Indonesia
NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Chicklit / CEO / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Dayang berlari menyisir seluruh sudut pelelangan ikan dengan napas memburu.

Ia menghampiri Pak Mat dan Jamal yang sedang membongkar muatan di ujung dermaga.

"Pak Mat! Jamal! Lihat Bima ndak?" tanya Dayang panik, matanya liar menyapu kerumunan.

Pak Mat dan Jamal saling pandang lalu menggeleng bingung.

"Lho, bukannya tadi lagi merapikan keranjang di lapakmu, Nduk? Dari tadi ndak ada yang lihat dia jalan ke luar."

Rasa cemas yang hebat menghantam dada Dayang.

"Jamal, tolong jaga lapakku sebentar ya!" seru Dayang tanpa menunggu jawaban.

Ia berlari kencang menuju parkiran, menaiki motor sport-nya, lalu memutar gas sejadi-jadinya membelah jalanan menuju desa.

Pikiran Dayang berantakan. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bima hanya pulang lebih awal karena merasa kurang enak badan atau ada barang yang tertinggal.

Setibanya di rumah kayu, Dayang mendobrak pintu depan.

"Mas Bima! Mas Bima!"

Hening. Suasana rumah terasa begitu sunyi.

Langkah kaki Dayang bergetar saat melangkah menuju kamar belakang tempat Bima tidur.

Begitu pintu dibuka, pemandangan di atas tempat tidur bambu membuat seluruh persendian Dayang seketika melumpuh.

Kaos polos usang dan celana kain peninggalan almarhum ayahnya terlipat begitu rapi di atas kasur.

Namun, seluruh pakaian baru—tiga kaos, dua celana, dan pakaian dalam yang ia belikan dengan penuh rasa bahagia di mall kemarin—sudah tak ada di tempatnya. Dibawa pergi tanpa menyisakan satu pun jejak.

Perbincangan hangat, bantuan tulus, hingga pelukan erat dan ciuman manis di bawah sinar bulan semalam membentur benaknya bagai mimpi disiang bolong.

Pria itu tidak diculik. Pria itu tidak tersesat. Pria itu memilih pergi secara sukarela tanpa menguncapkan sebaris kata pamit.

Lutut Dayang lemas. Gadis perkasa yang tak pernah gentar menghadapi kerasnya hidup itu luruh berlutut di samping tempat tidur.

Ia meremas kaos usang almarhum ayahnya, membenamkan wajahnya di sana seraya menangis sesenggukan.

"Apa, karena aku menciumnya semalam?" gumam Dayang di antara isolasi tangisnya yang pecah, hatinya hancur berkeping-keping memikirkan alasan di balik kepergian bisu pria yang sangat ia cintai itu.

Di saat hati Dayang hancur berkeping-keping di dalam kamar, suara langkah kaki yang kasar mendobrak kesunyian rumah kayu tersebut.

Bayu melangkah masuk tanpa diundang, membawa senyum licik yang sarat akan rasa dendam setelah dirinya diusir oleh Pak RT dan kehilangan pengaruh di pelelangan.

"Wah, wah, ada yang lagi meratapi nasib rupanya," cemooh Bayu dengan nada memprovokasi.

Pria itu menyandarkan tubuhnya di ambang pintu kamar, menatap Dayang yang masih terduduk di lantai.

Dayang dengan cepat menyapu air matanya, menegakkan punggungnya, lalu berdiri menghadap Bayu.

Meski matanya sembap dan hatinya remuk, Srikandi Pasar Matahari itu menolak keras menunjukkan kelemahannya di depan musuh besarnya.

"Keluar dari rumahku, Bayu! Tidak ada yang sudi terima kamu di sini!" gertak Dayang dengan suara sengau namun diusahakan tetap tegas.

Bayu malah tertawa lepas, mengikis jarak dengan melangkah makin berani ke dalam ruangan.

"Harusnya kamu sadar dari awal, Dayang." olok Bayu dengan nada penuh kemenangan.

"Kamu itu cuma dimanfaatkan sama kuli asing ndak jelas asal-usulnya itu! Mana ada kuli betah di tempat amis kayak gini kalau bukan ada mau-maunya? Lihat sekarang, begitu urusannya kelar, kamu dicampakkan begitu saja! Dia pergi ninggalin kamu tanpa pamit, kan?"

Kata-kata Bayu bagai sembilu yang menyayat luka segar di dada Dayang.

Namun Dayang mengepalkan tangannya rapat-rapat, menatap Bayu dengan sorot mata menyala penuh keberanian.

"Bima pergi atau ndak, itu bukan urusanmu! Dan dia seribu kali lebih terhormat daripada lelaki licik kayak kamu yang cuma bisa main sabotase!" balik Dayang menyemburkan kemarahannya, berdiri tegak menghalangi jalan Bayu.

Bayu tersenyum menyeringai. Pria itu melangkah maju dengan cepat sebelum Dayang sempat mengambil tindakan apa pun.

Dari balik saku jaketnya, Bayu mengeluarkan selembar kain yang sudah dibasahi cairan bius, lalu mencengkeram wajah Dayang dari belakang.

"MMMMPPHH!!" Dayang memberontak hebat, memukul dan menendang sekuat tenaga.

Namun bau menyengat cairan kimia itu menyergap inderanya dengan cepat.

Pandangan Dayang mendadak kabur, tenaganya hilang seketika, dan dalam hitungan detik tubuh tegar gadis itu ambruk tak berdaya. Dayang pingsan sepenuhnya.

