Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Kedua
Mata Esmera perlahan terbuka.
Untuk beberapa saat, dia hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Tubuhnya terasa begitu ringan, tidak ada rasa sakit sedikit pun.
Anehnya, hal pertama yang terlintas di pikirannya adalah bahwa mungkin dirinya telah sampai di alam kematian.
"Apakah aku berada di alam kematian? Di neraka yang sesungguhnya? Apa di Nirwana?"
Esmera mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangannya mulai menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya."Kamar ini? Rasanya tidak asing?" gumamnya.
Seprai putih yang menutupi tubuhnya, meja kecil di samping ranjang, tirai jendela berwarna krem, hingga aroma lembut bunga yang memenuhi ruangan.
Esmera mengerutkan kening."Ini..."
Dia berusaha bangun dan perlahan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Matanya bergerak ke seluruh penjuru kamar, seakan sedang memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan sekadar ilusi.
Dia mengenal setiap sudut kamar itu.
Kamar yang dulu ditempatinya ketika masih tinggal bersama Bibi Mily."Kenapa aku ada di sini? Apa aku selamat?"
Tangannya spontan bergerak menyentuh perut, lalu merabanya. Esmera terdiam. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada luka. Tidak ada bekas darah sedikit pun.
Padahal, ingatan terakhirnya masih begitu jelas.
Rasa sakit yang luar biasa ketika sebilah pisau menembus perutnya. Rasa panas dari darah yang mengalir. Tubuhnya yang perlahan kehilangan tenaga. Dan yang paling tidak bisa dilupakannya adalah wajah Lyra.
Wajah wanita itu terlihat begitu kejam ketika menyerangnya tanpa sedikit pun keraguan. Esmera masih bisa mengingat tatapan dingin itu.
Dia bahkan masih mengingat bagaimana tubuhnya terasa begitu lemah sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap. Tapi kenapa dia malah berada di tempat tidur lamanya?
Esmera menekan perutnya sekali lagi, seolah berharap menemukan luka yang mungkin tersembunyi. Tetapi tidak ada apa-apa.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Keningnya semakin berkerut.
Dengan langkah perlahan, Esmera turun dari ranjang. Kakinya masih terasa sedikit lemas, tetapi dia mampu berdiri dengan baik.
Tatapannya kemudian tertuju pada sebuah cermin yang terletak tidak jauh dari tempat tidur. Dia berjalan mendekatinya.
Namun, baru beberapa langkah, Esmera tiba-tiba berhenti. Ada sesuatu yang terasa aneh.
Rambutnya.
Tangannya spontan menyentuh rambut panjang yang menjuntai hingga melewati pinggang.
Mata Esmera membesar."Tidak mungkin..."
Dia segera berdiri di depan cermin. Pantulan seorang wanita muda terlihat jelas di sana. Wajah itu adalah wajahnya. Tetapi bukan wajah Esmera yang terakhir kali dia lihat.
Wajahnya terlihat jauh lebih muda. Kulitnya masih cerah, matanya tidak sembab, dan tidak ada sedikit pun kesedihan mendalam yang selama ini menghiasi wajahnya.
Namun, yang paling mengejutkan adalah rambutnya. Rambut itu masih panjang. Sangat panjang. Padahal Esmera ingat betul bahwa dirinya telah memotong rambut hingga sebahu. Bahkan baru satu minggu sejak dia memotongnya.
"Bagaimana mungkin rambutku tumbuh sepanjang ini hanya dalam seminggu?" Tangannya kembali menyentuh rambutnya dengan gemetar.
Kemudian pandangannya turun pada pakaian yang dikenakannya. Gaun tidur sederhana dengan model yang sangat dia kenal. Itu adalah pakaian yang dulu sering dia kenakan ketika masih tinggal di rumah Bibi Mily.
Esmera menatap pantulan dirinya dengan napas yang mulai tidak teratur. Semakin dia memperhatikan keadaan di sekitarnya, semakin kuat perasaan aneh yang memenuhi dadanya.
Kamar itu.
Rambutnya.
Pakaiannya.
Wajahnya.
Semuanya seperti membawa dirinya kembali ke masa yang telah lama berlalu.
Esmera mundur satu langkah."Apakah aku sedang bermimpi?"
Dia mencubit lengannya sendiri."Aduh!" Rasa sakit langsung terasa. Esmera menatap lengannya dengan mata membulat."Ini bukan mimpi, aku benar-benar berada di sini. Di kamar lamaku. Di rumah Bibi Mily."
Ketika Esmera masih berusaha mencerna semuanya, tiba-tiba terdengar ketukan dari balik pintu.
Tok! Tok! Tok!
