Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Suara Pertama

Tiga hari setelah operasi, Bapak akhirnya sadar sepenuhnya. Kirana sedang duduk sendirian di samping ranjangnya sore itu, membaca buku yang sudah sejak tadi tidak benar-benar ia pahami isinya, ketika ia mendengar suara serak memanggil namanya.

"Ki... rana?"

Buku itu langsung jatuh dari tangannya. Kirana menoleh cepat, mendapati mata Bapak yang terbuka, meski masih terlihat berat dan lelah, menatapnya dengan kesadaran penuh untuk pertama kalinya sejak ia pulang.

"Bapak!" Kirana bangkit, menggenggam tangan ayahnya erat, air mata langsung menggenang di matanya. "Bapak sadar. Syukurlah."

Bapak mencoba tersenyum, meski gerakan itu tampak menyakitkan baginya. "Kamu... benar-benar pulang."

"Aku di sini, Pak. Dan aku tidak akan pergi lagi."

Kirana segera memanggil perawat, yang kemudian memberi kabar pada Raka. Tak lama, Ibu dan Sari juga bergegas datang begitu mendengar kabar bahwa Bapak sudah sadar. Ruangan kecil itu dipenuhi tangis haru dan pelukan, meski Bapak masih terlalu lemah untuk banyak bergerak.

"Maafkan Bapak," suara Bapak terdengar lirih, ditujukan pada semua orang di ruangan itu, namun matanya lebih lama tertuju pada Kirana. "Maafkan Bapak karena tidak pernah cukup berani jujur pada kalian semua."

"Sudahlah, Pak," Sari menggenggam tangan yang satunya, suaranya bergetar. "Yang penting sekarang Bapak sudah sadar. Kita bisa bicarakan semuanya pelan-pelan."

Raka datang beberapa menit kemudian, memeriksa kondisi Bapak dengan seksama sebelum memberi izin bagi keluarga untuk tetap berada di ruangan, meski dengan batasan waktu agar pasien tidak terlalu lelah.

"Perkembangannya sangat baik," ujar Raka pada keluarga setelah pemeriksaan singkat. "Kesadaran penuh secepat ini adalah tanda positif. Tapi beliau masih butuh istirahat total selama beberapa minggu ke depan."

Setelah Raka keluar, dan Ibu serta Sari pamit sejenak untuk mengurus administrasi rumah sakit, Kirana tinggal berdua dengan Bapak. Untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, mereka punya kesempatan bicara empat mata, meski Bapak masih dalam kondisi lemah.

"Kirana," Bapak memulai, suaranya masih serak namun lebih stabil. "Bapak tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi Bapak tidak mau menunda lagi. Bapak sudah terlalu lama menunda kejujuran, dan lihat apa yang terjadi."

"Pak, istirahat dulu. Kita bisa bicara nanti kalau Bapak sudah lebih kuat."

"Tidak," Bapak menggeleng pelan, matanya menunjukkan tekad yang kuat meski tubuhnya rapuh. "Bapak ingin bicara sekarang. Tentang Denis."

Kirana terdiam, membiarkan ayahnya melanjutkan.

"Bapak tahu ini sulit buatmu untuk menerima," lanjut Bapak. "Tapi Denis adalah anak Bapak, sama seperti kamu dan Sari. Bapak tidak pernah bisa memilih untuk mencintainya lebih sedikit hanya karena situasi kelahirannya yang rumit. Tapi Bapak juga tidak pernah cukup berani untuk memperjuangkan haknya secara terbuka, karena takut kehilangan kalian."

"Bapak malah hampir kehilangan semuanya karena terlalu lama diam," Kirana berkata, meski nadanya lebih lembut dari yang ia duga sendiri. "Tapi aku mengerti, Pak. Tidak sepenuhnya, tapi aku mulai mengerti."

Bapak menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Bapak bersyukur kamu pulang, Kirana. Bapak bersyukur kamu memberi kesempatan pada Bapak untuk memperbaiki semuanya, meski mungkin sudah terlambat untuk banyak hal."

"Belum terlambat, Pak," Kirana menggenggam tangan ayahnya lebih erat. "Kita masih punya waktu untuk memperbaikinya. Semuanya."

Percakapan mereka terhenti sejenak ketika ponsel Kirana bergetar di sakunya. Ia melirik layarnya—nama atasannya muncul di sana, mengingatkannya pada keputusan yang masih menggantung sejak beberapa hari lalu.

"Ada masalah?" tanya Bapak, memperhatikan perubahan raut wajah putrinya.

"Bukan masalah besar," Kirana mencoba tersenyum, meski tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan kekhawatirannya. "Cuma soal pekerjaan. Atasanku memberi tenggat waktu untuk memutuskan apa aku kembali ke kota atau tidak."

