tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Di mansion Grayson...
Kavian baru saja melangkah masuk ke dalam rumah setelah menempuh perjalanan dari kafe milik Tian. Namun, belum sempat dia menapaki anak tangga, suara sang Mommy, Maria, menghentikan langkahnya.
"Baru pulang kamu jam segini, Kavian?" tanya Maria sembari melirik sinis ke arah jam dinding.
"Hmm," dehem Kavian singkat tanpa minat untuk memperpanjang obrolan.
"Kavian, duduk. Kita makan malam bersama," ucap Martin yang sedang berada di meja makan bersama anggota keluarga lainnya.
"Saya tidak lapar, Dad. Saya sudah makan di luar tadi," jawab Kavian datar.
"Setidaknya kamu duduk dulu di sini, Kavian," bujuk Martin lagi. Karena sedang malas berdebat dan tidak ingin memperpanjang masalah, Kavian akhirnya mengalah. Dia melangkah ke meja makan dan menarik kursi di samping adik bungsunya, Elvia.
"Mau Mommy ambilkan nasinya?" tanya Maria mengubah suaranya menjadi lembut.
"Saya sudah kenyang, Mom," tolak Kavian halus.
"Sedikit saja ya? Masakan Mommy enak lho hari ini," ucap Maria dengan sedikit paksaan sembari menyodorkan piring.
Kavian menghela napas berat. "Huuuh... Mom, sudah berapa kali saya bilang? Saya sudah kenyang karena sudah makan di luar tadi."
"Apa kamu sekarang sudah tidak menyukai masakan Mommy lagi?" tanya Maria dengan wajah yang sengaja dibuat sedih, mencoba memanipulasi keadaan.
Sreeek!
Kavian langsung menggeser kursinya ke belakang dan berdiri. "Mommy terlalu kekanak-kanakan! Seharusnya Mommy itu bisa berpikir dewasa, jangan hanya karena hal sepele seperti ini Mommy langsung berlagak sedih. Saya sudah bilang berkali-kali kalau saya sudah kenyang!" ucap Kavian tegas sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang makan.
"Mommy itu kenapa sih selalu memaksa? Kalau Kavian bilang sudah makan dan sudah kenyang, berarti dia memang sudah kenyang!" protes Luna yang mulai jengah melihat tingkah ibunya.
"Mommy kira Kavian sengaja memakai alasan sudah makan di luar hanya sebagai kebohongan agar tidak perlu memakan masakan Mommy," bela Maria membela diri.
Luna mendengus tidak percaya. "Mommy itu sebenarnya kenapa sih? Mommy itu bersikap seperti anak kecil tahu tidak? Apa-apa harus dituruti! Kalau Kavian bilang sudah makan, ya berarti sudah makan. Saya tanya ke Mommy, pernah tidak Kavian berbohong kepada Mommy soal makanan? Tidak pernah, kan?!"
Luna menjeda kalimatnya, menatap ibunya dengan pandangan kecewa. "Kavian selalu memakan masakan Mommy. Bahkan dia sering rela menahan lapar dari kantor demi bisa pulang dan memakan masakan Mommy. Kavian baru sekali ini tidak memakan masakan Mommy, tapi Mommy malah menuduhnya berbohong! Lama-lama aku bisa tidak betah tinggal di rumah ini!" keluh Luna frustrasi. "Ayo, Mas, kita kembali ke kamar saja untuk tidur," ajak Luna kepada suaminya, Bastian.
"Kamu sudah keterlaluan, Maria," ucap Martin dengan tatapan mata yang sangat tajam dan dingin ke arah istrinya.
"Kenapa Mas malah menyalahkan aku?!" tanya Maria tidak terima.
"Kavian hanya sehari tidak memakan masakan kamu, tapi kamu malah menuduhnya berbohong agar tidak makan masakanmu. Benar-benar tidak habis pikir saya dengan jalan pikiranmu, Maria! Benar kata Luna, kamu itu egois dan terlalu kekanak-kanakan!" Setelah mengatakan itu, Martin langsung bangkit dan berjalan pergi menuju kamarnya.
