Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Bab 1 - Bungkam demi martabat

Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen bermotif emas itu terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur waktu eksekusi.

Di ruang makan kediaman keluarga besar Baskoro, keheningan yang tercipta bukanlah bentuk dari tata krama, melainkan sebuah ketegangan yang pekat.

Bau aroma semur daging premium yang mengepul di tengah meja sama sekali tidak mampu membangkitkan selera makan Larissa.

Wanita itu duduk menyamping di sebelah Bram, suaminya. Tangannya yang memegang sendok terasa dingin, sejak tiga puluh menit lalu dia hanya membolak-balikkan nasi di piringnya tanpa benar-benar menelannya.

Dia tahu, sebentar lagi "ritual" itu akan dimulai.

"Lihat ini, Bram. Lucu sekali anak kedua sepupumu, si Danu. Pipinya gembil, lahirnya sehat dengan berat 3,8 kilogram," suara Ibu Maya memecah keheningan dengan nada yang sengaja dinyaringkan.

Beliau meletakkan ponsel pintarnya di atas meja, menggeser layar yang menampilkan foto bayi berbaju rajut biru yang baru lahir dua hari lalu.

Bram hanya melirik sekilas lalu tersenyum tipis, tampak enggan menanggapi terlalu jauh. "Iya, Bu. Baguslah kalau sehat."

Ibu Maya menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sengaja dibuat terdengar berat dan penuh penderitaan. Matanya yang dihiasi riasan tebal itu perlahan bergulir tajam dan dingin, langsung menusuk ke arah Larissa yang duduk diam menunduk.

"Danu itu baru menikah tiga tahun, anaknya sudah dua. Rumah mereka jadi ramai, tidak seperti kuburan," sindir Ibu Maya, nadanya mulai berubah sinis.

Beliau meletakkan gelas kristal berisi air putih dengan dentingan yang cukup keras ke atas meja. "Sementara di keluarga ini... sudah lima tahun, Bram. Lima tahun Ibu menunggu ada suara tangisan bayi di rumah kalian. Tapi apa? Sampai rambut Ibu memutih semua pun, rasanya mustahil."

Larissa menghentikan gerakan sendoknya karena dadanya berdenyut perih, kalimat itu bukan pertama kalinya dia dengar. Selama dua tahun terakhir, setiap kali ada acara kumpul keluarga, ulang tahun, atau sekadar makan malam akhir pekan seperti ini, topik tentang rahimnya selalu menjadi hidangan utama yang siap disantap bersama.

"Mungkin memang ada yang salah dengan istrimu," lanjut Ibu Maya tanpa memedulikan perasaan menantunya.

"Ibu dulu mengandung kamu tidak lama, hanya dua bulan setelah menikah. Keluarga Baskoro ini garis keturunannya kuat, laki-lakinya tidak pernah ada yang gagal memberikan penerus. Jadi, kalau sampai lima tahun belum ada hasil, ya jelas masalahnya bukan di kamu."

Larissa mengepalkan tangannya di bawah meja, meremas kain roknya hingga kusut. Kata "gagal" dan "masalah" dilemparkan ke wajahnya seolah dia adalah sebuah produk cacat produksi yang merugikan perusahaan.

"Ibu, sudahlah. Kita sedang makan," Bram akhirnya bersuara, namun nadanya sama sekali tidak terdengar seperti seorang suami yang sedang membela istrinya.

Suaranya datar, lebih cenderung ingin menyudahi pembicaraan karena merasa tidak nyaman, bukan karena peduli pada batin istrinya yang terluka.

"Kenapa disudahi? Ibu ini bicara fakta, Bram! Kamu itu anak tunggal, penerus tunggal bisnis keluarga kita. Apa kata kolega-kolegamu nanti kalau tahu istri pilihanmu ini ternyata rahimnya kering?" Tembakan kata-kata Ibu Maya semakin brutal.

"Ibu sudah menyuruh dia minum jamu, pergi ke alternatif, bahkan Ibu carikan dokter kandungan terbaik di kota ini. Tapi apa jawabannya? Selalu saja menolak dengan alasan belum siap mental. Memangnya hanya periksa rahim butuh mental sebesar apa kalau memang tidak ada yang disembunyikan?"

