Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32.pertemuan
Siang berikutnya, suasana di salah satu kedai kopi bernuansa kayu di kawasan Tebet tampak tidak terlalu ramai. Dion duduk di sudut ruangan dekat dinding kaca, berulang kali melirik jam tangan peraknya. Pria berusia 22 tahun itu mengenakan kemeja putih bersetelan rapi, merapikan rambutnya agar terlihat mengesankan di depan Aira.
Dion tersenyum tipis saat membayangkan pertemuan pertamanya dengan Aira setelah bertahun-tahun terpisah. Di benaknya, Aira masihlah gadis polos dan pemalu yang dulu selalu membutuhkan bantuannya saat kesulitan pelajaran di SMA.
Dion berniat menunjukkan bahwa kini ia sudah menjadi pria dewasa yang matang dan mampu menjadi pelindung yang lebih pantas dibandingkan seorang pria tua yang hanya mengandalkan harta.
Namun, senyuman di wajah Dion seketika membeku saat pintu kaca kedai kopi terdorong terbuka.
Bukan Aira yang melangkah masuk sendirian.
Aira berjalan berdampingan dengan seorang pria jangkung berdada bidang yang mengenakan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit kelas atas Italia. Aura dominasi, kekuasaan, dan intrik dingin memancar pekat dari setiap langkah Arka Danuartha.
Pria berusia 39 tahun itu melingkarkan satu tangannya di pinggang ramping Aira dengan sangat posesif, seolah menegaskan pada seluruh isi ruangan bahwa wanita muda di sisinya adalah miliknya yang tak tersentuh.
Tak berhenti di situ, beberapa meter di belakang mereka, dua orang pengawal pribadi bersetelan hitam dengan postur tubuh tegap mengawasi keadaan sekitar dengan tatapan tajam.
Dion menelan ludah serak, merasakan tekanan udara di dalam kedai kopi mendadak bergeser menjadi begitu mencekam.
Aira yang mengenakan gaun terusan warna nude simpel namun sangat anggun menyapu pandangannya, lalu melambaikan tangan pelan saat melihat Dion.
"Dion?"
Dion buru-buru berdiri dari kursinya, berusaha mempertahankan raut wajah tenang walau dadanya bergemuruh hebat oleh kecanggungan dan intrik intimidasi dari pria di samping Aira.
"Aira... Hai," sapa Dion, matanya sempat tertuju pada wajah cantik Aira sebelum beralih menatap lurus pada sosok Arka.
Arka tidak langsung menyapa. Mata hitamnya yang pekat menyipit dingin, menilai sosok Dion dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan ketajaman analisis khas pengusaha papan atas. Dalam hitungan detik, Arka sudah tahu segalanya—Raymond telah menyerahkan laporan lengkap tadi malam mengenai Dion: lulusan sarjana teknik, belum memiliki pekerjaan tetap, dan memiliki rekam jejak sebagai pengagum rahasia Aira sejak masa sekolah.
"Dion, kenalkan... ini Mas Arka, suamiku," tutur Aira lembut seraya menatap Arka dengan binar cinta yang sangat alami, tanpa ada sedikit pun kepalsuan.
Arka mengulurkan tangan kanannya, menyunggingkan senyum tipis yang terasa amat dingin dan beracun. "Arka Danuartha. Suami Aira."
Dion menerima uluran tangan itu. "Dion, Pak. Saya teman sekolah Aira dulu."
Cengkeraman tangan Arka terasa begitu kuat dan kokoh, membuat Dion harus menahan rasa ngilu di jemarinya sebelum Arka melepaskannya dengan santai.
Arka menarikkan kursi untuk Aira dengan penuh kelembutan yang kontras, lalu duduk tepat di samping istrinya. Pria 39 tahun itu merangkulkan tangannya di sandaran kursi Aira, secara tidak langsung mengurung ruang gerak Aira di dalam jangkauannya.
