Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Bayu yang baru saja hendak memarkirkan sepedanya di pelataran rumah Pak RT mendadak menghentikan langkah.
Matanya menajam saat melihat sosok pria asing berotot dengan baju lusuh berdiri sangat dekat di samping Dayang.
Rasa cemburu dan tidak senang seketika membakar dadanya.
Tanpa membuang waktu, Bayu melangkah lebar memasuki teras rumah Pak RT, tatapannya tak lepas menatap tajam ke arah Rimba.
"Ada apa nih?" tanya Bayu dengan nada menuntut, mencoba menekan emosi di hadapan paman kandungnya sendiri.
"Tumben pagi-pagi Dayang ke sini bawa cowok asing?"
Pak RT mendongak, menyunggingkan senyum tenang melihat keponakannya yang tampak tegang.
"Ini lho, Yu," sahut Pak RT santai seraya menunjuk ke arah buku tamu di atas meja.
"Nduk Dayang ini mau lapor administrasi. Mas Bima ini perantau dari Malang yang kena musibah—barang-barangnya dicuri terus pingsan kelaparan di pasar tadi subuh. Jadi sama Dayang mau ditampung sementara di rumahnya sampai dapat kerjaan."
"Ditampung di rumah Dayang?!" potong Bayu kaget, suaranya naik satu oktav.
Ia menatap Dayang dengan raut tak percaya, lalu beralih memandang Rimba dari atas ke bawah dengan kecurigaan penuh.
Sebagai pria lokal yang sudah lama mengejar hati Dayang, Bayu merasa terancam.
Pria bernama 'Bima' ini memang berpakaian lusuh, tapi perawakan tubuhnya tegap, rahangnya tegas, dan aura di matanya sama sekali tidak terlihat seperti pengemis jalanan biasa.
"Yang, kamu nggak bisa sembarangan nampung orang asing di rumahmu!" cecar Bayu penuh nada protektif yang dibuat-buat.
"Kamu itu cuma tinggal berdua sama Bintang. Kita nggak tahu asal-usul pria ini dari mana, bisa saja dia punya niat jahat!"
Rimba yang berdiri di belakang Dayang tetap memasang raut muka menunduk lugu, meski di dalam hati sang CEO menyeringai dingin melihat pria lokal di depannya yang terbakar cemburu.
Dayang melipat kedua tangannya di dada, menatap Bayu dengan alis terangkat.
Ketegasannya yang biasa membuat preman pasar kuncup seketika keluar.
"Bayu, aku ke sini buat lapor tertib warga ke Pak RT, bukan minta persetujuan kamu," tegur Dayang datar namun menusuk.
"Pak RT saja sudah izinkan karena alasannya jelas. Mas Bima ini butuh pertolongan, dan aku nggak bisa membiarkan orang kelaparan terluntang-lantung di jalanan."
"Tapi, Yang—"
"Sudah, Bayu," potong Pak RT menengahi sebelum perdebatan makin panas.
"Nduk Dayang sudah paham aturan mainnya. Lagipula di rumah ada Bintang yang nemenin."
Bayu mengepalkan tangannya di samping celana, menahan kekesalan yang membendung di dada.
Ia menatap Rimba dengan tatapan mengancam, seolah memperingatkan agar tidak macam-macam.
Dayang tidak peduli dengan tatapan Bayu. Ia berbalik menatap Rimba.
"Ayo, Mas Bima. Kita pulang sekarang."
"Baik, Mbak Dayang," sahut Rimba lembut dengan suara selugu mungkin, sengaja memancing emosi Bayu yang berdiri terpaku menyaksikan mereka berdua berjalan menuju motor sport hitam milik Dayang.
Sesampainya di rumah kayu yang asri itu, Dayang menuntun Rimba menuju teras depan.
Suasana rumah terasa sejuk dan tenang, kontras dengan keriuhan Pasar Matahari yang baru saja mereka tinggalkan.
"Mas Bima, duduk dulu," perintah Dayang seraya menunjuk kursi kayu di teras.
Rimba melabuhkan tubuhnya dengan patuh. Sang CEO raksasa yang biasa mendikte ribuan karyawan itu kini duduk menunduk lugu di hadapan seorang gadis bercelemek pasar.
Dayang berdiri bersedekap dada, menatap Rimba dengan sorot mata tajam dan penuh ketegasan.
