Sebuah kisah tentang seorang pria dari masa lalu yang bangkit di masa ini.
Di masa ini, ia bertemu dengan perempuan yang mirip dengan seseorang yang ia cintai di masa lalunya. Seseorang yang tidak berani ia gapai karena kondisi fisiknya yang seperti monster saat itu.
Akankah ia berhasil menyingkirkan kenangan buruk masa lalunya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Dimulai
“Dia benar-benar Hantu Pedang?”
“Bukankah dia adalah tangan kanan Raja Dunia Boqin Changing?”
“Benar. Aku pernah mendengar tentangnya. Kekuatan Hantu Pedang Sha Nuo hanya sedikit berada di bawah Boqin Changing.”
“Sedikit di bawah Raja Dunia?”
Beberapa tamu saling memandang dengan wajah tegang.
Mereka yang sebelumnya masih meragukan identitas Sha Nuo kini tidak berani mengucapkan apa pun. Hampir semua orang di ruangan itu mengenal nama Hantu Pedang.
Nama Sha Nuo telah semakin terkenal setelah kejadian yang menimpa Kekaisaran Zhou beberapa waktu terakhir. Saat istana kekaisaran dan Kaisar Zhou diserang oleh salah satu kelompok aliran hitam terkuat, Sha Nuo menjadi salah satu orang yang berperan besar dalam menyelamatkan kekaisaran.
Bahkan dalam pertempuran tersebut, Sha Nuo berhasil mengalahkan pemimpin kelompok itu. Sosok yang dikalahkannya bukanlah pendekar biasa. Ia adalah Xuan Xiong, seorang Kaisar Wilayah.
“Xuan Xiong...”
Salah seorang tamu berbisik dengan suara rendah.
“Dia bahkan berhasil mengalahkan Xuan Xiong.”
Ruangan kembali dipenuhi bisikan.
Kaisar Wilayah merupakan salah satu tingkatan kekuatan tertinggi di antara para pendekar yang dikenal di Kekaisaran Zhou. Kekuatan mereka bahkan dianggap hanya satu tingkat di bawah para Raja Dunia. Artinya, pria yang berdiri di hadapan mereka sekarang adalah seseorang yang pernah mengalahkan seorang Kaisar Wilayah.
Tatapan para tamu terhadap Sha Nuo berubah semakin serius. Beberapa orang bahkan tidak berani menatap matanya terlalu lama.
Sementara itu, Gu Shu dan orang-orang Sekte Lembah Hantu Kegelapan tampak termangu. Mereka tidak menyangka bahwa pria yang sejak awal mereka anggap sebagai pengawal Lan Suya ternyata memiliki identitas seperti itu.
Beberapa anggota sekte bahkan mulai gemetar. Kelompok mereka baru saja menyerang Hantu Pedang. Lebih buruk lagi, empat pendekar raja mereka telah tewas hanya dalam satu serangan.
Gu Shu menarik napas panjang. Wajahnya menjadi semakin serius. Jika pria di hadapannya benar-benar Sha Nuo, maka situasi mereka jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan.
Sekte Lembah Hantu Kegelapan memang telah mengepung kediaman Keluarga Wong. Jumlah mereka jauh lebih banyak. Namun jumlah tidak lagi berarti banyak jika lawan mereka adalah pendekar yang sangat kuat.
Gu Shu tidak mau terburu-buru menyerah. Ia kembali memperhatikan tubuh Sha Nuo. Tatapannya bergerak dari kepala hingga kaki.
Ada satu hal yang masih ingin dipastikannya. Pertarungan Sha Nuo melawan Xuan Xiong belum berlangsung terlalu lama.
Jika Sha Nuo memang terluka dalam pertarungan tersebut, mungkin kekuatannya belum pulih sepenuhnya. Jika demikian, masih ada kesempatan.
Gu Shu menyipitkan mata. Ia mencoba mencari tanda-tanda luka pada tubuh Sha Nuo. Namun pria itu berdiri dengan sangat tenang. Tidak terlihat sedikit pun tanda kelemahan.
Gu Shu tetap tidak yakin. Ia lalu menoleh kepada salah satu pendekar suci di belakangnya.
“Kau.”
Pendekar Suci itu langsung menegang.
“Serang dia.”
Mata pria itu membelalak. Ia tahu siapa yang harus dihadapinya, Hantu Pedang Sha Nuo. Pria yang bahkan kaisar wilayah tidak mampu lawan.
“Aku...”
Pendekar suci itu nampak ragu. Tatapan Gu Shu langsung berubah tajam.
Keraguan itu lenyap seketika. Pendekar suci tersebut menggertakkan giginya. Ia tahu dirinya bukan tandingan Sha Nuo. Namun ia lebih takut kepada Gu Shu.
Akhirnya ia mengangkat pedangnya. Tubuhnya melesat.
“Haaah!”
Pedangnya menebas ke arah leher Sha Nuo.
Sha Nuo hanya melirik sekilas. Tubuhnya bergerak sedikit ke samping. Tebasan pedang itu melewati tubuhnya tanpa mengenai apa pun. Pendekar suci tersebut terkejut.
Dalam waktu yang sama, Sha Nuo mengepalkan tangan kanannya.
Bam!
Tinju itu menghantam wajah pendekar tersebut.
