Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:22k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Malam terus bergulir menuju dini hari. Rumah dinas yang beberapa jam lalu dipenuhi cahaya lilin kini telah gelap dan sunyi. Makan malam yang disiapkan Tara masih tertata rapi di atas meja, hanya tinggal sedikit menghangat karena berkali-kali ia panaskan sambil berharap suara kendaraan Sarif segera terdengar dari luar.

Awalnya ia berniat menunggu apa pun yang terjadi. Sesekali ia melihat jam dinding, sesekali memeriksa ponselnya, lalu mengusap perutnya yang mulai menyimpan kehidupan kecil di dalam sana. "Ayah pasti pulang," gumamnya pelan, seolah ikut menenangkan bayi yang bahkan belum bisa mendengar suaranya.

Namun tubuh Tara tak lagi sekuat biasanya. Kehamilan membuatnya lebih mudah lelah. Kelopak matanya terasa semakin berat. Ia bermaksud hanya menyandarkan tubuh sebentar di sofa ruang tamu sambil tetap menunggu Sarif. Tanpa sadar, ia benar-benar tertidur dengan posisi meringkuk, masih mengenakan gaun yang dipakainya untuk makan malam romantis yang batal terlaksana.

Jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari ketika pintu rumah akhirnya terbuka perlahan. Sarif masuk dengan langkah pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Seragam lorengnya masih melekat di tubuh, wajahnya tampak letih setelah menjalankan tugas berjam-jam tanpa henti.

Begitu melihat ruang makan, langkahnya terhenti. Lilin-lilin yang sudah padam. Kue kecil yang belum tersentuh. Dua piring makan yang masih tertata rapi. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah.

Ketika menoleh ke arah sofa, ia menemukan Tara sedang tertidur pulas dengan kedua tangan memeluk bantal kecil. Wajahnya terlihat begitu damai, meski masih menyisakan bekas lelah karena terlalu lama menunggu.

Sarif tersenyum tipis. "Istriku..." Ia berlutut di samping sofa, menyibakkan perlahan anak rambut yang menutupi wajah Tara. Dalam tidurnya, Tara sedikit mengerutkan hidung, lalu kembali terlelap. Sarif mengusap lembut pipinya. "Maaf ya..." Suara itu hampir tak terdengar.

Dengan sangat hati-hati, ia menyelipkan satu tangan di bawah lutut Tara dan tangan lainnya menyangga punggung sang istri. Tubuh Tara terasa begitu ringan di pelukannya. Perlahan ia menggendong Tara menuju kamar.

Sesampainya di tempat tidur, Sarif membaringkan istrinya selembut mungkin, lalu menyelimuti tubuhnya hingga rapat. Tatapannya kemudian beralih ke perut Tara yang masih datar. Senyumnya mengembang. "Maaf ya, Nak. Hari ini Ayah pulang terlambat lagi."

Ia mengecup pelan kening Tara, lalu menempelkan bibirnya beberapa saat lebih lama, seolah ingin mengganti seluruh waktu yang hilang malam itu. "Terima kasih....karena selalu menungguku."

Tara tidak terbangun. Ia hanya bergumam pelan dalam tidurnya, kemudian tanpa sadar meraih ujung seragam Sarif dan menggenggamnya erat. Sarif terkekeh kecil. Bahkan dalam tidurnya, istrinya masih mencari dirinya.

Ia pun berbaring di sisi Tara, membiarkan tangan kecil itu tetap menggenggam seragamnya. Untuk pertama kalinya sejak pagi, rasa lelahnya benar-benar menghilang. Di tengah segala tuntutan tugas sebagai prajurit, ia kembali diingatkan bahwa ada seseorang yang selalu menunggunya pulang, meski harus tertidur karena kelelahan. Dan bagi Sarif, pemandangan itu jauh lebih berharga daripada perayaan ulang tahun pernikahan paling mewah sekalipun.

***

Pagi itu terasa berbeda. Biasanya sebelum matahari benar-benar terbit, Sarif sudah rapi mengenakan seragam loreng dan bersiap berangkat ke batalyon. Namun kali ini ia justru masih mengenakan pakaian santai sambil membantu Tara menyiapkan sarapan. Tara yang baru keluar dari kamar langsung mengernyit heran. Sudah lewat jam keberangkatan apel, tetapi suaminya masih berada di rumah dengan wajah yang justru tampak lebih tenang dari biasanya. Sarif memang sengaja mengambil izin sehari. Ada sebuah kabar yang harus ia sampaikan kepada Tara, kabar yang menurutnya tidak akan mudah diterima istrinya. Karena itu, ia ingin menghabiskan satu hari penuh bersama perempuan yang dicintainya. Ia juga masih menyimpan rasa bersalah karena gagal memenuhi janji makan malam di hari ulang tahun pernikahan mereka beberapa malam sebelumnya.

