Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Suasana di dalam ruang kuliah berkapasitas seratus orang itu mendadak hening total, bagaikan seluruh pasokan udara ditarik keluar secara paksa.
Tidak ada satu pun derit kursi, gesekan kertas, atau pun desah napas yang berani memecah keheningan yang begitu mencekam.
Puluhan pasang mata mahasiswa membelalak lebar dengan mulut menganga hebat.
Mereka menatap bergantian antara termos porselen putih yang memancarkan uap tipis beraroma rempah lembut di atas meja, kantong obat-obatan dari apotek ternama, dan sosok pria tegap yang berdiri anggun di samping meja tersebut.
Jameson Baxter Ashford—dosen paling dingin, berjarak, dan mematikan di seluruh Fakultas Bisnis Internasional—baru saja melintasi seluruh ruangan hanya untuk mengantarkan sup hangat dan obat pereda nyeri secara terang-terangan kepada seorang mahasiswi.
Rasa iri, syok, dan ketidakpercayaan yang luar biasa langsung merayap pekat di antara barisan mahasiswa.
Terutama para mahasiswi dari kalangan keluarga bangsawan dan konglomerat yang selama ini berlomba-lomba menarik perhatian sang penguasa dinasti Ashford, kini menatap Hazel dengan tatapan tajam yang siap menghancurkan gadis itu menjadi debu.
Bagaimana bisa?!
Bagaimana mungkin Hazel Rosemary Brooks—gadis yang selalu bersikap dingin dan misterius itu—mendapatkan perhatian seintim ini dari Profesor Ashford?!
Hazel sendiri membeku kaku di tempat duduknya.
Wajah porselennya yang semula memancarkan kepuasan atas muslihat sempurnanya, kini berubah menjadi agak pucat oleh kejutan tak terduga.
Sepasang matanya menatap termos sup dan wajah tegap Jameson bergantian.
Bencana.
Ini adalah bencana besar bagi penyamaran dan ketenangannya.
"Profesor Ashford..." bisik Hazel dengan gigi merapat, mencoba menekan nada suaranya sekecil mungkin agar tidak terdengar oleh sekelilingnya.
"Apa yang sedang Anda lakukan?!"
Jameson tidak terpengaruh sedikit pun oleh tatapan histeris dari puluhan mahasiswa di sekitarnya.
Pria itu justru membungkukkan sedikit tubuh tegapnya, menopang sebelah tangannya di atas permukaan meja Hazel, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga ia bisa menghirup aroma wangi mawar yang khas dari kulit leher gadis itu.
Tindakan membungkuk yang begitu intim itu makin membuat seisi kelas histeris dalam keheningan yang mencekam.
"Aku hanya sedang memastikan mahasiswaku dalam kondisi terbaiknya untuk menerima materi perkuliahan hari ini, Miss Brooks," bisik Jameson dengan suara rendah yang bergetar penuh kehangatan sensual.
Matanya menatap lurus ke dalam pupil mata Hazel yang bergetar.
"Atau kau ingin aku menyuapimu sendiri di depan mereka semua agar kau mau menghabiskan sup ini?"
"Anda..." Hazel menggeram rendah, matanya berkilat penuh ancaman.
"Jangan gila, Jameson!"
"Aku memang sudah gila sejak kau meninggalkan penthouse-ku tanpa pamit pagi tadi,"
Balasan halus Jameson meluncur tanpa keraguan sedikit pun, disertai senyuman miring yang teramat sangat tampan dan memikat di bibirnya.
"Minum obatmu setelah supnya habis. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil aku. Aku berada di podium depan."
Jameson menepuk pelan puncak kepala Hazel dengan gerakan yang begitu lembut dan posesif—sebuah gestur kasih sayang yang teramat sangat romantis—sebelum ia menegakkan kembali tubuh tegapnya, berputar anggun, dan melangkah santai menuju podium dosen di depan kelas seolah-olah ia baru saja melakukan hal paling wajar di dunia.
Di samping tempat duduk Hazel, Seraphina terduduk kaku bagai patung batu.
Matanya berkedip berulang kali, menatap termos porselen di atas meja Hazel dengan ekspresi yang sangat konyol.
Seraphina perlahan memiringkan tubuhnya, mencengkeram lengan baju Hazel dengan jemarinya yang gemetar hebat.
"H-Hazel..." bisik Seraphina dengan suara yang hampir kehilangan daya, matanya membelalak menatap sahabatnya.
"Ini... ini aku sedang bermimpi, kan? Tolong cubit aku sekarang juga!"
Hazel tidak membalas, ia hanya mengepalkan tangannya di bawah meja sembari menatap tajam ke arah Jameson yang sedang menyalakan proyektor di depan kelas.
"Jangan bilang..." lanjut Seraphina dengan nada yang makin histeris namun tertahan di tenggorokan, "...jangan bilang kalau selama ini ada hubungan rahasia yang terjalin antara dosen terkejam di kampus ini dan asisten mahasiswinya?! Hazel! Kau... kau dan Profesor Ashford?!"
Gelombang bisik-bisik yang sarat akan rasa iri dan cemburu mulai meletup pelan di barisan belakang kelas.
"Lihat itu... Sejak kapan Profesor Ashford begitu peduli pada mahasiswi?"
"Apakah mereka berpacaran? Tidak mungkin! Profesor Ashford tidak pernah melirik wanita mana pun di kampus ini!"
"Dia pasti menggoda sang profesor! Dasar wanita pemikat!"
Hazel mendengarkan seluruh bisikan beracun di sekitarnya dengan ekspresi yang perlahan kembali mematuhi hukum dinginnya.
Ia melirik termos porselen hangat di hadapannya.
Muslihat berpura-pura sakit perut yang ia rancang kemarin malam memang berhasil menyelamatkannya dari ranjang Jameson, tetapi pria Ashford yang terobsesi ini justru membalasnya dengan sebuah kejutan manis yang membakar seluruh ketenangannya di kampus.
Permainan di antara mereka kini baru saja memasuki babak yang makin liar dan tak terkendali.
...----------------...
Happy reading 🦋