Di meja makan kini hanya tersisa Maria dan Elvia.
"Ini pasti gara-gara Elvian! Gara-gara anak sialan itu, mansion yang dulunya tenang sekarang malah selalu menjadi tempat perang semenjak kepergiannya!" cibir Elvia dengan nada penuh kebencian.
Benar, Via. Ini semua pasti gara-gara anak sialan pembawa masalah itu," dukung Maria berapi-api.
"Yang membuat mansion ini selalu seperti medan perang itu adalah kalian berdua! Dan saya juga tahu, Mommy-lah yang sebenarnya merencanakan agar Kak Luna dan Bastian terpaksa menikah! Itu semua adalah perbuatan keji Mommy!"
Suara dingin Kavian tiba-tiba terdengar menggelegar dari arah koridor. Pria itu ternyata kembali ke ruang makan karena berniat mengambil kunci mobilnya yang tertinggal, namun dia justru mendengar Mommy dan adiknya mengatai Elvian.
Maria tersentak kaget, wajahnya mendadak pucat namun dia berusaha mengontrol ekspresinya. "Apa maksudmu, Vian? Perbuatan Mommy yang mana?" tanya Maria berpura-pura tidak tahu.
"Mommy jangan berlagak bodoh dan pura-pura tidak tahu! Saya tahu dengan jelas kalau Mommy-lah yang menjebak Kak Luna dan Bastian agar tidur bersama di hotel waktu itu! Semua itu Mommy lakukan hanya agar mereka berdua terpaksa menikah, dan Mommy bisa mengusir Elvian pergi dari rumah ini dengan rasa sakit yang teramat sangat!" bongkar Kavian dengan napas memburu karena amarah.
Flashback On
Empat tahun yang lalu...
Kavian yang baru saja pulang dari kantornya merasa heran saat melihat gerak-gerik mommynya yang tampak mencurigakan. Karena dirundung rasa penasaran, Kavian memutuskan untuk mengikuti Maria secara diam-diam menuju ke area taman belakang mansion yang sepi.
"Apa yang sedang dilakukan Mommy? Kenapa harus berjalan sembunyi-sembunyi seperti itu?" gumam Kavian curiga dibalik pilar.
Di sudut taman, Maria tampak menyalakan ponselnya dan menghubungi seseorang dengan tergesa-gesa.
"Saya tugaskan kamu untuk membawa dua orang yang sudah saya targetkan ke Hotel Citra sekarang juga," ucap Maria dengan nada berbisik namun penuh penekanan.
"..."
"Saya akan segera mengirimkan foto mereka berdua setelah ini," lanjut Maria lagi.
"..."
"Saya tunggu kabar baiknya. Ingat, jangan sampai rencana ini gagal! Kalau sampai gagal, kamu sendiri sudah tahu apa akibatnya!" ancam Maria dengan kejam.
"..."
"Hmm." Maria langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak dengan senyum licik yang terukir di wajahnya.
Di balik pilar, jantung Kavian berdegup kencang. (Siapa yang Mommy hubungi? Dan kenapa Mommy menyuruh seseorang untuk membawa orang ke hotel? Ada yang tidak beres di sini!) batin Kavian cemas. Dia segera melangkah pergi dari sana sebelum keberadaannya disadari oleh sang Mommy.
Tepat setelah Kavian menjauh, Maria menggumam lirih dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa dengki. "Kamu tidak boleh bahagia, dasar anak pembawa sial."
Tidak butuh waktu lama setelah malam kejadian itu, seisi mansion Grayson langsung digemparkan oleh kabar mengejutkan bahwa Luna dan Bastian ditemukan berada di dalam satu kamar hotel dalam keadaan tanpa busana. Hal itu seketika membuat Kavian sadar bahwa kecurigaannya malam itu benar-benar terbukti. Itu adalah jebakan dari mommynya sendiri.
