Wanita desa menjadi tulang punggung keluarga, semenjak Bapaknya meninggal dunia. Hanum tinggal bersama sang ibu. Ibu yang setiap hari menjual sayuran keliling untuk mencukupi hidupnya.
Usai penderitaan Hanum, tapi ia masih berdiri tegar agar ibunya senang.
Namun jalan tak begitu mulus, kini Hanum tengah di nikahi oleh seorang lelaki yang amat ia cintai, seorang anak pengusaha sukses sebagai CEO.
Namun takdir berkata lain, lelaki yang justru di idamkan oleh Hanum tak sesuai harapan.
Menikah hanya sebuah terpaksa, Arkan enggan menyentuh Hanum karena dari keluarga miskin.
Tapi percayalah kedua orangtua pihak lelaki lebih menyayangi menantu dari anak sendiri.
Riswan akan mengangkat derajat Hanum sebagai CEO, setelah apa yang di perbuat anaknya.
Akankah Arkan mengetahui hal tersebut, apakah ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Rohimah II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelakor Masuk Rumah Tangga Orang
Fatimah baru saja pulang dari pencarian Menantu, sedangkan Arkan sudah emosi seolah ada musibah tengah dibicarakan.
Fatimah menghampiri Arkan, seharusnya ada sopan santun ketika masuk rumah. Bukan malah teriak-teriak memangil nama istri.
"Arkan, seharusnya Mama nanya kamu, kenapa kamu tidak menyematkan nyawa istri kamu. Hanum dalam bahaya."
"Ma, ga usah cari debat. Hanum itu semua bisa sendiri, bahaya pun Arkan tidak mau membantunya. Suruh siapa, Mama pergi dengan Hanum."
Plak!!
Plak!!
Keduanya kali tamparan Fatimah kepada Arkan, menganggap jika semua Arkan bukan anak kandungnya. Arkan masih merasakan sakit akibat tamparan pagi hari, ini sudah melakukan kembali.
"Tampar terus anak Mama satu ini, Mama kira Arkan boneka. Setiap hari, Mama tampar. Seharusnya Mama mikir, Hanum itu hanya seorang istri, dan ia numpang di rumah kita."
"Numpang?" Kamu pikir kamu ga numpang. Mama menyayangi Hanum udah menganggap anak sendiri, kenapa kamu bisa tega mengatakan itu kepada Hanum. Dia istri mu, dia tak pernah meminta lebih dari kamu, tapi apakah kamu pernah bahagia kan, Hanum."
"Pernah gak?"teriak suara Fatimah sebenarnya ia sudah capek meladeni sifat Arkan.
"Oke, Arkan ga pulang kerumah ini. Arkan ingin bebas, Ma. Walaupun Arkan ga cinta sama Hanum, tapi tetap aja perasaan ini tidak bisa disatukan, Ma."
Arkan langsung pergi tak mempermasalahkan jika dirinya tak dianggap, bahkan Arkan belum menerima kenyataan hidup.
Selepas Arkan pergi dari rumah, Fatimah kembali runtuh. Apakah ia salah bicara, jelas jika seorang istri harus di muliakan, ada rasa tanggung jawab. Bukan menyerahkan diri.
Memang didalam pernikahan belum tumbuh cinta, tapi cinta seperti apa?
Allah akan menghadirkan sebuah cinta sejati dari kedua belah pihak antara laki-laki dan perempuan. Tak mencintai bukan berarti tak menjaga nya, justru sudah cinta pasti ada rasa menjaganya.
Lama-kelamaan Arkan akan menyadari, betapa ia menyesal sudah meninggalkan istri daripada harus menerima wanita lain.
Fatimah dengan suntuk, sedih hanya bisa berdoa terbaik untuk menantu.
Melepaskan penatnya, Fatimah menyalahkan siaran tv. Terkejut ketika siaran tv ia tukar diganti tvOne no 8. Dengan jelasnya, jika menantu yang ia sayang dihina mentah oleh seluruh penduduk kota.
Shok menutup mulut, Hanum adalah wanita baik ia meskipun banyak menyakiti, Hanum tak membalas dendam. Justru dibalas dengan kebaikan.
