Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.
Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.
Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."
Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.
Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Semua orang melihat Viona pergi dan Revano terpaku di tempat.
Keesokan paginya, nama mereka masih berputar di grup kampus. Video Revano berlutut. Foto pipinya yang merah. Potongan chat yang dilempar Viona ke meja restoran. Untuk sebagian mahasiswa, itu tontonan panas.
Untuk Arka, itu sudah menjadi suara latar.
Ia duduk di ruang kerja Villa WD8, membaca laporan kebutuhan Markas Masa Depan dari buku catatan Wiratama yang ia bawa lewat ruang Dimensi.
Sembilan puluh orang.
Delapan AK-47.
Empat pistol.
Peluru terbatas.
Dua pickup yang masih perlu solar.
Di Planet Biru, angka-angka itu berarti satu hal: Markas Masa Depan sudah terlalu besar untuk bertahan dengan tombak, pipa besi, dan keberanian.
Ponselnya bergetar.
Steven Wibisana mengirim pesan singkat.
Bos, orang yang Anda minta sudah jawab. Dia mau bertemu, tapi bukan di Jakarta.
Arka mengetik balasan.
Di mana?
Perbatasan Kalimantan. Namanya Viktor Volkov. Orang lama. Saya tidak suka reputasinya, tapi kalau yang Anda cari benar-benar barang berat, dia salah satu dari sedikit orang yang bisa menyediakan.
Arka membaca pesan itu dua kali.
Ia tidak bertanya terlalu banyak lewat ponsel. Di dunia modern, beberapa pertanyaan lebih baik diajukan langsung, dan beberapa jawaban lebih baik tidak pernah ditulis.
Siapkan pesawat kecil, tulis Arka. Hari ini.
Steven menelepon kurang dari satu menit kemudian. Suaranya tidak lagi santai seperti saat membahas rumah, villa, atau emas.
"Bos, saya harus tanya sekali. Ini untuk apa?"
"Untuk tempat yang tidak bisa kau bayangkan."
"Jawaban begitu biasanya membuat orang masuk berita kriminal."
"Kalau kau mau mundur, mundur sekarang."
Di seberang sana, Steven diam beberapa detik. Lalu ia menghela napas.
"Saya sudah terlalu jauh untuk pura-pura cuma makelar properti. Tapi saya ikut sebagai penghubung saja. Setelah barang diterima, saya tidak mau tahu dipakai di mana."
"Adil."
"Dan satu lagi, Bos. Viktor tidak takut uang. Dia takut pembeli bodoh. Jangan terlihat seperti anak muda yang baru kaya dan ingin main perang."
Arka menatap peti kecil emas di sudut ruangan.
"Aku tidak main perang."
Sore itu, langit Kalimantan gelap oleh awan hujan. Pertemuan dilakukan di bangunan industri tua yang sudah lama tidak ramai. Tidak ada papan nama. Tidak ada sambutan. Hanya dua SUV gelap, beberapa pria bersenjata yang berdiri terlalu tenang, dan bau solar yang menempel di udara lembap.
Steven turun lebih dulu dari mobil. Wajahnya tersenyum, tetapi rahangnya kaku.
"Ingat, Bos," bisiknya, "saya kenal orang ini karena utang budi lama, bukan karena bangga."
"Tenang, Om Steven. Hari ini kau cuma membuka pintu. Aku yang masuk."
Di dalam gudang, Viktor Volkov menunggu di samping meja logam.
Usianya lebih dari lima puluh. Rambutnya abu-abu pendek, tubuhnya besar tanpa terlihat lambat, dan bekas luka panjang membelah pipi kirinya sampai dekat dagu. Ia memakai kemeja linen putih yang terlalu bersih untuk tempat seperti itu.
Matanya bergerak ke Arka, lalu ke Steven.
"Ini anak muda yang mau membeli badai?" katanya dalam bahasa Indonesia yang kaku namun jelas.
Steven tersenyum tipis. "Pak Arka bukan anak sembarangan."
Viktor menatap Arka lagi. "Semua orang kaya muda merasa begitu. Bedanya, sebagian dari mereka mati karena percaya rekening bank bisa menghentikan peluru."
