Juro yang bernama Renka berjalan dengan gaun sutra emasnya yang teramat mewah. Tangannya memegang sebuah kipas perak yang ia kibaskan dengan gerakan lambat yang teratur, sementara sepasang mata mekanis palsunya nampak menatap lurus ke arah dekapan Hana dengan senyum sinis yang menusuk batin. Di belakang mereka, three puluh pendekar elit Sektor Delapan langsung merangsek masuk tanpa izin, membentuk formasi pengepungan melingkar dan mengacungkan moncong pedang ungu mereka tepat ke arah dipan bersalin.

"Ujian takdir alam semesta sudah memberikan jawaban yang paling jujur, Pemimpin Besar Juro!" raung Tetua Kaelen. Suara parau mekanisnya terdengar gila, pecah berantakan melalui pengeras suara yang terpasang di leher zirahnya. Tangan besinya menunjuk langsung ke arah tubuh kurus bayi Ryuken yang sedang sekarat. "Anak pertama yang lahir dari rahim wanita asing Solari itu terlahir membawa kutukan cacat bawaan yang menjijikkan! Jantungnya yang cacat telah merusak hukum aliran energi klan Shinto kita! Aturan adat kekaisaran sudah mutlak sejak era kuno: benalu kotor tidak boleh dimasukkan ke dalam buku silsilah darah murni kekaisaran, dan hak waris takhtanya resmi kami cabut malam ini juga!"

Juro Shinto membalikkan tubuh raksasanya secara perlahan. Tekanan mengerikan yang keluar dari tubuhnya begitu pekat, seolah-olah memotong seluruh pasokan udara bebas di dalam aula seutuhnya. Ia memegang hulu pedang besi kasar kunonya dengan cengkeraman mati yang tak tergoyahkan seumur hidup.

"Jaga lidah kotormu, Kaelen!" geram Juro dengan getaran suara yang begitu berat hingga memaksa barisan pendekar elit di belakang Tetua Kaelen tersentak mundur satu langkah menahan ngeri. "Ryuken adalah putra tertua dan pewaris sah takhta pedang Kuadran Utara! Darah murni mendiang leluhur mengalir di dalam sumsum tulangnya, dan aku tidak akan membiarkan faksi radikalmu mendikte garis keturunanku cuma karena kalian takut kehilangan muka di depan bangsa mesin luar angkasa!"

Renka melangkah maju dari balik bayangan pundak Kaelen, melayangkan tatapan meremehkan yang luar biasa tajam melintasi batas kasta. Ia melipat kipas sutranya dengan ketukan yang keras tepat di depan wajah Hana yang sedang lemas menahan sakit. "Kehormatan masa lalu tidak bisa digunakan untuk membeli pasokan senjata dari Kekaisaran Vorash, Yang Mulia Juro!" desis Renka, nada suaranya dipenuhi oleh kelicikan yang luar biasa menyayat hati. "Putra kandungku, Ren kecil, lahir dengan struktur tubuh pendekar yang sempurna tanpa cacat sedikit pun! Detak jiwanya selaras dengan ketukan detik semesta! Dewan Tetua tidak akan sudi menyerahkan masa depan militer Kuadran Utara ke tangan seorang anak penyakitan yang bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya sendiri dari atas tanah kotor planet ini!"

"Kau telah menjual kesetiaan leluhurmu demi kepingan emas luar angkasa dan zirah besi rongsokan, Renka!" sahut Hana dengan sisa energinya. Sepasang matanya mendadak memancarkan pendaran api Solari yang membuat udara dingin di sekitar dipan mendadak terasa panas dan membakar. "Kalian cuma menggunakan tubuh lemah putraku sebagai alasan busuk untuk merebut takhta Kuadran Utara dan menyerahkannya ke tangan penguasa Sektor Delapan yang busuk!"

"Kami tidak menjual kesetiaan, Putri Hana, kami hanya memilih siapa yang terkuat untuk menjaga klan ini agar tidak punah!" bentak Tetua Kaelen. Tangan besi mekanisnya menghantam pilar batu di samping dipan hingga pilar batu itu retak seribu dan menyemburkan debu ke udara.

