Alur cerita ringan...
Dan novel ini berisi beberapa cerita dengan karakter yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arran Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
4 Minggu kemudian
Empat minggu berlalu secepat kedipan mata. Hari-hari terakhir sebelum pernikahan terasa seperti badai yang manis—penuh dengan rapat vendor, fitting terakhir, dan malam-malam tanpa tidur. Namun, semua kekacauan yang menyenangkan itu terbayar lunas.
Hari yang dinanti, hari pernikahan Nicholas dan Anna, akhirnya tiba.
Pernikahan agung itu dilaksanakan di ballroom utama Hotel Meritus, salah satu hotel termewah di ibu kota. Dekorasi ruangan menyerupai taman kristal musim dingin yang fantastis. Ribuan bunga lilies putih, mawar champagne, dan hydrangea membingkai altar, sementara lampu kristal raksasa di langit-langit memancarkan cahaya hangat yang memantul pada lapisan kain satin putih yang melapisi setiap sudut ballroom. Semuanya megah, elegan, dan sangat mewah, sesuai dengan standar tinggi keluarga Nicholas dan Anna.
Pernikahan itu diselenggarakan dengan sangat meriah, namun diselingi oleh kebahagiaan dan rasa haru yang begitu luar biasa. Mulai dari upacara pemberkatan yang sakral, di mana Nicholas hampir menitikkan air mata saat mengucapkan janji suci, hingga pesta resepsi yang meriah, semua berjalan sempurna.
Nicholas, dengan setelan tuxedo midnight blue-nya, tampak gagah, seolah ia adalah raja di pesta itu. Ia berdiri tegak di samping Anna, menyambut setiap tamu dengan senyum sopan namun terkadang kaku. Sementara Anna, dalam balutan gaun A-line bertabur kristal yang kini dilengkapi dengan mahkota berlian kecil, tampak bak bidadari yang turun dari langit. Wajahnya berseri-seri, senyumnya tidak pernah pudar.
Semua kerabat dan keluarga datang, termasuk para relasi bisnis penting yang menambah formalitas acara. Di antara kerumunan tamu berkelas itu, terlihat tiga sosok pria yang berdiri di sudut ruangan, berpakaian rapi namun tetap memancarkan aura santai khas sahabat lama: Leo, David, dan Jason, kakak kandung Anna.
Mereka baru saja selesai memberikan selamat kepada pasangan pengantin dan kini mundur sejenak untuk mengamati interaksi Nicholas dan Anna dari kejauhan.
"Gimana rasanya punya adek ipar kulkas berjalan?" tanya Leo, suaranya pelan namun mengandung nada geli, menyenggol lengan Jason.
"Pasti berat banget ya buat lo punya adek ipar modelan si Nicholas. Mukanya aja kayak enggak pernah dapet diskon weekend," timpal David, menahan tawa. Mereka bertiga tahu reputasi Nicholas sebagai Direktur yang dingin dan sulit didekati.
Jason memutar bola matanya jengah. Ia mengambil segelas sparkling water dari pelayan yang lewat. "Kalian tuh enggak tahu aja gimana sifat Nicholas pas lagi sama Anna. Sumpah, dia itu alay banget."
Leo tentunya tidak terkejut mendengar fakta itu, namun beda halnya dengan David yang langsung memasang ekspresi terkejut.
"Seriusan? Kulkas itu bisa alay?" tanya David tak percaya.
"Astaga, unseen footage yang harus segera dibagikan ke publik!" sahut David, memasang tampang dramatis.
Jason tersenyum kecil. "Dia itu kalau sama Anna, bisa manja banget, posesifnya minta ampun, dan hobinya ngegombal receh. Ya, enggak apa-apa deh. Asalkan adek gue bahagia, gue terima-terima aja dia jadi adik ipar gue," ucap Jason.
Pengakuan Jason membuat David dan Leo tertawa terbahak-bahak, tawa yang tidak terlalu keras namun cukup untuk menarik perhatian.
Nicholas yang samar-samar mendengar tawa ketiganya, sontak menoleh ke arah mereka. Ia melihat tiga pria itu sedang menertawakan sesuatu, mungkin dirinya. Nicholas tersenyum tipis. Ia merasa bahagia karena semua sahabat dan orang terdekatnya turut hadir dan berbagi kebahagiaannya.
Saat Nicholas kembali memandang ke depan, Anna juga sedang melihat ke arah para pria itu.
