Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Raden Baskara yang Merepotkan
Pagi sebelum rapat pemegang saham, Ratri menemukan Baskara sudah duduk di kursi belakang mobilnya.
Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana, celana hitam, dan jam tua yang konon tidak berharga. Penampilannya memang cukup meyakinkan untuk seorang suami pengangguran. Hanya caranya duduk yang merusak penyamaran itu. Punggung tegak, dagu sedikit terangkat, seolah mobil dan jalan di depannya adalah bagian kecil dari wilayah yang berada di bawah perintahnya.
Ratri berdiri di samping pintu yang terbuka. "Turun."
"Selamat pagi juga."
"Saya tidak mengajak Anda."
"Aku tahu. Karena itu aku datang sendiri."
Bibi Sari yang mengantar tas kerja Ratri segera menundukkan wajah. Bahunya bergerak kecil menahan tawa.
"Ndoro Baskara bilang mau memberi keberanian," katanya.
"Dia harus punya keberanian dulu sebelum bisa memberikannya kepada orang lain."
Baskara bergeser, menyediakan tempat di sebelahnya. "Aku punya cukup banyak. Duduklah, sebelum kau terlambat."
Ratri menatapnya selama tiga detik. Mengusir pria itu hanya akan menghabiskan waktu lebih lama. Ia masuk, mengambil tas dari Bibi Sari, lalu menutup pintu.
Wira duduk di depan. Tatapannya bertemu mata Ratri melalui kaca tengah.
"Jalan," perintah Ratri.
Mobil bergerak meninggalkan kediaman Adiningrat.
Sepuluh menit pertama dilalui dalam diam. Ratri membaca kembali susunan bukti di tabletnya. Baskara tidak mengganggu. Ia hanya memperhatikan lebam tipis di bawah mata istrinya dan jari yang sesekali menekan pelipis.
"Kau tidur berapa jam?"
"Cukup."
"Itu bukan angka."
"Dan Anda bukan dokter saya."
"Doktermu pun tidak bisa menjelaskan kenapa luka di kepalamu hilang dalam satu malam."
Jari Ratri berhenti di layar.
"Anda tahu banyak untuk orang yang katanya tidak punya pekerjaan."
"Aku suamimu."
"Itu status hukum, bukan pekerjaan."
Baskara mengangguk seolah menerima putusan hakim. Setelah itu ia benar-benar diam.
Mobil terhambat ketika memasuki jalur gedung di SCBD. Sebuah kendaraan pengiriman berhenti melintang di depan pintu parkir bawah tanah. Dua petugas keamanan berdebat dengan pengemudinya, sementara deretan mobil di belakang mulai membunyikan klakson.
Wira hendak turun, tetapi Baskara lebih dulu membuka jendela.
Ia tidak meninggikan suara. "Kosongkan jalur evakuasi. Pindahkan kendaraan itu ke sisi timur, lalu buka pintu servis kedua. Tiga menit."
Salah satu petugas menoleh. Wajahnya berubah ketika melihat Baskara. Ia segera berdiri lebih tegak, memberi isyarat kepada rekannya, lalu berlari mengatur kendaraan. Seorang pengelola gedung yang baru keluar dari lobi ikut menghampiri. Pria itu membungkuk singkat sebelum memerintahkan pintu servis dibuka.
Tidak sampai dua menit, jalur kembali bergerak.
Baskara menutup jendela seperti tidak terjadi apa-apa.
Ratri tidak melihat tabletnya lagi. "Pengangguran biasanya tidak memberi perintah kepada pengelola gedung orang lain."
"Mungkin suaraku terdengar meyakinkan."
"Atau kebohongan Anda mulai berantakan."
"Kalau begitu, selidiki aku lebih baik."
Ada tantangan tenang di matanya. Bukan tantangan seseorang yang takut rahasianya ditemukan, melainkan seseorang yang sudah lama menunggu Ratri datang mencarinya.
Mobil berhenti di depan lobi. Wira turun lebih dahulu.
Ratri memasukkan tablet ke dalam tas. Ujung jarinya menyentuh sebuah benda yang sebelumnya tidak ada. Ia menarik keluar kantong kain cokelat sebesar dua ruas jari. Di dalamnya terdapat keping kayu cendana tipis dengan rajah yang ia kenali sebagai karya Eyang Suryo.
Selembar kertas kecil terlipat di belakangnya.
Selepas zuhur, duduk tenang selama tujuh menit. Bawa pusaka di sisi kiri. Jangan melewatkan makan. Jangan berdiri terlalu lama.
Tulisan tangan itu rapi dan keras, sama sekali tidak mirip tulisan Eyang Suryo.
Ratri mengangkat kertas tersebut. "Apa ini?"
"Kertas."
"Saya masih bisa melihat."
"Syukurlah. Berarti matamu tidak perlu diperiksa."
"Anda memasukkannya ke tas saya tanpa izin."
"Kalau meminta izin, kau akan menolak."
Ratri hendak membalas, tetapi tatapannya jatuh pada rincian waktu di kertas. Bahkan ia sendiri kadang lupa kapan harus menjalani laku singkat yang diminta Eyang Suryo. Baskara justru mengingat urutannya sampai ke letak pusaka.
"Eyang memberikannya kepada Anda?"
"Aku menemuinya setelah malam di rumah sakit."
Jawaban itu membuat Ratri diam. Ia membayangkan Baskara pergi dari lorong rumah sakit dengan wajah pucat, lalu mendatangi Eyang Suryo ketika semua orang lain menunggu kabar darinya. Ada terlalu banyak bagian dari malam itu yang belum ia pahami.
"Kenapa?"
Baskara memandang jemari Ratri yang pernah terus mengeluarkan darah. "Karena aku tidak ingin melihatmu terbaring seperti itu lagi."
Kalimat itu sederhana, tanpa senyum dan tanpa permainan kata. Justru karena itulah Ratri tidak segera menemukan balasan.
Wira sudah membuka pintu di luar. Suara kota masuk bersama udara pagi dan mematahkan keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu dekat.
"Jangan kira selembar catatan akan membuat saya lunak."
"Aku tidak mengharapkan keajaiban sebesar itu."
Ratri memasukkan keping cendana kembali ke kantongnya. Kertas kecil itu seharusnya ia buang. Namun, tanpa berpikir, ia melipatnya sekali lagi dan menyelipkannya ke bagian dalam dompet.
Saat ia mengangkat kepala, Baskara sedang memandang ke luar jendela. Sudut bibir pria itu nyaris terangkat.
"Jangan tersenyum."
"Aku tidak tersenyum."
"Besok adalah rapat pemegang saham, bukan pertunjukan Anda sebagai suami teladan. Jangan mengganggu pekerjaan saya."
"Aku hanya akan duduk dan memberimu keberanian."
"Simpan untuk diri sendiri."
Ratri turun dari mobil. Langkahnya kembali cepat dan dingin, tetapi kantong kain dari Eyang Suryo tersimpan aman di sisi kiri tasnya.
Sebelum Baskara menyusul, ponselnya bergetar.
Pesan dari Panji hanya terdiri atas dua baris.
Ndoro, keluarga Wiryawan memastikan akan hadir besok.
Yang datang adalah Sekar, adik Larasati.
Tatapan Baskara berubah gelap.