Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Kurang lima puluh ribu
Jarum jam dinding di ruang eksekutif menunjukkan pukul 16.45 WIB. Suasana kantor perlahan mulai lengang seiring berakhirnya jam kerja reguler. Nayla menata rapi tumpukan dokumen di atas meja kerjanya, lalu mengemasi tasnya.
Sebelum melangkah menuju lift untuk pulang, Nayla menyempatkan diri masuk ke dalam ruang kerja CEO. Di sana, Adrian masih tampak fokus membolak-balik berkas di hadapan laptopnya, ditemani Rio yang berdiri tegap membawa beberapa dokumen proyek.
Begitu mendengar derap lembut langkah kaki Nayla, Adrian yang peka langsung mendongak. Fokus matanya seketika berpindah sepenuhnya pada sang istri, diiringi kehangatan yang melelehkan raut tegasnya.
"Sayang... kamu sudah mau pulang?" tanya Adrian lembut.
"Iya, Mas. Pekerjaan untuk hari ini sudah selesai semua," jawab Nayla tersenyum manis seraya melangkah mendekat ke meja kerja suaminya. "Tapi... ini aku tidak langsung pulang ke rumah ya, Mas. Aku mau mampir ke supermarket sebentar sama Mira, soalnya persediaan bahan makanan di dapur kita sudah menipis."
Mendengar hal itu, Adrian tanpa ragu sedikit pun langsung meraih dompet kulitnya di atas meja. Pria itu mengeluarkan sebuah kartu kredit Black Card bernuansa elegan tanpa batas limit, lalu mengulurkannya pada Nayla.
"Pakai kartu ini ya, Sayang," tutur Adrian tulus. "Maaf ya, sore ini aku tidak bisa menemani atau mengantarmu... Setelah ini aku dan Rio harus pergi meninjau lokasi baru untuk calon lapangan golf kita."
Nayla menerima kartu berharga fantastis itu seraya tersenyum teduh. "Iya, tidak apa-apa, Mas. Lagipula kan aku pergi sama Mira. Oh iya... Mas mau makan malam apa nanti?"
Adrian menatap istrinya dengan pandangan begitu teduh. "Apa saja, Sayang. Apapun masakanmu selalu terasa paling enak buatku."
"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat sekarang ya, Mas..."
Nayla membungkuk sedikit, meraih tangan tegap Adrian lalu mencium punggung tangannya dengan penuh takzim. Adrian yang merasa gemas hendak memajukan wajahnya untuk mendaratkan ciuman manis di kening Nayla.
Namun, Nayla mendadak menarik diri dan mundur selangkah dengan pipi merona merah.
Sebab, di depan mereka, Rio sedang menopang kedua dagunya menggunakan telapak tangan seraya menatap pasangan suami-istri itu dengan pendar mata yang amat nakal dan godaan yang tak tertahankan.
Adrian yang mendapati aksi asistennya langsung melayangkan tatapan tajam dan memberikan kode tegas menggunakan matanya agar Rio membalikkan badan. Rio tersenyum-senyum jahil, lalu buru-buru memutar tubuhnya membelakangi mereka dengan bahu yang berguncang menahan tawa.
Begitu Rio berbalik, Adrian menarik pelan pinggang Nayla, mendaratkan sebuah kecupan hangat di keningnya, lalu berpindah mendaratkan ciuman singkat nan manis di bibir merona istrinya.
"Hati-hati di jalan ya, Sayang... Nanti kita ketemu di rumah," bisik Adrian lembut.
"Iya, Mas..." sahut Nayla malu-malu, lalu bergegas melangkah keluar dari ruangan dengan hati berbunga-bunga.
****
Beberapa saat kemudian, suasana riuh pusat perbelanjaan menyambut kedatangan Nayla dan Mira. Troli belanjaan yang didorong Nayla kini sudah terisi penuh oleh berbagai bahan makanan segar, bumbu dapur, buah-buahan, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Mira yang berjalan di sampingnya tak hentinya berdecak kagum seraya melirik kartu kredit berwarna hitam mengilap di jemari Nayla.
"Ckckck... Nay, enak banget ya rasanya jadi istrinya Pak Adrian!" cetus Mira mengagumi sahabatnya. "Bisa belanja apa saja secara bebas tanpa perlu pusing melirik label harga!"
