Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 SERANGAN DAN GENCATAN

Tapi keesokan harinya, semuanya berubah.

Maya turun untuk sarapan lebih siang dari biasanya. Bu Marta menyuguhkan kopi dan jus, tapi ada sesuatu dalam raut wajahnya yang tak ia sukai. Ketegangan di rahang, kekakuan di bahu.

"Di mana Bara?" tanya Maya.

"Di perpustakaan, Nyonya. Beliau sudah di sana sejak pukul enam pagi."

"Ada apa?"

Bu Marta ragu. Ia membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi.

"Lebih baik Nyonya lihat sendiri."

Maya menyisihkan kopinya dan pergi ke perpustakaan. Pintunya terbuka setengah. Ia mendorongnya perlahan lalu masuk.

Bara berdiri membelakanginya, memandang ke luar jendela. Di atas meja kerja, di permukaan kayu mahoni yang mengilap, tergeletak sebuah map terbuka penuh berkas, foto, dan dokumen.

"Bara," kata Maya. "Ada apa?"

Bara berbalik perlahan. Wajahnya sebuah topeng batu, tapi ada sesuatu di matanya yang belum pernah Maya lihat sebelumnya. Amarah. Amarah yang dingin, tertahan, yang seakan bergetar di udara sekelilingnya.

"Duduklah," katanya.

Maya menurut.

Bara mengambil map itu dan meletakkannya di hadapan Maya. Foto-fotonya mengerikan. Orang-orang bersenjata. Peti kemas. Bungkusan-bungkusan. Jumlah uang yang tak bisa ia bayangkan. Dan di latar belakang, di salah satu foto, sebuah wajah yang seketika Maya kenali.

Pamannya. Om Mahendra.

"Apa ini?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Paman Anda," kata Bara, dengan ketenangan yang lebih menakutkan daripada teriakan. "Dia bukan cuma mengkhianati ayah Anda. Dia terlibat perdagangan narkoba.

Bertahun-tahun dia memakai perusahaan-perusahaan ayah Anda untuk mencuci uang. Dan sekarang, setelah ayah Anda tersingkir, dia menguasai segalanya."

Maya merasa lantai terbuka di bawah kakinya.

"Tidak... tidak mungkin."

"Bisa dan memang begitu," kata Bara, menunjuk salah satu foto. "Ini aku, tiga bulan lalu, dalam sebuah operasi penyamaran. Aku sedang menyelidiki sebuah kelompok yang menyelundupkan barang dari pelabuhan. Dan tebak siapa yang muncul di rekaman. Paman Anda. Mahendra Adiwangsa, pria yang dulu memberi Anda cokelat Swiss, yang memanggil Anda 'Putri', yang duduk di meja makan Anda setiap hari Minggu. Pria itu seorang penjahat. Sama seperti aku. Tapi dia merasa lebih baik, karena namanya bersih."

Maya menyingkirkan foto-foto itu seolah benda itu membakar.

"Kenapa Anda menunjukkan semua ini pada saya?"

"Karena Anda perlu tahu apa yang Anda hadapi. Paman Anda tak akan berhenti. Dia sudah tahu kita menikah. Dia sudah tahu ayah Anda bebas. Dan dia akan berusaha menghancurkan kita. Kita semua."

Maya mengangkat pandang. Matanya bertemu dengan mata Bara. Tak ada cinta dalam tatapan itu, tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak bisa ia beri nama. Mungkin kesetiaan. Ketetapan hati. Janji.

"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanyanya.

Bara tersenyum. Senyum dingin, berbahaya, senyum serigala yang telah mencium bau darah.

"Yang paling kukuasai. Bertarung. Dan menang."

Maya memandang foto-foto itu, dokumen-dokumen itu, bukti pengkhianatan pamannya. Dan untuk pertama kalinya sejak hari Minggu terkutuk itu, ia tak merasa takut.

Ia merasa marah.

Dan kemarahan, pikirnya, jauh lebih berguna.

Hari-hari setelah pengungkapan Bara adalah ketenangan yang tegang, seperti kesunyian yang mendahului badai. Maya berjalan di kediaman itu dengan perasaan terus-menerus diawasi, bukan hanya oleh Bu Marta atau para pengawal yang ditempatkan Bara di setiap pintu masuk, melainkan oleh sesuatu yang lain.

Sebuah kehadiran tak kasatmata. Bayang-bayang pamannya, membentang dari suatu sudut kota, menganyam jaringnya.

Bara menjadi semakin tertutup. Ia pergi pagi-pagi, pulang larut, dan ketika di rumah nyaris tak berbicara. Waktu makan berlalu dalam sunyi. Papa, yang sempat menunjukkan sedikit kilasan kepribadian lamanya, kembali menarik diri.

Bahkan Mama, yang sempat membaik selama beberapa hari di bawah perawatan dokter pribadi, tampak turut menangkap ketegangan di udara.

Terjadi pada suatu Selasa, lewat pukul sebelas malam, ketika semuanya meletus.

Maya berada di kamarnya, membaca sebuah buku yang tak berhasil memusatkan perhatiannya, ketika ia mendengar sebuah suara. Bukan suara wajar kediaman itu, bukan derik kayu atau desau angin di pohon-pohon cemara. Itu sebuah bunyi keras, berbau logam, disusul umpatan tertahan.

Ia bangkit dari ranjang dan menjenguk ke pintu. Lorong itu gelap, tapi di ujung sana, di area tangga, ada cahaya berkerlip. Cahaya senter. Dan bayang-bayang. Bayang-bayang yang bukan milik para pengawal Bara.

"Bara?" bisiknya, tanpa mengharapkan jawaban.

Suara itu terdengar lagi. Lebih dekat. Sebuah pukulan, sebuah derak, embusan napas tersengal.

Maya mengunci pintu. Tangannya gemetar saat mencari ponsel. Tak ada sinyal. Tentu saja tak ada sinyal. Pamannya tidak bodoh. Ia telah memblokir semua saluran komunikasi.

Dari bawah, terdengar sebuah jeritan. Itu suara Bu Marta, disusul debam tumpul, bunyi sebuah tubuh membentur lantai.

Maya menekap ponsel di dada, seakan benda itu jimat. Pikirannya berpacu liar. Aku keluar? Bersembunyi? Berteriak?

Ia tak sempat memutuskan.

Pintu kamarnya bergetar dihantam sesuatu yang berat. Bahu, mungkin. Atau tendangan. Kayunya berderak tapi bertahan.

"Buka, keponakan sayang!" suara itu berat, asing, tapi nadanya tak salah lagi. "Salam dari pamanmu."

Maya mundur sampai ke jendela. Ia berada di lantai dua. Ia bisa melompat, mematahkan sesuatu, mungkin sebelah kaki, mungkin kepala. Itu bukan pilihan.

Pintu kembali bergetar. Kali ini engselnya sedikit longgar.

Lalu, semuanya berhenti.

Terdengar langkah kaki di lorong. Bukan langkah mengendap para penyusup. Itu langkah mantap, penuh keyakinan, gema sepatu pria yang berjalan tanpa tergesa. Langkah yang Maya kenali.

"Bara," bisiknya, dengan kerongkongan tercekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!