Gugurnya Sang Pelindung

Ketegangan politik di tanah Akuma memuncak saat Ryuken menginjak umur tujuh tahun. Malam di planet batu hitam ini tidak lagi sekadar membawa badai merkuri yang bising. Hawa pengkhianatan dari Sektor Delapan merayap pelan di antara lorong-lorong kuil yang gelap. Tepat di sepertiga malam, sirene darurat di sepanjang menara istana meraung nyaring, memutus keheningan dan menyebarkan kepanikan.

Kabar buruk datang dari batas atmosfer: dinding dimensi kuno jebol. Celah besar peninggalan perang purba itu menganga, mengancam akan memuntahkan pasukan monster serigala raksasa ke alam manusia. Sebagai pemimpin tertinggi, Raja Juro Shinto tidak punya pilihan. Beliau harus memimpin langsung armada kapal perang utama untuk menutup celah tersebut.

Sebelum menaiki tangga besi kapal induknya, Juro menyelinap diam-diam menuju gudang penyimpanan kayu yang lapuk di bagian belakang. Langkah kaki besinya terhenti di ambang pintu. Di dalam ruangan yang dingin, Ryuken sedang duduk bersila di atas lantai batu hitam. Tubuh kurusnya dipaksa menahan himpitan gravitasi planet yang ekstrem, murni mengandalkan ketebalan tekadnya. Tangan mungilnya menggenggam sebilah ranting kayu sepanjang satu meter yang dibalut perban kumal penuh noda darah.

Juro merendahkan tubuh raksasanya di hadapan sang putra sulung. Ada wibawa pemimpin besar sekaligus penyesalan mendalam seorang ayah di balik tatapannya. Ia meletakkan sepasang tangan besinya yang penuh kapalan di atas pundak kurus Ryuken.

"Ryuken, putra mahkotaku," ucap Juro Shinto. Suaranya yang berat menembus langsung ke dalam batin anaknya. "Jantung acakmu itu bukan kutukan seperti yang diucapkan para pengecut di Dewan Tetua. Itu adalah takdir besar yang belum bisa dipahami oleh teknologi Kekaisaran Vorash. Jika suatu hari langit planet ini berubah gelap dan ayah tidak pernah kembali, berjanjilah... tetaplah genggam pedangmu dengan tanganmu sendiri. Jangan pernah menukar jiwamu demi zirah mesin palsu."

Jubah hitam Juro. Air matanya menetes membasahi gaun sutra Solari miliknya yang kusam. "Juro... firasatku mengatakan ada rencana busuk di balik perintah keberangkatan darurat ini," desis Hana gemetar. "Kaelen sengaja menguras pasukan pelindung agar kompleks kuil ini kosong."

Juro tersenyum tenang—seulas senyum ksatria veteran yang menolak takut pada maut. "Jika Dewan Tetua memilih jalan pengkhianatan, maka hukum alam yang akan menghapus nama mereka dari sejarah. Hana, jaga putra kita." Juro membalikkan tubuh, melangkah tegas menembus kabut menuju pusat pertempuran di luar angkasa.

Tragedi yang dikhawatirkan meletus tiga hari kemudian. Sebuah siaran darurat dari luar atmosfer muncul di seluruh layar monitor kuil, menampilkan rekaman video yang bergoyang penuh kepulan asap. Kapal induk Juro Shinto dikepung brutal oleh puluhan kapal perang Kekaisaran Vorash yang ternyata telah bersekongkol dengan faksi pengkhianat Sektor Delapan. Di saat yang sama, monster serigala raksasa menghantam lambung kapal, menelan seluruh tubuh sang panglima ke dalam kegelapan hampa udara. Raja Juro gugur.

Mendengar berita tersebut, Hana tidak diberi waktu untuk berkabung. Pintu gerbang istananya dihantam hancur oleh rentetan ledakan bom pasukan pemberontak pimpinan Tetua Kaelen dan Renka. Tiga puluh pendekar elit bersenjata pedang ungu merangsek masuk, mengunci seluruh jalan keluar.

"Mantan Pemimpin Besar sudah mampus!" raung Tetua Kaelen, wajah mekanisnya berkilat merah penuh kesombongan. "Serahkan semua pasokan kristal suci, Putri Hana! Dan biarkan anak cacat itu kami buang ke tempat pembuangan limbah!"

Hana bangkit dengan keanggunan putri matahari yang menolak tunduk. Ia mendorong Ryuken ke balik tiang batu hitam tersembunyi, lalu meledakkan seluruh sisa tenaga dalamnya. Kobaran api merah membubung tinggi, menciptakan badai panas yang membakar hangus sepuluh pendekar musuh dalam sekejap. Namun, zirah mesin milik Renka mendadak melepaskan tembakan cahaya hitam yang menusuk telak dada kiri Hana, membuatnya terkapar bersimbah darah.

Ryuken menyaksikan pembantaian sadis itu dari balik celah tiang. Air matanya mengering menahan rasa sakit jiwa yang melampaui batas kewajaran anak seusianya. Sebelum napas terakhirnya habis, Hana menatap ke arah tempat Ryuken bersembunyi dengan senyum terakhir yang menyayat hati.

"Lari... Ryuken... hiduplah... tempa... tempa pedangmu..." bisik ibunya, sebelum tubuhnya perlahan meluruh menjadi debu keperakan yang hanyut ditiup angin malam.

Kematian kedua orang tuanya merenggut semua pelindung yang dimiliki Ryuken. Status pangeran mahkotanya hancur total. Tubuh kecilnya dilemparkan kembali ke dalam jurang pengasingan gudang lapuk di bawah injakan kaki kediktatoran baru Sektor Delapan. Sang anak buangan kini memendam bara dendam murni di dalam tulangnya, mempererat cengkeraman tangan kecilnya pada gagang ranting kayu Akuma di tengah malam yang membeku.