"Yaa Allah, Num!"
Tiba-tiba saja ponsel Fatimah berdering cukup lama, penelpon dari seorang pemuda. Pemuda yang menolongnya mengacak nomor tersebut. Bahkan pemuda itu ingin mengetahui Kelurga pasien.
Siang hari cuaca makin panas. Fatimah mengangkat ponselnya. Berharap Menantu segera di obati .
( Halo, assalamu'alaikum, Bu)
(Iya Halo juga, Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Dengan siapa saya bicara)
(Maaf, apakah ini keluarga dari pasien bernama Hanum. Beliau berada di RS CENDANA HARAPAN. Mohon segera kesini, Bu. Biaya pengobatan sudah saya tembus)
Pemuda tersebut langsung menutup ponselnya, betapa Shok dan terkejut jika menantu bisa diselamatkan dengan ditolong oleh orang baik disekelilingnya.
Tanpa berbasa-basi, Fatimah lekas pergi. Mematikan tv, dan bergegas memanasi mobilnya. Bukan berarti Fatimah pamer, ia ingin bawa menantu pulang dan Fatimah ingin merawat dengan tangan sendiri.
Hatinya kembali bergetar hebat, ia akan bawa kembali menantu kesayangan.
Saat sudah masuk ke mobil, ada seorang perempuan tengah berdiri didepan gerbang rumah Fatimah.
Dilihat dari penampilannya, jika perempuan itu sangat tidak baik. Merusak pandangan, namun Fatimah malah turun dari mobil ingin memastikan bahwa jika itu adalah teman Hanum.
"Maaf cari siapa?" tanya Fatimah.
"Anda siapa?" Saya ingin ketemu langsung sama yang namanya Hanum, dia itu sudah merebut calon suami ku."
Karena penampilan Fatimah terlihat sederhana, Riana menganggap jika Fatimah adalah tukang kebun pembersih rumah.
Bisa-bisanya Fatimah turun dari mobil hanya diperlakukan tidak baik oleh Riana.
Fatimah mulai masa bodoh, ia mengingat jika menantu masuk RS. Bukan ingin perduli, tapi tetap Fatimah tidak perduli dengan kondisi yang sekarang. Lebih tepatnya, tak ingin mencari urusan orang lain.
Fatimah yang langsung pergi dan menaiki mobil miliknya, ia tak pernah mau bicara dengan orang cara memperlakukan kurang sopan.
Akan tetapi, Riana tetap berontak ingin masuk kedalam rumah besar mewah tersebut.
Karena Satpam sedang libur di karenakan ada kelurga tertimpa musibah. Fatimah melarang keras, bahkan meneriaki kepada Riana.
Turun lagi dari mobil, karena Riana terus menyebut nama Hanum. Apa Riana kenal dengan Hanum?
"Pergi dari sini!" Disini tidak ada namanya Hanum, pergi sana."
"Pembantu kayak elo ga mungkin punya rumah sebesar ini? Gue mau cari Riana, minggir ga."
Berusaha keras Fatimah melawannya, tapi tak sanggup dengan tenaga Riana yang masih kuat. Fatimah tersungkur, sempat luka dibagian tangan.
Riana berusaha meneriaki nama Hanum berulang-ulang, baginya di ruangan kantor jika Arkan sudah menikah, ia ingin tahu wajah Hanum. Lagi pula ia ingin mengumumkan bahwa Arkan menikah dengan Riana 1 bulan kedepan.
Riana yang mengandung anak Arkan, Arkan harus bertanggungjawab atas apa yang mereka lakukan.
Tak puas menyiksa Fatimah, Riana juga masuk dengan merusak barang kesayangan Arkan. Riana tak tahu jika orang yang sedang ia hadapi adalah Orangtua Arkan.
Fatimah langsung bangkit, rasanya sudah capek meladeni sifat Riana mulai tak waras. Menampar wajah Riana hingga merah padam.
Plak!
Satu tamparan keras mengenai pipi mulus Riana, baginya Riana tidak terima dengan perlakuan Fatimah.
Apa yang terjadi selanjutnya?