Larissa tetap bergeming. Kepala dan lehernya terasa kaku, dipaksa untuk menunduk sedalam mungkin menatap makanan di piringnya. Dia memilih bungkam, dia menerima semua tatapan merendahkan dari mertuanya, bahkan dari para pelayan yang berdiri di sudut ruangan yang kini mulai ikut berbisik samar.

Di mata mereka semua, Larissa adalah wanita pembawa sial, wanita egois yang menolak diperiksa secara medis karena takut kenyataan bahwa dirinya mandul terbongkar ke dunia luar.

Makan malam yang menyiksa itu akhirnya selesai setelah Ibu Maya meninggalkan meja dengan mendengus kasar.

Satu jam kemudian, Larissa dan Bram telah berada di dalam mobil untuk pulang menuju rumah mereka sendiri. Sepanjang jalan tidak ada percakapan, Bram fokus menatap jalanan malam kota yang mulai lengang dengan raut wajah masam, sementara Larissa menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap lampu-lampu jalan yang berkelebat kabur karena matanya mulai digenangi air yang sejak tadi ditahannya sekuat tenaga.

Begitu tiba di rumah mereka, sebuah rumah bergaya minimalis modern yang terasa sunyi, Bram langsung melangkah masuk tanpa menunggu istrinya. Ia melempar jasnya ke sofa ruang tamu, lalu berjalan menuju bar kecil di sudut ruangan, menuangkan segelas wiski dan meneguknya dalam sekali tenggak.

Larissa mendekat perlahan, mengambil jas Bram yang tergeletak di sofa untuk digantung dengan rapi. "Mas, soal ucapan Ibu tadi..."

"Gak usah dibahas, Ris. Aku capek," potong Bram dengan cepat. Nada suaranya meninggi, ia menolak menatap mata Larissa dan malah kembali menuangkan minuman ke dalam gelasnya.

"Aku hanya ingin kita bicara, Mas. Ibu terus-menerus menekan kita, sampai kapan kita harus seperti ini?" tanya Larissa dengan suara yang bergetar.

Kekecewaannya mulai tumpah. Dia berharap setidaknya di dalam rumah mereka sendiri, Bram bisa mendekapnya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Bram berbalik dengan kasar, meletakkan gelasnya hingga isinya sedikit memercik ke meja counter. "Terus kamu mau aku gimana? Mau aku melawan Ibuku sendiri? Apa yang dibilang Ibu itu ada benarnya! Harga diriku di luar sana dipertaruhkan. Setiap kali rapat dengan direksi atau bertemu dengan rekan bisnis lama, mereka selalu bertanya tentang anak. Kamu tahu rasanya jadi pria dewasa yang dianggap tidak becus memimpin rumah tangga hanya karena belum punya keturunan?!"

Napas Bram memburu, wajahnya memerah karena pengaruh alkohol dan amarah yang meledak. "Kamu egois, Ris! Kalau kamu mau pergi ke dokter yang direkomendasikan Ibu, jalani tesnya, setidaknya mulut Ibu bisa diam!"

Setelah meluapkan amarahnya, Bram menyambar kunci mobilnya kembali dan melangkah lebar-lebar keluar rumah, membanting pintu depan dengan sangat keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga di dalam rumah sepi itu.

Pria itu pergi, memilih melarikan diri ke klub malam atau entah ke mana untuk meredakan emosinya.

Larissa jatuh terduduk di atas lantai karpet ruang tamu, air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh sepenuhnya, membasahi pipinya yang pucat. Tangisannya terdengar lirih, menyedihkan, meratapi nasib batinnya yang terkoyak di tahun kelima pernikahan mereka.

"Kamu tidak tahu apa-apa, Mas... kamu tidak tahu apa-apa..." bisik Larissa di antara isak tangisnya yang sesak.

Setelah beberapa saat menenangkan diri, Larissa berdiri dengan langkah gontai menuju kamar tidur utama di lantai dua. Suasana kamar itu sangat rapi, namun terasa dingin dan asing.

Dia berjalan menuju lemari pakaian besar miliknya. Dia membuka bagian paling bawah, menggeser tumpukan kain selimut yang jarang digunakan, hingga jemarinya menyentuh sebuah kotak kayu kecil berkunci kombinasi angka.

