Indonesia
NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Keesokan paginya, sinar matahari yang menembus celah gorden terasa seperti jarum yang menusuk langsung ke mata Min-ji. Ia terbangun dengan kepala yang berdenyut pening luar biasa, seolah ada palu yang memukulinya dari dalam.

Belum sempat ia mengumpulkan nyawa, rasa mual yang dahsyat mendadak bergejolak di perutnya. Tanpa membuang waktu, Min-ji langsung melompat dari kasur dan berlari sekencang mungkin menuju kamar mandi.

Uwek!

Setelah beberapa menit bergelut di depan wastafel dan mengeluarkan seluruh isi perutnya, Min-ji melangkah keluar dengan tubuh lemas. Sambil memegangi kepalanya yang masih pening, ia berjalan gulai menuju dapur.

Namun, langkahnya mendadak terhenti saat melihat sesosok gadis sedang sibuk di depan kompor dengan celemek terpasang rapi.

"Loh... Hana? Kamu ngapain di sini pagi-pagi?" tanya Min-ji dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Hana membalikkan badannya perlahan, memegang sutil kayu sambil menatap Min-ji dengan pandangan datar yang sarat akan ledekan.

"Menurut kamu saja ngapain aku pagi-pagi ada di dapur apartemenmu, Nona Min-ji?"

Min-ji menggaruk rambutnya yang berantakan, mencoba memutar kembali memori di otaknya. Potongan-potongan ingatan semalam mulai muncul.

Min-ji menyunggingkan cengiran lebar yang terlihat bersalah.

"Hehehe... Maaf ya, Han. Semalam aku minumnya lewat batas, merepotkanmu ya?" ucap Min-ji, sama sekali tidak tahu tentang kelanjutan drama setelah ia kehilangan kesadaran.

Hana mendengus keras, mematikan kompornya.

"Masih mending kalau cuma mabuk lewat batas, Min-ji. Semalam kamu itu... juga digendong sampai ke kamar ini sama Pak Rey!"

Deg.

Min-ji mematung di tempatnya berdiri. Matanya membelalak sempurna, rasa pening di kepalanya mendadak hilang digantikan oleh rasa syok.

"Ha?? Maksud kamu?? Jangan bercanda deh, Han! Nggak lucu!"

Tanpa sensor sedikit pun, Hana langsung menceritakan kejadian semalam secara mendetail. Mulai dari mereka yang tidak sengaja menabrak Rey di trotoar Hongdae, Rey yang menawarkan tumpangan mobil, Min-ji yang meracau kepanasan dan hampir membuka baju di kursi belakang, Rey yang menggendongnya ala bridal style naik ke apartemen, hingga puncaknya... insiden Min-ji menarik leher jaket Rey sampai pria itu jatuh menindihnya di atas ranjang karena takut diculik.

Wajah Min-ji yang tadinya pucat akibat hangover instan berubah menjadi merah padam sempurna sampai ke ujung telinga. Tubuhnya gemetaran.

"Gak mungkinlah! Itu gak mungkin terjadi! Kamu pasti bohong kan, Han?!" jerit Min-ji tidak percaya, menyangkal kenyataan pahit itu.

"Tau gitu semalam aku video saja mukamu pas meluk-meluk Pak Rey!" ketus Hana gemas. "Buat apa juga aku mengarang cerita horor sepagi ini?"

Min-ji langsung menjambak rambutnya sendiri, merosot duduk di lantai dapur dengan wajah frustrasi.

"Kamu serius, Han?! Mati aku... Arghhh! Mau ditaruh di mana coba mukaku kalau ketemu Pak Rey nanti di kantor?! Tamatlah riwayat karierku!"

Melihat sahabatnya yang mulai berdrama ria, Hana hanya bisa menggelengkan kepala. Ia menuangkan sup hangat ke dalam mangkuk.

"Sudah, urusan muka itu dipikir nanti saja. Nih, aku buatkan sup pengar (haejang-guk) hangat. Makan dulu biar perutmu tidak mual."

Hana menyiapkan mangkuk dan sendok di atas meja makan, lalu mulai menyantap bagiannya sendiri. Namun, Min-ji hanya duduk diam mematung, menatap kosong ke arah kuah sup yang mengepul panas di hadapannya.

"Dimakan, Min-ji," tegur Hana di sela-sela kunyahannya.

"Gak nafsu aku, Han..." gumam Min-ji lesu, menopang dagunya dengan lemas.

"Apa... menurutmu hari ini bakal jadi hari terakhir aku bekerja di Aetheris Games? Apa aku harus menyiapkan surat pengunduran diri sekarang?"

"Nggak usah drama deh! Cepat habisin makanan kamu sebelum kita telat!" omel Hana pura-pura galak.

Tiga puluh menit kemudian, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, mereka berdua akhirnya berangkat ke kantor.

Begitu melangkah masuk ke dalam lobi gedung Aetheris Games yang megah, mata Hana menangkap sosok yang sangat familier sedang berdiri di dekat mesin automatic gate.

Alesia Fiore sudah tiba, penampilannya pagi ini kembali kasual dengan kemeja pemasaran dan sepatu sneakers-nya, namun pergelangan kakinya tampak sudah bisa berjalan normal kembali.

"Fiore!" panggil Hana cukup keras.

Alesia menengok, dan tersenyum lebar saat melihat kedua sahabatnya berjalan mendekat. Mereka bertiga akhirnya berkumpul di sudut koridor lobi yang agak sepi.

"Gimana semalam? Dapat taksinya lancar?" tanya Alesia ramah, menatap wajah Min-ji yang tampak sangat kuyu.

Hana langsung menyeringai jahil.

"Dapat taksi gratis, Al. Bahkan full servis sampai ke atas kasur!"

Alesia mengerutkan keningnya bingung. "Maksudnya?"

Hana tanpa membuang waktu langsung menceritakan kembali seluruh kronologi petualangan malam mereka bersama asisten pribadi CEO kepada Alesia.

Begitu cerita sampai pada bagian Min-ji menarik Rey ke atas kasur, Alesia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak bulat sempurna karena syok.

"Ha?? Serius kamu, Han?! Pak Rey?!" pekik Alesia tertahan, suaranya naik satu oktav karena tidak percaya asisten bertangan dingin itu bisa terlibat dalam situasi sekonyol itu.

Hana mengangguk mantap dengan wajah penuh kemenangan. "Seratus persen serius, Al."

"Udah dong... stop dibahas. Aku malu nih," rengek Min-ji, menyembunyikan wajah merahnya di balik tas jinjingnya, ingin rasanya ia menghilang dari bumi saat itu juga.

Ting!

Suara denting pintu lift khusus eksekutif di sudut lobi mendadak terbuka. Dua sosok pria tegap dengan aura berwibawa melangkah keluar secara bersamaan.

Dante Luca Alessio mengenakan setelan jas hitam premiumnya, sementara di sebelah kirinya berjalan Rey yang tampak rapi memegang tablet digital. Mereka berdua berjalan tegap menuju ke arah pintu keluar lobi untuk meninjau area depan.

Alesia yang pertama kali menyadari kehadiran mereka langsung menyenggol lengan Hana dan Min-ji dengan panik.

"Eh, eh! Pak Dante dan Pak Rey datang!"

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!