Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Lampu gantung kristal menggantung megah di ruang makan privat grand ballroom hotel bintang Mexico. Ruangan itu memancarkan kemewahan yang dingin, tempat di mana kesepakatan bisnis berharga miliaran peso ditandatangani di atas denting gelas anggur dan piring porselen murni.
Clara duduk di samping ibunya dengan tubuh kaku. Gaun malam berwarna pastel pilihan sang ibu membungkus tubuhnya yang kian kurus. Di wajahnya, riasan tebal gagal menyembunyikan lingkar hitam dan binar mata yang redup akibat insomnia dan kepedihan yang merajam jiwanya berturut-turut. Di ujung meja, Fred tersenyum lebar.
"Terima kasih sudah memenuhi undangan kami malam ini, Tuan Voz," ujar Wijaya hangat seraya mengangkat gelas anggurnya ke arah pria paruh baya yang duduk di hadapannya.
"Kerja sama proyek konsorsium pelabuhan ini akan menjadi tonggak baru bagi ekspansi holding kita."
"Tentu saja, Fred,"
balas Voz berwibawa.
"Dan seperti kesepakatan awal kita, ikatan bisnis ini akan jauh lebih kokoh jika kita mempereratnya melalui hubungan keluarga."
Jantung Clara berdegup tidak teratur. Firasat buruk mendadak menyeruak di dadanya.
Sejak peristiwa di nightclub dua malam lalu, Clara mengira hidupnya tidak bisa lebih hancur lagi. Namun, duduk di ruang makan ini, ia baru menyadari bahwa tanpa adanya Kenzo yang mendominasi, sang ayah tiri tidak membuang waktu satu detik pun untuk menjadikan Clara sebagai komoditas politik baru.
"Ah, ini dia putra tunggal saya,"
ucap Voz seraya menoleh ke arah pintu ukir yang baru saja terbuka.
"Maaf dia agak terlambat, baru saja menyelesaikan urusan di kantor cabang."
Langkah kaki tegap terdengar mendekati meja makan. Seorang pria muda dengan setelan jas desainer mahal masuk seraya mengumbar senyum sopan.
"Selamat malam, semua,"
sapa pria itu halus.
DEG.
Dunia Clara serasa berhenti berputar seketika. Seluruh darah di tubuhnya tersedot habis. Pria yang diperkenalkan sebagai calon tunangannya malam ini adalah Erick. Pria yang dua malam lalu mengelus pinggangnya di bar, pria yang hampir menciumnya sebelum Clara mendorongnya dalam keputusasaan.
Erick menghentikan langkahnya saat matanya beradu dengan mata Clara. Rasa terkejut memancar jelas di wajah pria itu, namun dengan cepat berganti menjadi senyuman miring yang sarat akan arti yang tersembunyi. Erick tidak tampak dendam, ia justru terlihat seperti pemburu yang baru saja menemukan mangsa berharga yang sempat lolos.
"Erick, kenalkan, ini Clara,"
ujar Fred dengan nada bangga, tak menyadari arus ketegangan yang mendidih di antara mereka berdua.
"Clara baru saja menyelesaikan semester akhirnya di kampus."
Erick mengulurkan tangan kanannya, melangkah mendekat ke kursi Clara.
"Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu secara resmi, Clara."
Clara mematung di tempatnya. Tangannya yang gemetar di bawah meja meremas gaunnya erat-erat. Rasa mual yang teramat sangat kembali menghantam dadanya. Saat teringat bagaimana jemari Erick merayap di kulitnya malam itu, Clara ingin berteriak dan berlari keluar.
"Clara,"
bisik ibunya tegas dari samping, menyikut lengannya pelan.
"Sambut tangan Erick. Jangan mempermalukan Ayahmu."
Dengan napas tertahan dan mata membasah, Clara terpaksa mengulurkan jemarinya. Erick meraih tangan Clara, menyentuh kulitnya dengan sapuan lembut yang disengaja, lalu mendaratkan kecupan singkat di punggung tangan Clara seraya menatap matanya dalam-dalam.
"Senang bertemu denganmu,"
bisik Erick sangat pelan, hanya bisa didengar oleh Clara, penuh nada provokasi yang tajam.
Perjamuan makan malam berlangsung bagaikan siksaan lambat bagi Clara. Setiap tawa bahagia dari ayahnya dan Voz terdengar bagai dentangan lonceng kematian bagi kebebasannya.