Benteng pertahanannya yang sempat melunak saat menolong orang pingsan kini kembali mengeras.
"Mas boleh tinggal di sini sementara waktu, tapi ada syaratnya. Aku nggak memelihara orang pemalas di rumah ini," ucap Dayang tanpa berbelit-belit.
"Syarat apa, Mbak?" tanya Rimba pelan, memancing penasaran di balik peran lugunya.
"Pertama, kamu harus bekerja membantuku di pasar tiap subuh. Bekerja kasar—angkut keranjang ikan, potong es batu, sampai bersih-bersih lapak. Punggungmu tegap, pasti sanggup jadi kuli," tegas Dayang.
Rimba mengangguk pelan, meski dadanya berdesir menahan canggung.
Dayang kemudian melanjutkan peraturannya tanpa ragu. Kedua, bangun jam tiga pagi tanpa dibangunkan.
"Di rumah ini ndak ada tempat buat orang yang hobi molor. Jam tiga subuh harus sudah siap berangkat ke pasar. Ketiga, Hormati Bintang adekku, dan jangan pernah bertingkah aneh-aneh atau berbuat tidak sopan di kampung ini. Keempat, Selesai pulang dari pasar, tugasmu bantu menyapu halaman dan menyiram tanaman. Semua orang di rumah ini berbagi tugas. Kelima, dilarang keluyuran malam. Setelah jam delapan malam, tidak ada yang boleh keluar rumah tanpa izin yang jelas. Aku ndak mau ada masalah sama warga sekitar. Keenam, tidak ada kata mengeluh. Kehidupan pasar itu keras dan beraroma amis. Kalau kamu cuma bertahan sehari lalu mengeluh capek atau jijik, detik itu juga kamu harus angkat kaki dari rumahku."
Rimba tertegun sejenak mendengarkan enam syarat mutlak tersebut.
Kemeja mewahnya kini telah berganti kaos lusuh kepunyaan Jamal, dan posisi kekuasaannya berbalik total.
Bos besar Suryo Group yang biasa memerintah orang kini resmi ditundukkan oleh syarat-syarat keras sang preman pasar.
"Bagaimana, Mas Bima? Sanggup?" tanya Dayang menuntut kepastian.
Rimba mendongak, menatap mata bening Dayang. Binar keteguhan gadis itu justru makin memantik rasa penasaran dan ambisinya.
"Saya sanggup, Mbak Dayang," sahut Rimba dengan suara mantap.
Dayang menunjukkan sebuah kamar berukuran sedang di bagian belakang rumah, tepat berdampingan dengan kamar Bintang.
Ruangan itu sederhana namun sangat bersih, diisi sebuah tempat tidur jati tua, lemari kayu kecil, dan jendela yang menghadap ke kebun samping.
"Sekarang Mas masuk ke kamar belakang dekat kamar Bintang. Istirahat dulu, bersih-bersih badan. Nanti jam satu ikut aku ke pasar ikan ya, Mas," ucap Dayang seraya menyerahkan handuk bersih.
Rimba yang masih berpura-pura agak lemas menundukkan kepalanya ramah.
"I-iya, Mbak. Terima kasih banyak."
"Baju ganti sementara ada di lemari, bekas milik almarhum Ayah. Kalau senggang, Mas pakai saja yang pas," tambah Dayang sebelum berbalik melangkah menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
Begitu pintu kamar kayu berderit menutup, Rimba menguncinya dari dalam.
Sang CEO mendesah panjang, menyandarkan punggung tegapnya di balik pintu.
Ia melemparkan pandangannya ke sekeliling ruangan kecil yang tak seluas kamar mandinya di mansion megah Suryo.
Bau minyak kayu putih dan samar-samar wangi sabun mandi yang dipakai Dayang masih mengudara di ruangan ini.
Rimba menyentuh dada kirinya sendiri—detak jantungnya masih terasa sedikit berpacu.
Usapan lembut jemari Dayang di perutnya tadi pagi serta perhatian tulus dari gadis pasar itu benar-benar mengusik akal sehatnya.
"Jam satu siang ke pasar ikan?" gumam Rimba seraya menyunggingkan senyum miring yang tipis di bibirnya.
Seorang Rimba Suryo—pria kaya raya bertangan besi—sebentar lagi harus benar-benar menyingsingkan lengan baju, mengotori tangannya dengan lendir dan amis bau laut demi menaklukkan benteng sang preman pasar.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