Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duo Serigala
Pukul sembilan pagi, Hall Utama Gedung FSD sudah disulap menjadi galeri megah berstandar internasional. Lampu-lampu sorot kuning keemasan menyorot presisi ke arah puluhan panel pameran dan maket terpilih.
Karpet merah membentang di lorong utama, menyambut ratusan pengunjung yang terdiri dari kurator profesional, pengamat seni, mahasiswa, hingga jajaran direksi perusahaan sponsor.
Di tengah riuhnya suasana pembukaan pameran Design Expose, Nadhira berdiri di samping panel maket miliknya. Ia mengenakan kemeja krem dengan rok plisket hitam yang rapi, tampak sangat profesional. Namun, fokus Nadhira sama sekali tidak berada pada berkas kurasi di tangannya.
Sebab, sejak setengah jam lalu, Rangga Dewa Kusuma berdiri tak lebih dari setengah meter di sampingnya, mengekor ke mana pun Nadhira melangkah.
"Struktur akrilik ini... teknik pemotongannya pakai laser atau manual, Nad?" tanya Rangga dengan suara lembut, memiringkan tubuhnya mendekati Nadhira hingga aroma parfum maskulin mewahnya tercium sangat jelas.
Nadhira bergeser setengah langkah ke kanan dengan canggung, mencoba menciptakan jarak. "Manual, Ngga. Pakai pisau pemotong khusus akrilik sama lem suntik."
"Luar biasa," puji Rangga, matanya tidak lagi menatap maket, melainkan mengunci paras Nadhira dengan pendar kagum yang terang-terangan.
"Dari zaman SMA kamu memang selalu punya ketelitian yang bikin aku kagum. Tahu gak, Nad? Di kantor Kusuma Design Group, aku punya posisi kosong buat Junior Interior Designer. Kamu lulus dari sini, langsung masuk ke kantor aku aja ya? Aku yang bakal bimbing kamu sendiri."
Nadhira meringis pelan, memutar-mutar pena di jarinya. "Makasih penawarannya, Ngga. Tapi aku masih semester tengah, fokus lulus dulu aja."
"Gak masalah, aku bisa tunggu," sahut Rangga cepat.
Pria itu kembali memajukan langkahnya, mendekatkan wajahnya ke arah telinga Nadhira. "Atau... aku tunggu kamu kembali ke aku dari sekarang?"
Nadhira tersentak, refleks melangkah mundur hingga punggungnya nyaris menabrak panel pameran. "Rangga, tolong ya... ini di pameran kampus, banyak dosen sama pengunjung lain."
Namun bagi Rangga yang tidak tahu-menahu bahwa gadis di hadapannya ini sudah berstatus sebagai istri orang lain, sikap malu-malu Nadhira justru diartikannya sebagai lampu hijau. Rangga mengangkat tangan kanannya, hendak mengusap helai rambut Nadhira yang terurai di bahu.
Srett.
Belum sempat jemari Rangga menyentuh rambut Nadhira, sebuah bayangan tegap memotong udara di antara mereka.
Reyhan muncul dari balik panel pameran dengan langkah tegas dan menebarkan hawa dingin yang luar biasa mencekam.
Pria itu memiringkan tubuhnya persis di tengah-tengah antara Rangga dan Nadhira, memutus secara paksa jarak fisik di antara keduanya.
Dalam balutan setelan jas hitam formal, kemeja putih kaku, dan dasi abu-abu gelap, Reyhan tampak bagaikan seorang penguasa tunggal di aula pameran tersebut. Dari balik lensa kacamatanya yang memantulkan kilatan lampu, sorot mata Reyhan terlihat tajam.
Sejak acara dibuka, dari lantai dua balik dinding kaca ruang kontrol, Reyhan bagaikan cacing kepanasan. Matanya tak berhenti mengawasi pergerakan Rangga yang terus-menerus menempel pada Nadhira.
Rahangnya sudah pegal menahan gejolak amarah dan cemburu yang membakar dadanya sepanjang pagi. Namun, di hadapan publik dan jajaran dekanat, Reyhan memaksakan dirinya untuk tetap terlihat tenang dan memegang kendali penuh.
