Indonesia
NovelToon NovelToon
Dinikahi Anak Juragan

Dinikahi Anak Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: ntaamelia

Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.

Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.

Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.

Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Mencari Calon Mantu

Desa Suka Makmur, itulah desa yang menjadi tempat tinggal Diyah, begitu juga dengan seorang pria bernama Biyakta Kusuma, anak sulung dari Juragan Marta, pengusaha penggilingan padi sekaligus pemilik beberapa lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan banyak warga desa.

Di rumah paling megah di desa tersebut, suasana pagi terasa begitu tenang. Di mana hamparan kebun mangga dan sawah mengelilingi rumah milik Juragan Marta, sedang di ruang tengah, pria paruh baya itu meletakkan cangkir kopinya setelah menatap putra sulungnya yang baru saja selesai sarapan.

"Biyakta," panggilnya, membuat semua orang yang ada di sana reflek mengangkat kepala.

"Ya, Pak," jawab Biyakta dengan santai, karena dia memang pria yang terkenal tenang dalam hal apa pun, termasuk tentang urusan asmaranya.

"Kamu sudah 28 tahun."

Biyakta mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet yang sedang dibacanya.

"Lalu kapan kamu menikah?" tanya Juragan Marta, usianya sudah semakin tua, bahkan sang istri sudah lebih dulu meninggalkannya. Namun, sang anak seperti tak tertarik untuk berhubungan dengan wanita.

Pertanyaan itu membuat Biyakta mengembuskan napas panjang. Kali ini atensinya berhasil teralihkan.

"Belum kepikiran," jawabnya singkat.

Juragan Marta menggeleng pelan. Dia tidak menerima jawaban itu, dia ingin anaknya menikah dan memberikan keturunan sebagai penerus kekayaan yang telah dibangunnya.

"Perusahaan semakin besar. Sawah bertambah. Gudang bertambah. Karyawan bertambah. Tapi calon istrimu tidak ada!" protes Juragan Marta.

Biyakta tersenyum tipis, sambil melirik sang adik yang duduk di sampingnya. Umur mereka tak selisih begitu jauh.

"Menikah bukan urusan yang bisa dipercepat, Pak, kalau mau Januar saja dulu," ujar Biyakta masih dengan intonasi yang sama. Jujur saja, dia bersikap seperti ini karena memang belum punya kekasih. Lantas wanita mana yang akan dia nikahi? Tidak mungkin asal comot di jalan kan?

"Lho kenapa jadi aku? Aku juga belum siap, aku masih banyak belajar bantu Bapak!" bantah Januar, tak ingin ikut-ikutan.

Desahan napas Juragan Marta makin terdengar kasar.

"Kamu ini, suruh menikah saja susah. Kalau terus menunggu, kamu mau menikah umur empat puluh?" Pria paruh baya itu kembali menekan si putra sulung.

"Kalau memang belum bertemu yang cocok."

Biyakta mengangkat kedua bahunya, sedangkan Juragan Marta menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.

"Kamu ini terlalu sibuk bekerja. Dari pagi sampai malam isinya kantor, kebun, rapat, gudang, dan pabrik. Kapan kenal sama gadis, padahal di desa ini banyak sekali yang cantik-cantik?"

Biyakta tak menjawab. Semua yang dikatakan ayahnya memang benar.

Selama beberapa tahun terakhir, hidupnya hanya diisi pekerjaan, karena bagi Biyakta mempertahankan usaha keluarga jauh lebih mudah daripada membangun hubungan dengan seseorang.

"Mas, jangan terlalu dipaksa, kalau sudah waktunya nanti Biyakta menikah," timpal Laksmi—adik dari ibu Biyakta dan Januar, yang kini berstatus janda. Dia sambil menyuapi putranya.

Namun, Juragan Marta tak mendengarkan saran apapun. Dia kembali angkat bicara.

"Bapak kasih waktu."

"Waktu untuk apa?" Biyakta sedikit gusar hingga menegakkan tubuhnya.

"Ya cari pacar."

Biyakta terkekeh pelan.

"Pak ...."

"Bapak serius."

Ruangan kembali hening. Beberapa detik kemudian, Juragan Marta melanjutkan dengan nada yang lebih tegas.

"Kalau sampai akhir tahun kamu belum membawa gadis yang ingin kamu nikahi ...."

Beliau berhenti sejenak. Sedangkan akhir tahun sudah satu bulan lagi.

"..., biar Bapak yang mencarikannya."

Biyakta mengangkat alis.

"Dijodohkan?" tanyanya memastikan.

"Iya."

"Bapak masih percaya perjodohan?"

"Bukan percaya atau tidak. Yang penting calon istrimu wanita baik-baik dan kamu menikah."

Biyakta berpikir beberapa saat. Baginya, menikah memang bukan prioritas saat ini. Namun, dia juga tahu sifat ayahnya. Jika sudah mengambil keputusan, sangat sulit untuk diubah.

Akhirnya dia mengangkat kedua bahu.

"Terserah Bapak saja."

Jawaban singkat itu justru membuat Juragan Marta tersenyum lebar.

"Serius? Kamu tidak keberatan?"

"Selama wanita itu baik, menghormati orang tua, dan tidak menikahiku karena harta," jawab Biyakta dengan gamblang.