Tubuh Esmera seketika menegang.
Kemudian sebuah suara yang sangat familiar terdengar dari luar."Esmera, bangun sayang. Bibi membuat sarapan kesukaanmu. Cepat mandi dan kita sarapan bersama."
Jantung Esmera serasa berhenti berdetak.
Suara itu...
Suara Bibi Mily.
Suara yang sudah lama tidak pernah dia dengar. Bibir Esmera sedikit terbuka. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menutup mulut untuk menahan napas yang bergetar, dia sampai terduduk.
"Bibi Mily." Air mata perlahan jatuh dari sudut matanya. Bukan karena kesedihan. Melainkan karena perasaan yang begitu sulit dia jelaskan.
Dia menatap cermin sekali lagi. Wajah muda itu menatap balik kepadanya. Esmera perlahan menyentuh pantulan wajahnya sendiri. Lalu sebuah kemungkinan muncul di dalam pikirannya.
Kemungkinan yang begitu mustahil, tetapi terasa semakin nyata."Apa mungkin doaku telah didengar?"
Esmera segera bangun dari tempat duduknya. Dengan langkah perlahan, dia berjalan menuju pintu, lalu membukanya.
Dan benar saja.
Di sana terlihat Bibi Mily sedang sibuk menata meja makan. Wanita paruh baya itu tampak begitu biasa, seolah tidak ada sesuatu yang aneh terjadi. Tangannya sibuk menyusun piring dan mangkuk di atas meja, sementara aroma makanan hangat memenuhi ruangan.
"Bibi Mily?" panggil Esmera.
Dia ingin memastikan keadaan. Ingin memastikan bahwa semua yang dilihatnya bukanlah sebuah mimpi.
Wanita paruh baya itu segera menoleh. Begitu melihat Esmera berdiri di ambang pintu, wajahnya langsung dipenuhi senyuman manis."Kau sudah bangun, sayang. Ayo kita sarapan."
Esmera terdiam beberapa saat.
Suara itu.
Wajah itu.
Senyuman itu.
Semuanya terasa begitu familiar.
Esmera berjalan perlahan menghampiri Bibi Mily, lalu duduk di salah satu kursi yang tersedia. Dia berusaha bersikap seperti biasa, meskipun pikirannya masih dipenuhi kebingungan.
Bibi Mily sama sekali tidak menyadari kegelisahan di wajah Esmera. Seperti biasanya, wanita itu justru sibuk mengoceh agar Esmera makan lebih banyak. Sama seperti di masa yang lalu.
"Kau harus makan yang banyak. Jangan hanya mengambil sedikit. Gadis seusiamu harus makan dengan benar. Kalau kau terus seperti ini, bagaimana tubuhmu bisa sehat?"
Esmera hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan bibinya.
Gadis seusianya?
Kalimat itu membuat Esmera kembali berpikir. Dia kemudian mencoba memancing Bibi Mily untuk memastikan sesuatu."Memangnya Bibi tahu sekarang aku berusia berapa?"
Bibi Mily langsung menjawab tanpa sedikit pun ragu."Tentu saja aku tahu. Kan aku yang membesarkanmu, Esmera."
Wanita itu bahkan terkekeh kecil sebelum melanjutkan ucapannya."Saat ini kau berusia sembilan belas tahun. Sebentar lagi, mungkin saja ada seorang pria tampan yang akan datang mengajukan lamaran."
Bibi Mily mengatakannya dengan nada bercanda. Bahkan wanita itu sempat tertawa kecil setelah mengucapkannya.
Namun bagi Esmera, kalimat sederhana itu terasa seperti sebuah jawaban atas semua keanehan yang dia alami.
Sembilan belas tahun.
Tangannya yang sejak tadi berada di atas meja perlahan mengepal.
Usiaku sembilan belas tahun? Itu berarti, aku benar-benar telah kembali ke masa dua tahun yang lalu.
Dua tahun sebelum semuanya terjadi. Dua tahun sebelum Raja Edris tiba-tiba saja datang dan mengajukan lamaran kepadanya. Dua tahun sebelum hidupnya berubah. Dua tahun sebelum dia menjadi seorang Ratu. Dua tahun sebelum semua penderitaan itu dimulai.
Esmera menundukkan kepalanya. Jantungnya berdetak semakin cepat.
Semua ini nyata.
Esmera perlahan mengangkat wajahnya dan kembali menatap Bibi Mily yang masih sibuk menyiapkan makanan, sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dalam hati gadis itu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Esmera merasa ingin menangis. Bukan karena kesedihan. Melainkan karena dia menyadari satu hal.
Aku telah diberikan kesempatan kedua?