Indonesia
NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Tidak ada yang menyangka, termasuk Zilia dan Rafael sendiri, bahwa malam itu akhirnya mengubah status mereka.

Mereka benar-benar sah menjadi suami istri.

Bahkan, kabar tersebut langsung sampai ke telinga Vio.

"Apa?! Menikah?"

"Benar, Tuan. Nona Zilia seperti dijebak."

"Maksudmu?"

"Saya mendapat informasi kalau ada salah satu teman kuliah Nona Zilia yang tidak menyukainya. Dia sengaja membuat jebakan agar Nona Zilia terperangkap dan hidupnya susah. Setahu dia, Tuan Rafael hanyalah laki-laki miskin."

"Sial!"

Vio mengepalkan tangan lalu meninju udara.

"Petaka yang berujung kemenangan."

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa jebakan yang seharusnya menghancurkan Zilia justru membuat perempuan itu semakin dekat dengan Rafael.

Sementara itu, rumah Ibu Retno yang beberapa saat lalu dipenuhi warga kini kembali sepi.

Zilia masih duduk di kursi dengan wajah murung. Ia benar-benar tidak menyangka pernikahan yang seharusnya masih lama justru terjadi malam ini.

Ibu Retno mendekatinya.

"Bukankah pada akhirnya kamu memang akan menikah dengan Rafael? Kenapa wajahmu seperti tidak suka begitu?"

"Bu..."

Zilia mengembuskan napas panjang.

"Kok Ibu malah membela dia? Harusnya Ibu mengusir dia."

Ibu Retno tersenyum kecil.

"Sebenarnya aku belum siap, Bu."

"Aku masih ingin mengejar cita-citaku. Aku ingin membahagiakan Ibu. Rencana pernikahanku juga masih lama. Setelah wisuda, aku harus melanjutkan kuliah ke luar negeri. Setelah itu baru menikah. Tapi sekarang semuanya berubah."

Ibu Retno langsung memeluknya.

"Ibu tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi menurut Ibu, Rafael lelaki yang bertanggung jawab. Dia juga tidak seperti Vio."

Pelukan itu perlahan mengendur.

"Ibu baru bertemu dengannya. Kok sudah yakin sekali kalau dia sebaik itu?"

Ibu Retno tersenyum lembut.

"Kadang seseorang bisa terlihat dari caranya memperlakukan orang lain."

"Sudahlah. Sudah hampir larut malam. Kamu istirahat. Jangan kamu cuekin suami kamu."

Zilia mengerucutkan bibir.

"Sudah sana. Jangan pasang wajah cemberut terus. Mau bagaimana pun, sekarang dia suamimu."

"Iya, Bu."

Zilia berdiri.

"Aku mau istirahat."

Ibu Retno mengangguk.

Di sudut ruangan, Rafael masih sibuk dengan laptopnya.

Ia seolah tidak terganggu dengan perubahan status yang terjadi begitu cepat.

Beberapa saat lalu, ia bahkan sudah menghubungi Tuan Adrian.

Namun Tuan Adrian sama sekali tidak memprotes. Justru baginya, pernikahan tersebut bisa menjadi awal yang mempererat hubungan kedua keluarga.

Rafael masih fokus pada layar laptop ketika terdengar suara dari belakang.

"Kamu belum tidur?"

Rafael langsung menoleh.

Ia menggeleng.

"Belum."

Zilia berdiri di ambang pintu.

"Kalau mau tidur, masuk saja ke kamarku."

Rafael mengangkat alis.

"Tapi ingat, awas kalau macam-macam."

Senyum tipis muncul di wajah Rafael.

"Baik, Nyonya Rafael."

Zilia langsung bergidik geli.

"Jangan panggil aku begitu."

Rafael hanya tersenyum.

Zilia segera masuk ke kamar sambil menggerutu.

"Nyebelin banget sih orang itu. Siapa juga yang mau jadi Nyonya Rafael."

"Mitamit..."

"Ekhem."

"Ekhem."

Zilia langsung berbalik.

Rafael sudah berdiri di ambang pintu.

"Aku tidur di mana?"

Zilia terdiam.

Ia memandang ranjang, lalu menatap Rafael.