Dengan tangan yang masih gemetar, Larissa memasukkan kode angka—tanggal pernikahan mereka—dan membuka kotak tersebut. Di dalamnya, tidak ada perhiasan emas atau dokumen saham berharga.

Hanya ada selembar kertas resmi dari sebuah laboratorium medis ternama di ibu kota.

Kertas itu sudah agak lecek, dengan bekas lipatan kasar di bagian tengahnya.

Larissa mengambil kertas itu dan membacanya kembali bawah temaram lampu meja rias. Matanya tertuju pada baris kesimpulan di bagian paling bawah dokumen medis tersebut.

Dokumen itu diterbitkan tepat dua tahun yang lalu. Dokumen hasil tes analisis sperma dan kesuburan reproduksi atas nama: Bram Baskoro

Di sana tertulis dengan sangat jelas dalam istilah medis yang tegas: Azoospermia.

Nol persen sperma hidup, kemandulan mutlak yang disebabkan oleh kelainan bawaan sejak remaja. Kemungkinan untuk membuahi secara alami adalah mustahil.

Dua tahun lalu, Larissa diam-diam mengambil hasil tes itu di rumah sakit setelah Bram menolak untuk mengambilnya sendiri karena ketakutan. Bram selalu beralasan bahwa dia sibuk. Namun Larissa tahu, suaminya itu ketakutan setengah mati menghadapi kenyataan jika dirinya tidak sesempurna yang dipikirkan dunia.

Larissa masih ingat betul bagaimana rasanya malam itu ketika dia membaca lembaran ini untuk pertama kali. Dunianya runtuh.

Namun, ketakutan terbesarnya bukanlah fakta bahwa dia mungkin tidak akan pernah menimang anak kandung, melainkan bagaimana reaksi Bram jika mengetahui hal ini.

Bram adalah pria dengan ego setinggi langit. Dia adalah putra tunggal, pewaris tunggal, pria yang dibesarkan dengan doktrin bahwa garis keturunan Baskoro adalah garis keturunan yang superior.

Jika Bram tahu bahwa dirinya adalah pria yang mandul, harga diri, mental, dan kewarasan suaminya itu pasti akan hancur lebur tanpa sisa. Bram tidak akan pernah bisa menerima cacat itu pada dirinya sendiri.

Maka di malam yang kelam dua tahun lalu itu, Larissa mengambil keputusan paling gila dan paling mengorbankan perasaan dalam hidupnya.

Dia merobek salinan asli dokumen tersebut (dan menyisakan lembar salinan rahasia ini di dalam kotak), lalu pulang ke rumah menemui Bram dengan wajah yang dipalsukan sedih.

Larissa berbohong di depan Bram, di depan Ibu Maya, dan di depan seluruh keluarga besar Baskoro, wanita itu menekuk lututnya dan berkata: "Hasil tesnya sudah keluar, rahimku yang bermasalah. Dokter bilang, kesuburanku sangat rendah."

Larissa sengaja menelan pil pahit itu sendirian. Dia membiarkan dirinya dicap sebagai wanita cacat, wanita mandul pembawa sial, demi melindungi martabat Bram sebagai seorang laki-laki.

Dia berpikir dengan cintanya yang tulus, Bram akan menghargai keputusasaan itu dan mereka bisa menghadapi badai ini berdua, hidup berdua dengan bahagia walau tanpa anak.

Namun, kenyataan lima tahun pernikahan justru menamparnya dengan kejam.

Ego pria itu terlindungi, namun batinnya yang dijadikan tameng peluru setiap harinya hingga hancur menjadi serpihan.

Larissa meremas kertas dokumen itu di dadanya, menangis dalam diam. "Aku membungkam mulutku sendiri demi martabatmu, tapi kamu justru menggunakannya untuk menginjak-injakku."

Malam semakin larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari ketika terdengar suara deru mobil masuk ke halaman rumah. Tidak lama kemudian, suara langkah kaki yang berat dan tidak stabil terdengar menaiki tangga.

