Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Tekad Ivy untuk menjadi kuat
Lorong rumah sakit masih diselimuti keheningan yang mencekam. Cahaya lampu putih menerangi setiap sudut koridor, sementara aroma khas rumah sakit semakin menusuk indra penciuman. Di depan ruang operasi, Kakek James terus mondar-mandir dengan wajah tegang. Sesekali, pria tua itu melirik pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat, seolah berharap pintu tersebut segera terbuka dan membawa kabar baik.
Sementara itu, Nenek Veronika duduk di samping Ivy yang sejak tadi tidak pernah mengalihkan pandangannya dari pintu tersebut.
Hampir tujuh jam telah berlalu.
Namun hingga saat ini, belum ada satu pun dokter yang keluar untuk memberikan kabar mengenai kondisi Edgar.
Ivy meremas kedua tangannya dengan gelisah. Wajahnya tampak pucat, sementara matanya sembap akibat terlalu lama menangis. Air mata yang berusaha ditahannya kembali mengalir membasahi pipinya.
"Ivy, Sayang, minum dulu ya." Nenek Veronika menyodorkan sebotol air mineral kepadanya dengan lembut. "Kau belum makan atau minum apa pun sejak tadi. Kau bisa jatuh sakit jika terus seperti ini."
Namun, Ivy hanya menggeleng pelan.
"Aku tidak haus, Nek." Jawab Ivy, suaranya bahkan terdengar serak dan nyaris tidak berdaya.
Nenek Veronika menghela napas panjang, Ia tahu betapa Ivy sangat mengkhawatirkan Edgar, tetapi melihat gadis itu menyiksa dirinya sendiri seperti ini membuat hatinya juga ikut terasa sakit.
"Ivy, dengarkan Kakek," ujar kakek James dengan lembut tetapi cukup tegas. "Pulanglah sebentar dan beristirahat. Jika ada kabar mengenai Edgar, kami akan segera memberitahumu."
Ivy kembali menggeleng, kali ini ia bahkan tidak ragu sedikit pun untuk menolak.
"Tidak, granpa. Aku tidak akan pergi kemanapun sebelum mengetahui keadaan Edgar." jawab Ivy tegas, tatapannya menujukan kekhawatiran yang tak bisa dia sembunyikan.
"Aku ingin berada di sini saat dia keluar nanti."
Kalimat terakhir itu terdengar begitu lirih, seolah Ivy sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Edgar akan baik-baik saja.
Namun semakin lama ia menunggu, semakin besar pula rasa bersalah yang menghimpit dadanya.
Bayangan kejadian beberapa jam sebelumnya terus berputar di dalam pikirannya, Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana Edgar berusaha melindunginya dari serangan para penjahat itu dengan menyuruhnya untuk tetap berada di mobil sementara dirinya harus menghadapi mereka seorang diri. Pria itu bahkan rela mempertaruhkan keselamatannya sendiri demi memastikan Ivy tidak terluka.
Sementara dirinya?
Ia hanya bisa duduk ketakutan di dalam mobil, menyaksikan Edgar menghadapi bahaya tanpa mampu memberikan bantuan sedikit pun.
Ivy menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak tangis yang kembali memenuhi tenggorokannya.
'Kenapa aku begitu lemah?'
Pertanyaan itu terus menghantui pikirannya.
'Kenapa aku hanya bisa bersembunyi ketika Edgar mempertaruhkan nyawanya untuk melindungiku?'
Dadanya terasa sesak.
"Maafkan aku, Granpa... maafkan aku, Granma..." Ucap Ivy pelan, ia menundukkan kepalanya, merasa tidak enak karena telah membuat kedua orang tua itu hampir saja kehilangan cucunya.
Kakek James dan Nenek Veronika langsung menoleh ketika mendengar suara Ivy yang bergetar.
"Aku benar-benar minta maaf," lanjutnya dengan air mata yang semakin deras mengalir. "Aku tidak bisa melindungi Edgar. Aku hanya bisa menangis di dalam mobil, sementara dia harus menghadapi semua penjahat itu sendirian."
Ivy menggeleng berkali-kali, seolah tidak sanggup menerima kenyataan tersebut.
"Andai saja aku lebih kuat.... Andai saja aku bisa melakukan sesuatu untuk membantunya.... Mungkin Edgar tidak akan terluka separah ini."
Suaranya pecah pada akhir kalimat.
"Aku selalu menjadi orang yang dilindunginya, tetapi aku bahkan tidak mampu melakukan hal yang sama untuknya." Kata Ivy sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Isak tangisnya pecah, meluapkan seluruh ketakutan, penyesalan, dan ketidakberdayaan yang sejak tadi berusaha disembunyikannya.
Nenek Veronika tidak tega melihatnya.
Perempuan tua itu segera merengkuh Ivy ke dalam pelukannya, lalu mengusap punggungnya perlahan.
