"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudarso
"Coba berikan kang, airnya hangat ko" ucap Aini
Meski agak ragu, Karna memberikan botol susu itu pada Kinanti, matanya terbelalak karena Kinanti terlihat rakus meminumnya, bahkan terlihat sangat lapar.
"Lihat pak, Kinanti meminumnya dengan rakus, Karna harus menyiapkan stok yang banyak di rumah untuk dia" ungkap Karna
"Iya, bapak nanti akan titip ke anaknya Dira, dia kan kerja di resort, mungkin di sana ada susu yang seperti ini" jawab Karman ikut senang karena sekarang Kinanti tidak perlu menangis malam malam karena ingin menyusu.
"Bapak harus pulang, kalian kalau ada apa apa langsung bilang pada bapak, bapak sudah minta Windu menjaga Hindun, awalnya dia keberatan tapi setelah tahu Hindun itu anak tetua kampung sebelah, barulah dia mau" ungkap Karman
"Memang sudah waktunya Windu membantu bapak kan, dia hanya bermain saja sejak dulu" ucap Karna
"Anak itu lebih suka bermain main memang, bapak sudah pusing mengingatkan dia" jawab Karman
######
Di rumah Liam Lintang.
"Sudah Kenanga, itu tidak akan bisa keluar" bujuk Liam karena Kenanga terus Ingin mengambil makanan yang ada di acara makan makan di televisi.
"Laily juga pas pertama lihat televisi begitu" ucap Lintang
"Kang Lintang mah, Laily malu" ucap Laily bersembunyi di pelukan Lintang
"Tapi Laily nggak bar bar seperti Kenanga, itu kalau televisi LED, sudah rusak karena terus di getok Kenanga" ucap Hamka
"Hidup TV jadul" ucap Lintang tertawa
"Kenanga, sudah sini duduk lagi, nanti ada film hantu, kamu akan suka nontonnya" bujuk Liam
"Hiks.. Hiks.."
Kenanga menangis tapi dia juga mendekati Liam dan duduk di sampingnya sambil memeluk Liam.
"Ini anak tahu malu nggak sih, main nemplok nemplok sembarangan" gerutu Liam sedikit risih menjauhkan Kenanga tapi Kenanga kembali menempel padanya.
"Dia kan istri Lo Liam, belajar terbiasa" ucap Hamka
"Tetap aja gue maunya dia tuh jangan sembarangan peluk peluk orang, apalagi orang asing" jawab Liam
"Kenanga, jangan suka peluk peluk orang asing selain bang Liam ya mulai sekarang, kan kamu sudah menikah, jadi kamu tidak boleh sembarangan lompat ke punggung orang lain" ucap Lintang
"Aaa?"
"Karena itu berdosa, kalau berdosa itu artinya tidak boleh di lakukan" jawab Hamka dan Kenanga mengangguk
"Kaya ngerti aja Lo" sinis Liam
"Ngerti lah, dia ngomong kenapa tadi, nanya Kenapa" jawab Hamka
"Iya?" tanya Liam menatap Kenanga dan Kenanga mengangguk.
Selesai menonton televisi, mereka memutuskan untuk tidur karena malam itu Arsana memberikan sinyal bahaya di dalam hutan pada Liam. Dia meminta Kenanga untuk memejamkan matanya dan Liam akan keluar bersama Hamka, sementara Lintang menjaga rumah dan para perempuan.
