Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Aku Pembawa Sial, Tapi Waktu Tunduk Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pintu besi itu terbuka perlahan diiringi suara engsel yang berderit pelan.

Seorang pria berbadan besar dengan seragam taktis hitam melongokkan kepalanya ke arah ruang tangga yang remang remang.

"Siapa di sana? Jangan main main denganku ya," geram pria itu sambil mengacungkan laras senapannya ke segala arah.

Bayu menahan napasnya di sudut bayangan pintu sambil menghitung jarak secara presisi.

Sret.

Pria itu melangkah maju melewati ambang pintu dan meninggalkan rekannya yang masih berada di dalam lorong.

"Ini kesempatanku," batin Bayu dengan tatapan tajam.

Wush.

Bayu melesat dari tempat persembunyiannya tanpa menggunakan kekuatan manipulasi waktu sedikit pun.

Tangan kirinya langsung mencengkeram laras senapan serbu itu dan mendorongnya ke atas menjauhi tubuhnya.

"Hei! Apa apaan ini!" teriak penjaga itu terkejut bukan main.

Bugh.

Tangan kanan Bayu melayang cepat menghantam rahang bawah pria itu dengan sekuat tenaga.

Pukulan telak itu membuat mata sang penjaga langsung berputar ke atas sebelum tubuh besarnya ambruk.

Bruk.

Bayu menahan tubuh pria itu agar tidak menimbulkan suara benturan keras saat jatuh ke lantai beton.

"Oi Jono, ada apa di luar sana? Kau menangkap tikusnya?" panggil suara dari dalam lorong.

Suara langkah kaki kedua terdengar semakin mendekat ke arah pintu besi yang masih setengah terbuka.

Bayu segera menarik kerah baju penjaga yang pingsan itu dan menyembunyikannya di balik pintu.

Ia kemudian memposisikan dirinya tepat di samping celah pintu yang terbuka.

Seorang pria kurus dengan rambut cepak melangkah keluar sambil menenteng senapan yang sama.

"Jono? Ke mana kau anak gempal, jangan bercanda di saat tugas," rutuk pria kurus itu kebingungan.

Tap.

Bayu menepuk pundak pria itu dari belakang dengan sangat santai.

Pria kurus itu menoleh dengan cepat namun wajahnya langsung disambut oleh hantaman lutut Bayu.

Krak.

Terdengar suara tulang rawan hidung yang patah akibat benturan keras tersebut.

"Ugh," erang pria itu tertahan sebelum akhirnya pingsan menyusul temannya.

Bayu menyeret kedua tubuh penjaga elit itu ke sudut paling gelap di ruang tangga darurat.

"Dua penjaga pertama sudah berhasil dibereskan tanpa memicu alarm," lapor Bayu berbisik ke alat komunikasinya.

Terdengar suara ketikan papan tik yang sangat cepat dari seberang saluran.

"Kerja bagus Bayu, aku bisa melihat dari kamera keamanan lorong bahwa jalanmu sekarang sudah bersih," balas Anya dengan nada lega.

"Jangan senang dulu Nona Kacamata, dia baru saja mengalahkan dua kroco paling bawah," sahut Clara menyela. "Masih ada puluhan tentara bayaran elit yang sedang bersantai di dalam barak lantai empat puluh itu."

Bayu mengambil salah satu kartu akses berwarna perak dari saku celana penjaga yang pingsan.

Ia juga mengambil sebuah pistol kecil yang terselip di pinggang penjaga itu sebagai langkah jaga jaga.

"Lalu apa rencananya sekarang? Aku tidak mungkin melawan puluhan orang sekaligus dengan sisa energiku yang tipis ini," tanya Bayu meminta saran.

"Kau harus menyelinap melewati ruang santai mereka dan mencapai lift khusus di ujung ruangan," instruksi Anya sambil melihat cetak biru gedung.

"Lift khusus itu adalah satu satunya akses langsung menuju ruang kerja direktur utama di lantai empat puluh lima." Bayu mengangguk paham dan perlahan melangkah memasuki lorong lantai empat puluh yang benderang.

Suasana di dalam area barak itu ternyata jauh lebih ramai dari yang Bayu bayangkan sebelumnya.

Terdengar suara tawa keras, dentingan botol minuman keras, dan obrolan kasar dari berbagai sudut ruangan.

Bayu merunduk di balik sebuah mesin penjual minuman otomatis yang berukuran cukup besar.

Ia mengintip dari balik celah mesin dan melihat puluhan pria berotot sedang bermain kartu dan minum minum di sofa.