"Silakan duduk, Dion," ujar Arka dengan intonasi suara serak yang tenang namun sarat akan tekanan mutlak.
"Aira menceritakan padaku kalau kamu sangat mengkhawatirkan keadaannya. Karena itu, aku meluangkan waktu di tengah kesibukan kantor untuk mengantar istriku bertemu denganmu."
Dion duduk kembali dengan kaku. Pria muda itu membetulkan posisi duduknya, berusaha mengumpulkan keberaniannya. Ia menatap Aira dengan raut wajah yang dipaksakan prihatin.
"Aira... jujur aku kaget banget waktu dengar kabar kamu tiba-tiba menikah," buka Dion dengan suara yang agak bergetar.
"Anak-anak alumni di kampung pada cerita kalau kamu sempat kesulitan biaya pengobatan ibu kamu. Aku... aku cuma khawatir kamu mengambil keputusan ini karena tertekan situasi ekonomi, Ra."
Mendengar ucapan Dion yang secara tidak langsung menyindir bahwa pernikahan ini terjadi karena paksaan atau transaksi harta, rahang Arka mengetat tipis. Kilatan amarah dan nyala cemburu yang begitu membakar berkilat di balik mata hitam Arka.
Pria dewasa itu menyandarkan badannya ke depan, menatap Dion dengan aura intimidasi yang membuat ruangan terasa makin menyempit.
Namun sebelum Arka bersuara, Aira sudah lebih dulu menggenggam jemari besar suaminya di atas meja. Aira menatap Dion dengan raut wajah yang tegas namun tetap sopan.
"Dion, terima kasih atas perhatian kamu sebagai teman lama," kata Aira dengan nada suara yang jernih dan jujur.
"Tapi kekhawatiran kamu sama sekali tidak beralasan. Aku menikah dengan Mas Arka bukan karena terpaksa, apalagi karena transaksi ekonomi."
Aira menoleh pada Arka, menyunggingkan senyum paling manis yang memancarkan kebahagiaan murni dari dasar hatinya.
"Mas Arka adalah pria terbaik yang pernah ada di hidupku. Dia menghargai aku, menyayangi Ibu Wahyuni, dan memberikan rasa aman yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku sangat bersyukur dan bahagia menjadi istri Mas Arka."
Pernyataan tulus Aira seketika memukul telak perasaan Dion. Wajah pemuda 22 tahun itu memucat. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Aira menatap Arka—bukan dengan tatapan wanita yang tertekan, melainkan tatapan seorang istri yang sangat mencintai dan memuja suaminya.
Arka yang mendengar pengakuan jujur istrinya di depan pria dari masa lalunya merasakan gejolak kehangatan dan rasa bangga yang luar biasa melingkupi dadanya. Rasa cemburu Arka seketika berubah menjadi senyuman penuh kemenangan yang amat berkelas.
Arka mengusap lembut jemari Aira, lalu menatap Dion dengan pendar mata yang merendahkan rasa percaya diri pemuda di depannya.
"Seperti yang kamu dengar sendiri dari istriku, Dion," potong Arka dengan nada suara rendah yang dingin.
"Kehidupan Aira sekarang adalah tanggung jawab penuhku. Segala kebutuhan, kesehatan ibunya, hingga masa depannya sudah terjamin sepenuhnya di bawah namaku."
Arka jeda sejenak, sengaja membiarkan keheningan menekan mental Dion sebelum melanjutkan,
"Aku menghargai niat baikmu sebagai teman masa lalu. Tapi sebagai seorang suami, aku berharap kamu bisa menjaga batasan dan etikamu. Aira sudah memiliki keluarga yang bahagia."
Dion mengepalkan tangannya di bawah meja, merasa sangat kerdil di hadapan pria kematangan usia 39 tahun yang memiliki segalanya itu. Keberanian yang tadinya ia kumpulkan runtuh tak berbekas.
