Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.
Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Suasana di ruang keluarga utama Mansion Hasanuddin mendadak hening seketika saat Ameer dan Tania melangkah mendekati meja akad bernuansa putih dan perak. Harum melati yang menyeruak di udara menambah kesakralan momen tersebut. Penghulu dari Kantor Urusan Agama bersama Kakek Hamzah dan dua saksi nikah dari tetua keluarga besar sudah duduk rapi di tempatnya.
Tania duduk di sebelah kanan Ameer dengan jemari yang terlipat anggun di atas pangkuannya. Di balik polesan riasan tipisnya yang memesona, Tania tetap mempertahankan gestur yang tenang dan berwibawa.
Di barisan kursi keluarga, Chana dan Filio duduk dengan tubuh kaku. Keduanya menatap punggung Ameer dan Tania dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Perut Chana terasa mual oleh rasa cemas yang tak tertahankan, sementara Filio menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Dalam hati mereka berdua, ada doa bisu yang memohon agar ada keajaiban atau halangan yang menggagalkan acara ini.
Namun, takdir berkata lain.
Penghulu menjabat erat telapak tangan kanan Ameer. Suara sang penghulu bergema mantap melalui pengeras suara, membacakan kalimat ijab dengan intonasi yang tegas.
"Saudara Ameer Hasanuddin bin Ibrahim Hasanuddin, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Tania Abdullah binti Almarhum Khalid Abdullah, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan logam mulia sebesar seratus gram serta uang tunai sepuluh milyar dibayar tunai."
Tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya, Ameer menyambut uluran tangan itu dan mengucapkan kalimat kabul dalam satu tarikan napas yang sangat lugas, tegas, dan lantang...
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Tania Abdullah binti Almarhum Khalid Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Suara bariton Ameer bergema memenuhi penjuru ruangan yang megah itu.
"Bagaimana para saksi? SAH?" tanya penghulu melirik ke kanan dan kiri.
"SAH!" jawab para saksi dan seluruh anggota keluarga besar yang hadir secara serentak.
SAH!
Kata itu bagaikan dentuman meriam yang menghantam tepat di ulu hati Chana dan Filio.
Seketika itu juga, wajah Chana berubah pucat pasi bagaikan kertas. Tubuhnya lemas hingga ia nyaris jatuh merosot dari kursi kayunya kalau saja tidak tertahan oleh sandaran tangan. Napas Chana kempas-kempis, tangannya gemetar hebat saat menyadari bahwa seluruh usahanya untuk menyingkirkan Tania dan menghalangi pernikahan ini telah gagal total... Apalagi mahar yang di berikan Amear sangat banyak.
Di sebelahnya, Filio tak sanggup lagi menahan kepanikannya. Ia melotot memandang Tania yang kini mengusap wajahnya mengamini doa pernikahan.
"Ma... bagaimana ini..." bisik Filio dengan suara bergetar dan histeris yang coba ia tahan agar tidak terdengar tamu lain. Air mata keputusasaan membasahi pelipisnya. "Dia... dia benar-benar sudah jadi istri sah Kak Ameer..."
"Diam, Filio! Jangan bikin malu di depan Kakek!" desis Chana dengan suara basah oleh ketakutan, meski ia sendiri hampir tidak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.
"Kalian jangan berisik,lihat semua keluarga menatap tajam ke arah kita" Bisik Danin.Di telinga sang istri yang dari tadi tidak mau diam.
Sementara itu, di meja akad, Tania memutar tubuhnya menghadap Ameer. Dengan penuh keanggunan, Tania meraih telapak tangan kanan suami sahnya itu lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.
Ameer menatap puncak kepala Tania yang terbalut khimar putih. Ada rasa hangat dan protektif yang mendadak membuncah di dalam dada pria tegap itu. Ameer perlahan meletakkan telapak tangan kirinya di atas kepala Tania, membacakan doa kebaikan untuk istrinya, Tidak mencium Tania karena ia merasa aneh dengan dirinya sendiri, apalagi ia mengatakan pada Tania tempo hari kalau pernikahan ini hanya di atas kertas.
