Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Rimba menghentikan motor sport hitam milik Dayang di area parkiran pelelangan ikan pelabuhan.
Pemandangan di hadapannya benar-benar riuh: ratusan penjual dan tengkulak lalu-lalang di antara tumpukan es batu, keranjang-keranjang kayu berisi hasil laut segar, dan lantai semen yang basah becek.
Di tengah hiruk-pikuk bau amis dan deru angin laut yang menyengat, otak bisnis sang CEO Suryo Group justru berputar cepat.
Melihat melimpahnya pasokan ikan segar berkualitas tinggi langsung dari tangan nelayan lokal dengan harga miring, Rimba menyadari satu hal.
Jika, pabrik pengolahan hasil laut miliknya bisa memotong rantai pasok perantara dan menjalin kerja sama langsung dengan jaringan pedagang lokal tangguh seperti Dayang, biaya produksi perusahaan bisa ditekan drastis dan ancaman kebangkrutan pabriknya bisa diatasi.
"Mas Bima, ayo! Kok malah melamun?" tegur Dayang yang sudah turun dari jok belakang, menepuk pelan bahu Rimba.
Rimba tersentak dari analisis bisnisnya, lalu menyunggingkan senyum tipis.
"O-oh, iya, Mbak Dayang. Cuma takjub saja, ramai banget pasar ikannya."
Dayang menuntun Rimba menerobos kerumunan kuli angkut dan pedagang menuju sebuah bedak besar di sudut pelabuhan.
Di sana, seorang pria bertubuh gempal dengan kemeja pantai terbuka dan kumis tebal sedang sibuk mencatat timbangan ikan.
"Bang Jaka!" panggil Dayang nyaring.
Bang Jaka menoleh. Matanya mendadak membelalak saat melihat Dayang datang tidak sendirian, melainkan didampingi seorang pria tegap berotot dengan kaos lusuh yang wajahnya tampak asing.
"Waduh, waduh! Siapa ini, Nduk?" goda Bang Jaka seraya terkekeh lebar, menyapu pandangannya dari Dayang ke Rimba.
"Calon suamimu, toh?"
"Hush! Ngawur saja kalau bicara, Bang!" tangkas Dayang cepat, pipinya sedikit menyiratkan rona tipis sebelum ia kembali memasang raut tegasnya.
"Ini Mas Bima, Bang. Kasihan dia, perantau kena musibah. Sekarang bantu-bantu saya."
"Oalah, pantesan perawakannya gagah begini," gumam Bang Jaka manggut-manggut, lalu menjabat tangan Rimba singkat.
Dayang langsung menyilangkan tangan di dada, beralih ke urusan utamanya.
"Oh iya, ada ikan apa saja hari ini, Bang? Lengkap semua, kan? Saya butuh tenggiri, kakap merah, sama udang vaname super buat besok subuh."
"Lengkap semua, Nduk. Tapi kalau mau yang paling segar baru naik dari jaring, ikut Abang ke dermaga belakang yuk. Kapal Nelayan Perkasa baru saja sandar," jawab Bang Jaka seraya menunjuk ke arah dermaga kayu dengan dagunya.
Dayang menoleh ke arah Rimba. "Ayo, Mas Bima. Kita pilih langsung di kapalnya."
Mereka bertiga melangkah menuju dermaga kayu.
Sebuah kapal nelayan berukuran sedang baru saja tertambat, memuat ratusan kilogram hasil laut segar yang masih berkilau terkena terik matahari siang.
Matanya yang jeli memilah kakap merah berukuran besar, tenggiri segar, dan udang vaname kualitas super.
Melihat tumpukan ikan segar yang berlimpah, perut Dayang tiba-tiba berbunyi pelan. Ia terkekeh tipis, lalu menoleh ke arah Bang Jaka.
"Bang Jaka! Nanti selesai ditimbang dan dikemas, kita bakar ikan ya di bedak Abang! Saya yang racik bumbunya," seru Dayang antusias.
"Siap, Nduk! Pokoknya urusan bakar-membakar serahkan sama Abang!" tawa Bang Jaka renyah.
Setelah semua pesanan terkumpul dalam beberapa keranjang kayu tebal berisikan pecahan es batu, air amis bercampur es meleleh membasahi bagian luar keranjang. Dayang menunjuk keranjang-keranjang berat itu.
"Mas Bima, tolong bawa keranjang-keranjang ini ke bedak Bang Jaka ya, biar sekalian ditotal semuanya," minta Dayang.