Arka menarik kursi dan duduk tanpa menunggu dipersilakan.
"Saya membeli barang, Pak Viktor. Saya tidak membeli nasihat."
Sudut bibir Viktor bergerak sedikit.
"Bagus. Pembeli yang tersinggung mudah ditipu. Pembeli yang menjawab tenang lebih sulit."
Ia menjentikkan jari. Seorang anak buah membawa tablet berisi daftar pendek, tanpa gambar berlebihan.
Dua ratus AK-47.
Lima puluh M4 Carbine.
Sepuluh Barrett .50 Cal.
Dua puluh RPG-7.
Amunisi, rompi pelindung, radio lapangan, kotak perawatan, dan beberapa perlengkapan pendukung.
Arka membaca daftar itu tanpa mengubah ekspresi.
Di Planet Biru, daftar itu lebih berharga daripada satu lantai gedung mewah di Jakarta.
"Berapa?" tanyanya.
"Delapan puluh miliar rupiah. Harga itu sudah termasuk semua risiko sebelum barang Anda terima, dan tidak ada pertanyaan setelah barang keluar dari tangan saya."
Steven menelan ludah meski ia sudah tahu angkanya.
Bagi dirinya yang dulu, Rp 80 Miliar adalah angka yang bisa membuat satu keluarga naik kelas selama beberapa generasi. Bagi Arka hari ini, itu hanya percikan kecil dari dua ratus ton emas yang belum selesai dicairkan.
"Saya mau lihat barang."
Viktor mengangguk.
Pintu besi di belakang gudang dibuka. Peti-peti kayu dan kotak logam tersusun dalam barisan. Tidak ada drama. Tidak ada pidato. Hanya benda-benda dingin yang membawa janji sederhana: di tangan orang yang tepat, yang lemah bisa bertahan; di tangan orang yang salah, kota bisa runtuh.
Viktor mengambil satu AK, memeriksa ruang peluru kosong, lalu meletakkannya di meja. "Barang perang tidak punya moral. Pembelinya yang menentukan."
"Saya tahu."
"Tidak. Anak muda biasanya merasa tahu." Viktor mencondongkan tubuh. "Kau membeli cukup banyak untuk mengubah satu wilayah. Jadi saya tanya sekali. Kau mau membangun apa?"
Arka menyentuh permukaan meja logam dengan ujung jari.
Di kepalanya, ia melihat wajah anggota Markas Masa Depan. Orang-orang yang dulu berebut beras, kini mulai belajar berdiri dalam barisan. Kirana yang menahan sakit kepala demi memberi peringatan. Zahra yang merawat orang sebelum makan. Elang yang menghitung peluru seperti menghitung napas tim.
"Tempat di mana orang saya tidak perlu mati hanya karena musuh punya senjata lebih baik."
Viktor menatapnya lama.
Kemudian ia tertawa pelan.
"Jawaban idealis. Tapi matamu tidak idealis." Ia mendorong tablet ke depan. "Selesaikan urusan melalui Steven. Setelah itu, saya tidak kenal Anda, Anda tidak kenal saya. Kalau suatu hari Anda butuh lagi, pakai saluran yang saya berikan. Jangan pakai itu untuk bicara kosong."
Arka berdiri.
"Saya tidak pernah bicara kosong."
Beberapa jam kemudian, transaksi selesai.
Steven keluar dari gudang dengan punggung basah keringat. Ia melihat peti-peti itu dipindahkan ke ruang tertutup untuk pemeriksaan akhir. Ketika pintu ditutup dan hanya Arka berada di dalam, Steven menunggu di luar sambil menyalakan rokok yang tidak sempat ia hisap.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Pintu terbuka.
Ruangan di belakang Arka kosong.
Steven hampir menjatuhkan rokoknya.
"Bos... barangnya?"
"Sudah aman."
"Aman di mana?"
Arka berjalan melewatinya.
"Di tempat yang bahkan Viktor tidak bisa rampas kembali."
Steven menatap ruangan kosong, lalu menatap punggung Arka. Untuk pertama kalinya sejak mengenal anak muda itu, ia merasa seluruh bisnis properti, emas, dan villa yang ia urus selama ini hanya permukaan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Malamnya, pukul 21.30, kesadaran Arka berpindah.