Pintu kamar terbuka dengan kasar. Bram masuk dengan kondisi dasi yang sudah longgar, kancing kemeja atasnya terbuka, dan bau alkohol yang menyengat langsung memenuhi ruangan yang tadinya harum aroma terapi lavender. Pria itu tampak mabuk, meski tidak sampai kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Larissa segera menyembunyikan kotak kayu dan dokumen medis itu kembali ke dalam lemari sebelum Bram menyadarinya. Dia berbalik, berniat membantu suaminya untuk berbaring.

"Mas... kamu mabuk lagi," kata Larissa lembut, mencoba meraih lengan Bram untuk membantunya melepas sepatu.

Bram menepis tangan Larissa dengan kasar, membuat wanita itu terhuyung ke belakang. "Gak usah sok peduli! Aku bisa sendiri!" gumam Bram dengan suara yang serak dan tidak jelas. Dia menjatuhkan tubuhnya yang besar ke atas ranjang tanpa mengganti pakaiannya, langsung memejamkan mata dengan napas yang berat.

Larissa hanya bisa menghela napas panjang, menatap suaminya dengan tatapan yang bercampur antara rasa lelah, kecewa, dan sisa-sisa rasa sayang yang kian menipis. Dia mendekat perlahan, menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Bram agar pria itu tidak kedinginan.

Saat dia sedang merapikan selimut di bagian dada Bram, tubuh suaminya itu tiba-tiba gelisah. Kepala Bram bergerak ke kanan dan ke kiri, dahi pria itu berkerut rapat seolah sedang terjebak dalam mimpi buruk yang intens akibat pengaruh wiski.

Larissa menghentikan gerakannya, memperhatikan wajah suaminya dari dekat.

"Mas? Kamu mimpi buruk?" bisiknya, berniat menyentuh kening Bram untuk menenangkannya.

Namun, sebelum tangannya menyentuh kulit suaminya, dari belah bibir Bram yang setengah terbuka, keluar sebuah gumaman lirih yang memotong keheningan malam dengan sangat tajam.

Sebuah nama yang asing, namun diucapkan dengan nada yang begitu lembut, penuh kerinduan, dan sangat berbeda dengan nada kasar yang biasa pria itu gunakan saat berbicara dengannya akhir-akhir ini.

"...Vera... maafkan aku, Vera..." gumam Bram dalam tidurnya, suaranya terdengar sangat jelas di telinga Lana. "...jangan pergi... Vera..."

Tangan Lana membeku di udara. Jantungnya seakan berhenti berdetak seketika, dan seluruh darah di tubuhnya terasa berdesir dingin mengalir ke ujung-ujung jarinya.

Vera?

Larissa menarik kembali tangannya dengan perlahan, tubuhnya mendadak gemetar hebat. Selama lima tahun pernikahan mereka, dia tahu persis siapa saja teman, kolega, dan kerabat Bram.

Tidak ada satu pun nama "Vera" di dalam lingkaran sosial suaminya yang dia ketahui. Dan cara Bram menggumamkan nama itu dalam tidurnya bukanlah cara seseorang memanggil teman biasa.

Larissa melangkah mundur menjauhi ranjang, menatap sosok suaminya yang kini kembali tenang dalam tidurnya dengan pandangan yang benar-benar berubah.

Rasa sakit akibat cacian mertuanya tiba-tiba sirna, digantikan oleh sebuah rasa curiga yang amat besar merayap di dadanya.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Thewie

Thewie

jangan mau jadi wanita bodoh say.. mengorbankan diri dan perasaan demi org lain.

