Indonesia
NovelToon NovelToon
Abi Baik, Abi Gak Jahat

Abi Baik, Abi Gak Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:649
Nilai: 5
Nama Author: Eritasyofia

Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Pengakuan Yang Jujur

Berkat bantuan sekretaris nya Rangga sampai juga di Rumah sakit dan melihat Dinda, suami dan kakaknya sedang duduk diruang tunggu.

" maaf kalau saya mengganggu."

" Darimana bapak tahu kalau mama di rumah sakit ?"

" Saya dan mama kamu saling cinta dan punya kontak bathin."

Jawab Rangga tanpa melihat wajah Dinda.

Ketus, dingin, dan penuh ketegangan yang tertahan.

Dinda mengepalkan tangannya di atas pangkuan, berusaha keras mengingat posisinya sebagai bawahan di kantor, meski dadanya bergemuruh menahan sesak.

​"Tolong jaga ucapan Bapak,"

suara Dinda terdengar bergetar, namun tajam menyayat. Ia mendongak, menatap langsung ke mata Rangga.

"Mama saya terbaring lemah di dalam sana karena syok melihat perbuatan kalian! Dan Bapak dengan mudahnya bicara soal cinta di depan anak-anaknya?"

​Rangga menghela napas panjang, mencoba mengatur nada bicaranya agar tetap tenang namun penuh penekanan.

​"Saya tahu kalian kecewa, Dinda. Saya tahu ini salah di mata kalian dan masyarakat. Tapi tolong, jangan tekan mama kalian lagi. Jangan pojokkan dia. Kalau ada yang harus disalahkan dan menanggung akibatnya, maki saya. Jangan Winta."

​Widi yang sejak tadi diam akhirnya melangkah maju, berdiri di antara Rangga dan adiknya. Matanya menatap Rangga dengan tatanan emosi yang tak lagi bisa disembunyikan.

​"Pak Rangga,"

 potong Widi dengan suara berat dan dalam.

 "Bapak itu atasan Dinda, tapi di tempat ini, Bapak cuma seorang pria beristri yang sudah menghancurkan kedamaian keluarga kami. Jangan pura-pura jadi pahlawan untuk Mama setelah Bapak sendiri yang membawa Mama ke jurang ini."

​Rangga tak bergeming. Tatapannya menetap tegas, membalas konfrontasi Widi tanpa rasa gentar.

​"Saya tidak sedang berakting jadi pahlawan, Widi. Saya bicara kenyataan. Perasaan kami bukan cuma kekhilafan sesaat yang bisa dihapus begitu saja. Masalah istri saya, masalah status saya, biarkan waktu dan saya yang menyelesaikan. Tapi untuk saat ini... saya cuma mau memastikan mama kalian aman dan pulih."

​"Penyelesaian apa yang Bapak maksud?!"

 Dinda menyela, berdiri mendadak hingga kursi besi tempatnya duduk berdering nyaring. Emosinya membumbung tinggi, menembus batas kesopanannya sebagai bawahan.

"Bapak mau meninggalkan Mbak Viona? Atau mau menjadikan Mama simpanan selamanya? Jawab, Pak!"

​Suasana koridor rumah sakit yang dingin mendadak makin mencengkeram. Suami Dinda dengan cepat merangkul bahu istrinya, mencoba menenangkan, sementara Rangga hanya bisa mengepalkan tangan di samping tubuhnya, tak mampu memberikan jawaban pasti yang diinginkan Dinda saat itu juga.

​Tiba-tiba, pintu kaca ruang perawatan bergeser. Seorang perawat keluar sambil membawa papan catatan medis.

​"Keluarga Ibu Winta? Pasien sudah sadar dan mencari anaknya."

​Dinda langsung menyapu air matanya kasar, menatap Rangga sekali lagi dengan tatapan penuh kepedihan dan ancaman tersembunyi.

​"Bapak sebaiknya pergi,"

bisik Dinda dingin sebelum melangkah pergi.

 "Sebelum masalah ini sampai ke telinga Mbak Viona dan menghancurkan semua orang tanpa sisa."

​Rangga berdiri mematung di koridor yang mendadak terasa makin menyempit, memandangi punggung anak-anak Winta yang melangkah masuk, menyisakan dirinya yang terjebak di antara rasa cinta, kekacauan, dan kehancuran yang mulai membayang di depan mata.

Rangga tidak pulang, dia mengikuti ketiga orang itu dari belakang.

Rangga melihat wajah Winta yang pucat pasi, sementara Dinda dan Widi yang tahu kalau Rangga mengikuti mereka dari belakang tidak bisa berbuat apa apa demi menjaga kesehatan mama mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!