"Selamat pagi, Saudara Rangga Dewa Kusuma," sapa Reyhan dengan suara berat yang begitu datar dan formal.
Rangga menarik tangannya kembali dari udara, sedikit mengernyit melihat kemunculan sang dosen kurator yang memutus momen mesranya. "Selamat pagi, Pak Reyhan."
Reyhan berdiri begitu dekat dengan Nadhira, bahkan bahu jasnya bersentuhan tipis dengan lengan Nadhira. Secara tidak sadar, posisi berdiri Reyhan membentuk perisai tubuh yang menutupi Nadhira dari jangkauan Rangga.
"Sebagai sponsor utama, kehadiran Anda sangat dinantikan oleh Dekan dan jajaran direksi fakultas di VVIP Lounge lantai dua," ujar Reyhan tenang, membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah.
"Bukan di lorong pameran mahasiswa, mengganggu fokus koordinator pameran yang sedang bertugas," sindir Reyhan.
Kalimat itu meluncur begitu mulus, namun mengandung nada usiran yang halus dan sangat menusuk.
Rangga tertawa tipis, melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya menantang. "Saya sedang melakukan peninjauan karya secara langsung, Pak Reyhan. Bukankah sponsor berhak melihat potensi mahasiswa yang akan diberi pendanaan? Terutama karya Nadhira ini. Menurut saya, maket ini adalah karya terbaik di pameran hari ini."
Reyhan tidak terkecoh. Sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah ukiran senyum dingin tanpa kehangatan.
"Penilaian karya terbaik ditentukan oleh tim kurator akademis berbasis indikator teknis, bukan subjektivitas personal seorang sponsor," balasan Reyhan.
Pria itu berbalik sedikit, menatap Nadhira. "Nadhira..." panggilnya.
"I-iya, Pak Reyhan?" sahut Nadhira yang menahan napas sejak tadi.
"Berkas laporan kurasi pengunjung untuk zona B belum diserahkan ke meja panitia utama. Bawa berkas itu sekarang dan dampingi Pak Bagas di pintu utara," perintah Reyhan penuh otoritas.
Nadhira tahu betul ini adalah taktik Reyhan untuk menjauhkannya dari Rangga. "Baik, Pak! Saya permisi ke pintu utara dulu!" cicit Nadhira cepat, memeluk papan klipnya erat-erat lalu melangkah terburu-buru meninggalkan area panel.
Rangga hendak melangkah menyusul Nadhira. "Nad, nanti pas jam makan siang aku-"
"Saudara Rangga."
Langkah Rangga tertahan seketika. Reyhan telah menggeser tubuh tingginya, berdiri tepat memblokir jalur jalan Rangga dengan pandangan mata yang begitu tajam dan intimidatif.
Ketegangan di antara kedua pria itu seketika memuncak, menciptakan atmosfer yang begitu tegang hingga beberapa pengunjung di dekat mereka mulai melirik canggung.
"Pak Reyhan," ujar Rangga dengan nada suara yang tak lagi seramah tadi. Matanya menyipit menatap dosen muda di hadapannya. "Saya rasa tindakan Anda sudah melampaui batas kewenangan seorang dosen. Mengapa Anda seolah-olah terus mencoba membatasi interaksi saya dengan Nadhira?"
Reyhan tidak goyah sedikit pun. Pria itu merapikan dasinya dengan gerakan yang sangat tenang, mempertahankan ketenangannya di tengah gejolak amarah yang mendidih di dalam diri sejak tadi.
"Tugas saya di fakultas ini adalah memastikan seluruh mahasiswa, termasuk Nadhira dapat menjalankan kewajiban akademis dan pameran mereka tanpa gangguan atau tekanan dari pihak luar," sahut Reyhan dingin, intonasi suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Tekanan?" ucap Rangga sinis. "Nadhira itu mantan kekasih saya. Kami punya hubungan emosional yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar hubungan dosen dan mahasiswa seperti Anda dan dia. Jangan berpura-pura tidak melihat kalau ada ikatan yang belum selesai di antara kami."