Planet Biru menyambutnya dengan udara dingin dan suara genset kecil di halaman Markas Masa Depan. Kali ini ia tidak memberi pengumuman panjang. Ia hanya memanggil inti tim ke gudang belakang: Shadow, Merah, Elang, Kirana, Zahra, Wiratama, Fajar, dan Teguh.
"Tutup pintu," kata Arka.
Fajar menghilang sebentar, memastikan lorong kosong. Wiratama berdiri di dekat buku inventaris, sudah membawa pulpen. Elang tampak paling tenang, sampai Arka mengangkat tangan.
Peti pertama muncul di lantai.
Lalu peti kedua.
Ketiga.
Dalam beberapa menit, gudang belakang yang tadi hanya berisi beras dan rompi bekas berubah menjadi ruang senjata.
Merah membuka satu peti, lalu bersiul panjang. "Bang Arka... ini bukan belanja biasa. Ini pindahan gudang tentara."
Shadow mengambil satu M4 Carbine, memeriksa bobotnya, lalu mengangguk sekali. "Ringan. Cocok untuk tim cepat."
Wiratama sudah pucat, tetapi tangannya tetap bergerak mencatat. "Jumlah?"
"Dua ratus AK-47. Lima puluh M4 Carbine. Sepuluh Barrett .50 Cal. Dua puluh RPG-7. Amunisi cukup banyak, rompi pelindung, radio, dan perlengkapan perawatan. Catat semuanya. Tidak ada satu peluru pun keluar tanpa nama."
"Siap," kata Wiratama, suaranya bergetar halus.
Elang belum bicara.
Ia berdiri di depan peti panjang berlapis busa hitam. Tangannya membuka kait pengaman dengan hati-hati, seolah sedang membuka peti jenazah teman lama. Ketika laras besar Barrett .50 Cal terlihat, napasnya berhenti sesaat.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sampai sepuluh.
Mata Elang memerah.
Merah yang biasanya cepat bercanda kali ini menutup mulutnya.
Elang menyentuh salah satu Barrett dengan jari yang nyaris gemetar.
"Bang... ini... Barrett asli?"
Arka menatap mantan prajurit itu. "Asli. Dan mulai malam ini, kau bentuk regu runduk. Pilih orang yang sabar, bukan yang ingin terlihat gagah."
Elang menegakkan tubuh. Suaranya kembali seperti laporan militer, tetapi matanya masih basah.
"Siap, Bang Arka. Saya jamin tidak ada satu peluru pun terbuang."
Kirana menatap deretan senjata itu dengan wajah tegang. "Dengan ini, Markas Bahari pasti akan melihat kita berbeda kalau kabarnya bocor."
"Maka kabarnya tidak boleh bocor sebelum kita siap," jawab Arka.
Ia menunjuk peti-peti itu satu per satu.
"AK untuk regu dasar. M4 untuk tim cepat Shadow. Barrett di bawah Elang. RPG hanya boleh keluar atas perintahku atau Elang. Peluru hanya keluar untuk perintah tempur. Senjata ini membuat kita kuat, tapi juga membuat kesalahan jadi lebih mahal."
Tidak ada yang membantah.
Di luar gudang, anggota markas belum tahu apa yang baru saja datang. Mereka hanya mendengar suara peti digeser dan melihat wajah inti tim berubah ketika keluar.
Malam itu, Markas Masa Depan tidak berteriak merayakan kemenangan.
Mereka mulai mencatat nama.
Mulai membagi regu.
Mulai membersihkan senjata di bawah pengawasan Elang.
Dan Arka berdiri di depan pintu gudang, melihat masa depan markasnya berubah bentuk.
Dua ratus lima puluh pucuk senjata panjang, lima puluh di antaranya M4 Carbine.
Sepuluh senapan runduk berat.
Dua puluh peluncur roket.
Di dunia tanpa tentara yang tersisa untuk melindungi mereka, Markas Masa Depan baru saja menjadi kekuatan bersenjata paling berbahaya di wilayah itu.