Dengan raut wajah licik dan terburu-buru, Bayu menyeringai puas.

Pria itu merengkuh tubuh lunglai Dayang, lalu membopongnya masuk ke dalam kamar dan meletakkannya di atas kasur bambu.

Tepat saat Bayu hendak mengunci pintu kamar dari dalam, pintu depan rumah kayu mendadak terdorong keras.

Bintang yang pulang sekolah lebih awal melangkah masuk dengan senyum di wajahnya, yang seketika sirna begitu melihat sosok Bayu berdiri di ambang pintu kamar kakaknya.

Mata kecil Bintang membelalak lebar melihat tubuh Mbak Dayang terbaring tidak sadarkan diri di atas kasur.

"APA YANG KAMU LAKUKAN?! TOLONG!! TOLONG!!" jerit Bintang histeris dengan suara melengking membelah kesunyian desa.

Jeritan histeris Bintang membuat Bayu panik setengah mati.

Takut tetangga sekitar berdatangan membawa massa, Bayu langsung mendorong tubuh Bintang hingga terjatuh, lalu lari kabur terbirit-birit menembus pintu belakang rumah.

"Mbak Dayang! Mbak bangun, Mbak!" teriak Bintang histeris seraya menepuk-nepuk pelan pipi kakaknya yang masih terkulai lemas tak berdaya.

Tak lama kemudian, Pak RT yang mendengar teriakan dari luar berlari masuk ke dalam rumah bersama beberapa warga.

Wajah pria paruh baya itu pucat pasi saat menyaksikan Dayang yang terbaring pingsan dengan raut wajah memutih.

"Ya Allah, Dayang kenapa ini, Bintang?!" seru Pak RT panik.

"Pak Samad, cepat panggil dokter klinik terdekat! Sekarang!"

Bintang yang masih mengenakan seragam SMA-nya berlutut di tepi kasur, memeluk erat tubuh kakaknya yang dingin.

Isak tangisnya pecah seketika, dadanya kembang-kempis menahan kepedihan dan ketakutan yang luar biasa melihat sang kakak yang biasanya paling tangguh kini terkapar tak berdaya.

"Mbak Dayang, bangun, Mbak." tangis Bintang pecah sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di balik bahu Dayang.

Di tengah tangisannya yang memilukan dan rasa panik yang mengepung ruangan, Bintang teringat pada sosok pria yang sejak kemarin selalu pasang badan melindungi mereka.

Pria yang baru saja dibelikannya baju baru dan sangat ia harapkan bisa menjadi penjaga kakaknya.

"Mas Bima, kamu di mana?" gumam Bintang lirih di antara selingan tangisnya.

"Kenapa pas Mbak Dayang seperti ini. Mas Bima malah nggak ada."

Dokter klinik desa yang tiba, langsung memeriksa denyut nadi dan pupil mata Dayang.

Setelah beberapa saat, dokter itu mendesah napas lega lalu menatap Pak RT dan Bintang.

"Kondisinya stabil. Ini murni efek racun dari obat bius dosis sedang yang dihirupnya. Tidak ada cedera fisik yang membahayakan jiwa. Berikan dia waktu beristirahat sampai pengaruh obatnya hilang total, lalu minumkan air putih yang banyak saat dia terbangun," jelas dokter tersebut menenangkan suasana.

Mendengar penjelasan dokter, Bintang mengusap air matanya dan segera berpaling ke arah Pak RT dengan tatapan tajam nan tegas.

"Pak RT, tolong urus Bayu! Dia sudah kelewat batas dan hampir mencelakai Mbak Dayang. Jangan biarkan dia lolos begitu saja!" pintanya emosional.

Pak RT mengangguk mantap. "Kamu tenang saja, Bintang. Warga dan pihak berwajib akan memburu Bayu sampai ketemu!"

Sementara itu, ratusan kilometer dari desa, sebuah sedan mewah berhenti tepat di lobby gedung pencakar langit Suryo Group. Rimba melangkah keluar dengan pandangan lurus.

Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi pribadi di ruang kerjanya yang luas di lantai teratas.

Pria itu membasuh wajahnya dengan air dingin, memandang cermin yang kini memantulkan kembali sosok sang penguasa bisnis.

Rimba menanggalkan pakaian sederhana yang dibelikan Dayang di mall, menggantinya dengan kemeja sutra dan jas buatan penjahit Eropa yang begitu presisi.

Tak lama kemudian, Dio melangkah masuk dengan berkas di tangannya.

"Pak Rimba, laporan dari Pabrik Merah baru saja masuk. Berkat dokumen kesepakatan resmi pasokan ikan dari Mbak Dayang yang sudah diresmikan pagi tadi, lini produksi pabrik kembali beroperasi seratus persen. Krisis kebangkrutan berhasil dihindari," tulus Dio melaporkan.

Rimba mengangguk pelan, menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.

Semua orang di gedung itu kembali menatapnya dengan rasa hormat pada sosok CEO yang dingin, tangguh, dan tanpa cela.

Namun, di balik wajah tegas itu, pikiran Rimba sama sekali tidak berada di ruang rapat.

Bayangan senyum tulus Dayang, tawa renyahnya saat menikmati nasi goreng di food court, hingga manisnya ciuman lembut di bawah sinar bulan semalam terus berputar menghantuinya tanpa henti.

Rimba memegang dadanya yang terasa hampa, sadar bahwa meski ia berhasil menyelamatkan kerajaan bisnisnya, ia telah meninggalkan separuh jiwanya di rumah kayu bersahaja itu..

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!