Bapak terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata itu. "Kirana, jangan biarkan Bapak jadi alasan kamu mengorbankan mimpimu. Kamu sudah bekerja keras membangun kariermu selama delapan tahun ini."

"Tapi Bapak butuh aku di sini," bantah Kirana.

"Bapak butuh kamu bahagia," Bapak menjawab tegas, meski suaranya masih lemah. "Dan Bapak yakin, dengan atau tanpa kehadiran fisikmu setiap hari, hubungan kita bisa tetap terjaga selama kita berdua sama-sama berusaha menjaganya. Beda dengan dulu, di mana Bapak yang justru menjauhkan diri dengan kebohongan."

Kata-kata itu menyentuh sesuatu dalam diri Kirana. Ia menyadari bahwa mungkin solusinya bukan memilih salah satu secara mutlak, melainkan menemukan cara untuk menyeimbangkan keduanya—karier dan keluarga—dengan cara yang lebih jujur dan terbuka dibanding yang pernah dilakukan keluarganya di masa lalu.

Malam itu, setelah kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak, Kirana akhirnya menelepon atasannya kembali.

"Pak Anton," katanya, suaranya lebih mantap dari sebelumnya. "Saya sudah memikirkan semuanya. Saya ingin mengajukan proposal untuk mengerjakan proyek ini secara remote dari sini, dengan kunjungan berkala ke kantor kalau memang dibutuhkan. Ayah saya membutuhkan saya di sini untuk masa pemulihannya, tapi saya juga tidak ingin melepas proyek ini begitu saja."

Ada jeda cukup panjang di seberang telepon sebelum Pak Anton menjawab. "Itu... bukan pengaturan yang biasa kita lakukan, Kirana. Tapi mengingat kualitas kerjamu selama ini, aku akan coba diskusikan dengan tim manajemen. Beri aku waktu dua hari untuk memberi jawaban pasti."

"Terima kasih, Pak. Saya sangat menghargainya."

Setelah menutup telepon, Kirana merasakan sedikit kelegaan menyelinap di antara kekhawatirannya. Ia belum tahu pasti apakah proposalnya akan diterima, tapi setidaknya ia sudah berani menyuarakan apa yang sebenarnya ia butuhkan—sesuatu yang selama bertahun-tahun keluarganya justru hindari dengan menyimpan rahasia demi rahasia.

Ia menatap keluar jendela kamarnya, langit malam yang cerah dengan bintang-bintang yang jarang terlihat karena polusi kota mulai bermunculan satu per satu. Untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, Kirana merasakan bahwa mungkin, pelan-pelan, ia sedang belajar cara baru untuk hidup—cara yang lebih jujur, lebih berani, dan lebih terbuka terhadap kompleksitas yang selama ini keluarganya coba sembunyikan.

Ia teringat percakapannya dengan Bapak sore tadi, tentang bagaimana ketakutan untuk jujur justru menciptakan luka yang jauh lebih dalam dibanding kejujuran itu sendiri. Pelajaran itu terasa relevan bukan hanya untuk hubungan keluarganya, tapi juga untuk caranya menjalani hidupnya sendiri selama ini—termasuk cara ia selama ini memisahkan dunia kerja dan dunia pribadinya seolah keduanya tidak boleh saling bersentuhan.

Ponselnya bergetar sekali lagi, kali ini pesan dari Sari. *"Bapak sudah tidur nyenyak. Perawat bilang tanda vitalnya bagus malam ini. Istirahat ya, besok kita masih punya banyak yang harus dipikirkan soal pertemuan minggu depan."*

Kirana membalas singkat, mengucapkan selamat malam, sebelum akhirnya merebahkan diri di ranjang lamanya yang kini terasa sedikit lebih familiar dibanding malam pertama ia pulang. Ada semacam pengakuan diam dalam dirinya, bahwa meski jalan di depan masih panjang dan penuh rintangan—operasi pemulihan Bapak, ancaman dari Ratna, keputusan besar soal kariernya—ia tidak lagi menghadapinya sendirian seperti delapan tahun terakhir. Ia punya keluarga yang, meski retak, kini berjuang bersama untuk menyatukan kembali kepingan yang tersisa.

Namun di sudut lain kota, di sebuah kantor mewah yang masih menyala terang meski malam sudah larut, seorang wanita paruh baya duduk di balik meja kerjanya, membaca ulang berkas-berkas legal dengan ekspresi dingin dan penuh perhitungan. Ratna Wijaya belum selesai. Dan pertemuan minggu depan akan menjadi awal dari perang yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!