Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Flashback on.
Suara gemuruh hujan tiba tiba terdengar di sudut kota, membuat Andriana dan Devan yang terjebak macet harus rela bersabar dan berada di dalam mobil saat hujan deras mulai mengguyur.
"Wah hujan deras, mudah mudahan tidak terjadi banjir" Gumam Andriana sambil melihat derasnya air hujan yang turun di depan matanya.
"Kamu ingin kita tetap di sini atau mencari hotel untuk menginap?" Tanya Devan asal namun sukses membuat Andriana melotot tajam seakan penuh penolakan.
"Apa katamu! Hotel? Di saat seperti ini kamu masih memikirkan itu!"
Devan mendengus kesal dan malas "Apa apaan sih An, justru kamu yang mikirnya ke situ, kita nginap di hotel bukan berarti kita begituan, kamu tuh yang ngeres pikirannya, lihat tuh air sudah mulai naik memangnya kamu mau kita hanyut kalau kita tetap berada di dalam mobil, sudah ayo turun!".
Andriana hanya bengong lalu menggaruk garuk kepalanya "Iya juga sih".
Tanpa menunggu jawaban dari Andriana, tangan Devan dengan sigap menarik lengan Andriana dan membawanya berlari ke pinggir jalan untuk mencari tempat berteduh.
Mereka berdua terus berlari di bawah guyuran air hujan hingga tubuh keduanya basah kuyub.
"Aduh Van, ide kamu sungguh menyesatkan" Ucap Andriana sambil menunduk menepuk dadanya mengatur pernapasannya.
Devan mengangkat kedua alisnya " Menyesatkan?".
"Iya, gara gara ide kamu yang mengajakku turun dari mobil bajuku jadi basah semua" Timpal Andriana memanyunkan bibirnya.
Devan mendengus lalu tersenyum tipis, ia memeluk tubuh Andriana dari belakang, mencium mesra tengkuk lehernya membuat pemilknya menggeliat " Devan, ini tempat umum Van!".
"Biarkan mereka semua tahu kamu hanya milikku".
Andriana melepaskan paksa pelukan dokter tampan itu " Van, kamu lupa hanya selingkuhanku?".
"Ehm iya ya aku lupa bahkan aku merasa akulah suamimu" Jawab Devan menyambar bibir merah Andriana, mengecupnya sekilas namun berulang ulang hingga beberapa kali.
"Van, cukup..daripada di sini lebih baik kita cari hotel terdekat" Ucap Andriana sambil menarik lengan Devan dengan senyum tipis yang selalu mengembang di wajah mereka berdua.
Deg
Tidak di sangka Adit berdiri di depan mereka entah sejak kapan.
Andriana dan Devan menghentikan langkahnya seketika, keduanya kelicutan saling melemparkan pandangan.
Tatapan Adit tajam dan tegas seakan minta penjelasan.
"Andriana! Apa yang kamu lakukan di sini bersama tuan Devan!" Tanya Adit dengan nada yang sedikit meninggi.
"A-aku aku aku sedang ada riset dan terjebak "
"Cukup! Apakah aku orang bodoh atau anak kecil yang akan percaya begitu saja? Di tempat umum berciuman dan bermesraan seakan lupa kamu masih menantu Wijaya" Potong Adit yang membuat Andriana sedikit gemetar.
Devan menggenggam tangan Andriana yang dingin untuk menenangkannya lalu berjalan mendekati Adit.
"Tuan Adit, aku akui anda adalah kakak ipar yang baik, anda menjaga rumah tangga adik anda tapi apakah anda yakin rumah tangga anda juga baik baik saja?".
Mendengar ucapan Devan, Adit hanya mengeryitkan keningnya, menatap tajam kedua mata Devan" Apa maksud anda tuan Devan? Rumah tanggaku memang ada sedikit masalah tapi bukan berarti akan berantakan, tapi anda adalah orang ketiga dalam rumah tangga keluarga Wijaya dan aku sebagai anak sulung bertanggung jawab menjaga keutuhan dan martabat keluarga".
"Mas Adit, dengan semua bukti yang aku berikan tempo hari, menurutmu masih belum cukup untuk membongkar skandal perselingkuhan Saskia dan Arnold ?"
Andriana meraih tangan Adit untuk meyakinkan ucapannya.
*Adit melemparkan tangan Andriana dengan kesal " Cukup! Andriana! Kamu yang selingkuh dari adikku, lebih baik ka*mu pulang sekarang juga, jelas kan semua di rumah !".
"An......!"
Tiba tiba sebuah suara terdengar menganggil namanya di tengah tengah suara hujan.