Hembusan debu batu itu mendadak berhenti kaku di udara sebelum sempat menyentuh wajah bayi Ryuken. Juro Shinto telah melepaskan riak tipis aura gravitasinya, memaksa setiap serpihan debu obsidian jatuh lurus ke lantai dalam satu sentakan berat. Kaelen mendecih pelan melihat demonstrasi kekuatan tersebut, namun matanya yang mekanik tetap memancarkan cahaya merah yang penuh kelicikan.

"Kau bisa menahan debu ini dengan gravitasimu, Juro, tapi kau tidak bisa menahan keputusan resmi seluruh Dewan Tetua," Kaelen menarik sebuah gulungan logam tipis dari balik jubahnya, melemparnya ke atas meja kayu altar. "Berdasarkan dekret suksesi Sektor Selatan, anak anomali ini resmi diturunkan statusnya menjadi kasta terendah. Dia tidak berhak atas nama besar Shinto. Mulai malam ini, dia hanyalah budak pembersih di Sektor Belakang."

Hana menangis terisak, mendekap bayinya lebih erat, merasakan detak jantung tak beraturan anaknya yang kian melemah seolah ikut merasakan kejamnya takdir politik malam itu. Juro mengepalkan tangannya hingga urat-urat di lengannya menegang. Sebagai pemimpin, dia tahu jika dia menghunuskan pedangnya sekarang untuk membantai Kaelen, perang saudara akan meletus dan menghancurkan seluruh Kuadran Utara yang sedang diincar Kekaisaran Vorash.

Dengan berat hati, demi melindungi nyawa anak dan istrinya dari pembantaian faksi radikal, Juro membiarkan pedang kunonya tetap berada di dalam sarungnya. "Bawa anakku ke Sektor Belakang," bisik Juro, suaranya terdengar sangat parau dan terluka. "Tapi ingat ini, Kaelen... roda waktu alam semesta tidak pernah berputar linear. Suatu hari nanti, cacat yang kau hinakan malam ini akan menjadi jangkar yang meremukkan seluruh teknologi mesin kebanggaanmu."

Malam itu, di bawah siraman hujan merkuri yang lengket, takdir sang pangeran anomali resmi dimulai dalam kesunyian gudang kayu lapuk Sektor Belakang, mengunci sebuah awal epos yang kelak akan mengguncang mahakarya takhta jagat raya.

Episodes
1 Malam Kelahiran di Atas Batuan Akuma
2 Siksaan Gravitasi dan Tempat Pembuangan
3 Gugurnya Sang Pelindung
4 Budak dan Pencuri Ilmu
5 Bab 5: Dekret Perjodohan Paksa
6 Bab 6: Siraman Air Kehinaan
7 Bab 7: Mencuri Ilmu sang Iblis Pedang
8 Bab 8: Rencana Berdarah Sektor Delapan
9 Bab 9: Penempaan di Bawah Limpahan Racun
10 Bab 10: Panggung Peradilan Terbuka
11 Bab 11: Membuat Musuh Saling Hantam
12 Bab 12: Hancurnya Harga Diri sang Anak Emas
13 Bab 13: Perkawinan Tanpa Doa di Aula Penjara
14 Bab 14: Jala Maut di Sepertiga Malam
15 Bab 15: Penyerangan Malam Pertama
16 Tameng Daging di Ambang Pintu Kamar
17 Fajar Pasca-Invasi dan Konfrontasi Politik Terakhir di Aula Agung
18 Kabin Besi Kapal Tongkang dan Dinginnya Tatapan Pertama
19 Stasiun Kuantum Omega-9 dan Turbulensi Pertama di Jalur Pelarian
20 Tebasan Sunyi di Tengah Kegelapan dan Sumpah Pengembaraan Multiverse
21 VOLUME II: SAGA ZEPHYR DI LANGIT TITAN PRIME
22 Tempaan di Perut Bumi
23 Dekret Altar Emas dan Amukan Isak Tangis sang Putri Solari
24 Pertemuan di Lorong Menara Langit dan Ludahan Gengsi sang Putri
25 Latihan Rahasia di Balik Tungku dan Kebangkitan Getaran Spasial
26 Intrik Faksi Barat dan Pengiriman Tim Pembunuh Bayaran
27 Pertempuran di Lorong Pipa Pembuangan dan Remukan Tangan Kosong
28 Fajar Hari Pertunangan dan Dinginnya Kamar Rias Menara Kristal
29 Ritus Pengikatan Darah di Altar Emas dan Tatapan Dingin sang Putri
30 Malam Pertama di Bilik Terasing dan Bayang-Bayang Sabotase Pipa Hidrolik
31 AMUKAN PEDANG LANGIT SEKTOR TIGA
32 RAHASIA YANG TERKELUPAS
33 DISTORSI RUANG DAN NEGOSIASI DINGIN
34 MOBILISASI BAJA SEKTOR BARAT
35 BADAI BESI DI PELATARAN MENARA
36 PENGEPUNGAN ALTAR EMAS UTAMA
37 TEBASAN OTORITAS SPASIAL
Episodes

