Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
—Kediaman Purnomo
“Airin! Kaiser udah ada di depan!”
Airin Purnomo merapikan bajunya sekali lagi sebelum turun dari kamar. Hari ini rambutnya hanya digulung simpel dengan blouse kasual dan rok pendek yang senada.
“Ayo semangat!” gadis berusia enam belas tahun itu menepuk kedua pipinya. “Kamu pasti bisa!”
Ia turun dengan langkah mantap, melihat Kaiser—teman masa kecilnya itu sedang bicara dengan sang bunda.
“...padahal kamu nggak perlu repot-repot buat ‘nganter Airin,” ucapnya. “Ayahnya juga akan ke sekolah nanti, kalau urusan di kantornya susah selesai.”
Kaiser tersenyum, “Nggak apa-apa tante. Lagipula sebagai anggota OSIS, Kaiser juga ada keperluan disana.”
“Kalau gitu Airin berangkat dulu, Bunda,” ujarnya.
“Hati-hati.”
Ketika pintu ditutup dan mereka ada di halaman depan, Airin kembali menarik nafas pelan. Terlihat gugup.
Kaiser yang menyadari itu langsung bertanya. “Kenapa? Kamu ragu sama hasil tes kemarin?”
“Tes akademiknya susah,” keluh gadis itu. “Apalagi matematika. Setengah soalnya kujawab dengan mengandalkan firasat, bukan logika. Tapi kalau nggak lulus tes akademik, aku nggak mungkin diundang buat tes wawancara begini ‘kan ya?”
Kaiser mengangguk. “Biasanya begitu.”
“Enak ya kamu.” Airin menatap calon seniornya itu dengan tatapan nanar. “Masuk lewat jalur undangan, nggak perlu tes apa-apa.”
“Yah, kalau keluarga Mahawirya sampai di tes segala untuk masuk, mereka yang rugi.”
Yang bicara itu bukan Kaiser. Di depan mobil yang akan mereka naiki, seorang pria rupawan dengan baju setengah formal terlihat tersenyum sembari melambaikan kunci.
“Kak Aiden!” panggil Airin. “Kenapa kakak juga sampai kesini?”
Aidoneus Mahawirya menunjuk adiknya. “Karena Kaiser belum punya SIM, tapi tetap mau menjemputmu tanpa supir.”
“Sudah kubilang tidak perlu,” protes Kaiser. “Kakak cuma mau malas-malasan ‘kan? Kerja sana.”
Aidoneus memegang dadanya. “Kejam sekali, aku merasa tersakiti. Lagipula aku juga alumni SMA itu lho, wajar kalau aku ingin kesana sekali-kali.”
“Terserah.”
Kaiser membuka pintu belakang mobil dan mempersilahkan Airin masuk. Ia kemudian duduk di kursi belakang juga, membuat Aidoneus yang ada di kursi pengemudi protes. “Aku benar-benar dijadikan supir? Serius?”
“Jalan saja,” ucap Kaiser kesal.
Airin yang ada di tengah pertengkaran itu hanya bisa meringis. Ia mesti mencari cara untuk mencairkan suasana.
“Oh, Kak Aiden walaupun masuk lewat jalur undangan, tetap ikut tes akademik ‘kan?” tanyanya. “Kenapa?”
Aidoneus terlihat fokus pada jalanan, tapi tetap menjawab santai. “Aku penasaran seberapa susah untuk masuk kesana lewat jalur biasa.”
“Terus hasilnya?”
“Dia memecahkan rekor tertinggi,” balas Kaiser. Remaja itu terlihat menghela nafas. “Nilainya hampir sempurna di setiap mata pelajaran. Bahkan kudengar sampai sekarang tidak ada yang memecahkan rekornya itu.”
“Keren,” gumam Airin. “Kalau aku kayaknya hampir nggak lulus.”
Aidoneus tertawa. “Sekalipun tidak lulus kamu bakalan tetap masuk. Tes begini hanya formalitas bagi keluarga terkenal. Terkecuali keluargamu baru merintis tapi mau masuk kesana, baru tes ini akan menjadi penentu.”
Ah.
Kalau begitu ia bisa tenang.
“Lagipula,” Aidoneus menambahkan. “Kalau kamu tidak masuk tinggal protes pada Kaiser. Mereka pasti mendengarkan kalau semisal Kaiser bilang ia tidak terima pacarnya ditolak masuk kesana.”
“Kami tidak pacaran!” ucap keduanya bersamaan.
Aidoneus mengangkat alis. “Iya kah? Berarti kamu belum membuat pergerakan apapun? Sebagai kakakmu aku kecewa. Airin itu imut sekali lho, kalau terlalu lama dia bisa direbut orang lain.”
“Bukan urusan kakak juga,” geram Kaiser.
Airin terlihat menyembunyikan wajahnya yang tersipu sedangkan Kaiser membuang muka ke jendela. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tapi kedua telinganya terlihat memerah.
Percintaan remaja memang manis ya?
Aidoneus juga masih bisa dibilang remaja sih, mengingat dia akan berusia dua puluh tahun depan. Tapi sayangnya dia tidak ada waktu untuk memikirkan itu semua semasa sekolah.
Sebagai pewaris utama, dia dibesarkan berbeda.