"Ada apa Om?" tanya Liam
"Awan hitam itu tidak mau pergi padahal paduka Sagara sudah pergi sejak dua hari yang lalu, sepertinya orang itu menantang kita pangeran" jawab Arsana
"Siapa dia? Dan bagaimana cara kita bertemu dengannya?" tanya Hamka
"Kita hanya bisa bertemu dia saat malam, dan tidak mungkin menyerang dia si hutan ini, pagar gaib bisa rusak dan hancur kalau sampai ada pertarungan di dalam sini" jawab Arsana
"Kalau begitu ayo ke sana Om, kami siap" balas Hamka
"Kita akan ke sana dengan cara terbang pangeran, kalian bisa naik ke punggung Ireng, saya dan Kalia akan mengikuti dari bawah" ucap Arsana
"Apa dia berbahaya Om?" tanya Liam
"Dia tidak terlalu berbahaya, tapi dia punya sekutu jin yang cukup banyak, dan mereka akan membuat pohon keramat yang kalian jaga terganggu dengan keberadaan awan hitam yang sebenarnya adalah gerombolan para jin yang mengincar energi pohon itu pangeran" jawab Arsana
"Baiklah, kita berangkat sekarang" jawab Liam
Ireng sudah datang, Hamka dan Liam mulai naik ke punggungnya dan berpegangan dengan kuat agar tidak jatuh. Kampung Mahoni terlihat banyak sosok pocong yang melompat ke sana kemari dari atas sana, bahkan mereka berdua bisa melihat ada banyak sosok yang keluar dari tempatnya saat malam hari.
"Di sana tempatnya" ucap Ireng turun di sebuah tebing yang cukup tinggi, dimana ada sebuah gubuk di sana yang hanya di terangi lampu obor yang ada di luar gubuk itu. Obor yang jadi penanda tempat para sosok peliharaan pemilik gubuk itu untuk pulang.
"Sudarso!" panggil Arsana
"Namanya Sudarso?" tanya Liam
"Iya pangeran, dia dulu adalah pemimpin kampung cadas sebelum di kalahkan paduka Sagara dan di gantikan kakek dari Kenanga, Warsa" jawab Ireng
Kalia dan Gatra juga sudah sampai, mereka langsung berdiri di samping Liam dan Hamka, menjaga mereka dari para sosok yang mulai mendekat.
Krieeet.
Pintu kayu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok kakek tua yang sudah terlihat renta, janggut putihnya bahkan terlihat sangat panjang sampai ke perutnya, kulitnya yang keriput terlihat sangat jelas di remangnya cahaya obor yang terpasang di gubuk itu.
"Aku menunggu Sagara, tapi malah kalian yang datang dan siapa itu? Hanya anak kecil" ucapnya sombong
"Mereka adalah pengganti paduka Sagara, dan mereka saja sudah cukup untuk mengalahkan pasukan gaib milikmu!" jawab Arsana
"Cih... Mereka bahkan bisa aku kalahkan hanya dengan menutup mataku saja" ejek Sudarso
"Jangan bicara sembarangan Sudarso, kamu tidak tahu siapa mereka, bahkan mencoba kekuatan mereka saja belum" ucap Kalia
"Akan aku buat mereka sadar kalau yang mereka hadapi bukanlah orang sembarangan, aku penguasa tebing Mahoni!" jawab Sudarso
"Kita lihat, siapa yang akan mati duluan aki aki tua bau tanah" sinis Hamka
"Berani juga kamu, kamu keturunan orang yang sudah membuat Suro kehilangan ilmunya" sinis Sudarso
"Kamu bisa melihat sampai mana kekuatan kami pak tua, jangan banyak bicara, serang kami kalau bisa" ungkap Liam
"Hahaha.. sombong juga kamu, kita lihat siapa yang akan menangis nanti!" Bentak Sudarso memejamkan matanya.
Awan Hitam yang sejak lima hari ada di atas rumah Sagara tiba tiba saja bergerak, malam gelap itu terlihat semakin gelap karena di dalam awan itu juga terdapat banyak sosok jin taklukan Sudarso yang sudah ikut Sudarso sejak lama.
Liam dan Hamka cukup terkejut saat awan hitam itu semakin mendekat, mereka melihat para pasukan jin milik Sudarso, betapa banyak monyet monyet berbulu hitam legam dengan taring dan juga cakar kuku yang tajam menyeringai ke arah mereka seperti sudah siap untuk mencabik tubuh dan daging Liam juga Hamka.
"Bersiap Liam, ini tidak akan mudah" ucap Hamka