"S-saya paham, Pak Arka..." cicit Dion akhirnya, menundukkan kepala tak berani menatap iris mata Arka yang tajam bagaikan elang. "Maaf kalau kedatangan saya membuat Aira dan Pak Arka tidak nyaman."
"Tidak masalah," balas Arka santai seraya melirik jam tangannya. "Kalau tidak ada hal penting lain yang berhubungan dengan masa sekolah yang ingin kamu tanyakan, kami harus permisi. Aira ada janji menemani putra kami bermain sore ini."
Arka bangkit berdiri, lalu membantu Aira berdiri dari kursinya. Pria itu secara terang-terangan mendaratkan kecupan mesra di kening Aira di depan mata Dion yang hanya bisa terpaku menatap mereka.
"Mari, Dion," pamit Aira sopan sebelum melangkah pergi mengekor di samping Arka.
Di dalam mobil SUV mewah yang melaju meninggalkan kawasan Tebet, suasana di kursi belakang terasa begitu hening namun dipenuhi aura kehangatan yang manis.
Arka bersandar di kursi kulitnya, menarik Aira ke dalam dekapannya hingga tubuh molek gadis itu menyandar pas di dada bidangnya. Jemari Arka yang kekar menyelusup di antara jemari Aira, mengusapnya berulang kali tanpa berniat melepaskannya.
Aira mendongak, menatap rahang tegas Arka yang masih tampak sedikit mengeras. Gadis muda itu tersenyum geli, menyentuh pipi Arka dengan tangan satunya.
"Mas Arka masih cemburu ya?" bisik Aira jahil, menggoda suaminya.
Arka menunduk, menatap iris mata Aira yang berbinar penuh kejahilan. Pria berusia 39 tahun itu tidak mencoba memungkirinya. Ia mendesah pelan, suara seraknya terdengar begitu posesif.
"Mas memang cemburu, Sayang," aku Arka jujur tanpa gengsi di depan istrinya. Pria itu membenamkan wajahnya di leher Aira, menghirup dalam-dalam aroma wangi tubuh istrinya yang menenangkan.
"Pria muda itu menatapmu seolah-olah dia berhak atas masa lalumu. Mas tidak suka ada pria lain yang membayangkan bisa memilikimu."
Aira tertawa renyah, hatinya meleleh mendengar kejujuran dan kebucinan Arka. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Arka, mendaratkan ciuman-ciuman kecil di sepanjang garis rahang dan bibir suaminya.
"Kan Aira sudah bilang... masa lalu Aira sudah selesai. Hati dan hidup Aira cuma milik Mas Arka seorang," bisik Aira tulus di depan bibir Arka. "Mas Arka itu suami Aira, pelindung Aira, dan ayah dari anak-anak kita nanti."
Kata-kata Aira seketika membakar sisa-sisa kecemburuan Arka menjadi gairah cinta yang membara. Arka membalas ciuman Aira dengan intensitas yang lebih dalam, merengkuh pinggang istrinya semakin rapat dan menikmati keintiman manis di antara mereka sepanjang perjalanan pulang.
Namun, di tempat lain, Dion yang masih terduduk kaku di kedai kopi meraih ponselnya dengan tangan gemetar oleh kekecewaan dan rasa tidak terima. Pemuda itu mengetik sebuah pesan singkat kepada seseorang:
> 'Kamu benar... Aira sudah benar-benar berpaling dan Arka Danuartha terlalu kuat untuk kuhadapi sendiri. Apa rencana kamu selanjutnya?'
>
Di seberang sana, layar ponsel Dania menyala terang di dalam kamar hotelnya. Perempuan itu tersenyum iblis membaca pesan dari Dion—pemuda yang sengaja ia hubungi dan provokasi beberapa hari lalu untuk memanfaatkan perasaan masa lalunya pada Aira.
"Bagus..." gumam Dania dingin seraya menyesap minumannya. "Arka boleh saja menang di kementerian hari ini, tapi permainan untuk menghancurkan Aira baru saja dimulai."
_Bersambung