Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Isabella

Di tempat yang berbeda, jauh sebelum mobil yang membawa Rozen dan Aurora tiba, sebuah mobil hitam sudah lebih dulu berhenti di depan hotel yang membawa gelar bintang lima ternama.

La'Duna Hotel sudah biasa menjadi lokasi pertemuan para pebisnis. Sebuah hotel bintang lima yang berdiri di pusat kota dan menjadi salah satu properti paling bergengsi milik keluarga Salvadore. Bangunannya menjulang tinggi dengan arsitektur klasik-modern. Fasadnya didominasi batu marmer berwarna pucat dengan deretan jendela kaca tinggi yang memantulkan cahaya kota. Di depan pintu utama terbentang karpet merah sementara beberapa mobil mewah silih berganti berhenti di bawah kanopi besar.

Tidak jauh dari pintu utama, seorang pria keluar dari dalam mobil. Di tangannya membawa sebuah amplop untuk diserahkan kepada seseorang yang sudah menunggunya sejak tadi.

"Ini informasi terbaru."

Sosok tidak dikenal itu mengambilnya, hanya menerima tanpa berniat membuka.

"Dia sudah kembali?"

"Belum terlihat secara langsung. Tapi seseorang dari pihak Salvadore mulai mencarinya."

Setelah mendengar pengakuan dari rekannya, sosok tanpa nama mulai membuka amplop di tangannya. Hanya ada sebuah foto yang keluar dari dalam. Ekspresi pada sosok misterius itu tidak lagi sama setelah potret Aurora tergambar di sana.

Sosok Aurora yang sedang berdiri di samping Rozen, mengenakan gaun biru langit. Pandangan matanya tidak terlepas dari foto tersebut. Menatap cukup lama sebelum bibirnya melengkung tipis.

"Aurora benar-benar menikahinya."

...***...

Dalam perjalanan menuju lokasi acara, Aurora duduk diam di samping Rozen dengan sesekali melihat keluar jendela. Bibirnya mungkin diam namun pikirannya tidak berhenti menerka. Aurora ingin terlihat tenang namun bentuk kerisauan itu tidak kunjung bekerja sama dengan keinginannya.

Aurora menahan napas. Raut wajahnya penuh khawatir sebelum mulai berbicara

"Kamu yakin keluargamu tidak akan mempermasalahkanku?" tanya Aurora dengan ragu. Jemarinya saling bertautan di atas pangkuan.

Rozen sambil tetap menatap jalan menjawab Aurora. "Mereka tau keputusan sudah dibuat."

"Tapi Isabella..."

"Dengar, Aurora." Rozen menghentikan perkataannya sepersekian detik. Selanjutnya menoleh memandang istrinya. "Sudah kukatakan kepadamu, jangan pikirkan dia."

Aurora menundukkan kepala. Dirinya merasa terintimidasi untuk alasan yang sulit Aurora jelaskan. Mulai dari nada bicara, intonasi suara bahkan sorot mata dingin itu terlalu mendominasi. Aurora tahu bahwa Rozen sudah memintanya untuk tidak terlalu memikirkan pertemuan malam ini. Tapi Aurora tidak bisa melakukannya. Terlebih lagi karena rasa bersalah setelah mengambil tempat Isabella.

"Aku hanya merasa bersalah." Akhirnya Aurora mengutarakan isi hatinya.

"Karena?"

"Karena aku berada di tempat yang seharusnya menjadi miliknya, Rozen."

Rozen membisu sesaat dengan tatapan mereka yang saling bertemu.

"Jangan menyalahkan dirimu atas keputusan yang tidak kau buat."

Ada jeda yang tercipta sepersekian detik sebelum Rozen kembali berbicara.

"Dan kalau ada yang mempertanyakan pernikahan kita, biarkan aku yang menjawab."

Aurora terdiam dengan seribu pemikiran yang sulit dipahaminya sementara Rozen kembali menatap jalanan, mengakhiri kalimatnya.

Sisa perjalanan kembali diisi keheningan. Sementara mobil terus melaju, Aurora juga terus berhadapan dengan buah pikirannya sendiri. Dan tanpa mereka sadari, seseorang dari masa lalu Rozen perlahan mendekati kehidupan baru yang mulai mereka bangun.

Kali ini nama Isabella tidak lagi hanya menjadi bayangan. Nama itu mulai menjadi ancaman.

...***...

Mobil Rozen berhenti di depan La'Duna Hotel. Titik temu acara keluarga berlangsung.

Aurora menatap bangunan megah di hadapannya melalui jendela mobil. Terkesima dan takjub dengan keindahannya. Untuk sesaat, rasa gugup kembali memenuhi dadanya.

Rozen turun dari mobil lebih dahulu, kemudian berjalan mengitari mobil dan membuka pintu untuk istrinya.

"Ayo."

Aurora menatap tangan Rozen yang terulur di hadapannya. Walau sempat ragu sebelum akhirnya menerima uluran tersebut.

Telapak tangan lentik Aurora bersentuhan dengan telapak tangan Rozen yang besar. Dalam sekejap, jemari kurus Aurora telah sepenuhnya bersarang dalam genggaman Rozen yang hangat dan kokoh.

Mereka berjalan berdampingan menuju pintu utama. Begitu memasuki lobi, suasananya langsung terasa berbeda.

Langit-langit tinggi dengan lampu kristal besar yang menggantung tepat di tengah ruangan. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya keemasan dari lampu-lampu dinding. Aroma bunga segar memenuhi udara, berasal dari rangkaian bunga yang ditempatkan di meja-meja kecil sepanjang lorong.