Episodes
1 Malam Kelahiran di Atas Batuan Akuma
2 Siksaan Gravitasi dan Tempat Pembuangan
3 Gugurnya Sang Pelindung
4 Budak dan Pencuri Ilmu
5 Bab 5: Dekret Perjodohan Paksa
6 Bab 6: Siraman Air Kehinaan
7 Bab 7: Mencuri Ilmu sang Iblis Pedang
8 Bab 8: Rencana Berdarah Sektor Delapan
9 Bab 9: Penempaan di Bawah Limpahan Racun
10 Bab 10: Panggung Peradilan Terbuka
11 Bab 11: Membuat Musuh Saling Hantam
12 Bab 12: Hancurnya Harga Diri sang Anak Emas
13 Bab 13: Perkawinan Tanpa Doa di Aula Penjara
14 Bab 14: Jala Maut di Sepertiga Malam
15 Bab 15: Penyerangan Malam Pertama
16 Tameng Daging di Ambang Pintu Kamar
17 Fajar Pasca-Invasi dan Konfrontasi Politik Terakhir di Aula Agung
18 Kabin Besi Kapal Tongkang dan Dinginnya Tatapan Pertama
19 Stasiun Kuantum Omega-9 dan Turbulensi Pertama di Jalur Pelarian
20 Tebasan Sunyi di Tengah Kegelapan dan Sumpah Pengembaraan Multiverse
21 VOLUME II: SAGA ZEPHYR DI LANGIT TITAN PRIME
22 Tempaan di Perut Bumi
23 Dekret Altar Emas dan Amukan Isak Tangis sang Putri Solari
24 Pertemuan di Lorong Menara Langit dan Ludahan Gengsi sang Putri
25 Latihan Rahasia di Balik Tungku dan Kebangkitan Getaran Spasial
26 Intrik Faksi Barat dan Pengiriman Tim Pembunuh Bayaran
27 Pertempuran di Lorong Pipa Pembuangan dan Remukan Tangan Kosong
28 Fajar Hari Pertunangan dan Dinginnya Kamar Rias Menara Kristal
29 Ritus Pengikatan Darah di Altar Emas dan Tatapan Dingin sang Putri
30 Malam Pertama di Bilik Terasing dan Bayang-Bayang Sabotase Pipa Hidrolik
31 AMUKAN PEDANG LANGIT SEKTOR TIGA
32 RAHASIA YANG TERKELUPAS
33 DISTORSI RUANG DAN NEGOSIASI DINGIN
34 MOBILISASI BAJA SEKTOR BARAT
35 BADAI BESI DI PELATARAN MENARA
36 PENGEPUNGAN ALTAR EMAS UTAMA
37 TEBASAN OTORITAS SPASIAL
Episodes

Updated 37 Episodes

1
Malam Kelahiran di Atas Batuan Akuma
2
Siksaan Gravitasi dan Tempat Pembuangan
3
Gugurnya Sang Pelindung
4
Budak dan Pencuri Ilmu
5
Bab 5: Dekret Perjodohan Paksa
6
Bab 6: Siraman Air Kehinaan
7
Bab 7: Mencuri Ilmu sang Iblis Pedang
8
Bab 8: Rencana Berdarah Sektor Delapan
9
Bab 9: Penempaan di Bawah Limpahan Racun
10
Bab 10: Panggung Peradilan Terbuka
11
Bab 11: Membuat Musuh Saling Hantam
12
Bab 12: Hancurnya Harga Diri sang Anak Emas
13
Bab 13: Perkawinan Tanpa Doa di Aula Penjara
14
Bab 14: Jala Maut di Sepertiga Malam
15
Bab 15: Penyerangan Malam Pertama
16
Tameng Daging di Ambang Pintu Kamar
17
Fajar Pasca-Invasi dan Konfrontasi Politik Terakhir di Aula Agung
18
Kabin Besi Kapal Tongkang dan Dinginnya Tatapan Pertama
19
Stasiun Kuantum Omega-9 dan Turbulensi Pertama di Jalur Pelarian
20
Tebasan Sunyi di Tengah Kegelapan dan Sumpah Pengembaraan Multiverse
21
VOLUME II: SAGA ZEPHYR DI LANGIT TITAN PRIME
22
Tempaan di Perut Bumi
23
Dekret Altar Emas dan Amukan Isak Tangis sang Putri Solari
24
Pertemuan di Lorong Menara Langit dan Ludahan Gengsi sang Putri
25
Latihan Rahasia di Balik Tungku dan Kebangkitan Getaran Spasial
26
Intrik Faksi Barat dan Pengiriman Tim Pembunuh Bayaran
27
Pertempuran di Lorong Pipa Pembuangan dan Remukan Tangan Kosong
28
Fajar Hari Pertunangan dan Dinginnya Kamar Rias Menara Kristal
29
Ritus Pengikatan Darah di Altar Emas dan Tatapan Dingin sang Putri
30
Malam Pertama di Bilik Terasing dan Bayang-Bayang Sabotase Pipa Hidrolik
31
AMUKAN PEDANG LANGIT SEKTOR TIGA
32
RAHASIA YANG TERKELUPAS
33
DISTORSI RUANG DAN NEGOSIASI DINGIN
34
MOBILISASI BAJA SEKTOR BARAT
35
BADAI BESI DI PELATARAN MENARA
36
PENGEPUNGAN ALTAR EMAS UTAMA
37
TEBASAN OTORITAS SPASIAL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!