Anindya, wanita muda yang tulus dan sederhana, tanpa sengaja terjebak dalam cinta kepada Reynand — pria berwibawa yang sudah memiliki istri bernama Gisella. Di mata publik, rumah tangga mereka tampak sempurna. Namun saat kebenaran mulai terkuak satu per satu, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik pintu tertutup. Akankah Anindya pergi sebelum terlambat, atau ia akan tetap bertahan — terperangkap dalam cinta yang ternyata jauh lebih rumit dari yang ia kira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Waktu seakan ikut berhenti berputar pada detik itu.
Jantung Anindya berdegup kencang hingga suaranya terdengar nyaring di telinganya sendiri. Ia dapat merasakan hangatnya napas Reynand yang menyapu lembut pipinya.
Reynand pun terdiam. Rahangnya mengeras. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Anindya. Dua detik yang berlalu itu terasa selamanya.
Namun tiba-tiba, dengan satu gerakan cepat, ia mendorong tubuhnya ke atas dan menjauh.
"Berdiri," perintahnya pelan namun tegas. Ia mengulurkan tangan.
Anindya menggenggam tangan itu dengan jari yang gemetar, lalu ditarik berdiri. Kakinya masih terasa lemas dan tidak stabil. Selimut yang tadi terjatuh ke lantai segera ia pungut dengan tergesa-gesa, lalu dipeluknya erat ke dada seakan menjadikannya tameng dari segala rasa malu yang meluap-luap.
Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara dengungan penyejuk udara dan detak jam dinding yang berirama teratur di ruangan itu.
"Maaf, Pak... Saya... saya kurang berhati-hati," ucap Anindya sambil menunduk dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca, menahan butiran bening yang hampir jatuh karena rasa malu yang mendalam.
Reynand berbalik memunggungi Anindya, meraih kaos dan celana dari dalam kopernya, lalu mengenakannya dengan gerakan yang terlihat kaku dan terburu.
"Bukan salahmu," ucapnya dengan nada datar. "Karpetnya licin."
Setelah berpakaian rapi, ia berbalik badan. Wajahnya kembali tampak tenang dan serius seperti biasa. Namun di balik ketenangan itu, telinganya samar-samar terlihat memerah.
"Ambil selimutmu. Silakan keluar."
"B-baik, Pak."
Anindya bergegas melangkah keluar, menutup pintu kamar tidur itu perlahan di belakangnya. Sesampainya di ruang tengah, ia langsung menjatuhkan diri ke tepi sofa, lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Ya Tuhan... memalukan sekali..."
Di dalam kamar tidur yang kini tertutup rapat itu, Reynand menyandarkan punggungnya ke balik pintu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, seakan ingin menghapus sisa-sisa gugup dan keinginan yang sempat hampir meluap tadi.
"Sial," batinnya mengumpat pelan.
Ia melangkah menuju jendela kaca besar, menatap hamparan lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang masih belum kembali tenang sepenuhnya.
-
-
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk dari celah gorden jendela besar ruang tengah, menyinari sofa kulit tempat Anindya meringkuk sepanjang malam.
Ia terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terlihat sedikit bengkak dan sembab akibat tidurnya sama sekali tidak nyenyak semalam. Dengan gerakan yang sengaja pelan dan hati-hati, ia melipat selimutnya rapi, merapikan susunan rambut di depan cermin kecil yang ia bawa di tas, lalu menepuk-nepuk pipinya perlahan seakan memberi kekuatan kepada diri sendiri.
Tok... Tok...
Terdengar ketukan pelan di pintu kamar tidur utama.
Anindya sedikit terkejut. "Y-ya, Pak?"
Namun tidak ada jawaban yang menyusul. Yang terdengar hanyalah suara langkah kaki yang perlahan menjauh. Dengan rasa penasaran, ia melangkah mendekat dan mengintip ke arah meja kecil di dekat jendela. Di sana sudah tersedia nampan berisi sarapan. Dua piring berisi roti panggang dan telur, serta dua cangkir kopi yang masih mengeluarkan uap hangat.
Di samping nampan itu tergeletak selembar kertas catatan kecil bertuliskan tangan Reynand.
'Sarapan. Rapat pukul delapan.'
Anindya memegang kertas itu perlahan, jemarinya menyentuh jejak tulisan tersebut. Jantungnya berdegup dengan irama yang aneh, bukan karena gugup atau cemas, melainkan lebih kepada rasa lega yang samar namun nyata terasa di dadanya.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar tidur utama terbuka. Reynand melangkah keluar. Penampilannya sudah sangat rapi dengan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam. Wajahnya tampak datar dan tenang seperti biasa, seakan kejadian yang penuh kecanggungan semalam itu tidak pernah terjadi sama sekali di antara mereka.
"Selamat pagi," ucapnya singkat.