Andriana, Devan, dan Adit menoleh seketika.
"An, ini hasil test DNA yang kamu minta sudah keluar!" Ucap Alin sambil berjalan mendekati ketiganya dengan map di tangan satunya dan satunya lagi memegangi gagang payung.
"Alin, benar benar kebetulan yang tepat" Gumam Andriana dengan senyum tipis.
Alin menyodorkan berkas itu kepada Andriana, namun Adit menahannya dan mengambilnya lalu membuka perlahan.
Devan, Andriana dan Alin membiarkan Adit membacanya sendiri, ketiganya hanya saling melemparkan pandangan.
Deg
Deg
Deg
Dada Adit terasa sesak begitu tahu isi di dalamnya.
Andriana merebut berkas itu, matanya pun membulat sempurna.
"Gila, Saskia benar benar gila" Gumamnya lirih.
Devan memegangi kedua pundak Andriana dari belakang, ia ikut membaca hasil test DNA itu lalu mengalihkan pandangan pada Adit yang sudah lemas, luruh dan hancur.
"Mas Adit! Kamu tidak boleh kalah mas, kamu harus kuat dan membalas pengkhianatan ini.
Saskia keterlaluan, Diego bukan anak mas Adit entah anak siapa tapi Daniar anaknya Arnold ia keturunan keluarga Wijaya".
"Sialan, brengsek! Bisa bisanya adikku sendiri mengkhianatiku, bajingan!" Teriak Adit frustasi.
Semua terdiam melihat Adit yang sudah berantakan.
Devan berjalan mendekat dan menepuk pundaknya " Tuan Adit, anda adalah korban, Andriana juga korban".
Adit tertunduk memegangi kepalanya, air mata mulai menetes perlahan di kedua matanya.
Andriana ikut mendekat dan duduk di samping Adit "Mas Adit, sekarang ikut aku dan Devan mencari penginapan, kita akan bicarakan lagi karena masih banyak yang ingin aku ceritakan".
Flashback off.
Andriana dan Arnold sedang berada di bengkel mobil untuk membenarkan mobilnya yang sudah mogok beberapa hari.
"An, bagaimana keadaan mama?" Tanya Arnold memulai percakapan.
"Mama sudah lebih baik, kondisinya mulai stabil tapi" Jawab Andriana terjeda.
"Tapi apa An?"
"Mama tidak boleh mengalami serangan jantung lagi atau akibatnya bisa fatal" Jawab Andriana pelan.
Arnold terdiam sejenak, ia menghembuskan nafas perlahan dan mengalihkan pandangan jauh ke luar ruangan yang luas seperti ada yang menggangu pikirannya.
Andriana terdiam sejenak, ia menatap lekat wajah suaminya yang dulu pernah dicintainya sepenuh hati.
'Karena itu mas, melihat kondisi mama, aku berubah pikiran untuk menghancurkan hidupmu.Dengan Devan di sisiku, mas Adit di pihakku sebenarnya sangat lah mudah bagiku menghancurkanmu. Tapi aku tidak akan sanggup melihat mama kehilangan detak jantungnya karena aku, walau bagaimanapun juga mama sudah memungutku dari jalanan, memberikanku keluarga, cinta dan kasih sayangnya...sial aku dilema, antara dendam dan balas budi '.
Tiba tiba suara seseorang mengagetkannya.
"Hei, bukannya kamu wanita yang bersama Devan Tempo hari '' Ucap Agatha dengan suara lantang.
Andriana pun menyipitkan matanya lalu mengalihkan pandangan pada Arnold yang juga ikut menatapnya.
Andriana pun berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Agatha yang berada di ambang pintu bengkel.
"Oh nona Agatha masih ingat ya?"
"Tentu saja aku mengingatnya, kamu jangan harap merebut Devan dariku, aku ini calon istrinya yang sudah disiapkan oleh keluarga Collin, tidak ada yang bisa menggantikan posisi ku" Jawab Agatha penuh percaya diri.
Andriana hanya tersenyum tipis sebelum seseorang muncul dari balik pintu mobil dan ikut turun lalu berdiri di samping Agatha.
"Siapa Agatha? "
"Tante, dia pernah bersama Devan, mungkin mau merebutnya dariku" Jawab Agatha sambil merengek pada sesosok wanita paruh baya berwajah tegas, serius dan terlihat kejam.
"Hei nyonya, jangan salah paham dia istriku mana mungkin dia merebut calon suaminya, iya kan sayang?" Ucap Arnold sambil melingkarkan tangannya di pinggang Andriana.