Pipi Nayla memerah tipis. "Sudah ah, Mir... Jangan bicara terus. Kamu ambillah apa saja barang yang kamu butuhkan, biar sekalian aku yang bayar."
Mata Mira seketika berbinar-binar lebar. "Seriusan nih, Sahabatku sayang?! Asyik! Tapi jangan protes ya kalau nanti tagihannya membengkak!"
Nayla tertawa renyah melihat tingkah kocak sahabatnya. "Iya, tidak apa-apa..."
Setelah lebih dari tiga puluh menit berputar-putar mengitari lorong-lorong supermarket, mereka berdua akhirnya mengantre di konter kasir nomor tiga untuk melunasi seluruh barang belanjaan.
Namun, saat kasir sedang memindai satu per satu barang belanjaan mereka, terdengar suara nada tinggi yang memicu keributan dari arah konter kasir nomor tujuh.
Mira yang dasarnya memiliki mata jeli dan rasa ingin tahu tinggi langsung memasang telinganya tajam-tajam seraya mengamati kerumunan kecil di sana.
"Eh, Nay... itu di konter nomor tujuh ada apa ya? Kok kelihatannya ramai dan heboh banget?" bisik Mira menyenggol lengan Nayla.
"Nggak tahu, Mir..." sahut Nayla tenang. Ia memilih fokus menyerahkan kartu hitam milik Adrian kepada petugas kasir di hadapannya.
Beep.
"Pembayaran selesai. Terima kasih telah berbelanja," tutur petugas kasir ramah seraya menyerahkan kembali kartu dan struk belanjaan.
Nayla mengangguk sopan dan merapikan kantong-kantong belanjaannya. Namun, saat ia hendak melangkah keluar dari area konter kasir, pandangan mata Nayla tak sengaja menangkap sosok wanita paruh baya berbusana mewah yang sedang berdebat sengit di konter nomor tujuh.
Langkah kaki Nayla mendadak membeku.
"Mir..." panggil Nayla pelan dengan suara bergetar tipis. "Itu... wanita di sana itu... ibuku?"
Mira yang berdiri di sampingnya seketika membelalak kaget. "Hah?! Ibumu?! Maksudmu bibi Dewi yang sudah menghilang selama belasan tahun itu?!"
Nayla mengangguk pelan. "Iya... Sebenarnya aku sudah bertemu dengannya kemarin saat meeting..."
"Trus gimana ceritanya?!" seru Mira panik sekaligus penasaran setengah mati.
"Ceritanya nanti saja ya, Mir," potong Nayla lembut. "Aku mau ke sana sebentar. Kamu tolong jagain troli belanjaan kita di sini sebentar ya?"
"Eh, Nay! Hati-hati!" tahan Mira penuh rasa cemas.
Nayla mengangguk, lalu melangkah perlahan mendekati area konter kasir nomor tujuh.
Sementara itu, suasana di konter kasir nomor tujuh kian memanas.
Bu Dewi Ambarwati berdiri dengan raut wajah merah padam menahan malu, sementara di sampingnya Anita tampak berkacak pinggang dengan wajah ketus. Di hadapan mereka, seorang kasir muda menunduk sopan namun tetap memegang teguh prosedur.
"Mohon maaf sekali, Ibu..." tutur kasir itu dengan nada sehalus mungkin. "Saldo di dalam kartu debit Ibu tidak mencukupi untuk memproses total transaksi ini."
Bu Dewi mendecih keras, menepuk meja kasir dengan gaya angkuh. "Halah, Mbak! Ini kan paling cuma kurang lima puluh ribu rupiah doang! Minta diskon sedikit kan bisa! Saya ini pelanggan tetap di supermarket ini!"
"Sekali lagi mohon maaf, Ibu... Sistem kami tidak bisa memotong atau menguraikan harga secara manual," jelas kasir itu sabar. "Apakah ada barang belanjaan yang ingin dikurangi saja, Bu?"
"Enak saja! Tidak mau!" potong Anita galak, melipat kedua tangannya di dada. "Semua barang ini sudah pas sesuai kebutuhan kami! Masa tempat sekelas ini tidak ada toleransi sama sekali?!"