"Wahh, udah lama aku enggak ketemu Kak David. Makin cakep aja, ya, dia," celetuk Anna, mengomentari David yang memang selalu tampak necis dan modis.
Senyum yang baru saja terukir di bibir Nicholas langsung menghilang. Ekspresi di wajahnya berubah drastis, dari happy groom menjadi Direktur yang baru saja kehilangan saham miliaran.
Nicholas sontak menatap tajam wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik dingin nyaris tanpa suara di telinga Anna, "Apa kamu bilang, Sayang? Kamu muji laki-laki lain di depan aku? Menurut kamu David ganteng? Gantengan mana sama aku?" tanyanya, nada suaranya terdengar dongkol dan penuh kecemburuan.
Anna merasakan udara di sekitarnya menipis. Sial! Ia menepuk dahinya dengan gerakan yang sangat halus agar tidak terlihat oleh tamu lain. Ia lupa jika suaminya ini adalah makhluk yang sangat sensitif, terutama jika menyangkut pujian dari Anna kepada pria lain.
Anna berbalik menghadap Nicholas sepenuhnya, wajahnya menunjukkan ekspresi bersalah.
"Ihh, Kak... Enggak gitu! Ya ampun," Anna berbisik dengan nada membujuk. Ia meraih pipi Nicholas dengan kedua telapak tangannya yang lembut. "Tentu aja enggak ada yang bisa mengalahkan kegantengan suami aku ini! Kak David enggak ada apa-apanya! Dia cuma cakep secara umum, tapi Kakak? Kakak itu gantengnya spesial, cuma buat aku. Jangan cemburu, dong. Aku cuma muji doang, enggak ada maksud apa-apa, kok."
Anna kemudian berjinjit sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Nicholas. "Dengar, Cinta aku cuma buat Kak Nicho seorang. Enggak akan pernah pindah ke hati laki-laki lain. Jangan ngambek, ya, Sayang," bisik Anna lembut, memastikan kata-katanya terdengar meyakinkan dan memadamkan api cemburu yang berkobar.
Mendengar kata-kata itu, hati Nicholas meleleh. Wajahnya yang tegang perlahan melunak. Sifat posesif-nya berhasil dikendalikan oleh sihir rayuan Anna. Nicholas mengulum senyum, senyum penuh kemenangan.
"Oke, aku enggak bakal ngambek," jawab Nicholas, nadanya kembali riang. Ia merendahkan suaranya, membalas bisikan Anna dengan nada yang jauh lebih nakal. "Asal malam nanti, kita esek-esek, ya!"
Sontak, wajah Anna memerah drastis, bagai kepiting rebus yang baru diangkat dari panci. Panas menjalar hingga ke lehernya. Ia bahkan merasa lebih malu dibandingkan saat Nicholas menciumnya di butik tempo hari.
"Ihhh, Kak! Nanti ada yang dengar!" gerutu Anna, memukul dada Nicholas pelan. Ia melirik ke arah Jason, David, dan Leo yang untungnya sudah kembali mengobrol santai.
Nicholas justru tertawa kecil melihat reaksi Anna yang begitu menggemaskan. Ia memanfaatkan kesempatan itu, lagi-lagi berbisik dengan nada menggoda yang mematikan.
"Aku udah enggak sabar, Sayang. Empat minggu ini aku puasa nahan diri. Aku makin enggak sabar mau unboxing semua yang ada di balik gaun ini," goda Nicholas, senyum miringnya semakin lebar.
"Kakkkk!" pekik Anna tertahan, memukul lengan Nicholas kali ini sedikit lebih keras.
Nicholas tertawa terbahak-bahak, tawa yang langka dan sangat bebas. Ia berhasil membuat Anna blushing di tengah pesta pernikahan mereka sendiri. Bagi Nicholas, menggoda Anna adalah olahraga favoritnya.
"Aku serius, Sayang," ujar Nicholas, menahan tawanya. "Mulai malam ini, kita bakal buat banyak kenangan indah." Ia lalu meraih tangan Anna, menggenggamnya erat, dan mencium punggung tangan Anna di depan ratusan tamu undangan, sebuah janji tersirat akan dominasi dan cinta abadi yang hanya diperuntukkan bagi Anna seorang.
Anna hanya bisa pasrah, wajahnya masih memerah. Ia hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala, menyadari bahwa ia telah menikahi pria yang dingin di luar namun sangat bucin dan nakal di dalam.