2026-08-24

1

Yuen

Yuen

Bodoh bgt mau dihina oleh ibunya suami yg gak cinta sama dia. Wanita lemah

2026-08-22

1

hfzd

hfzd

semangat thorr

2026-08-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Bungkam demi martabat
2 Bab 2 - Retakan yang menganga
3 Bab 3 - Sang ular mulai menampakkan diri
4 Bab 4 - Konspirasi di belakang punggung Larissa
5 Bab 5 - Panggung Penghakiman
6 Bab 6 - Harga diri yang diinjak
7 Bab 7 - Larissa, Bram dan Vera
8 Bab 8 Air susu dibalas air tuba
9 Bab 9 - Pengusiran yang kejam
10 Bab 10 - Titik terendah sebelum bangkit
11 Bab 11 - Pesta di atas air mata
12 Bab 12 - Rumor yang beracun
13 Bab 13 - Pertemuan tak sengaja di supermarket
14 Bab 14 - Karma kecil di rumah tangga baru
15 Bab 15 - Peluang di tengah badai
16 Bab 16 - Panggung pembuktian diri
17 Bab 17 - Tamparan realita dari masa lalu
18 Bab 18 - Pertemuan dua jiwa
19 Bab 19 : Pelukan hangat yang mengubah takdir
20 Bab 20 - Perbedaan
21 Bab 21 - Keputusan yang mengubah garis nasib
22 Bab 22 - Tempat tinggal baru, harapan baru
23 Bab 23 - Skenario licik Vera yang mulai goyah
24 Bab 24 - Transformasi sang asisten
25 Bab 25 - Tamparan elegan di depan publik
26 Bab 26 - Badai Pasca Perjamuan
27 Bab 27 - Kehangatan yang mengikis dingin
28 Bab 28 - Jerat yang mulai mengencang
29 Bab 29 - Lamaran tak terduga
30 Bab 30 - Awal dari lembaran baru
31 Bab 31 - Takhta sang Permaisuri
32 Bab 32 - Racun kecurigaan
33 Bab 33 - Langkah pertama sang nyonya besar
34 Bab 34 - Kebohongan yang mulai mengelupas
35 Bab 35 - Keajaiban atau Kebenaran?
36 Bab 36 - Guncangan berita gembira
37 Bab 37 - Runtuhnya topeng sang penipu
38 Bab 38 - Investigasi
39 Bab 39 - Detik detik kelahiran
40 Bab 40 - Pertunjukkan baru dimulai
41 Bab 41 - Badai di rumah lama
42 Bab 42 - Pertemuan
43 Bab 43 - Jerat finansial
44 Bab 44 - Penyesalan pertama Bram
45 Bab 45 - Surat dari pengadilan
46 Bab 46 - Kebenaran yang menampar publik
47 Bab 47 - Pengadilan
48 Bab 48 - Runtuhnya bisnis keluarga Baskoro
49 Bab 49 - Karma mantan ibu mertua
50 Bab 50 - Tiga Tahun Kemudian
51 Bab 51 - Undangan yang mengguncang jiwa
52 Bab 52 - Kilau sang Permaisuri di mata sang pecundang
53 Bab 53 - Pertemuan di lorong sepi
54 Bab 54 - Tembok kokoh Bayu
55 Bab 55 - Tangisan di kontrakan sempit
56 Bab 56 - Surat pengampunan yang ditolak
57 Bab 57 - Pesta megah sang putri kecil
58 Bab 58 - Siksaan kemewahan bagi sang mantan
59 Bab 59 - Kabar dari penjara
60 Bab 60 - Kebahagiaan dan Kesakitan
61 Bab 61 - Detik-detik terakhir Ibu Maya
62 Bab 62 - Pemakaman yang sepi
63 Bab 63 - Keputusasaan
64 Bab 64 - Dialog dingin
65 Bab 65 - Debu masa lalu
66 Bab 66 - Kebebasan yang dingin
67 Bab 67 - Reuni dua singa yang kehilangan taringnya
68 Bab 68 - Rencana putus asa sang ular
69 Bab 69 - Penjaga yang tak pernah tidur
70 Bab 70 - Riwayat Vera Amalia
71 Bab 71 - Bayang-bayang yang menggila
72 Bab 72 - Runtuhnya sisa atap yang melindungi
73 Bab 73 - Coretan masa lalu
74 Bab 74 - Pengusiran dari tanah kelahiran
75 Bab 75 - Tanah kelahiran yang ditinggalkan
76 Bab 76 - Kehidupan yang damai dan bahagia
77 Bab 77 - Kabar Bram Baskoro untuk yang terakhir kalinya
78 Bab 78 - Pidato Elang untuk Mama Larissa
79 Bab 79 - Pesta Anniversary ke 10