"Kalian berdua harus menikah! Tidak ada bantahan atau alasan apa pun!" perintah Kakek Johan dengan nada mutlak saat sidang keluarga digelar.
"Tapi saya tidak mencintai Luna, Kek! Saya ini kekasih Elvian! Bagaimana mungkin saya bisa menikahi Luna?!" protes Bastian frustrasi, mengacak rambutnya yang berantakan.
"Lalu bagaimana dengan nasib Luna, hah?! Bagaimana kalau saat ini dia sedang mengandung anakmu, Bastian?!" bentak Martin menuntut pertanggungjawaban.
Bastian menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Saya dijebak, Om! Saya benar-benar tidak tahu kenapa di kamar itu tiba-tiba bisa ada Luna! Saat itu saya sedang mabuk berat dan tidak sadarkan diri!"
Ibunda Bastian yang ikut hadir dalam pertemuan itu langsung menimpali dengan nada mendesak. "Kamu harus tetap bertanggung jawab, Nak! Mau kamu merasa dijebak atau tidak, kamu telah merusak kehormatan Luna! Kamu harus menikahi dia!"
"Tapi bagaimana dengan perasaan Elvian, Ma?!" isak Bastian frustrasi.
Ibunda Bastian mendecih pelan. "Kamu putuskan saja hubunganmu dengan dia! Lagipula, sejak awal Mama memang tidak pernah suka dengan Elvian yang berandalan itu! Dia juga tidak akan pernah bisa memberikan kamu keturunan!"
"Tapi aku mencintai Elvian, Ma..." lirih Bastian lemas.
Mama tahu! Tapi apa kamu mau menjadi pria pengecut yang lari dari tanggung jawab, hah?!" marah ibunda Bastian.
Melihat menantunya yang terus mendesak, papa dari Bastian akhirnya menepuk pundak sang putra. "Kamu harus bertanggung jawab, Nak. Urusan bagaimana mengatakannya kepada Elvian, biar Papa yang akan bicara langsung kepadanya nanti."
Bastian mengembuskan napas pasrah, bahunya merosot turun. "Haaa... baik. Saya akan bertanggung jawab." Bastian memejamkan matanya rapat-rapat. (Maafkan aku, El...) sesalnya dalam hati.
Seminggu setelah kejadian kelam itu, acara pernikahan antara Luna dan Bastian langsung dilangsungkan secara tertutup di salah satu gereja di Jakarta. Elvian yang baru mengetahui kabar pernikahan sepihak itu tepat di hari H, langsung datang menerobos masuk ke dalam gereja dengan emosi yang membakar jiwa.
"KALIAN KETERLALUAN! BENAR-BENAR KETERLALUAN! AKU MEMBENCI KALIAN SEMUA!" teriak Elvian berapi-api di tengah keheningan gereja. Seluruh anggota keluarga Grayson dan keluarga Bastian tersentak kaget bukan main melihat kedatangan Elvian yang tiba-tiba.
"El..." ucap Bastian pelan dengan tatapan mata penuh rasa bersalah. Dia mencoba melangkah mendekat untuk meraih tangan kekasihnya, namun Elvian dengan cepat mendorong dada Bastian dengan kasar hingga pria itu terundur ke belakang.
"Gue kira elo beneran tulus mencintai gue, Bas! Ternyata gue salah besar! Kelakuan elo bener-bener menjijikkan!" bentak Elvian dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia kemudian beralih menatap tajam ke arah kakak perempuannya yang mengenakan gaun pengantin. "Dan kamu, Luna! Gue kira kamu adalah seorang kakak yang baik, tapi ternyata kalian semua tidak lebih dari sekadar pengkhianat menjijikkan!"
