Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Rembulan turun dari kendaraan, menyeret kakinya yang terasa berat. Shift malam di rumah sakit benar-benar menguras seluruh energinya. Kantung mata tebal dan garis-garis lelah yang tercetak jelas di wajah cantiknya menjadi saksi betapa beratnya belasan jam yang baru saja ia lalui untuk berkejaran dengan nyawa para pasien. Namun, wanita itu tidak pernah mengeluh sedikitpun.
"Pak Bintang sudah berangkat ke kantor, Tin?" Tanya Bulan kepada Entin ketika tiba di ruang tengah.
"Sudah satu jam yang lalu, Dok," Entin menjawab.
"Mama, bajunya kok kena darah? Mama kenapa?" Tanya Talita, wajah ceria saat menyambut kedatangan sang mama tidak bertahan lama, begitu tatapannya tertuju pada baju putih yang Bulan gantung di lengan ada noda darah.
"Mama membatu pasien yang terluka sayang, jadi kena darah deh..." Bulan menyesal seharusnya menyembunyikan baju itu sebelum Talita melihat.
Melihat kegelisahan Bulan, Entin secepatnya ambil alih jas putih itu membawa ke belakang.
"Oh, kirain Mama berdarah," Talita tampak lebih tenang.
"Sekarang Lita mainan sama Mbak Entin dulu ya, nanti kita ngobrol lagi kalau Mama sudah selesai mandi," titah Bulan menjaga jarak, seperti biasa saat ia baru pulang dari rumah sakit untuk menjaga kesehatan Lita.
"Iya, Mah," Lita pun melanjutkan menggambar yang tertunda ditemani Entin.
Sementara Bulan hendak naik tangga, tapi baru selangkah seketika berhenti. Ketika tiba-tiba Sherly menghadang dengan tatapan horor.
"Keluar masuk seenaknya, loe pikir ini rumah kost!" Ketus Sherly tidak punya perasaan saat melempar kata sindiran.
"Jangan mulai Sherly!" Dengus Bulan, kali ini menatap Sherly tajam tidak merasa takut lagi. Selama beberapa hari di rumah ini Bulan selalu mengalah, tapi mulai hari ini ia tidak takut lagi.
Sherly pada akhirnya melengos tajam sambil berlalu.
Bulan geleng-geleng kepala memandangi Sherly hingga menghilang di balik pintu, kemudian melanjutkan perjalanan.
Begitu pintu kamar tertutup, Rembulan menyandarkan punggungnya di kursi sejenak. Setelah membasahi tenggorokan dengan segelas air hangat yang disiapkan oleh bibi, ia langsung melangkah menuju kamar mandi. Guyuran air dingin di bawah pancuran perlahan meluruhkan peluh dan aroma antiseptik khas rumah sakit yang menempel di kulitnya, meski tidak sepenuhnya mampu mengikis keletihan yang mengendap di dalam dada yang digoreskan oleh Ratih dan Sherly.
Selesai berpakaian rapi, Rembulan tidak lantas terburu-buru beristirahat. Kakinya melangkah menuju kamar Mentari.
Dia mendorong pintu kayu kamar utama pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara. Di atas ranjang besar, sosok wanita yang dulu sangat dibanggakannya karena paling genius di sekolah, tidak disangka kini berbaring rapuh.
Rembulan mendekati sisi ranjang, lalu duduk di kursi kayu. Ditatapnya wajah tenang Mentari yang sedang terlelap. Ada rasa nyeri yang menghantam dadanya. Kapan sahabatnya ini akan sembuh? Jika sudah begini, Bulan merasa takdir adalah tamparan paling keras baginya sebagai dokter.
"Bulan..." lirih Mentari, tidak Bulan sadari sahabatnya terbangun.
"Eh, maaf! Aku menganggu tidurmu ya?" Bulan merasa bersalah.
"Aku mah, setiap saat tidur terus Bulan... tidak merasa terganggu. Kamu tuh yang harus istirahat, kenapa kemari?" Mentari merasa merepotkan sahabatnya, saat sedang lelah seperti itu tapi masih juga menyempatkan diri untuk menjenguk dirinya.
"Aku hanya ingin memastikan, sahabatku pagi ini sudah lebih baik seperti doa aku setiap saat," ucap Rembulan meraih pergelangan tangan Mentari yang terasa dingin. Jemari panjangnya yang terbiasa memegang stetoskop kini dengan lembut memeriksa denyut nadi Mentari, terasa stabil kemudian izin keluar kamar.
*********
Mbak, pasien atas nama Megawati di rawat di mana?!" Tanya Bintang terdengar tidak sabar, seolah penuh desakan dari hatinya. Ia kemudian menumpuk kedua telapak tangannya di atas meja resepsionis. Menatap petugas di balik meja, menuntut jawaban cepat tanpa memedulikan tatapan beberapa pengunjung di sekitarnya.
"Saya lihat dulu ya, Pak," jawab petugas, jarinya langsung menari cepat di atas keyboard.