80 Bab 80 - Akhir yang sempurna (END)
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Bab 1 - Bungkam demi martabat
2
Bab 2 - Retakan yang menganga
3
Bab 3 - Sang ular mulai menampakkan diri
4
Bab 4 - Konspirasi di belakang punggung Larissa
5
Bab 5 - Panggung Penghakiman
6
Bab 6 - Harga diri yang diinjak
7
Bab 7 - Larissa, Bram dan Vera
8
Bab 8 Air susu dibalas air tuba
9
Bab 9 - Pengusiran yang kejam
10
Bab 10 - Titik terendah sebelum bangkit
11
Bab 11 - Pesta di atas air mata
12
Bab 12 - Rumor yang beracun
13
Bab 13 - Pertemuan tak sengaja di supermarket
14
Bab 14 - Karma kecil di rumah tangga baru
15
Bab 15 - Peluang di tengah badai
16
Bab 16 - Panggung pembuktian diri
17
Bab 17 - Tamparan realita dari masa lalu
18
Bab 18 - Pertemuan dua jiwa
19
Bab 19 : Pelukan hangat yang mengubah takdir
20
Bab 20 - Perbedaan
21
Bab 21 - Keputusan yang mengubah garis nasib
22
Bab 22 - Tempat tinggal baru, harapan baru
23
Bab 23 - Skenario licik Vera yang mulai goyah
24
Bab 24 - Transformasi sang asisten
25
Bab 25 - Tamparan elegan di depan publik
26
Bab 26 - Badai Pasca Perjamuan
27
Bab 27 - Kehangatan yang mengikis dingin
28
Bab 28 - Jerat yang mulai mengencang
29
Bab 29 - Lamaran tak terduga
30
Bab 30 - Awal dari lembaran baru
31
Bab 31 - Takhta sang Permaisuri
32
Bab 32 - Racun kecurigaan
33
Bab 33 - Langkah pertama sang nyonya besar
34
Bab 34 - Kebohongan yang mulai mengelupas
35
Bab 35 - Keajaiban atau Kebenaran?
36
Bab 36 - Guncangan berita gembira
37
Bab 37 - Runtuhnya topeng sang penipu
38
Bab 38 - Investigasi
39
Bab 39 - Detik detik kelahiran
40
Bab 40 - Pertunjukkan baru dimulai
41
Bab 41 - Badai di rumah lama
42
Bab 42 - Pertemuan
43
Bab 43 - Jerat finansial
44
Bab 44 - Penyesalan pertama Bram
45
Bab 45 - Surat dari pengadilan
46
Bab 46 - Kebenaran yang menampar publik
47
Bab 47 - Pengadilan
48
Bab 48 - Runtuhnya bisnis keluarga Baskoro
49
Bab 49 - Karma mantan ibu mertua
50
Bab 50 - Tiga Tahun Kemudian
51
Bab 51 - Undangan yang mengguncang jiwa
52
Bab 52 - Kilau sang Permaisuri di mata sang pecundang
53
Bab 53 - Pertemuan di lorong sepi
54
Bab 54 - Tembok kokoh Bayu
55
Bab 55 - Tangisan di kontrakan sempit
56
Bab 56 - Surat pengampunan yang ditolak
57
Bab 57 - Pesta megah sang putri kecil
58
Bab 58 - Siksaan kemewahan bagi sang mantan
59
Bab 59 - Kabar dari penjara
60
Bab 60 - Kebahagiaan dan Kesakitan
61
Bab 61 - Detik-detik terakhir Ibu Maya
62
Bab 62 - Pemakaman yang sepi
63
Bab 63 - Keputusasaan
64
Bab 64 - Dialog dingin
65
Bab 65 - Debu masa lalu
66
Bab 66 - Kebebasan yang dingin
67
Bab 67 - Reuni dua singa yang kehilangan taringnya
68
Bab 68 - Rencana putus asa sang ular
69
Bab 69 - Penjaga yang tak pernah tidur
70
Bab 70 - Riwayat Vera Amalia
71
Bab 71 - Bayang-bayang yang menggila
72
Bab 72 - Runtuhnya sisa atap yang melindungi
73
Bab 73 - Coretan masa lalu
74
Bab 74 - Pengusiran dari tanah kelahiran
75
Bab 75 - Tanah kelahiran yang ditinggalkan
76
Bab 76 - Kehidupan yang damai dan bahagia
77
Bab 77 - Kabar Bram Baskoro untuk yang terakhir kalinya
78
Bab 78 - Pidato Elang untuk Mama Larissa
79
Bab 79 - Pesta Anniversary ke 10
80
Bab 80 - Akhir yang sempurna (END)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!