Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Setelah dokter memperbolehkan Mili untuk pulang ke rumah.
Tanpa membuang waktu, David mengajak istrinya untuk pulang ke Jakarta.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, David tidak sedikit pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mili.
Kehangatan telapak tangan suaminya itu menjadi penawar rasa penat setelah hari-hari yang melelahkan di rumah sakit.
Sesampainya di bandara Bali, pesawat jet pribadi milik keluarga Hermawan sudah menyiagakan seluruh kru terbaik untuk menyambut sang nyonya besar.
David membopong Mili langsung dari dalam mobil hingga ke dalam kabin pesawat, mengabaikan fakta bahwa Mili sebenarnya sudah sanggup melangkah sendiri.
"David, aku bisa jalan sendiri," bisik Mili malu-malu saat beberapa kru menunduk hormat menyapa mereka.
"Tidak. Kamu sedang membawa buah hati kita, dan aku tidak akan membiarkan kakimu menapak lantai bandara yang keras," sahut David penuh dominasi yang tak bantah, menyunggingkan senyum tipis seraya mendudukkan Mili di sofa kulit yang paling empuk.
Sepanjang penerbangan menuju Jakarta, David berubah menjadi sosok yang teramat protektif.
Pria itu memastikan suhu kabin tetap hangat, menyelimuti Mili hingga batas dada, dan mengusap lembut perut istrinya yang masih rata setiap kali Mili terlelap sebentar.
Begitu jet pribadi mereka mendarat di Jakarta, iring-iringan mobil pengawal mewah sudah berjejer rapi di apron.
Jonas sendiri yang membukakan pintu untuk pasangan tersebut.
"Selamat datang kembali di Jakarta, Tuan, Nyonya," sambung Jonas dengan nada penuh rasa hormat.
"Kediaman utama sudah disterilkan dan seluruh pelayan siap melayani kebutuhan Nyonya."
David merengkuh pinggang Mili erat-erat saat mereka memasuki mobil antipeluru yang membawanya menuju mansion utama Hermawan.
Bayang-bayang konflik, fitnah kejam dari sang ibu mertua, hingga ancaman Gea kini terasa begitu jauh.
Saat mobil meluncur menembus jalanan Jakarta yang temaram, Mili menyandarkan kepalanya di dada bidang David.
Tangan kokoh suaminya merayap turun, melingkari jemari Mili di atas perutnya.
"Mulai hari ini, dunia luar tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi, Sayang," bisik David di ceruk leher Mili, menyalurkan kehangatan dan rasa posesif yang mendalam.
"Kamu dan calon bayi kita adalah prioritas utamaku. Siapa pun yang berani mengusik kedamaian rumah ini, akan berhadapan langsung denganku."
Mili menganggukkan kepalanya sambil mencium punggung tangan suaminya.
Sesampainya di mansion utama keluarga Hermawan, gerbang besi menjulang tinggi terbuka lebar menyambut kedatangan sang penguasa.
Puluhan pelayan dan penjaga berbaris rapi di sepanjang jalan setapak menuju pintu utama, menunduk hormat saat mobil antipeluru David berhenti tepat di depan tangga megah bertiang marmer.
David keluar terlebih dahulu. Sebelum Mili sempat menggeser tubuhnya untuk turun, David sudah menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah tubuh Mili, membopong sang istri ke dalam dekapan hangatnya.
"David, para pelayan melihat kita," bisik Mili seraya menyembunyikan wajahnya yang merona merah di ceruk leher David.
"Biarkan saja. Mereka harus tahu siapa ratu di rumah ini yang tidak boleh lelah sedikit pun," sahut David dingin namun sarat akan rasa bangga yang tak disembunyikan.
Langkah tegap David menggema di ruang tengah mansion yang megah.
Ia tidak membawa Mili ke kamar lama mereka, melainkan melangkah menuju sayap kanan mansion—sebuah area khusus yang sudah diubah total hanya dalam waktu satu malam atas perintah kilatnya dari Bali.
