Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Mobil berhenti di halaman rumah saat sore mulai menjelang. Elena turun dengan ringan, namun Sebastian memanggilnya. "Sebentar. Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu."
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Elena langsung mengerutkan kening. "Jangan bilang perhiasan lagi? Lemari perhiasanku sudah hampir penuh."
Sebastian tersenyum tipis. "Kalau begitu, kita beli lemari baru."
Mata Elena langsung berbinar. "Benarkah?"
"Benar."
Ia membuka kotak itu — bukan perhiasan, melainkan sebuah kunci. "Kunci?"
"Untukmu." Sebastian menunjuk ke arah garasi.
Elena berjalan mendekat, dan saat pintu garasi terbuka, matanya membelalak tak percaya. Di sana, terparkir sebuah sedan mewah berwarna putih bersih, berkilau terkena cahaya matahari sore.
"Ini... untukku?"
"Ya."
Tanpa berpikir panjang, Elena langsung memeluknya erat. "Terima kasih, Sebastian! Terima kasih banyak!"
Sebastian membeku sesaat. Ini pertama kalinya Elena memeluknya atas kemauannya sendiri. Perlahan, tangannya terangkat dan membalas pelukan itu, memeluk pinggang istrinya dengan lembut. "Jadi kau bahagia?"
"Sangat bahagia!"
"Karena aku, atau karena mobilnya?"
Elena melepaskan pelukannya sambil tersenyum nakal. "Karena mobilnya."
Sebastian menghela napas pura-pura kecewa. "Seharusnya aku sudah menduga."
Namun tawa mereka terhenti saat mata Elena menangkap sesuatu di atas meja kecil di sudut garasi, sebuah amplop hitam tertulis dengan rapi: ELENA ARVIENNE.
Senyumnya perlahan memudar. "Ini apa?"
Sebastian ikut melihat, dan raut wajahnya seketika berubah tegang. Ia berjalan mendekat dan mengambil amplop itu. "Jangan dibuka."
"Tapi itu namaku."
"Aku yang akan membacanya."
Sebastian membuka amplop itu dengan cepat. Isinya hanya satu lembar foto lama Elena, diambil bertahun-tahun yang lalu, saat ia masih remaja. Elena mengerutkan kening. "Aku tidak ingat kapan foto ini diambil."
Sebastian membalik foto itu. Ada tulisan tangan di bagian belakang, tinta hitam yang sudah mulai memudar:
Jika kau ingin tahu mengapa pernikahan ini harus bertahan selama satu tahun, tanyakan kepada Sebastian tentang malam ketika ayahmu menandatangani perjanjian itu.
Elena membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. "Selama satu tahun?" Matanya perlahan beralih ke wajah Sebastian. "Apa maksudnya itu?"
Sebastian diam. Ia tahu rahasia itu tak bisa lagi ditutup rapat.
"Sebastian..." suaranya bergetar. "Jawab aku. Apa maksud tulisan ini?"
Sebastian menarik napas panjang, menatapnya dengan tatapan yang penuh kesedihan namun juga keteguhan. "Karena ada bagian dari perjanjian itu yang belum pernah kuceritakan kepadamu. Pernikahan kita..." ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan pelan namun jelas, "...memang memiliki batas waktu."
Elena menatapnya tanpa berkedip. "Batas waktu?"
"Satu tahun."
Dunia Elena seakan berhenti berputar. Satu tahun. Sejak awal, pernikahan ini memang sudah ditentukan waktunya. Dan ia baru mengetahuinya sekarang.
Elena terpaku di tempatnya, matanya tak lepas dari wajah suaminya. "Satu tahun?" ulangnya pelan, hampir tak terdengar.
Sebastian mengangguk perlahan. "Ya."
Elena tertawa kecil, bukan karena lucu, melainkan karena pikirannya sedang berusaha keras menyusun kembali seluruh pemahamannya tentang pernikahan ini. "Jadi..." ia mengangkat satu jari, "kita menikah, tinggal bersama... dan setelah satu tahun ini berlalu, semuanya bisa berakhir begitu saja?"
Sebastian diam. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Elena menatapnya lama, lalu bertanya dengan suara yang bergetar, "Kalau begitu, kenapa kau tidak memberitahuku sebelum aku berkata setuju?"
"Aku bermaksud mengatakannya," jawab Sebastian lembut namun tegas. "Tapi ada alasan aku menundanya."
"Alasan apa?"
Sebastian melangkah mendekat, menatap matanya lekat-lekat. "Karena aku tidak ingin kau menikahiku hanya karena merasa terikat oleh kertas bertinta. Aku ingin saat kau memilih menjadi istriku, kau melakukannya atas keinginanmu sendiri."
Elena hampir tertawa getir. Keinginanku sendiri? Tentu saja ia memilih menikah karena Sebastian kaya raya. Itu alasan utamanya. Namun anehnya, sekarang kata-kata itu tak lagi mudah terucap begitu saja.
Sesuatu telah berubah. Dulu, yang ia bayangkan hanyalah rumah megah, pakaian indah, hidup tanpa kekhawatiran. Sekarang? Ia justru memikirkan pria di hadapannya. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Kenapa ia begitu baik? Dan yang paling mengganggu, kenapa bayangan perpisahan satu tahun ke depan membuat hatinya terasa sesak?
"Kalau begitu..." Elena menarik napas pelan, "setelah satu tahun berlalu... apakah kau akan menceraikanku?"
Tatapan Sebastian berubah tegas seketika. "Tidak."
Elena tertegun. "Tidak?"
"Aku tak pernah sekalipun menginginkan perpisahan itu."
"Tapi perjanjiannya?"
"Itu hanya syarat yang ditulis di atas kertas oleh keluarga kita. Bukan kehendakku."
"Dan kalau syarat itu sudah terpenuhi?"
"Aku tetap tidak akan melepaskanmu."
Elena menatapnya tak percaya. "Kenapa?"
Sebastian melangkah lebih dekat, suaranya rendah namun penuh keyakinan. "Karena aku menikahimu bukan untuk satu tahun. Aku menikahimu karena aku ingin kau menjadi istriku selamanya."
Jantung Elena berdegup kencang tanpa alasan. Ia buru-buru memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai muncul. "Jangan tiba-tiba berkata begitu... jantungku bisa berhenti."
Sebastian tersenyum tipis. "Berarti kau gugup?"
"Tidak!"
"Kalau begitu kenapa wajahmu memerah?"
Elena menatapnya sekilas, lalu bergumam, "Karena kau terlalu tampan."
Baru setelah kata-kata itu terucap, ia menyadari apa yang baru saja dikatakannya. Wajahnya semakin panas. "Aku... aku ke kamar dulu."
Ia berbalik hendak pergi, namun tangan Sebastian menahan pergelangan tangannya dengan lembut. "Elena."
"Apa?"
"Jangan takut. Aku di sini."
Kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat, seolah ada pelukan yang tak terlihat.
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