Updated 37 Episodes

1
Malam Kelahiran di Atas Batuan Akuma
2
Siksaan Gravitasi dan Tempat Pembuangan
3
Gugurnya Sang Pelindung
4
Budak dan Pencuri Ilmu
5
Bab 5: Dekret Perjodohan Paksa
6
Bab 6: Siraman Air Kehinaan
7
Bab 7: Mencuri Ilmu sang Iblis Pedang
8
Bab 8: Rencana Berdarah Sektor Delapan
9
Bab 9: Penempaan di Bawah Limpahan Racun
10
Bab 10: Panggung Peradilan Terbuka
11
Bab 11: Membuat Musuh Saling Hantam
12
Bab 12: Hancurnya Harga Diri sang Anak Emas
13
Bab 13: Perkawinan Tanpa Doa di Aula Penjara
14
Bab 14: Jala Maut di Sepertiga Malam
15
Bab 15: Penyerangan Malam Pertama
16
Tameng Daging di Ambang Pintu Kamar
17
Fajar Pasca-Invasi dan Konfrontasi Politik Terakhir di Aula Agung
18
Kabin Besi Kapal Tongkang dan Dinginnya Tatapan Pertama
19
Stasiun Kuantum Omega-9 dan Turbulensi Pertama di Jalur Pelarian
20
Tebasan Sunyi di Tengah Kegelapan dan Sumpah Pengembaraan Multiverse
21
VOLUME II: SAGA ZEPHYR DI LANGIT TITAN PRIME
22
Tempaan di Perut Bumi
23
Dekret Altar Emas dan Amukan Isak Tangis sang Putri Solari
24
Pertemuan di Lorong Menara Langit dan Ludahan Gengsi sang Putri
25
Latihan Rahasia di Balik Tungku dan Kebangkitan Getaran Spasial
26
Intrik Faksi Barat dan Pengiriman Tim Pembunuh Bayaran
27
Pertempuran di Lorong Pipa Pembuangan dan Remukan Tangan Kosong
28
Fajar Hari Pertunangan dan Dinginnya Kamar Rias Menara Kristal
29
Ritus Pengikatan Darah di Altar Emas dan Tatapan Dingin sang Putri
30
Malam Pertama di Bilik Terasing dan Bayang-Bayang Sabotase Pipa Hidrolik
31
AMUKAN PEDANG LANGIT SEKTOR TIGA
32
RAHASIA YANG TERKELUPAS
33
DISTORSI RUANG DAN NEGOSIASI DINGIN
34
MOBILISASI BAJA SEKTOR BARAT
35
BADAI BESI DI PELATARAN MENARA
36
PENGEPUNGAN ALTAR EMAS UTAMA
37
TEBASAN OTORITAS SPASIAL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!