Bahkan ketika kuliah begini, dia harus sudah bisa mengurus perusahaan. Untungnya Kaiser masih bisa menikmati masa sekolahnya.
Aidoneus tidak mau adiknya ikut terbebani juga.
“Mau sampai kapan kalian diam-diaman begitu? Kita sampai.”
Gerbang sekolah ini masih megah seperti biasa. Meskipun disebut sekolah, tapi tempat ini lebih mirip universitas dengan gedung-gedung tinggi di setiap sudutnya.
Sekolah yang seakan meneriakkan kalau mereka dari kasta yang berbeda.
Aidoneus terkadang ingin tertawa jika memikirkan itu.
“Tes wawancaranya dilakukan dengan orang tua ‘kan?” tanyanya. “Berarti kamu harus tunggu Ayahmu dulu?”
“Iya.” angguk Airin. “Aku datang lebih pagi karena mau keliling dengan Kaiser.”
Aidoneus menahan tawanya. “Dasar modus.”
“Diam.”
Kaiser beralih pada Airin. “Kita mau kemana dulu?”
“Aku pengen liat hasil tes kemarin. Sekalipun tau pasti lulus aku pengen tau aku dapat nilai berapa.”
“Kalau begitu tujuan kita sama.” Aidoneus tersenyum. “Kira-kira tahun ini ada yang mengalahkanku tidak ya?”
.
.
.
“Dua puluh terbawah.”
“Dua puluh terbawah,” angguk Kaiser.
“Dari seluruh angkatan?” Aidoneus menaikkan alis. “Lumayan juga.”
Airin menutup muka. “Padahal bilang aja kalau nilaiku jelek.”
Kaiser mengelus punggung teman masa kecilnya itu sedangkan Aidoneus menahan tawa. Ia melihat ke jajaran peringkat atas dan langsung terdiam.
“Rekor kakak—”
“Dikalahkan ya?” gumamnya.
Ada orang yang mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajaran. Meski setengah bercanda, tapi Aidoneus tahu kalau tes akademik sekolah ini adalah salah satu yang tersulit.
Untuk bisa mengalahkannya, boleh juga orang ini.
“Ophelia Pratama.” ucap Airin. “Pratama itu keluarga yang sedang naik daun ‘kan?”
Kaiser mengangguk. “Kalau tidak salah putri mereka satu kelas denganku tahun kemarin. Aku tidak tahu kalau mereka punya putri lain.”
“Dia anak angkat,” Aiden mengetuk nama itu dua kali. “Sepertinya untuk menaikkan pamor. Beritanya akan tersebar di media sebentar lagi.”
“Tapi sampai mengalahkan rekor kakak begitu, dia pasti pintar sekali ya?” Airin bergumam.
Aidoneus mengangkat bahu. “Begitulah.”
Ophelia.
Nama itu membuat entah kenapa membuat Aidoneus tersenyum.
...****************...
“Aku sudah sampai. Kamu dimana?”
Ophelia menghela nafas. Serius, bahkan di hadapannya begini Yelena tetap berselingkuh seperti biasa? Dia tidak takut Ophelia mengadu atau apalah itu?
“Oke, aku kesana.”
Sudah selesai?
“Ibu ada urusan. Kamu masuk dulu aja nanti kita ketemu lagi di depan ruang wawancara. Jangan mengacau atau membuat keributan. Mengerti?”
Ophelia keluar dari mobil. “Dimengerti.”
Ia hanya memakai jaket dan celana jeans hari ini. Rambut hitam panjangnya ia kucir satu ditambah topi yang menyembunyikan wajahnya dari sinar mentari.
Masih ada beberapa waktu sebelum wawancara, Ophelia bisa berjalan-jalan sebentar.
Hm?
Dia tidak salah lihat. Itu Reine.
Gadis itu terlihat berdiri di salah satu gedung sembari menatap nanar ke bawah. Arah tatapannya menuju pada...
“Kaiser?” gumam Ophelia.
Tapi dia tidak sendiri. Seorang gadis dengan outfit dan gaya rambut yang terlihat imut berdiri di sebelahnya. Mereka tertawa.
Siapa itu? Ophelia bersandar pada salah satu tiang.
Dia terlihat manis.
Tidak seperti Chelsea yang kecantikannya seperti model papan atas, gadis itu terlihat imut dengan mata besar dan wajah kecil. Kaiser juga terlihat lebih hidup bersamanya—matanya menyiratkan rasa nyaman.
Jika berdiri bersandingan begitu, mereka terlihat seperti pangeran dan putri dari negeri dongeng.
Pantas Reine menatap mereka sampai segitunya.
Dia pasti cemburu.
“—bahkan putri dari keluarga ternama pun jika dia berani mendekati Kaiser aku tidak akan segan-segan.”
Ucapan Reine di masa lalunya mulai terngiang. Kalau Ophelia harus menebak, gadis itu pastilah Airin Purnomo.
Orang yang akan dicelakakan oleh Reine sebentar lagi.
Ophelia tersenyum. Ketika melihat Kaiser pergi meninggalkan gadis itu sendiri di bangku sana, dia membuka topi dan berjalan mendekat.
“Panas banget ya?” ucapnya. “Boleh aku ikut duduk?”