Mendengar kata 'mantan' dan 'ikatan' yang diucapkan Rangga dengan nada sombong itu, jemari tangan kiri Reyhan yang tersembunyi di saku celananya mengepal amat keras. Namun, wajahnya tetap seperti patung tanpa ekspresi.
Reyhan melangkah satu titik lebih dekat ke arah Rangga. Jarak mereka kini hanya terpaut puluhan sentimeter. Aura dominasi dari seorang suami yang tak sudi hak miliknya diusik meluap begitu pekat dari tubuh Reyhan.
"Nostalgia masa lalu yang tidak lagi disambut oleh pihak bersangkutan adalah bentuk pemaksaan, Saudara Rangga," cetus Reyhan dengan suara pelan namun menembus ulu hati.
"Jika Anda cukup peka membaca gestur dan penolakan halus dari Nadhira sejak tadi pagi, Anda akan paham bahwa Anda hanyalah gangguan bagi kenyamanannya di tempat ini."
Wajah Rangga berubah agak memerah oleh kalimat telak itu. "Anda tidak tahu apa-apa soal perasaan Nadhira yang sebenarnya, Pak Reyhan!"
"Saya tahu pasti apa yang menjadi prioritasnya saat ini," potong Reyhan kaku tanpa memberi celah.
"Dan prioritas Nadhira berada di bawah naungan serta tanggung jawab penuh saya di kampus ini. Saya sarankan Anda menjaga martabat Anda sebagai CEO sponsor utama dengan kembali ke posisi Anda, sebelum saya membatalkan akses khusus pendampingan sponsor untuk pameran ini."
Ketegangan di antara mereka semakin menjadi, Rangga menatap Reyhan dengan pandangan sengit, sementara Reyhan menatap balik dengan mata cokelat gelapnya yang tajam dan sama sekali tak tersentuh oleh rasa gentar.
Sebelum situasi kian memanas, Pak Bagas bersama Dekan FSD berjalan mendekati mereka dari arah aula utama.
"Ah, Mas Rangga, Pak Reyhan. Rupanya di sini!" panggil Pak Dekan ramah.
"Mari Mas Rangga, para investor dari luar kota sudah berkumpul di lantai dua. Kita butuh masukan dari Mas Rangga untuk sesi opening ceremony pameran."
Rangga menarik nafas panjang, membetulkan letak jasnya seraya mengendalikan raut wajahnya kembali tersenyum. "Tentu, Pak Dekan. Mari ke lantai dua."
Sebelum melangkah pergi mengikuti Dekan, Rangga melemparkan pandangan menantang terakhirnya pada Reyhan. "Kita belum selesai bicara, Pak Reyhan."
Reyhan hanya membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah, menanggapi ancaman itu dengan lirikan mata yang menganggapnya angin lalu. "Selamat bertugas di VVIP Lounge, Saudara Rangga."
Begitu rombongan Dekan dan Rangga menjauh menyusuri tangga menuju lantai dua, Reyhan mengembuskan napas panjang. Bahunya yang tegap tampak sedikit rileks, meski garis rahangnya masih mengeras kaku.
Pria itu merogoh saku jasnya, mengambil ponsel pintarnya. Ia membuka aplikasi percakapan dan mengetik pesan singkat ke kontak Nadhira.
Reyhan: Tetap berada di dekat Pak Bagas dan pintu utara hingga jam pameran selesai. Jangan berjalan sendirian di area hall utama.
Hanya butuh sepuluh detik sebelum pesan itu terbalas.
Nadhira: Siap, Pak Dosen! Jangan galak-galak begitu ah mukanya, tadi saya lihat dari jauh Pak Reyhan kayak mau ngajak si Rangga duel karate haha.
Reyhan menatap layar ponselnya. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis, menyulut sedikit kehangatan di tengah hawa cemburu yang masih tersisa di dadanya.
Pria itu mengunci kembali layar ponselnya, memasukkannya ke dalam saku, lalu melangkah melanjutkan tugas kurasinya.
...Bersambung... ...