"Sudahlah, Sayang. Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ujar nenek Veronica lembut. Ia mengusap baju Ivy lembut, berusaha menenangkan wanita itu yang masih diliputi rasa bersalah.
"Tapi, Nek...."
"Tolong dengarkan Granma, ya." nenek Veronica menarik tubuh Ivy sedikit menjauh agar bisa menatap wajahnya. "Melindungimu adalah pilihan Edgar, dia melakukan semua itu karena dia ingin memastikan kau tetap aman, Itu bukan kesalahanmu."
"Tapi dia terluka karena aku...." Balas Ivy lirih. Suaranya bergetar, ia menunduk tak sanggup menghilangkan bayangan Edgar yang terluka dari pikirannya.
"Edgar adalah pria dewasa yang mampu mengambil keputusannya sendiri, Ivy. Kau tidak bisa mengendalikan semua hal yang terjadi di sekitarmu. Ada kalanya seseorang yang kita cintai terluka meskipun kita sudah berusaha sebaik mungkin."
Nenek Veronika menghapus air mata di pipi Ivy dengan ibu jarinya.
"Jangan menganggap dirimu tidak berguna hanya karena kau tidak bisa melindunginya saat itu. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi, dan kau juga tidak pernah menginginkan semua ini terjadi." Lanjut nenek Veronica lembut.
Namun, kata-kata itu belum mampu menghilangkan rasa bersalah yang mengakar kuat di dalam hati Ivy.
Baginya, penjelasan apa pun tidak akan mengubah kenyataan bahwa Edgar telah mempertaruhkan nyawanya demi dirinya, sementara ia tidak mampu melakukan apa-apa.
"Aku tidak ingin terus seperti ini, Nek," bisiknya dengan suara bergetar. "Aku tidak ingin selalu menjadi seseorang yang harus dilindungi."
Nenek Veronika terdiam sejenak.
Ivy menunduk, menatap kedua tangannya yang masih gemetar.
"Aku ingin menjadi lebih kuat, aku ingin bisa berdiri di samping Edgar, bukan hanya bersembunyi di belakangnya setiap kali bahaya datang." Kata Ivy.
Ia lalu mengusap air matanya dengan kasar.
"Kalau suatu hari hal seperti ini terjadi lagi, aku ingin bisa membantunya. Aku ingin bisa melindunginya, seperti dia yang selalu melindungiku." Kata Ivy tegas.
Kali ini tekad Ivy begitu kuat untuk melindungi Edgar, dia tidak ingin terus menjadi orang yang terus berada di belakang Edgar saat terjadi sesuatu. Tapi dia ingin berada di samping Edgar, menggenggam tangan pria itu dan mereka berjuang bersama.
Kakek James, yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka, akhirnya menghentikan langkahnya.
Tatapannya tertuju kepada Ivy yang kini berusaha menghentikan tangisnya.
Kakek James tidak mengatakan apa-apa, Ia memperhatikan gadis muda di hadapannya dengan saksama, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Kemudian, sebuah pertanyaan keluar dari bibirnya.
"Ivy, apakah kau benar-benar ingin menjadi lebih kuat?" Tanya Kakek James serius.
Ivy sontak mengangkat kepalanya.
Sepasang matanya yang sembap menatap James dengan terkejut. Ia tidak menyangka jika kakek James akan menanyakan hal tersebut.
Namun, keterkejutannya hanya berlangsung sesaat.
"Aku mau, Granpa!" jawabnya dengan cepat.
Kali ini, tidak ada keraguan dalam suaranya.
"Aku ingin menjadi lebih kuat, aku tidak ingin terus-menerus menjadi beban bagi Edgar. Aku ingin memiliki kemampuan untuk melindungi diriku sendiri dan orang-orang yang kusayangi."
James mengangguk pelan.
"Tapi jika kau ingin menjadi lebih kuat, kau akan menjalani latihan yang cukup keras, apa kau sanggup?" Tanya Kakek James lembut.
Ivy terdiam sesaat.
"Latihan?" Tanya Ivy.
"Benar." James melipat kedua tangannya di depan dada. "Kakek bisa mengajarimu cara menggunakan senjata api, mulai dari dasar-dasarnya. Kakek juga bisa mengajarimu bela diri dan bagaimana menghadapi seseorang yang mencoba menyerangmu."
Mata Ivy perlahan membesar.
Ia menatap James seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Granpa bisa mengajariku semua itu?"
"Tentu saja." James mengangkat sebelah alisnya. "Namun, jangan berpikir bahwa semuanya akan berjalan mudah. Menembak membutuhkan ketenangan, ketelitian, dan pengendalian diri. Bela diri juga membutuhkan latihan yang konsisten, stamina, serta kemampuan membaca gerakan lawan."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Kau mungkin akan merasa lelah, tubuhmu mungkin akan terasa sakit, dan ada kalanya kau ingin menyerah. Jika kau benar-benar ingin belajar, kau harus siap menghadapi semua itu."