"Ya tapi kalau saldonya kurang, transaksinya tidak bisa diproses, Bu... Atau mungkin Ibu ada uang tunai pas untuk menutupi kekurangannya?" tanya kasir itu mulai terdesak.
Bu Dewi dan Anita saling pandang dengan raut wajah panik nan canggung. Mereka sedang tidak membawa uang tunai sama sekali, sementara kartu kredit lain yang mereka miliki sudah mencapai batas limit akibat krisis keuangan perusahaan Tuan Baskoro.
Di tengah rasa malu yang makin menghimpit mereka di depan antrean pembeli lain yang mulai berbisik-bisik...
Sebuah tangan mulus terulur dari samping, menyodorkan sebuah kartu kredit Black Card berwarna hitam elegan ke atas meja kasir.
"Gunakan kartu ini saja untuk melunasi semuanya, Mbak," tutur sebuah suara lembut namun terdengar begitu dingin dan tenang.
Kasir muda itu mendongak, matanya membelalak kaget melihat kartu tanpa batas limit bernilai fantastis milik kalangan miliarder kelas atas disodorkan di hadapannya. "B-baik, Mbak! Terima kasih banyak!"
Bu Dewi dan Anita seketika menoleh cepat ke arah pemilik kartu tersebut.
Deg!
Anita tersentak kaget setengah mati. Matanya membelalak kaku, mengenali sosok wanita yang berdiri di sampingnya.
"Nayla?! Sekretaris Pak Adrian?!" batin Anita terperanjat hebat.
Di dalam benak Anita, gejolak emosi yang busuk dan panas seketika membakar dadanya. Ia tidak tahu-menahu bahwa Nayla memiliki hubungan darah dengan ibu tirinya. Yang Anita tahu, wanita berbadan berisi di depannya ini hanyalah seorang sekretaris biasa dari Dewangga Group.
"Kenapa perempuan ini mendadak sok pahlawan membayarkan belanjaan kami?! Padahal kami kan sama sekali tidak saling kenal dekat!" batin Anita menggeram kesal. Rasa gengsinya yang tinggi mendadak tersengat tajam. "Berani-beraninya dia bersikap sok dermawan di depan kami! Apa dia sengaja mau mengejek dan meremehkan kami?! Hih! Dasar sekretaris lancang!"
Anita sudah berada di ujung tanduk, bibirnya gatal ingin melontarkan makian pedas dan menolak bantuan itu demi harga dirinya. Namun, lirikan mata kasir dan bisikan antrean di belakang mereka membuat Anita mati kaku. Posisinya yang sangat terdesak dan membutuhkan pelunasan saat itu juga memaksa Anita menelan bulat-bulat makiannya, membiarkan transaksi itu berjalan demi menutupi rasa malunya.
Sementara itu, Bu Dewi di sampingnya berdiri mematung pucat pasi. Berbeda dari Anita, Bu Dewi tahu betul siapa Nayla, dan kepalanya berputar liar diterpa rasa terkejut serta tanda tanya besar melihat anak kandung yang dibuangnya memegang Black Card tanpa limit.
Beep!
"Pembayaran sebesar dua juta lima ratus ribu rupiah telah berhasil diproses, Mbak," tutur kasir lega seraya menyerahkan kembali kartu hitam dan struk belanjaan kepada Nayla. "Terima kasih banyak atas bantuannya."
Nayla meraih kartu milik suaminya, menyimpannya kembali ke dalam tasnya tanpa memedulikan tatapan benci terselubung dari Anita maupun pandangan syok dari Bu Dewi.
"Anggap saja ini bantuan kecil dari saya..." ujar Nayla dengan suara tenang namun bernada menusuk, menatap lurus ke arah Bu Dewi. "...agar Ibu dan putri kesayangan Ibu tidak perlu menanggung malu di depan umum hanya karena uang lima puluh ribu rupiah."
Setelah melontarkan kalimat menohok itu, Nayla memutar tubuhnya dengan anggun, melangkah pergi meninggalkan Bu Dewi dan Anita yang berdiri mematung dalam kepungan rasa malu, gengsi yang terkoyak, dan tanda tanya besar yang membakar benak mereka.
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️