Para staf hotel bergerak dengan tenang dan nyaris tanpa suara. Tidak ada yang berani bersikap ceroboh. Semua yang hadir di sana juga tahu bahwa malam itu bukan sekadar acara bisnis biasa.

Aurora tidak berhenti terkesima dengan segala hal yang memanjakan mata di sana. Begitu memasuki ruangan, beberapa orang langsung menoleh dan tertuju kepada Rozen, kemudian kepada Aurora. Sejak memasuki ruangan, tatapan mata bergantian menatap mereka.

Aurora menarik napas perlahan setelah kembali merasakan sensasi yang sama seperti saat jamuan keluarga beberapa hari lalu.

Diamati, dinilai dan mungkin sedang dibandingkan.

Aurora tanpa sadar mengeratkan genggamannya dan tersadar bahwa ia tidak sendirian setelah merasakan bahwa Rozen membalas genggamannya. Erat namun tidak menyakiti. Hangat dan terasa seperti dilindungi.

Benar. Rozen berjalan tepat di sisinya. Aurora menjadi sedikit lega.

"Tenanglah. Aku di sini." Tangan Rozen sudah terlepas dari genggaman Aurora, berpindah menjadi menyentuh ringan punggung Aurora ketika mereka melewati kerumunan.

Gerakan kecil yang terjadi secara tiba-tiba itu membuat Aurora sedikit terkejut, namun wanita itu tidak berniat menjauh.

Dan setelah beberapa langkah memasuki ballroom, langkah Rozen terhenti ketika seorang pria paruh baya menghampiri.

"Rozen," sapaan diawali oleh pria paruh baya yang Rozen kenal itu.

"Richard," balas Rozen singkat kemudian keduanya berjabat tangan.

Beberapa saat berjabat tangan hingga tatapan Richard teralihkan kepada Aurora.

"Dan ini?" selidik Richard berhati-hati.

"Istriku." Rozen menjawab tanpa ragu.

"Senang bertemu dengan Anda." Uluran tangan Aurora tercipta dan disambut baik oleh Richard.

"Senang bertemu denganmu juga, Nyonya Salvadore."

Pertemuan yang diawali sapaan singkat berganti menjadi sebuah perbincangan seputar dunia bisnis beberapa saat. Topik yang Aurora tidak pahami itu terpaksa menjadikannya sebagai pendengar yang baik.

Awalnya berjalan baik-baik saja. Rozen dan Richard juga berbincang santai dan sesekali mereka tertawa singkat. Hingga suasana mendadak berubah ketika Richard mulai menyinggung tentang Isabella.

"Bukankah seharusnya Isabella?”

Senyum Aurora membeku. Suasana di sekitar mereka bertiga berubah sunyi. Dan Rozen dengan cepat menoleh ke arah Richard. Tatapannya menjadi dingin.

"Richard."

Hanya satu kata dan Richard memahami maksudnya.

"Maaf. Aku tidak bermaksud." Richard menyadari perbuatannya yang lancang. Karena membangkitkan amarah seorang Rozen Salvadore adalah kabar buruk yang harus dihindari.

"Jangan membahasnya." Nada Rozen tetap tenang tapi cukup tegas untuk menghentikan pembicaraan.

Aurora menundukkan wajah dengan jemari yang bertautan. Ia tidak marah kepada Richard. Aurora tahu pria itu hanya mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Dan tentu saja calon istri yang dikenal semua orang adalah Isabella. Sangat kecil kemungkinannya orang-orang tidak membahas mengenai Isabella.

Pada dasarnya nama Isabella akan selalu membuat Aurora mengingat bagaimana pernikahan ini dimulai.

...***...

Rozen yang sedari tadi berada di samping Aurora menyadari perubahan ekspresi istrinya. Tentu saja istrinya itu akan bereaksi dengan ucapan Richard tadi. Rozen bergerak menjadi lebih mendekat ke sisi Aurora.

"Kau baik-baik saja?" tanya Rozen pelan. Tubuh Rozen cukup tinggi sehingga ia harus sedikit merendahkan tubuhnya agar semakin dekat dengan telinga Aurora.

Aurora mengangguk. "Aku baik-baik saja."

"Kau yakin?" tanya Rozen memastikan keadaan Aurora.

"Aku hanya sedikit gugup." Aurora berdusta. Aurora sedang benar-benar terusik namun memilih untuk tidak mengutarakannya.

Rozen menatap wanita di sebelahnya beberapa detik sebelum kembali berkata pelan. "Jangan pikirkan apa yang mereka katakan."

Aurora mengangkat wajahnya. Mereka berdua saling berpandangan, begitu dekat hingga mereka dapat merasakan hangat embusan napas lawan bicara masing-masing.

"Aku sedang berusaha," ungkap Aurora pelan.

"Kalau begitu teruskan."

Setelah saling berucap seperti itu, baik Aurora maupun Rozen, mereka mendadak menjadi diam namun tanpa niat untuk memutuskan pandangan masing-masing.

Aurora hampir tertawa dibuatnya. Teringat pada kebiasaan Rozen yang tidak pernah menatap lebih dari tiga detik seperti ini.

"Kamu selalu punya cara yang aneh untuk menenangkan orang."

Rozen mengangkat alis seakan sedang menyangkal pernyataan Aurora.

"Aku tidak sedang menenangkanmu."

Aurora tersenyum menerima penyangkalan tersebut.

"Baiklah. Mari masuk."

...***...

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!