Elvian mengedarkan pandangannya ke seluruh anggota keluarga Grayson yang menatapnya dengan pandangan dingin. "Dan kalian semua juga sama saja! Keluarga egois yang hanya mementingkan kehormatan dan status sosial!"
"Dari dulu sampai sekarang, kalian tidak pernah menganggap gue ada di rumah itu! Kalian memperlakukan gue kayak bayangan yang tidak berharga! Selama ini gue diam dan tidak peduli! Tapi sekarang, kalian bener-bener menghancurkan hidup gue! Orang yang gue cintai pun tega kalian rebut!" jerit Elvian menumpahkan segala rasa sakit yang dipendamnya selama bertahun-tahun.
"Apa kalian belum puas melihat hidup gue hancur?! Apa kalian belum puas melihat gue menderita tanpa pernah merasakan apa itu kasih sayang keluarga?! Sebenarnya apa salah gue kepada kalian semua, sehingga kalian begitu membenci kehadiran gue di dunia ini?!"
Suasana gereja mendadak hening, tidak ada satu pun yang berani menyahut kalimat pilu Elvian. Pemuda manis itu kemudian menghapus air matanya dengan kasar, lalu tersenyum sinis.
"Tapi sudah cukup! Mulai hari ini, kalian tidak akan pernah bisa menyakiti gue lagi! Gue tidak akan sudi meneteskan air mata untuk hal menjijikkan seperti ini! Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian bisa hidup bahagia di atas penderitaan gue!" tutur Elvian tajam. "Dan untuk kamu, Bastian, hari ini kita resmi berakhir! Jangan pernah berani menampakkan mukamu lagi di depan gue! Dan kamu, Kak Luna, semoga kamu bahagia bersama pria pengkhianat ini!"
Terakhir, netra Elvian menatap lurus ke arah Maria yang duduk di bangku depan. "Dan satu lagi, buat Anda, Nyonya Maria... selamat karena keinginan Anda untuk menjodohkan putri pertama Anda dengan Bastian akhirnya tercapai dengan sukses. Aku tahu dengan jelas apa yang sebenarnya telah Anda lakukan di belakang kami semua."
Mendengar kalimat terakhir Elvian, wajah Maria seketika menegang tak kentara. Elvian kemudian membalikkan tubuhnya, menatap ke arah Kavian yang berdiri di sudut ruangan dengan mata berkaca-kaca. Elvian menyunggingkan sebuah senyuman manis yang tulus khusus untuk sang kakak.
"Bang... El mau pergi dari sini ya? El sudah tidak sanggup lagi kalau harus tinggal di mansion yang rasanya seperti neraka ini," pamit Elvian lembut.
"Abang ikut kamu ya, Dek?" ucap Kavian langsung melangkah maju, hendak menyertai adiknya. Namun, Elvian dengan cepat menggelengkan kepala.
"Tidak usah, Bang. Abang tetaplah tinggal di sini. El pergi bukan untuk meninggalkan Abang. El pergi karena ingin membuktikan kepada mereka semua, kalau El bisa sukses hidup mandiri tanpa perlu bantuan dari keluarga ini sedikit pun," tegas Elvian penuh tekad.
Kavian menahan air matanya agar tidak jatuh, lalu mengangguk pasrah. "Jaga diri kamu baik-baik di luar sana ya, Dek. Abang berjanji akan segera menemui kamu setelah Abang berhasil sukses nanti."
"Hmm." Elvian mengangguk singkat. Dia kemudian berbalik dan melangkah lebar meninggalkan gereja tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.
Kavian menatap kepergian adiknya, lalu berbalik menatap seluruh anggota keluarganya dengan pandangan dingin yang menghunus. "Sekarang kalian semua bisa puas! Anak yang selalu kalian anggap sebagai pembawa sial itu akhirnya sudah pergi jauh dari mansion ini!" Setelah meluapkan kalimat terakhirnya, Kavian langsung melangkah lebar menuju kamarnya di lantai atas.
Flashback End