"Selamat pagi, Pak," jawab Anindya sambil sedikit menunduk, berusaha menyembunyikan sisa kegelisahan yang masih tersisa di wajahnya.
Suasana kembali hening. Satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu hanyalah bunyi sendok yang sesekali beradu dengan piring porselen.
Reynand duduk di kursi seberang meja, lalu membuka laptopnya di samping piring sarapannya.
"Berapa lama perjalanan menuju lokasi peninjauan proyek dari sini?" tanyanya tanpa menatap langsung ke arahnya.
"Sekitar tiga puluh menit, Pak. Asisten Hansen sudah mengirimkan rincian rute perjalanannya ke surel saya."
"Baik. Setelah sarapan selesai, kita langsung berangkat."
Anindya mengangguk patuh, lalu menyeruput kopi yang masih panas di hadapannya. Panasnya rasa minuman itu terasa menjalar di kerongkongan, sama seperti rasa hangat yang perlahan merona di pipinya saat ia menyadari bahwa tatapan Reynand tadi sesekali melirik ke arahnya.
Reynand tampak menyadari hal itu. Matanya menangkap sekilas pandang ke arah mata Anindya yang masih terlihat sembab. Ia terdiam sejenak, sebelum kemudian meraih map berwarna biru yang tersimpan di sampingnya dan menyodorkannya ke arah wanita itu.
"Ini adalah rincian lengkap proyek yang akan kita tinjau hari ini. Pelajarilah di dalam perjalanan nanti."
Itu jelas sebuah alasan formal untuk memberikan dokumen tersebut, dan mereka berdua seakan memahami hal itu tanpa perlu diucapkan. Namun di balik alasan itu, tersirat pesan lain yang Reynand sampaikan dengan caranya sendiri yang tenang.
Anindya menerima map itu dengan kedua tangan, lalu menatapnya sekilas dengan senyum tipis.
"Baik, Pak. Terima kasih banyak."
-
-
-
Pintu kediaman keluarga Wijaya terbuka perlahan.
"Gisella?"
Lidya menyambut putrinya dengan senyum hangat. Namun senyum itu seketika memudar saat melihat raut wajah wanita yang berdiri di ambang pintu itu.
"Mengapa wajahmu tampak begitu muram? Masuklah, masuklah." Lidya segera menggandeng tangan Gisella menuju sofa ruang tamu. Di meja tengah telah tersedia teh yang masih mengepul hangat dan sepiring kue brownies.
"Papa di mana, Ma?" tanya Gisella dengan suara yang terdengar lemah dan lesu.
"Papa sudah ke kantor. Ada rapat bersama klien dari Singapura. Sekarang ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi?" Lidya duduk tepat di samping putrinya, menatapnya penuh perhatian namun juga dengan sorot mata yang menanti kejelasan.
Gisella menghela napas panjang, dan butiran bening akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Reynand... dia bersikeras ingin bercerai, Ma."
Gelas teh yang baru saja hendak diangkat Lidya kembali diletakkan ke meja dengan bunyi yang cukup keras, menandakan kekesalan yang tiba-tiba meluap.
"Bercerai?!" Suara Lidya meninggi tajam. "Itu tidak boleh terjadi! Masa depan Reynand Group sangat bergantung pada penyatuan kedua keluarga kita. Tidak bisa begitu saja dibatalkan!"
"Tetapi dia sudah semakin dingin, Ma. Bahkan dia lebih memilih tinggal di apartemen daripada di mansion bersamaku," isak Gisella tertahan.
Lidya mengusap bahu putrinya dengan gerakan yang lembut namun cengkeramannya terasa kuat dan menekan.
"Dengarkan Mama. Seorang pria yang telah memikul tanggung jawab besar tidak akan pergi begitu saja. Kamu harus memberinya alasan yang kuat untuk tetap bertahan."
"Maksud Mama?" Gisella mendongak, matanya masih basah namun kini penuh keraguan.
Lidya mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada yang terdengar penuh rencana.
"Cepatlah mengandung anak Reynand. Begitu ada anak di antara kalian, Reynand tidak akan sanggup meninggalkanmu. Itulah cara paling ampuh untuk mengikat seorang pria agar tetap bertahan dalam ikatan pernikahan."
Gisella tertegun mendengar saran itu.
"Tetapi Ma... saat ini saja dia selalu berusaha menghindar dariku..."
"Berarti kamulah yang harus berusaha lebih keras," potong Lidya cepat, tatapannya tajam dan tegas. "Jika perlu... buatlah dia luluh dengan caramu sendiri. Bujuk, rayu. Jangan pernah memberinya celah sekecil apa pun untuk pergi meninggalkanmu."
Lidya kembali merangkul bahu putrinya dengan lembut.
"Tenanglah. Mama selalu berada di pihakmu. Kita tidak akan membiarkan nama baik keluarga Wijaya ternoda dan dipermalukan oleh sebuah perceraian."
-
-
-
Bersambung...