Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 9
Sore harinya, Dilara kembali ke rumah Kevin untuk mengambil sisa barang terakhirnya sebelum menetap sepenuhnya di rumah Bu Melani. Rumah itu terasa amat sunyi saat langkah kakinya menapak masuk ke dalam ruang tamu.
Kevin ternyata sudah menunggu di sana, duduk di sofa dengan sebuah amplop cokelat besar dan beberapa lembar dokumen di atas meja kayu.
"Dilara, duduklah sebentar," panggil Kevin dengan suara yang diusahakan sekuat mungkin untuk terdengar tenang.
Dilara meletakkan tas bahunya, lalu mendudukkan diri di tepi sofa berseberangan dengan Kevin. Tatapannya lurus, tanpa ada riak ragu atau ketakutan.
Kevin menggeser lembaran kertas tersebut ke hadapan Dilara beserta sebuah pulpen.
"Sesuai kemauanmu dan kesepakatan kita, aku sudah meminta pengacaraku menyusun surat gugatan perceraian kita. Semua urusan pembagian harta dan administrasi sudah disesuaikan."
Dilara tidak membuang waktu untuk berdebat. Tanpa membaca lembaran demi lembaran yang panjang itu dengan keluhan, ia menyambar pulpen tersebut. Jemarinya membubuhkan tanda tangan dengan sangat lancar dan tegas di atas meterai yang telah disediakan.
Srett... srett.
Suara goresan tinta itu menandai berakhirnya ikatan hukum di antara mereka. Dilara meletakkan pulpennya kembali ke meja.
"Sudah," ucap Dilara pelan. Ia lalu menatap mata Kevin lurus-lurus.
"Sekarang, Mas... jatuhkan talakmu padaku secara lisan. Bebaskan aku sepenuhnya."
Kevin tersentak. Dadanya mendadak terasa dihantam beban berat saat mendengar permintaan itu keluar dari bibir Dilara secara langsung. Namun, membayangkan janji masa depannya bersama Asha, Kevin menelan ludah dan menata suaranya yang bergetar.
"Hari ini... aku, Kevin, menjatuhkan talak kepadamu, Dilara. Kamu resmi aku lepaskan," ucap Kevin parau.
Dilara menghembuskan napas panjang. Ada rasa lega yang amat besar membuncah di dalam dadanya, sebuah beban berat yang akhirnya terangkat sepenuhnya.
"Terima kasih, Mas," bisik Dilara tulus.
Ia berdiri, melangkah ke kamar untuk mengambil tas pakaian terakhirnya, lalu kembali ke ruang tamu. Dilara membetulkan posisi hijab kremnya dan menatap Kevin untuk terakhir kalinya.
"Terima kasih atas satu tahun ini. Maaf kalau selama menjadi istriku ada banyak kekuranganku yang membuatmu tidak bahagia," tutur Dilara dengan nada suara yang begitu anggun dan tenang.
"Semoga kamu dan Mbak Asha mendapatkan kebahagiaan yang kalian cari. Selamat tinggal, Mas Kevin."
Melihat Dilara yang benar-benar siap berbalik pergi, perasaan asing yang mendesak mendadak menyeruak di dada Kevin. Rasa kehilangan yang impulsif membuatnya melangkah maju secara refleks, mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Dilara untuk terakhir kali.
"Dilara..."
Srek.
Dilara dengan cepat mengambil satu langkah mundur yang tegas, meletakkan sebelah tangannya di udara sebagai pembatas yang tak tertembus.
"Jangan sentuh saya, Mas," tegur Dilara dingin, matanya menatap Kevin dengan batas yang sangat jelas.
"Kita bukan lagi suami istri. Kita sudah haram untuk bersentuhan."
Tangan Kevin mematung di udara. Wajahnya memucat seketika, menyadari batas tegas yang kini telah memisahkan mereka berdua selamanya.
Dilara memutar tubuhnya, melangkah keluar pintu rumah tanpa sekali pun berpaling ke belakang, meninggalkan Kevin yang berdiri membeku di tengah ruang tamu yang terasa begitu luas, hampa, dan tak lagi sama.
Kevin tersentak dari kaku tubuhnya. Sebelum Dilara benar-benar menggerakkan langkah melintasi ambang pintu, suara pria itu memecah keheningan dengan nada panik yang tak lagi bisa ditutupi.
"Dilara, tunggu!" Kevin melangkah maju satu tapak, namun tetap menahan diri agar tidak melewati batas aman yang baru saja ditetapkan mantan istrinya.
"Bagaimana soal pengadilan nanti? Aku harus tahu di mana kamu tinggal dan bekerja sekarang, Dilara. Pengacara memerlukan alamatmu untuk mengantarkan dokumen resmi, surat panggilan sidang, atau salinan putusan cerai kita nanti."
Dilara menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan tenang yang begitu berjarak.