Juragan Marta tertawa puas.

"Itu urusan Bapak."

Biyakta hanya geleng-geleng kepala, kemudian pamit untuk segera pergi bekerja.

Sedangkan Juragan Marta segera menekan bel kecil yang berada di atas meja. Tak berselang lama seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masuk ke ruangan.

"Ada apa, Pak?" tanya Surya—yang merupakan asisten Juragan Marta.

Juragan Marta menoleh kepadanya.

"Saya punya tugas baru untukmu. Kumpulkan data gadis-gadis desa beserta fotonya."

Surya sempat mengedip bingung.

"Maaf, Pak?"

"Foto, biodata, keluarganya, pekerjaannya, dan bagaimana perilakunya di masyarakat," ulang Juragan Marta lebih rinci mengenai kriteria calon menantunya. Ya, belum apa-apa dia sudah tidak percaya pada Biyakta, jadi biar dia saja yang carikan.

Surya masih berusaha mencerna perintah tersebut.

"Untuk?"

"Calon menantu."

Mulut Surya langsung membentuk huruf O. Sedangkan Juragan Marta melanjutkan dengan penuh semangat.

"Yang rajin."

"Baik, Pak."

"Yang sopan."

"Siap."

"Yang tidak suka bermalas-malasan."

"Baik."

"Kalau bisa bukan gadis yang hanya mengejar kekayaan."

Surya mengangguk mantap, mencatat pesan tersebut di dalam otak.

"Saya mengerti."

"Jangan melihat kecantikannya saja."

Juragan Marta menatap sang asisten dengan wajah yang sangat serius.

"Wajah cantik akan berubah dimakan usia. Tapi hati yang baik akan tetap menjadi penopang rumah tangga."

"Itu betul sekali, Pak."

Tubuhnya di rumah ini, tetapi otak Surya sudah mulai menyusun daftar nama-nama gadis di desa yang dikenal memiliki kepribadian baik.

Takdir mulai menuliskan jalan Biyakta dan Diyah pada halaman yang sama.

Dan sebuah foto sederhana milik Diyah, yang terpajang di kantor RW saat menjadi kader posyandu, kelak akan menarik perhatian seseorang yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.

1
Septi
good . bawa aja Diva
Margaretha Indrayani
bawa saja diva ya diyah, kasihan jadi korban ibu dan ayahnya😡😡😡😡😡😡
Radya Arynda
up lagi thoooor
si pecudang arumi semogah cepat dapat karma,,,,
Dien Elvina
sdh bawa aja adik mu Dyah kasian dia dgn s Rumi berasa hidup d neraka .. apalagi suaminya yg kasar n suka mabok ..ibu mu biarkan saja bahaya klo dia d bawa bisa jadi bumerang buat rmh tangga mu Dyah
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
sudah bawa saja adik mu ikut pulang ke rumah kamu Diyah. tapi ..jangan smapai ajak ibumu. daripada nanti malah jadi bumerang dalam kehidupan rumah tangga kamu. mengingat ibu kamu yang serakahh dan jahatt. Dan jangan mau menjadi ATM ibu kamu. ibu kamu masih muda dan dia juga punya suami. biarkan ibu kamu kerja, jangan terlalu di kasih hati malah kamu sendiri yang menderita.
aurel chantika
Cakra harus dilaporkan ke polisi
aurel chantika
astaga diva,jangan sampai ketahuan deh
Margaretha Indrayani
semoga diyah dan biyakta bisa . menolong sarmila dan diva. cakra dan rani nyolong dirumah ortu sendiri, parah kamu cakra dan rani sudah buta hatinya
Septi
waduhh
Septi
ahh masih ada yang baik.. bersyukurlah mila
Radya Arynda
semogah diyah dan biyatta selalu bahagia dan semogah hamidun...dan sengkuli terlihat wajah aslina....
Sarimi semogah habis ini kamu sadar kalau dyah bukan lah saingan tapi seorang kakak yang benar2 tulus sama adik...drkogah otak mu waras habis ini sarimi
Diah_Kustantie ✨💛
Nextt
Dien Elvina
udah Diva ikut aja dgn kak Dyah daripada hidup sama ibu mu yg udah kyk d neraka
Dien Elvina
s Rumi gak bisa d katakan seorang ibu ..apa yg dia lakukan lebih dari seorang wanita yg kejam dgn anak² nya 🥺
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
hajarrrr bu...mantu tak tahu diri, di kasih hati minta organ tubuh.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
ikut saja sama kak Diyah..Div. daripada kamu hidup dengan moster, lama2 kamu bisa Gilaaa, ngadepin ayah mu yang pemabokk dan ibumu yang pemarah.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Bener2 ibu lukcnutt! jangan harap kali ini anda bakal selamat dari amukan Diyah. apalagi kalau Diyah melihat keadaan mila yang babak belur, anda bisa saja di laporkan dan jangan harap Diyah bakal membantu anda.
Margaretha Indrayani
tapi untunglah diyah sudah tahu kalau sarmila selamat
Diah_Kustantie ✨💛
Nexttt
Dien Elvina
semoga Dyah cepet dtng menjemput Mila n Diva
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!