Sejenak ia berpikir mencari cara agar mereka tidak tidur bersama.

Kemudian matanya tertuju pada lantai.

"Nih. Kamu gelar tikar. Kamu tidur di bawah."

Rafael mengernyit.

"Serius?"

Zilia mengangguk tanpa rasa bersalah.

"Iya."

"Aku nggak mau tidur di bawah. Aku ini suami kamu."

Rafael tersenyum tipis.

"Atau perlu aku bikin heboh lagi dan bilang kepada Ibu Retno kalau istriku sendiri menyuruh suaminya tidur di lantai?"

Zilia langsung melotot.

"Iya, iya! Terserah kamu."

Rafael mengangguk puas.

Senyum jahil kembali menghiasi wajahnya.

"Begitu dong."

Zilia mendengus kesal.

Ia baru menyadari satu hal.

Pernikahan ini mungkin baru dimulai...

tetapi menghadapi Rafael setiap hari sepertinya akan jauh lebih melelahkan daripada menghadapi perjodohan itu sendiri.

Zilia akhirnya menyerah. Daripada harus mendengar Rafael terus menggodanya, ia memilih berbaring di salah satu sisi ranjang.

"Tapi ingat, jangan macam-macam."

Rafael yang baru saja mematikan lampu tersenyum kecil.

"Aku tahu."

Ia kemudian ikut berbaring di sisi lainnya.

Jarak di antara mereka cukup jauh.

Zilia membelakangi Rafael sambil menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.

"Jangan mendekat."

"Iya."

Beberapa detik berlalu.

Hening.

Zilia masih belum bisa tidur.

Entah karena terlalu banyak yang terjadi hari ini, atau karena untuk pertama kalinya ia tidur satu ranjang dengan pria yang baru saja menjadi suaminya.

Rafael pun masih terjaga.

"Kamu belum tidur?"

Zilia langsung menjawab,

"Belum."

"Aku juga."

"Kenapa?"

Rafael menatap langit-langit.

"Masih aneh."

"Apa?"

"Status kita."

Zilia terdiam.

Ia pun merasakan hal yang sama.

"Jangan berpikir macam-macam."

"Aku nggak berpikir macam-macam."

"Bagus lah."

Hening kembali memenuhi kamar.

Beberapa saat kemudian, Zilia tanpa sadar bergeser sedikit karena merasa posisi tidurnya tidak nyaman.

Rafael menoleh.

"Kalau mau lebih ke tengah, bilang."

"Aku nyaman di sini."

"Padahal dari tadi bergerak terus."

Zilia mendengus.

"Diam."

Rafael terkekeh pelan.

"Baik, Nyonya Rafael."

"Rafael!"

"Iya, iya."

Zilia kembali membelakanginya.

Namun kali ini, sudut bibirnya justru terangkat tipis.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa malam itu tidak sepenuhnya buruk.

Di sisi lain, Rafael hanya memandang punggung Zilia sambil tersenyum.

Tidak ada yang tahu, bahwa malam sederhana itu perlahan menjadi awal dari hubungan yang jauh lebih dalam daripada sekadar perjodohan.

Malam semakin larut.

Zilia sudah tertidur pulas, sementara Rafael masih terjaga sambil memandangi langit-langit kamar. Namun beberapa saat kemudian, Zilia tiba-tiba bergerak dalam tidurnya.

Awalnya hanya bergeser sedikit. Lalu semakin mendekat.

Rafael yang menyadarinya langsung menoleh.

"Zilia?"

Tidak ada jawaban.

Zilia masih tertidur.

Tanpa sadar, Zilia justru meraih lengan Rafael dan memeluknya erat seperti sedang mencari tempat nyaman.

Rafael langsung membeku.

"Eh..."

Ia menatap tangan Zilia yang melingkar di lengannya.

"Ini orang tidur atau pura-pura tidur?"

Zilia tidak menjawab.

Rafael mencoba menarik lengannya perlahan.

Namun Zilia malah semakin erat memeluknya.

Rafael menghela napas pasrah.

"Besok kalau bangun, jangan salahkan aku."

Ia akhirnya membiarkan Zilia tidur dalam posisi itu.

Tak lama kemudian, tanpa disadari Rafael, dirinya pun ikut tertidur.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!