Hari ini ingin ia jadikan sebagai pengganti malam yang tertunda itu. Namun sebelum melakukan apa pun, Sarif memiliki satu tujuan yang lebih penting. "Ayo siap-siap."

"Mau ke mana, Bang?"

"Kita lihat anak kita."

Kalimat sederhana itu langsung membuat mata Tara berbinar. Tak butuh waktu lama, mereka sudah berada di rumah sakit.

Sepanjang perjalanan, Tara terus memegang tangan Sarif. Sesekali ia mengusap perutnya yang masih belum tampak membesar, tetapi di dalam sana telah tumbuh kehidupan yang setiap hari memenuhi hati mereka dengan rasa syukur.

Saat pemeriksaan dimulai, ruangan mendadak hening. Tara memandang layar monitor dengan napas tertahan. Ia belum begitu mengerti apa yang sedang dilihatnya. Yang ia lihat hanya bayangan hitam putih dengan bentuk yang masih sangat kecil. Sarif berdiri di sampingnya, menggenggam erat jemarinya.

Dokter kemudian menunjukkan letak calon bayi mereka dan memperdengarkan detak jantungnya. Deg... Deg... Deg... Ruangan yang semula sunyi mendadak dipenuhi suara kecil yang begitu cepat.

Tara sontak menutup mulutnya. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. "Itu...anak kita?"

Sarif mengangguk pelan. Meski sehari-hari ia adalah seorang dokter yang terbiasa melihat hasil pemeriksaan, kali ini perasaannya sama sekali berbeda. Untuk pertama kalinya, suara detak jantung yang ia dengar bukan milik pasien, melainkan milik anaknya sendiri. Tanpa sadar matanya ikut memerah. Ia menoleh kepada Tara yang masih menangis haru. "Terima kasih."

Tara menggeleng sambil tersenyum. "Harusnya aku yang bilang terima kasih."

Mereka saling menggenggam tangan lebih erat. Untuk beberapa menit, tak ada lagi yang perlu diucapkan. Suara detak jantung kecil itu sudah mampu mewakili semua rasa bahagia yang memenuhi hati mereka.

Di balik senyum Sarif, sebenarnya masih tersimpan satu kabar yang belum sempat ia sampaikan. Kabar yang membuatnya sengaja mengambil cuti hari itu agar bisa menemani Tara sepenuhnya sebelum kehidupan mereka kembali berubah. Namun untuk sesaat, ia memilih menikmati momen sederhana itu terlebih dahulu. Karena hari itu bukan tentang tugas, bukan tentang pangkat, dan bukan tentang dunia di luar sana. Hari itu hanya tentang seorang suami, seorang istri, dan seorang calon anak yang baru saja memperdengarkan detak jantungnya untuk pertama kali kepada kedua orang tuanya.

Usai pemeriksaan USG, senyum Tara tak juga hilang dari wajahnya. Bahkan sejak keluar dari ruang dokter, tangannya masih sesekali mengusap perutnya sendiri sambil terkekeh kecil. Rasanya sulit dipercaya bahwa kini ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam sana. Sarif yang melihat tingkah istrinya hanya menggeleng sambil tersenyum. Kebahagiaan Tara memang selalu sederhana, tetapi begitu menular kepada orang-orang di sekitarnya.

"Bang. Anak kita tadi lucu ya."

"Masih kecil begitu udah dibilang lucu? Baru sebesar kacang, sayang. Belum terlihat bentuknya."

"Ya lucu dong. Soalnya anak kita."

Sarif tertawa pelan. "Baiklah." Karena hari itu memang sengaja ia kosongkan untuk Tara, Sarif tidak langsung mengajaknya pulang. Ia membelokkan mobil ke sebuah warung sate yang sudah cukup terkenal di kota itu.

1
Rian Moontero
mampiirr👍👍🤣
Jumi Eko
Bagus
falea sezi
lanjut
falea sezi
lanjut donk
Hara Hari
orang yang iri dengki itu wajahnya bakalan kusut🤣🤣🤣
Hara Hari
Syok ga tuh Ratna hahahahaha, makanya tobat, jangan iri dengki
Hara Hari
beruntungnya punya ibu mertua yang baik
lin sya
apakah ratna akan mnjdi antagonis buat sepupunya tara, hnya krn iri dan gk bersyukur pdhl udh dinasehatin sm nenek dan ibunya, smga gk jdi pelakor ya, pdhl masa remaja tara susah pas dewasa dia beruntung dpt suami dan mertua baik plus kaya💪
lin sya
lbih baik tara fokus sm kelahiran anak dan suami, klo berkunjung kermh nenek jgn trllu dkt tp bkn sombong ya, tkutnya ratna msih pnya sft iri dan mngkin krma krn pernah nyinyirin tara gk kuliah sedangkan ratna gk lulus kuliahnya
Hara Hari
Hara Hari
InshaAllah ✓
Hara Hari
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!