"Kirimkan saja semuanya ke alamat rumah Nisa," jawab Dilara singkat dan tanpa ragu.
"Aku sudah meminta izin padanya untuk menjadikan rumahnya sebagai alamat surat-menyuratku. Nisa yang akan menyampaikannya padaku."
"Tapi Dilara, ini dokumen hukum penting," desak Kevin, raut wajahnya menyiratkan ketidakpuasan.
"Kenapa harus lewat orang lain? Kenapa kamu masih merahasiakan tempat kerjamu dariku? Aku hanya perlu memastikan dokumennya sampai langsung ke tanganmu."
"Karena Nisa adalah orang yang paling aku percaya saat ini, Mas," potong Dilara pelan, namun setiap kata yang diucapkannya menghantam tegas.
"Lagipula, kamu tidak punya kepentingan lagi untuk mengetahui di mana aku tinggal atau bekerja. Rumah Nisa sudah lebih dari cukup untuk urusan administrasi kita. Dan aku tak akan pernah datang ke pengadilan, agar proses perceraian kita cepat selesai,"
Kevin bungkam. Kalimat itu mengunci rapat mulutnya, memupus habis sisa-sisa alasannya untuk terus menahan wanita di hadapannya.
Dilara membetulkan posisi tas pakaian di bahunya, menyunggingkan senyum perpisahan yang amat tipis, lalu melangkah keluar. Pintu depan tertutup pelan namun mantap, meninggalkan Kevin yang terpaku sendirian dalam kehampaan rumah yang kini sepenuhnya asing.
Malam itu, kamar tidur Nisa menjadi saksi kebalikannya keadaan. Seharusnya Dilara yang menangis sesenggukan usai resmi ditalak dan menandatangani berkas perceraian, namun justru Nisa yang jalan mondar-mandir di atas karpet dengan wajah memerah dan napas memburu.
"Aku benar-benar tak habis pikir sama Si Kevin itu, Ra!" seru Nisa sambil melempar bantal sofa ke kasur.
"Satu tahun kamu melayani dia seperti raja, dan dia dengan mudahnya menyerahkan surat cerai hanya gara-gara si Asha-Asha itu?! Pria brengsek! Rasanya aku mau mendatangi rumahnya sekarang juga terus aku jambak rambut si Asha itu!"
Dilara yang sedang duduk bersila di atas ranjang sambil melipat hijab segi empatnya hanya menggeleng pelan. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Sudah, Sa... Istighfar," ucap Dilara lembut, suaranya seolah tanpa beban.
"Nanti tensimu naik. Kok malah kamu yang emosi begini?"
Nisa berhenti melangkah, menatap sahabatnya dengan mata belalak tak percaya. Ia melangkah cepat dan duduk di samping Dilara, meremas kedua bahu wanita itu.
"Ra! Kamu itu baru saja ditalak! Kamu baru saja kehilangan pernikahanmu! Kenapa kamu bisa se santai ini, sih?!" cecar Nisa gemas sekaligus prihatin.
"Harusnya kamu yang nangis, kamu yang jerit-jerit, bukannya malah senyum-senyum begini! Aku takut kamu stres tapi dipendam sendiri, Dilara!"
Dilara memegang tangan Nisa di bahunya, lalu mengelusnya pelan. Tangannya yang hangat menyalurkan ketenangan yang jujur.
"Aku tidak memendam apa-apa, Nisa," bisik Dilara tulus, matanya memancarkan kedamaian yang tak pernah Nisa lihat selama satu tahun terakhir.
"Tangisku sudah habis kemarin, Sa. Setiap malam aku menangisi pria yang hatinya tidak pernah untukku. Dan tadi sore, saat aku menolak disentuh dan melangkah keluar dari rumah itu... rasanya seperti dadaku yang sesak akhirnya bisa bernapas lega."
Nisa terpaku. Amarah yang membakar dadanya perlahan meluluh, berganti dengan rasa haru yang menggenang di pelupuk matanya.
"Aku tidak kehilangan apa-apa, Sa," lanjut Dilara pelan.
"Mas Kevin yang kehilangan wanita yang mencintainya tulus. Sedangkan aku? Aku cuma kehilangan pria yang tidak menghargaiku. Jadi, untuk apa aku menangis?"
Nisa menggigit bibirnya menahan isak, lalu langsung menghambur memeluk Dilara dengan erat.
"Kamu itu terlalu baik, Ra... Kamu berhak bahagia. Awas ya kalau besok kerja di rumah Bu Melani kamu malah difungsikan kayak pembantu kasar, aku bakal jemput kamu!"
Dilara tertawa kecil dalam dekapan sahabatnya, membalas pelukan itu dengan hangat.
"Iya, Janji. Terima kasih ya, Nisa. Sekarang kamu tidur, esok pagi aku harus bangun subuh untuk mulai kehidupan baruku."
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