Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:654
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ENTAH LUPA ATAU BERPURA-PURA

Dengan berani, Alesya berjalan menuju Kael yang duduk di tengah keramaian.

Aneh, tidak ada suara ricuh sedikit pun di ruangan itu. Semua orang tahu siapa Kael. Dan mereka cukup waras untuk tidak membuat keributan di dekat pria yang ditakuti hampir seluruh penghuni tempat itu.

Di tangannya, Alesya membawa sebuah ompreng berisi makanan. Langkahnya terus maju hingga akhirnya ia berhenti tepat di hadapan Kael. Tanpa ragu, Alesya meletakkan ompreng itu di atas meja di depan pria tersebut.

Mendengar langkah kaki yang semakin mendekat, Kael mengangkat wajahnya.

Tatapannya langsung tertuju pada sosok perempuan yang berdiri di hadapannya—seolah sedang mencari tahu siapa yang cukup berani mengganggu ketenangannya.

Mata mereka bertemu.

Untuk beberapa detik, Alesya hanya menatapnya.

Tatapannya tajam, tetapi di balik ketajaman itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam. Rindu. Marah. Lega. Atau mungkin semuanya bercampur menjadi satu hingga sulit untuk diberi nama.

Sementara Kael?

Pria itu tetap seperti biasa.

Datar. Dingin. Tidak menunjukkan sedikit pun emosi.

Seolah perempuan yang berdiri di hadapannya bukanlah seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupnya.

Alesya kemudian menarik kursi di hadapan Kael dan duduk begitu saja.

Ia sama sekali tidak peduli dengan tatapan takut orang-orang di sekelilingnya. Bahkan Reana yang melihat keberanian itu hanya bisa menelan ludah pahit.

Cari mati...

Beberapa bisikan terdengar dari sekitar mereka.

"Dia cari mati."

"Berani banget."

"Mau cari pelindung, malah salah lubung"

"Dia kira Kael bakal melindunginya?"

Bisikan-bisikan itu semakin terdengar jelas, tetapi Alesya tidak menggubrisnya sedikit pun.

Perhatiannya hanya tertuju pada satu orang.

Kael.

"Jendra."

Suara Alesya akhirnya memecah keheningan.

Itu adalah panggilan yang selalu digunakannya untuk pria di hadapannya. Namun Kael hanya menatapnya sekilas. Tatapannya acuh tak acuh, seolah nama itu tidak berarti apa-apa.

Alesya menghela napas pelan.

"Kau tidak mengingatku?"

Tidak ada jawaban.

Kael bahkan tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.

Seolah pertanyaan Alesya tidak pernah terdengar. Dan entah kenapa, sikap acuh tak acuh itu justru terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Reana gemetaran di bangkunya. Sesekali matanya melirik ke arah Alesya dan Kael yang duduk berhadapan. Sebenarnya, ia ingin memanggil Alesya agar kembali. Namun, sekadar membuka suara saja rasanya terlalu berisiko.

Bukan karena Kael melakukan apa pun.

Justru karena pria itu tidak melakukan apa-apa.

Keheningannya jauh lebih menakutkan.

Berbeda dengan Reana yang nyaris tidak berani bernapas, Alesya justru terlihat santai. Gadis itu sibuk memperhatikan wajah Kael, seolah tidak peduli bahwa sejak tadi pria tersebut sama sekali tidak menggubris keberadaannya.

"Jendral..."

Alesya kembali memanggilnya, kali ini dengan suara lebih lembut.

Kael tetap diam.

"Jendral," panggilnya sekali lagi.

"Berisik."

Akhirnya Kael bersuara setelah cukup lama membiarkan gadis itu berbicara sendiri.

Satu kata.

Dingin dan datar.

Namun, bukannya tersinggung, Alesya malah menatapnya dengan ekspresi seolah baru saja mendapatkan sedikit perhatian.

"Kau benar-benar lupa sama aku?"

Kael tidak menjawab.

Alesya sedikit memajukan tubuhnya, kemudian menunjuk dirinya sendiri dengan senyum kecil.

"Aku Alesya, loh, Kael."

Nada suaranya berubah menjadi lebih manja.

Tidak ada sedikit pun ketajaman seperti ketika ia menghadapi orang lain. Di hadapan Kael, Alesya seolah berubah menjadi seseorang yang berbeda—lebih lembut, lebih manja, bahkan nyaris seperti seorang gadis yang sedang berusaha mengingatkan seseorang tentang kenangan yang pernah mereka miliki.

"Alesya..." ulangnya pelan.

"Kau benar-benar nggak ingat aku?"

Untuk pertama kalinya, tatapan Kael berhenti sedikit lebih lama di wajahnya.

Kael akhirnya menjawab tanpa sedikit pun perubahan pada ekspresinya.

"Ga."

Setelah itu, ia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, seolah percakapan mereka memang tidak penting.

Alesya menghela napas panjang.

"Bohong, ya?"

Kael tetap diam.