Usapan lembut di kepala Tania membuat jantung Tania yang asli sempat berdesir halus. Namun, saat ia mendongak dan menatap mata Ameer, Tania menyunggingkan senyum paling manisnya.membuat jantung Amer berdebar tidak karuan.
Setelah itu, Tania perlahan memutarkan pandangannya ke arah barisan kursi keluarga tepat ke arah Chana dan Filio yang sedang dilanda ketakutan luar biasa.
Di balik senyuman anggun seorang pengantin baru, sepasang mata Tania mengirimkan kilatan dingin yang amat tajam.
"Selamat datang di neraka kalian sendiri, Tante Chana... Filio... "batin Tania dengan kepuasan yang membara. "Mulai detik ini, statusku adalah Nyonya Ameer Hasanuddin. Dan aku yang akan menentukan kapan permainan kalian harus berakhir.".
Usai seluruh prosesi akad nikah yang berlangsung sakral dan penuh kesederhanaan, malam mulai merayap di atas atap Mansion Hasanuddin. Para tamu dan kerabat jauh telah kembali ke kediaman masing-masing, menyisakan keheningan yang kaku di dalam rumah megah tersebut.
Di dalam kamar utama yang luas, Tania sedang menyisir rambutnya yang basah ketika Ameer melangkah masuk. Pria tegap itu berdiri di dekat meja kerja, menatap Tania dengan raut wajah yang sulit di artikan, ini pertama kalinya Ameer melihat rambut Tania yang panjang dan bergelombang, berbeda dengan saat waktu Tania kecil yang berambut sebahu...Tania sangat cantik dan terlihat dewasa dengan gaun tidur terusan, sangat berbeda dengan Tania yang terbiasa memakai piyama dan jilbab instan.
Ehhhmmm
Ameer menyadarkan dirinya yang sedang memikirkan sesuatu yang tidak boleh"Ingat Ameer, Tania itu adikmu....kau sudah memiliki kekasih" batinnya menyemangati dirinya sendiri agar membuang jauh pemikiran yang tidak seharusnya.
"Tania," panggil Ameer dengan suara baritonnya yang dalam. "Sesuai kesepakatan kita waktu itu... meskipun kita sudah resmi menikah di mata hukum dan agama, kita akan tetap tinggal di kamar terpisah. Kita tetap menjalani hubungan ini seperti kakak dan adik, sampai kamu benar-benar memiliki laki-laki yang mencintaimu begitu pun sebaliknya."
Tania sempat terpaku sejenak. Matanya mengerjap pelan di balik bayangan cermin.
"Hah? Kesepakatan tidur terpisah?! "jerit Tania dalam hatinya, kaget setengah mati.
Ia memutar otaknya cepat, menyadari bahwa Taniza di desa sama sekali lupa menceritakan detail perjanjian konyol ini padanya! Dalam hati, Tania gemas bukan main pada kepolosan saudara kembarnya itu. Punya suami setampan, Sesempurna, dan sekaya Ameer, malah minta tidur terpisah dan dianggap adik!
Namun, Tania yang asli dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya. Ia menarik napas panjang dan menyunggingkan senyum lembut ala Taniza.
"Iya, Kak Ameer... Tania mengerti. Terima kasih sudah sangat memahami keadaan Tania," sahut Tania dengan nada suara yang pasrah dan santun.
Tania mengalah. Lagipula, jika dipikir-pikir kembali, ia sendiri yang baru beberapa hari menempati posisi ini sebenarnya juga belum sepenuhnya siap untuk berbagi ranjang dengan Ameer sebagai suami istri yang utuh. Biarlah alurnya berjalan perlahan.
"Tidur lah yang nyenyak..., Kakak akan kembali ke kamar kakak...Mulai sekarang tidak ada yang perlu di takutkan lagi, Kau sudah sah menjadi nyonya rumah ini" bisik Ameer dengan lembut,lalu melangkah keluar dengan jantung yang tidak beraturan.