Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Suara dentuman jantung Sena bergemuruh hebat di dalam dadanya. Di balik telapak tangannya yang gemetaran menutup mata, kegelapan malam terasa makin pekat dan mencekam. Noda darah segar yang menciprat di kaca depan mobil Porsche mewahnya seolah menari-nari dalam ingatan ketakutannya.
KLIK!
Tiba-tiba, suara mekanisme pengunci pintu mobilnya terbuka dari luar secara paksa! Sena yang masih diliputi kepanikan luar biasa belum sempat bereaksi atau menekan tombol pengunci kembali. Sebelum jemarinya yang gemetar sempat bergerak, pintu pengemudi ditarik kasar hingga terbuka lebar.
BAMM!
Sebuah cengkeraman tangan yang begitu kuat dan dingin langsung mendarat tepat di lehernya!
"Ughh!"
Sena terperanjat, matanya membelalak lebar secara refleks. Sebuah telapak tangan besar berbalut sarung tangan kulit hitam tebal mencekik leher jenjangnya dengan tekanan yang teramat kuat. Cengkeraman itu seketika mengunci jalur pernapasan Sena, mengangkat sedikit tubuhnya hingga menyender pasrah pada sandaran kursi kemudi.
Sena mencengkeram lengan kekar pria asing itu dengan kedua tangannya, mencoba meminta udara. Tenggorokannya serasa dijepit oleh cengkeraman besi. Udara di paru-parunya habis dengan cepat, dadanya naik turun dengan sangat menyiksa, sementara penglihatannya perlahan mulai memburuk dan menyempit.
A-apa... apa mati gue dipercepat?! jerit Sena dalam hati dengan rasa frustrasi dan ketakutan yang menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Gue kira gue punya waktu tiga puluh hari! Kenapa takdir gue malah tragis banget mati di dalam mobil sendirian begini?!
Di tengah perjuangannya menghirup oksigen yang makin menipis, Sena memaksakan matanya yang berkaca-kaca untuk menatap sosok di hadapannya.
Pria itu mengenakan hoodie serba hitam berukuran besar dengan kupluk yang menutupi sebagian besar kepalanya. Wajah bawahnya tertutup rapat oleh masker hitam tebal, hanya menyisakan sepasang mata di balik bayangan kegelapan malam. Namun, iris mata sehitam malam yang begitu tajam, dingin, dan tanpa ampun itu... Sena mengenalnya. Sangat mengenalnya.
Itu adalah mata milik Lucian Voss. Iris mata seorang eksekutor tanpa belas kasihan.
Pandangan Sena makin mengabur, titik-titik hitam mulai bermunculan di depan matanya. Kesadarannya ditarik paksa menuju kegelapan yang dingin. Tepat sebelum jiwanya benar-benar melayang dan pandangannya gulita sepenuhnya, bibir Sena yang pucat bergerak pelan. Lewat sisa-sisa napas terakhirnya yang teramat tipis, Sena membisikkan sebuah nama khusus sebuahjulukan rahasia yang teramat berbahaya.
"...V-Vex... Noir..." bisik Sena dengan suara yang hampir tak terdengar, teramat halus bagaikan hembusan angin malam.
Seketika setelah kata itu keluar dari bibirnya, Sena kehilangan kesadaran sepenuhnya. Tubuhnya menjadi lemas lunglai, matanya terpejam rapat, dan tangannya yang tadinya mencengkeram lengan pria itu terkulai jatuh tak berdaya ke samping tubuhnya.
Namun, bisikan yang teramat halus itu bekerja bagaikan dentuman meriam di telinga sang pria.
Cengkeraman kuat pada leher Sena seketika terhenti. Pria ber-hoodie hitam itu mematung di tempatnya. Di balik bayangan kupluk dan maskernya, iris mata sehitam malam itu sedikit membesar sebuah reaksi langka dari sosok yang biasanya tidak memiliki emosi sama sekali.
Vex Noir.
Itu bukan sekadar nama sembarangan. Itu adalah julukan pembunuh legendaris, identitas rahasia yang paling dijaganya dengan ketat saat sedang memburu mangsanya di dalam kegelapan malam. Di seluruh dunia bawah dan lingkaran kejahatan terorganisasi, hanya ada segelintir elite yang pernah mendengar julukan itu dan tidak ada satu pun dari mereka yang masih hidup di kampus tempatnya menuntut ilmu!
Bagaimana bisa seorang gadis muda dari keluarga kaya seorang Estella Aurora yang kekanak-kanakan dan mengesalkan mengetahui nama rahasia yang bahkan tidak tercatat di dalam basis data kepolisian mana pun?
Lucian sang Vex Noir menundukkan kepalanya sedikit, menatap tubuh ganjil Estella yang kini terbaring pingsan di kursi pengemudi. Jemari berbalut sarung tangan kulitnya perlahan terlepas dari leher gadis itu. Tatapan matanya yang tadi penuh niat membunuh kini berubah menjadi tatapan selidik yang sangat tajam, berbahaya, dan penuh misteri.
Niat untuk melenyapkan gadis itu dalam hitungan detik seketika menguap, berganti dengan rasa curiga dan ketertarikan yang jauh lebih dalam.