"Mereka terlihat sangat santai untuk ukuran sindikat kriminal yang sedang diburu," bisik Bayu merasa heran.

"Itu karena mereka merasa aman berada di dalam benteng Kobra Tower ini cowok udik," jawab Clara dari earpiece.

"Tidak ada orang waras yang berani menyerang markas utama Kobra Mandiri sendirian, kecuali kau tentunya." Bayu mendengus pelan mendengar sindiran dari informan berambut merah itu.

"Bagaimana jalur amannya Anya? Aku tidak bisa berlama lama bersembunyi di sini," desak Bayu mulai merasa was was.

"Tunggu sebentar Bayu, aku sedang meretas pola pergerakan patroli internal mereka," jawab Anya dengan nada serius.

Beberapa detik berlalu dengan sangat lambat dan menegangkan bagi Bayu.

"Oke dengarkan baik baik, merayaplah menyusuri dinding sebelah kiri yang tertutup oleh rak rak senjata tinggi itu," arah Anya kemudian.

"Jika kau bergerak perlahan dan tidak menimbulkan suara, mereka tidak akan menyadari kehadiran petugas kebersihan di sana." Bayu menarik napas dalam dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang.

Srek srek.

Ia mulai merayap dengan posisi setengah jongkok menyusuri dinding kiri sesuai arahan Anya.

Bau asap rokok dan alkohol tercium sangat menyengat memenuhi udara di ruangan besar tersebut.

"Banting kartunya Bro, aku pasti menang malam ini," teriak seorang pria botak yang duduk tidak jauh dari rak senjata.

Bayu membeku di tempat saat pria botak itu tertawa keras sambil memukul meja kacanya.

Untungnya perhatian pria itu sepenuhnya tertuju pada permainan kartu di depannya.

Bayu melanjutkan langkahnya dengan sangat hati hati hingga mencapai pertengahan rak senjata.

Hanya tinggal sepuluh meter lagi sebelum ia bisa mencapai pintu lift khusus yang mengkilap di ujung ruangan.

Ting.

Suara dentingan pelan terdengar dari arah lift khusus tersebut yang membuat Bayu langsung waspada.

"Gawat, liftnya turun dan akan segera terbuka," panik Bayu menyadari situasi di luar kendalinya.

"Sembunyi Bayu! Cepat cari tempat tertutup," teriak Anya dari saluran komunikasi.

Bayu segera menyelipkan tubuhnya ke dalam celah sempit di antara dua lemari senjata besi yang berdekatan.

Pintu lift terbuka dan keluarlah sosok pria tua dengan setelan jas rapi namun memiliki wajah yang sangat bengis.

"Itu bos besarnya," batin Bayu mengenali suara pria itu dari rekaman penyadapan Clara sebelumnya.

Sang bos besar berjalan keluar diiringi oleh empat orang pengawal pribadi yang mengenakan kacamata hitam.

"Matikan musik bodoh itu sekarang juga!" bentak bos besar itu dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan.

Seketika itu juga suasana di dalam barak langsung menjadi sunyi senyap seperti kuburan.

Puluhan tentara bayaran itu langsung berdiri tegak dan menundukkan kepala mereka dengan sikap hormat.

"Sang Penghapus Jejak melaporkan bahwa pemuda udik pemilik relik waktu itu akan menyerang kita dalam waktu dekat," ucap sang bos sambil berjalan mondar mandir.

Bayu menelan ludah menyadari bahwa kedatangannya ternyata sudah diprediksi oleh pihak musuh.

"Aku ingin kalian semua melipatgandakan penjagaan mulai dari lantai bawah tanah hingga atap gedung," perintah bos besar itu dengan tegas.

"Siapa pun yang berhasil membawa kepala pemuda itu ke ruanganku, akan kuberikan hadiah sepuluh miliar rupiah." Suara gumaman antusias langsung terdengar dari puluhan mulut tentara bayaran yang haus akan uang tersebut.

"Clara, sepertinya rencanamu untuk menyerang lebih dulu sudah terbaca oleh mereka," bisik Bayu menyalahkan.

"Itu bukan salahku, Sang Penghapus Jejak memang terkenal sebagai ahli strategi yang sulit ditebak," bela Clara tidak mau disalahkan.

Bos besar itu kemudian berbalik dan kembali berjalan masuk ke dalam lift khusus bersama para pengawalnya.

1
lizzy Bae
Bagus banget ceritanya lanjutkan!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!