"Nama lengkapnya Megawati Pertiwi?" Petugas menatap Bintang.
"Betul."
"Pasien atas nama Nyonya Megawati Pertiwi saat ini ada di Ruang Delima Lantai 3, Pak," terang petugas itu seraya menunjuk arah lift.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Bintang langsung berjalan dengan langkah lebar masuk ke dalam lift, menekan nomor tiga. Bukan hal yang sulit baginya mencari ruang tersebut karena belum lama ini Mentari pun menginap di ruang tersebut.
Bintang berdiri terpaku di ambang pintu. Membelalak menatap sosok wanita di atas ranjang pasien sungguh tidak percaya. Ibu kandungnya yang selama ini selalu menjadi tiang terkuat dalam hidupnya kini terlihat terluka parah.
Kepala sang ibu terbalut kain perban putih yang tebal, menyembunyikan luka di balik helai rambutnya. Wajah yang biasanya hangat dan penuh senyum itu kini sedang terpejam.
Langkah Bintang terasa berat, seolah kakinya terpatri di lantai. Tangannya gemetar saat perlahan-lahan mendekati ranjang, mencoba menyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia lihat hanyalah mimpi buruk.
"Mama..." gumamnya lirih, suaranya parau dan tercekat di tenggorokan, runtuh bersama tetes air mata yang akhirnya mengalir tanpa bisa ia tahan lagi. Bintang bersimpuh di pinggir ranjang, membenamkan wajahnya di lengan sang mama. Tangis pria itu pun pecah dengan tubuh bergetar.
Ujian berat apa lagi yang Tuhan berikan kepadanya? Tidak cukupkah diberikan pada istrinya, nyatanya sang mama pun mengalami hal semacam ini.
Bintang mengangkat kepalanya lambat saat sentuhan lembut terasa di kepalanya.
"Mama..." Bintang mengusap air matanya ketika menatap Mega sudah bangun. "Mama bagaimana keadaan Mama?" Tanyanya panik dan bingung entah apa yang akan ia lakukan.
"Tidak usah panik, Mama tidak apa-apa," jawab Mega tenang.
"Benarkah?" Wajah pucat Bintang sedikit cerah saat mendengar kata-kata sang Mama yang tidak mengeluh sedikitpun, tapi itu tidak lama, begitu tatapannya tertuju ke arah dahi yang diperban, dada Bintang kembali sesak.
"Ini hanya luka luar saja, jangan khawatir," ulang Megawati tidak ingin anaknya cemas begitu.
"Bagaimana Mama bisa kecelakaan?" Bintang meneliti luka-luka memar di beberapa bagian tubuh ibunya.
"Mama dari bandara naik taksi tapi nabrak trotoar," papar Megawati, merasa ngeri ingat saat kejadian.
"Mama datang kemari kenapa tidak bilang-bilang, kalau telepon dulu aku pasti jemput." sesal Bintang.
"Jemput gundulmu! Sudah berapa kali kamu janji mau menjemput? Mama ingin menjenguk menantuku dan melihat cucu tahu tidak!" Megawati justru ngomel-ngomel. Selama setahun saat mendengar Mentari lebih parah ia ingin ke Jakarta tapi Bintang selalu melarang dengan alasan ingin menjemput tapi tidak pernah muncul.
"Maaf Mah, sebenarnya aku ingin menjemput Mama, tapi..." Bintang tidak melanjutkan karena banyak sekali alasannya. Selain tidak tega meninggalkan Mentari juga tidak ingin mama tahu pernikahannya dengan Rembulan.
"Lalu siapa yang menolong Mama ke rumah sakit saat kecelakaan terjadi?" Bintang mengalihkan pertanyaan.
"Ada wanita baik yang menolong Mama, terus bagaimana keadaan menantuku?" Megawati tidak mau membahas siapa penolongnya untuk saat ini, toh jika sembuh nanti ia akan mencari sampai ketemu. Yang terpenting ia tahu kondisi Mentari, karena itu tujuannya jauh-jauh datang dari Yogyakarta.
"Semakin parah Mah," Bintang menunduk dalam.
"Temui dokter Alisha, Mama ingin pulang sekarang," jawab Mega sudah tidak sabar.
"Tidak untuk saat ini Mah," Bintang kaget, mana mungkin ia mengizinkan sang mama pulang dalam kondisi seperti itu.
"Mama tidak apa-apa," jawab Mega tidak mau dibantah, tanpa Bintang duga tangan Mega menekan tombol darurat di atas kepalanya memanggil dokter.
Bintang belum sempat bicara, dua orang berpakaian putih masuk dengan langkah tergesa-gesa. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong buka infus saya Sus, saya mau pulang."
Bintang kebingungan, ia tahu watak mama yang keras kepala itu tidak mungkin bisa dicegah lagi. Di samping kondisinya yang masih mengkhawatirkan, bagaimana jika tiba di rumah nanti tahu jika ia menikah lagi?
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