"Aku aja ingat sama kamu. Masa—"

Belum sempat Alesya menyelesaikan kalimatnya, suara benturan keras tiba-tiba memecah suasana.

Brakkk!

Sebuah ompreng dilempar begitu saja hingga jatuh ke lantai. Suara logam yang beradu dengan lantai membuat seluruh ruangan mendadak terdiam.

Seorang pria berjalan menghampiri Alesya.

Namanya Dragos.

Sejak pertama kali melihat Alesya, Atensi pria itu tidak pernah benar-benar lepas darinya. Kecantikan Alesya membuatnya berani melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan dilakukan orang waras di tempat itu.

Terlebih lagi, ia memang sudah lama menyimpan kebencian terhadap Kael. Selama ini, rasa takut terhadap Kael selalu menahannya. Namun kali ini, ketertarikannya kepada Alesya mengalahkan rasa takut tersebut.

Dragos berhenti tepat di samping Alesya, lalu menatapnya dengan senyum yang membuat beberapa orang di sekitar mereka langsung menundukkan kepala.

"Ikut denganku, tidur denganku lebih menyenangkan dari pada di bawa mati oleh nya" katanya.

Alesya menatapnya tanpa ekspresi.

"Aku akan melindungimu dari pria seperti dia, sebagai gantinya kau bisa menjadi pelacur ku,"

Dragos melirik Kael dengan tatapan penuh kebencian.

Ia tahu betul reputasi Kael. Pria itu tidak pernah menyentuh perempuan mana pun di tempat tersebut. Karena itu, Dragos mengira Alesya tidak akan mendapatkan perlindungan apa pun darinya.

Dan kalau memang Kael berniat melakukan sesuatu kepada gadis itu, Dragos ingin menjadi orang yang lebih dulu mengambil kesempatan tidur dengan alesya, sebelum pria itu membunuhnya.

"Jangan salah pilih orang untuk berlindung, cantik," bisiknya.

Ruangan semakin sunyi.

Reana bahkan tidak berani mengangkat wajah.

Sementara Alesya masih duduk di tempatnya.

Tenang.

Seolah-olah pria yang baru saja mengancamnya itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Namun Kael yang sejak tadi makan perlahan menghentikan gerakan tangannya. Untuk pertama kalinya sejak Dragos datang, Kael mengangkat wajahnya.

Dragos tiba-tiba meraih tangan Alesya dan menariknya dengan kasar.

Alesya sebenarnya mampu melawan. Tubuh Dragos yang kurus akibat kekurangan gizi membuatnya bukan lawan yang sulit untuk dijatuhkan. Bahkan dengan sedikit tenaga, Alesya mungkin bisa membanting pria itu ke lantai.

Namun, Alesya tidak melakukannya.

Ada satu alasan. Ia ingin melihat sampai kapan Kael akan terus berpura-pura tidak mengenalnya.

"Lepas!"

Alesya berusaha menarik tangannya, tetapi Dragos justru mempererat cengkeramannya dan mulai menyeretnya menjauh dari meja.

Belum sempat mereka berjalan beberapa langkah—

Brakkk!

Sebuah ompreng melayang dan menghantam tepat kepala Dragos.

Pria itu terhuyung sebelum akhirnya tersungkur ke lantai.

Suasana langsung membeku.

"Berisik."

Suara Kael terdengar datar.

Ia berdiri dari tempat duduknya, Langkahnya perlahan mendekati Dragos yang masih terkapar di lantai. Para napi yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu menelan ludah.

Pemandangan perkelahian sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi mereka.

Namun kalau Kael yang turun tangan...

Itu selalu terasa berbeda,Lebih dingin, Lebih mengerikan.

Kael membungkuk, lalu mencengkeram kerah baju tahanan Dragos dan menariknya hingga pria itu setengah terduduk.

Bugh!

Satu pukulan mendarat telak di wajah Dragos.

Darah segar mulai mengalir dari sudut bibirnya.

"Jangan mengganggu ku saat, aku sedang makan."

Bugh!

Pukulan kedua.

"Brengsek."

Bugh! Bugh!

Pukulan berikutnya datang bertubi-tubi.

Kael tidak berhenti, Seolah seluruh amarah yang selama ini tersimpan di dalam dirinya menemukan alasan untuk keluar melalui tinjunya. Dragos hanya mampu meringis dan berusaha melindungi wajahnya dengan kedua tangan.

Sementara itu, Alesya terdiam.

Tatapannya terpaku pada Kael.

Ia sudah mengenal pria itu cukup lama. Ia tahu sifat dinginnya. Tahu bagaimana Kael bisa begitu tenang dalam situasi apa pun.

Tapi sisi seperti ini...

Belum pernah ia lihat sebelumnya.

Kael tampak seperti orang yang berbeda.

Seperti seseorang yang kehilangan kendali.

Dan untuk pertama kalinya, Alesya mulai bertanya-tanya—

Apakah Kael benar-benar sudah melupakannya?

...***...

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!