"Siap, Mbak," sahut Rimba mantap.
Rimba membungkuk, meraih pinggiran keranjang kayu pertama yang bobotnya tak kurang dari empat puluh kilogram.
Namun, baru saja ia mengangkatnya, guyuran air es bercampur lendir ikan menetes deras dari celah kayu, membasahi bagian depan kemeja pudar yang dikenakannya hingga basah kuyup dan menempel di kulit.
Merasa risih dan tidak nyaman dengan kain basah yang dingin serta amis, tanpa berpikir panjang Rimba melepas kemeja pudar tersebut.
Ia melemparkannya ke atas pinggiran dermaga, menyisakan tubuh bagian atasnya yang polos tanpa helai kain.
Seketika, pemandangan di dermaga itu mendadak hening.
Di bawah terik matahari siang pelabuhan, kulit Rimba yang putih bersih dan terawat—kontras dengan kulit para kuli lokal yang gelap terbakar matahari—terpapar jelas.
Tak hanya itu, dada bidangnya yang tegap, bahu kokoh, serta deretan otot perut sixpack yang tercetak sempurna hasil latihan rutin di gym mewah kini terpampang tanpa penghalang.
Dayang yang berdiri tak jauh di depannya membeku seketika.
Matanya membelalak menatap lekat tubuh tegap pria yang dikiranya hanya perantau miskin yang lemah.
Tanpa sadar, Dayang menelan salivanya pelan, merasakan tenggorokannya mendadak kering dan jantungnya berdesir hebat melihat proporsi tubuh Rimba yang begitu sempurna.
Bang Jaka yang menyadari arah pandangan Dayang langsung menyenggol lengan gadis itu dengan sikutnya seraya terkekeh goda.
"Waduh, Waduh! Nduk Dayang! Matanya biasa saja, ndak usah sampai melotot begitu!" ledek Bang Jaka tertawa ngakak.
"Awas air liurnya menetes! Pantesan kamu betah menampung Mas Bima di rumah, ternyata bentukannya kayak model majalah begini!"
Pipi Dayang seketika merona merah padam. Ia dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain, berpura-pura batuk kecil demi menutupi rasa gugupnya.
"A-apaan sih, Bang Jaka! Ngawur banget kalau bicara!" sahut Dayang ketus dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha keras menguasai diri di hadapan senyum tipis Rimba yang diam-diam menyunggingkan kemenangan.
Dayang menyodorkan segelas air putih dingin ke arah Rimba yang baru saja selesai memindahkan keranjang terakhir ke dekat timbangan.
"Nih, Mas. Minum dulu," ucap Dayang singkat, membuang muka sedikit demi menutupi rasa canggung yang masih tersisa di wajahnya.
Rimba menerima gelas itu dengan senyum tipis, menyapu peluh di dahinya sebelum meneguk air dingin tersebut sampai tandas.
Otot-otot lengannya yang tegap kembali menegang saat tangan kirinya memegang gelas, membuat Bang Jaka lagi-lagi menyenggol bahu Dayang seraya terkekeh geli.
Bang Jaka lalu kembali fokus pada catatan kayu dan kalkulator kecil di genggamannya.
Tangannya cekatan menghitung bobot kakap merah, tenggiri, dan udang vaname pilihan Dayang.
"Nduk, ini semuanya total tiga juta rupiah," ujar Bang Jaka nyaring.
"Khusus ikan yang mau dibakar ini, Abang kasih gratis! Bonus buat merayakan kuli barumu yang gagah ini."
Dayang merogoh dompet kain dari tas pinggangnya dan menyerahkan beberapa lembar uang merah kepada Bang Jaka.
"Matur nuwun ya, Bang. Mumpung ikannya masih segar banget, ayo sekarang kita bakar ikannya!"
Di sudut bedak Bang Jaka, panggangan besi berukuran besar sudah disiapkan dengan bara tempurung kelapa yang membara merah.
Dayang dengan mahir meracik bumbu olesan sederhana—perpaduan kecap manis, margarin, perasan jeruk nipis, dan tumbukan cabai rawit segar.
Rimba memperhatikan tiap gerakan jemari Dayang dengan lekat.
Gadis yang kemarin begitu garang melempar koper uangnya ke lumpur kini tampak begitu cekatan merawat dan menyiapkan makanan di tengah kepulan asap aroma ikan bakar yang gurih dan menggugah selera.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