Suara benturan keras terdengar. Beberapa gigi langsung hancur dan terlempar dari mulutnya. Tubuh pendekar suci itu melayang jauh ke belakang.
Brak!
Tubuhnya menghantam tembok. Tembok tersebut langsung retak.
Brak!
Tubuhnya menembus tembok dan menghancurkannya sebelum akhirnya terlempar ke luar.
Para tamu undangan terpukau. Tidak ada yang menyangka serangan itu akan berakhir secepat itu.
Sha Nuo bahkan tidak menggunakan teknik pedang. Ia hanya menghindar lalu melayangkan satu pukulan.
Sha Nuo kemudian mengalihkan tatapannya kepada Gu Shu.
“Tidak perlu menyuruh orang-orangmu.”
Suaranya tenang.
“Kau saja yang maju.”
Gu Shu terdiam. Tatapannya semakin dalam.
Ia tahu Sha Nuo sedang meremehkannya. Namun kali ini Gu Shu tidak marah. Ia justru semakin berhati-hati.
Beberapa saat kemudian, tangannya bergerak menuju gagang pedang.
Sring!
Pedangnya tercabut dari sarung pedangnya.
Aura kematian langsung menyelimuti tubuh Gu Shu. Tekanan mengerikan memenuhi aula. Para tamu kembali mundur.
Gu Shu menatap Sha Nuo tanpa berkedip. Kemudian tubuhnya bergerak.
Wusss!
Dalam sekejap, Gu Shu telah berada di depan Sha Nuo. Pedangnya menebas dengan kecepatan tinggi.
Sha Nuo menatap pria itu. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Ia tertawa kecil.
“Bodoh”
Tangannya bergerak menuju cincin ruang. Cahaya hitam muncul. Pedang miliknya akhirnya keluar.
Sring!
Dua bilah pedang beradu.
Klang!
Benturan tersebut menghasilkan suara keras yang mengguncang seluruh aula.
Angin kencang langsung tercipta. Jubah para tamu berkibar hebat. Meja dan kursi bergeser akibat tekanan benturan kedua pendekar tersebut.
Beberapa tamu bahkan harus menahan tubuh mereka agar tidak terjatuh.
Sha Nuo dan Gu Shu saling menekan dengan pedang masing-masing. Tatapan keduanya bertemu. Tidak ada satu pun yang mundur. Pertarungan antara dua pendekar kuat itu akhirnya dimulai.
...*******...
Di sisi lain, Gao Rui menoleh kepada Lan Suya. Pemuda itu menggenggam pedangnya dengan erat. Tatapannya tertuju kepada para anggota Sekte Lembah Hantu Kegelapan yang masih memenuhi ruangan.
“Bibi, ayo kita bertarung.”
Lan Suya menatap Gao Rui. Ia kemudian mengangguk.
“Benar, Rui’er. Kita harus menolong Keluarga Wong.”
Keduanya menggerakkan pedang mereka.
Lan Suya melangkah maju. Gao Rui juga bergerak di sampingnya. Kedua pendekar dari Harta Langit itu kini siap menghadapi musuh yang mengepung kediaman Keluarga Wong.
Para tamu yang melihat mereka berdua perlahan merasakan keberanian muncul di dalam hati mereka. Sebelumnya mereka hanya bisa berdiri ketakutan. Mereka tahu kekuatan Sekte Lembah Hantu Kegelapan terlalu besar. Tidak ada seorang pun yang berani menjadi orang pertama yang melawan.
Namun sekarang keadaan telah berubah. Harta Langit telah berdiri untuk membantu Keluarga Wong. Hantu Pedang Sha Nuo bahkan sedang bertarung langsung melawan Gu Shu.
Melihat hal itu, para pendekar yang sebelumnya hanya diam akhirnya mengambil keputusan. Salah seorang tamu mengangkat tangannya.
Cincin ruang di jarinya bersinar. Sebuah pedang muncul di tangannya.
“Aku tidak akan membiarkan Sekte Lembah Hantu Kegelapan melakukan sesuka hati di tempat ini.”
Seorang pendekar lainnya ikut mengeluarkan senjatanya.
“Aku juga!”
Cahaya mulai muncul dari berbagai cincin ruang. Pedang, tombak, pedang panjang, serta berbagai senjata lainnya satu demi satu muncul di tangan para tamu.
Para anggota keluarga yang hadir juga bergerak. Beberapa berdiri di depan Wong Hung dan Tsue Lin. Beberapa lainnya mengambil posisi di sekitar para tetua keluarga.
Suasana yang sebelumnya dipenuhi ketakutan perlahan berubah. Kini seluruh ruangan dipenuhi para pendekar yang telah mengeluarkan senjata mereka.
Tatapan mereka tertuju kepada anggota Sekte Lembah Hantu Kegelapan. Tidak ada lagi orang yang hanya berdiam diri. Semua orang di ruangan itu sudah siap bertarung.
Wong Hung yang masih memegang pedangnya menatap orang-orang di sekelilingnya. Untuk pertama kalinya sejak Sekte Lembah Hantu Kegelapan memasuki kediamannya, tatapan patriark Keluarga Wong itu menunjukkan secercah harapan.
Ia menggenggam pedangnya lebih erat.
“Kalau begitu... mari kita lawan mereka bersama-sama.”
Suara Wong Hung terdengar jelas di tengah aula. Para pendekar di sekitarnya mengangguk.