Ivy tidak langsung menjawab.
Ia menunduk sejenak, membayangkan betapa sulitnya perjalanan yang harus ditempuhnya. Selama ini, ia bukanlah seseorang yang terbiasa menghadapi pertarungan. Ia bahkan tidak pernah membayangkan dirinya harus mempelajari cara menggunakan senjata api atau bertarung demi melindungi seseorang.
Namun, ketika mengingat Edgar yang kini terbaring di balik pintu ruang operasi, semua keraguan itu seolah menghilang.
"Aku bersedia, Granpa." Ucap Ivy tegas, tidak ada keraguan dalam suaranya. Mungkin latihan itu akan terasa keras untuknya, tapi dia akan tetap menjalaninya. Sudah cukup dia kehilangan orang yang dia sayangi, ivy tidak ingin merasakan hal itu lagi.
"Aku akan berlatih dengan keras, tidak peduli akan sesulit apa latihan itu nantinya. Aku hanya ingin menjadi lebih kuat." Ucap Ivy mantap, tanpa ada keraguan sedikitpun.
Kakek James menatapnya lekat-lekat.
"Jangan membuat keputusan hanya karena kau sedang diliputi rasa bersalah, Ivy." Kata Kakek James lembut namun tegas.
Ivy terdiam sesaat.
"Granpa tidak ingin kau menjalani latihan ini hanya karena rasa bersalah mu pada Edgar. Kau harus memahami bahwa menjadi kuat bukan berarti kau harus mampu mengalahkan semua orang atau mencegah setiap hal buruk terjadi."
Kakek James melangkah mendekat, lalu meletakkan tangannya di bahu Ivy.
"Menjadi kuat berarti kau mampu menghadapi bahaya dengan pikiran jernih, menjaga dirimu sendiri, dan mengambil keputusan yang tepat ketika orang lain membutuhkan bantuanmu." Lanjut kakek James.
Tatapan Ivy perlahan berubah.
Ia mulai memahami bahwa kekuatan yang diinginkannya bukan sekadar kemampuan untuk mengalahkan lawan. Ia ingin berhenti merasa tidak berdaya setiap kali orang yang disayanginya berada dalam bahaya.
"Aku mengerti," jawabnya pelan. "Aku tidak ingin menyalahkan diriku sendiri seperti ini lagi. Aku ingin belajar agar suatu hari nanti aku bisa berdiri di samping Edgar dan melindunginya dengan kemampuanku sendiri."
James mengangguk puas.
"Baiklah, setelah keadaan Edgar membaik, kita akan mulai berlatih."
Ivy menggenggam kedua tangannya erat-erat.
"Terima kasih, granpa."
"Jangan berterima kasih dulu, kau bahkan belum memulai latihanmu." Ucap kakek James.
Ivy hampir tersenyum sambil menghapus air matanya.
Namun, ketika pandangannya kembali tertuju pada pintu ruang operasi, senyum tipis itu perlahan menghilang.
"Edgar...."
Ia menyebut nama pria itu dalam bisikan.
"Tolong bertahanlah. Aku masih memiliki banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu."
Ivy menatap pintu tersebut dengan penuh harap.
"Tolong jangan tinggalkan aku."
Di sampingnya, nenek Veronika menggenggam tangannya, sementara kakek James kembali berdiri di depan ruang operasi. Ketiganya hanya bisa menunggu, berharap para dokter segera keluar membawa kabar baik.
Malam itu, di tengah kecemasan yang menyelimuti rumah sakit, sebuah tekad baru mulai tumbuh di dalam hati Ivy.
Ia tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjadi kuat. Ia juga tidak tahu seberapa berat latihan yang akan menantinya.
Namun, satu hal telah ia putuskan.
Jika Edgar berhasil melewati masa kritisnya, Ivy akan memulai perjalanan untuk mengubah dirinya sendiri.
Ia tidak ingin lagi menjadi perempuan yang hanya bisa menangis ketika orang yang dicintainya berada dalam bahaya.
Suatu hari nanti, ia ingin menjadi seseorang yang bisa diandalkan Edgar.
Seseorang yang mampu berdiri di sisinya, menghadapi bahaya bersamanya, dan melindunginya ketika pria itu membutuhkan pertolongan.
Karena bagi Ivy, cinta bukan hanya tentang menerima perlindungan.
Cinta juga berarti berusaha menjadi cukup kuat untuk melindungi orang yang sama.
Dan mulai malam itu, Ivy berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah berhenti berusaha.
Bersambung
Maaf ya, hari ini hanya bisa post 1 bab aja..
soalnya sinyal di tempatku lagi ga bagus🥲