Pintu ganda kamar utama terbuka. Mili terpana melihat ruangan yang kini terasa jauh lebih hangat, dihiasi karpet tebal yang sangat lembut, aroma terapi menenangkan, serta perabotan tanpa sudut tajam yang sengaja dirancang demi keamanannya.
David membaringkan Mili di atas ranjang berukuran ekstra besar dengan sangat hati-hati, seolah memegang barang pecah belah paling langka di dunia.
Pria itu menyelimuti istrinya hingga batas dada, lalu melepaskan jas mewahnya dan ikut menaiki ranjang, berbaring di samping Mili.
Ia merengkuh tubuh Mili dari samping, membawa wanita itu sepenuhnya ke dalam pelukannya. Tangan besar David merayap turun, melingkar di atas perut rata Mili, mengusapnya dengan gerakan putaran halus yang teratur.
"Istirahatlah, Sayang." bisik David penuh kelembutan, mendaratkan ciuman hangat di pelipis Mili.
"Mulai besok, kamu tidak perlu memikirkan hal apa pun. Masalah Gea, ibumu, atau media. Jonas sudah membereskan semuanya hingga tuntas. Tidak ada satu pun dari mereka yang akan berani menampakkan diri di hadapanmu lagi."
Mili membalikkan tubuhnya perlahan, menyandarkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Bau aroma parfum maskulin bercampur aroma khas tubuh David menyapa indra penciumannya, memberikan rasa aman mutlak yang tak tergoyahkan.
"Terima kasih untuk semuanya, David" ucap Mili pelan, menyusupkan jemarinya di antara jemari David yang berada di atas perutnya.
David mengecup bibir Mili dengan dalam, sebuah kecupan manis yang sarat akan rasa kepemilikan dan perlindungan abadi.
"Jangan pernah berterima kasih pada suamimu sendiri," ucap David dengan binar mata yang memancarkan kegilaan cinta yang pekat.
"Kamu dan anak ini adalah jiwaku. Menyembunyikan kalian dari kejamnya dunia luar adalah satu-satunya tugas utamaku mulai detik ini."
Kemudian David meminta agar istrinya untuk istirahat.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan, apakah anda bisa keluar sebentar," ucap Jonas.
David membuka pintu dan melihat Jonas ya h berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" tanya David dengan wajah serius.
"Ayah anda ada disini, Beliau ingin bertemu dengan anda." jawab Jonas.
David tersenyum tipis dan sedikit terkejut ketika mendengar Ayahnya yang ada disini.
Segera ia turun ke bawah dan disana ia melihat ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ada angin apa, sampai Papa ada di rumahku? Apa ini tentang Andrew?"
Papa Hermawan menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah putranya yang sering ia sudutkan.
"Tidak, David. Ini bukan soal Andrew."
"Lalu?"
David duduk dan menyilangkan kakinya sambil menatap ke arah Ayahnya.
"David, Papa akan menjual saham Andrew ke kamu. Setelah itu papa akan pindah jauh dari sini."
David menatap sang ayah dengan alis yang bertaut tajam.
Matanya menyipit, memindai setiap gerak-gerik lelaki paruh baya di hadapannya yang kini tampak jauh lebih tua dan lelah dari terakhir kali mereka bertemu.
Keputusan Papa Hermawan terdengar begitu mendadak dan tidak masuk akal.
Menjual seluruh saham Andrew, anak kesayangan yang selama ini selalu dibanggakan dan dibela mati-matian, lalu memilih pergi jauh? Ini bukan gaya pria tua itu.
"Menjual saham Andrew?" ulang David dengan nada datar yang sarat akan kecurigaan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis tipis.
"Sejak kapan seorang Papa Hermawan sudi melepaskan aset berharga untuk anak sulungnya itu? Apa, Papa ingin membebaskan Andrew dari penjara? Atau, ada yang lainnya?"
Papa Hermawan menundukkan kepalanya saat mendengar perkataan dari putra bungsunya.