Di tengah percakapan mengenai pembagian saham dan rencana pertunangan formal yang dijadwalkan bulan depan, Erick secara terang-terangan terus memperhatikan Clara. Tatapannya menelusuri wajah pucat Clara, menikmati ketakutan dan kerapuhan yang terpancar dari gadis itu.
"Bagaimana menurutmu, Clara?"
tanya Voz mendadak, menghentikan lamunan Clara.
"Erick adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Dia akan menjagamu dengan sangat baik."
Clara menatap ayahnya, lalu beralih menatap ibunya yang tersenyum memohon agar ia bersikap penurut.
Di mana Kenzo?
Di mana pria gila yang biasanya akan mendobrak pintu ini, mematahkan jari-jari pria mana pun yang berani menyentuhnya, dan menyeretnya pulang ke dalam sangkar?
Tidak ada. Pria itu sedang berada di London, merayakan kejayaannya bersama Eleanor. Kenzo telah membuangnya. Kenzo telah menyerahkannya pada kejamnya takdir keluarga ini.
"Clara sangat terkesan, Voz"
potong Fred cepat sebelum Clara sempat bersuara.
"Dia hanya sedikit pemalu."
"Baguslah,"
"Dengan begini, kerja sama kita sudah res..."
Drttttt.
Tiba-tiba, ponsel pribadi milik Fred yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Pendaran layar memperlihatkan nama saluran terenkripsi dari kantor pusat London.
Seluruh meja mendadak hening. Fred mengerutkan kening, raut wajahnya berubah tegang. Pria tua itu meraih ponselnya dan menggeser layar untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, Kenzo?"
ucap Fred dengan nada suara yang ditinggikan, mencoba mempertahankan wibawanya di depan rekannya.
"Ada apa menelpon di tengah makan malam pentingku?"
Dari pengeras suara telepon, suara Kenzo mengalun rendah, santai, dan amat dingin melintasi samudra tanpa ada sedikit pun nada amarah atau kecemburuan di dalamnya.
"Aku hanya mendengar kabar bahwa Ayah sedang menggelar makan malam perjodohan untuk Clara,"
ujar Kenzo tenang. Tawa ringan yang sangat acuh terdengar dari seberang sana.
"Aku menelpon untuk menyampaikan selamat."
Fred tersentak kaget, tak menyangka respon putra tunggalnya akan sekalem ini.
"Kau... tidak keberatan?"
"Kenapa aku harus keberatan?"
balas Kenzo dengan nada tak berselimut beban. "Keluarga Voz adalah mitra yang stabil untuk holding. Erick pria yang cocok untuk mengurus Clara di sana, sementara aku fokus pada pertunanganku dengan Eleanor dan ekspansi bisnis di Eropa. Sampaikan salam hangatku untuk Tuan Voz dan Erick."
TUT... TUT... TUT...
Panggilan terputus begitu saja.
Suasana ruang makan privat itu mendadak diliputi keheningan sejenak, sebelum akhirnya meledak dalam tawa lega dan kebahagiaan.
Voz tertawa lebar seraya mengangkat gelas anggurnya.
"Luar biasa! Pengakuan langsung dari Kenzo! Ini benar-benar restu sempurna bagi hubungan anak-anak kita!"
Erick yang duduk di seberang meja tak mampu menyembunyikan binar bahagia dan senyum kemenangannya. Lampu hijau dari Kenzo, pria yang paling ditakuti di lingkaran bisnis ini adalah jaminan mutlak bahwa Clara kini seutuhnya aman untuk ia miliki.
Erick menatap Clara dengan pandangan penuh rasa percaya diri yang meluap-luap. Ia meraih kembali jemari Clara di atas meja, mengelusnya dengan berani tanpa ada lagi ketakutan akan pengawal atau ancaman Kenzo.
"Terima kasih atas restunya,"
ujar Erick dengan wajah berseri-seri, matanya mengunci Clara dengan senyum miring menggoda.
"Aku berjanji akan menjaga Clara dengan sangat baik."
Clara terduduk mematung. Darahnya serasa membeku. Wajahnya pucat pasi bagai mayat, dan air mata dingin menetes perlahan tanpa suara membasahi pipinya.
Kata-kata "selamat" dari Kenzo menghantam jiwanya jauh lebih hancur daripada pukulan fisik mana pun.
Pria itu tidak menyiapkan jebakan, tidak cemburu, dan tidak peduli lagi. Kenzo telah benar-benar melepaskannya, menyerahkannya pada pria lain, dan beralih sepenuhnya bersama Eleanor di London. Keheningan dingin Kenzo kali ini bukan lagi taktik, melainkan bukti nyata bahwa Clara telah dibuang selamanya.