Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Kringgggg!
Suara bel tanda berakhirnya jam pelajaran disambut sorak gembira anak-anak.
Mereka berhamburan merapikan tas ransel masing-masing.
Alisya memeluk buku gambarnya rapat-rapat di dada, tak sabar ingin memperlihatkan stiker bintang sembilan itu kepada sang mama.
Begitu melangkah keluar dari gerbang sekolah, Alisya celingukan mencari sosok ibunya.
Namun, bukan Alya yang ia temui terlebih dahulu, melainkan Ranti, ibu dari Raya, yang berdiri angkuh mengenakan kacamata hitam dan pakaian serba mewah bersama Raya di sampingnya.
Raya mendongak menatap ibunya seraya menunjuk-nunjuk Alisya.
"Mama! Itu Alisya! Dia curang di kelas tadi!" adu Raya melengking, berpura-pura menangis. "Dia nyuruh ibunya yang menggambarin tugasnya, makanya dia dapat bintang sembilan! Aku cuma dapat bintang lima, Ma!"
Ranti mendesis murka. Ia melepas kacamata hitamnya dan melangkah lebar-lebar menghampiri Alisya.
Tanpa rasa iba pada anak kecil, Ranti menarik kasar tali ransel merah Alisya hingga anak itu tersandung.
"Eh, Anak Miskin!" bentak Ranti keras hingga menjadi pusat perhatian orang tua murid lainnya. "Kamu pakai jimat apa sampai bisa curang di kelas, hah?! Ibumu yang tukang cuci piring itu yang buatin tugasmu, kan?! Jangan ngaku-ngaku pintar ya kamu!"
Alisya ketakutan setengah mati. Air mata langsung menetes membasahi pipi gembilnya. "N-nggak Tante... Alisya gambar sendiri... Alisya nggak curang..."
"Alasan! Mana buku tugasmu?! Sini!" Ranti merampas paksa buku gambar dari pelukan Alisya dan hendak merobeknya di depan umum. "Anak penipu kayak kamu nggak berhak dapat nilai tinggi melebihi anakku!"
"Jangan Tante! Jangan dirobek!" tangis Alisya histeris.
Namun, sebelum jemari Ranti sempat mengoyak kertas buku itu...
SREK!
Sebuah cengkeraman tangan yang begitu kuat pergelangan tangan Ranti di udara.
"Lepaskan tangan kotormu dari buku anakku, Ranti," kata sebuah suara wanita yang sangat dingin.
Ranti terperanjat, menoleh kasar. Alya berdiri di sana.
"A-Alya?!" pekik Ranti terkejut, namun langsung mencoba menutupi rasa gentarnya. "Bagus kamu datang! Ajari anakmu ini jangan jadi penipu di sekolah! Dia curang merebut posisi anakku!"
Alya tidak membalas ucapan Ranti. Ia mengencangkan cengkeramannya sedikit saja pada pergelangan tangan Ranti.
KLEK!
"AGHHH! Sakit! Lepas, Alya!" jerit Ranti histeris, buku gambar Alisya terlepas dari genggamannya dan langsung ditangkap dengan mulus oleh tangan kiri Alya.
Alya mendorong tubuh Ranti hingga wanita bersanggul tinggi itu terhuyung mundur dan jatuh ke tanah.
Alya berlutut di hadapan Alisya. Ia mengusap air mata di pipi putrinya dan mengambil buku gambar yang sedikit terlipat.
"Alisya tidak apa-apa, Sayang?" tanya Alya halus.
"M-Mama..." tangis Alisya menghambur ke dalam pelukan Alya. "Alisya nggak curang Ma... Alisya dapat bintang sembilan dari Bu Guru..."
Alya membuka buku tersebut, melihat deretan stiker bintang emas dan angka '190' yang tertulis di sana. Senyuman bangga terukir di bibirnya.
"Mama tahu. Anak Mama anak yang jujur dan pintar," bisik Alya seraya mengecup dahi Alisya. "Tunggu di sini sebentar ya, Sayang."
Alya berdiri kembali, memutarkan badannya menghadapi Ranti yang sedang meringis memegangi pergelangan tangannya yang memar kebiruan.
"Kamu... kamu berani main fisik padaku?!" bentak Ranti murka. "Kamu tahu siapa aku?! Perusahaanku memang sedang bermasalah, tapi keluarga Gunawan masih punya kekuasaan buat memenjarakan cewek miskin kayak kamu!"
Alya melangkah tenang mendekati Ranti. Setiap pijakan kakinya seolah membawa tekanan atmosfer yang makin berat.
"Ranti," panggil Alya pelan. "Suamimu, Andi, sudah bangkrut dan merangkak memohon di depan rumahku pagi ini. Dan jika kamu belum tahu... keluarga Gunawan yang kamu bangga-banggakan itu akan segera kehilangan seluruh sahamnya."
Ranti terbelalak hebat, wajah cantiknya mendadak pucat pasi. "M-apa maksudmu?! Kamu ngomong omong kosong apa?!"
Alya memiringkan kepalanya sedikit.
"Aku bisa menghancurkan seluruh hartamu dalam hitungan detik," bisik Alya tepat di depan wajah Ranti yang gemetar hebat. "Tapi jika kamu menyentuh atau membuat putriku menangis satu kali lagi... aku tidak hanya akan mengambil hartamu. Aku akan memastikan kamu dan anakmu tidak punya tempat lagi di kota ini."
Ranti mematung.
Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun lagi, Ranti menarik tangan Raya dan berlari terburu-buru menuju mobilnya, meninggalkan area sekolah dengan rasa malu dan ketakutan yang luar biasa.
Alya membalikkan badan, kembali tersenyum hangat menatap putri kecilnya. Ia merengkuh Alisya ke dalam gendongannya.
"Ayo Sayang, kita pulang," kata Alya lembut. "Hari ini Alisya hebat sekali, Mama janji belikan es krim paling besar untuk merayakan bintang sembilan Alisya."
Alisya melingkarkan tangannya di leher sang ibu, menyandarkan kepalanya dengan penuh rasa aman. "Horeee! Terima kasih, Mama!"