Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Cerai Di Malam Pertama

Janji Cerai Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Senyuman Palsu dan Janji yang Menguap

Suara batuk berat menyela keheningan pagi di kamar utama. Fitri tergesa meletakkan cangkir teh hangat di atas meja, lalu dengan sigap membantu Bu Rahma duduk tegak. Wajah mertuanya itu tampak amat kusam, bibirnya kering pucat, dan napasnya terdengar memburu. Dengan penuh kesabaran, Fitri mengusap lembut punggung wanita tua itu sembari menyiapkan selang oksigen portabel untuk meringankan sesaknya.

"Maafkan Ibu ya, Fitri... pagi-pagi sudah bikin kamu repot lagi," bisik Bu Rahma lemah, matanya menyiratkan rasa bersalah yang amat dalam.

Fitri menyunggingkan senyum paling tulus yang sanggup ia perlihatkan, mengusap pelan jemari mertuanya yang mulai keriput dan dingin. "Ibu jangan bicara begitu. Tugas Fitri memang menjaga Ibu. Sekarang Ibu tenang dulu, tarik napas pelan-pelan ya."

Dari pintu kamar yang sedikit terbuka, Adam melangkah masuk. Pria itu sudah rapi memakai kemeja kerja berwarna biru muda, menyemprotkan parfum hingga aromanya memenuhi sudut ruangan. Bukannya mendekati tempat tidur sang ibu untuk bertanya kondisi, ia malah sibuk mematut diri di depan cermin besar.

"Adam... kamu mau ke mana pagi-pagi begini?" panggil Bu Rahma pelan.

"Ada janji ketemu klien di luar kantor, Bu," jawab Adam tanpa menoleh sedikit pun.

"Mas, kondisi Ibu pagi ini drop," sela Fitri, menatap punggung suaminya dengan raut serius. "Tekanan darahnya naik dan sesak napasnya makin sering kumat. Kalau bisa, kamu tunda dulu urusan luar dan antar Ibu kontrol ke rumah sakit."

Adam berbalik, mendengus kasar sembari membetulkan posisi jam tangan mewahnya. "Kamu kan calon dokter, Fitri. Masa urus tensi naik saja harus panggil aku? Lagian ada kamu di rumah, buat apa aku bolos kerja?"

"Ini bukan cuma soal tensi, Mas! Ibu butuh pemeriksaan lab lengkap," balas Fitri, suaranya tetap terjaga meski nada kelelahan tak bisa disembunyikan. "Urusan kerjaan mu bisa ditolak sebentar, kan?"

"Aku cari uang buat rumah ini juga!" potong Adam cepat, matanya menatap tajam ke arah Fitri. "Jangan bikin aku pusing pagi-pagi dengan omelanmu!"

Ponsel di saku kemeja Adam bergetar nyaring. Layar ponsel itu menampilkan nama 'Rosa' disertai emoticon hati. Tanpa sedikit pun kecanggungan di depan ibunya yang terbaring lemah, Adam menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu di telinganya. Suaranya seketika berubah lembut, amat berbeda dengan intonasi kasar yang baru saja ia lontarkan pada Fitri.

"Iya, Sayang... Aku sudah jalan kok. Kamu tunggu di kafe biasa ya, sarapannya jangan dipesan dulu nanti aku yang pilihkan," ucap Adam manis sebelum mematikan sambungan.

Bu Rahma memejamkan mata erat-erat, air mata menetes tipis di sudut kelopaknya. Beliau tahu betul siapa yang dituju putranya. "Kamu bohong sama Ibu, Adam... Kamu bukan mau urus pekerjaan, tapi mau menemui wanita itu lagi..."

Adam tersentak sejenak, namun rasa gengsi menutup pintu hatinya. "Ibu jangan dengar hasutan Fitri. Adam pergi dulu." Tanpa mencium tangan sang ibu atau pamit dengan benar, langkah kakinya bergerak cepat meninggalkan kamar.

Tak lama kemudian, suara deru mobil Adam terdengar menjauh dari pekarangan rumah. Rumah kembali hening, meninggalkan Fitri yang berdiri membisu di samping ranjang dengan hati yang kian terkoyak.

Fitri mengusap air mata Bu Rahma dengan jemarinya, lalu menggenggam tangan mertuanya erat-erat. "Sudah ya, Bu... Jangan dipikirkan. Masih ada Fitri di sini. Nanti sore setelah tugas koas selesai, Fitri sendiri yang antar Ibu ke rumah sakit pakai taksi."

Bu Rahma menatap menantunya penuh haru. "Kamu wanita yang luar biasa, Nak. Ibu cuma takut... kalau nanti Ibu sudah tidak ada, tidak ada lagi yang menjaga kamu dari kejamnya dunia..."

***

Sore itu, hujan deras mengguyur kota, menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang. Fitri baru saja tiba di rumah setelah menembus banjir dengan angkutan umum. Pakaian dan ujung jilbabnya setengah basah, jemarinya pucat kelabu akibat kedinginan. Namun, niatnya untuk langsung membersihkan diri terhenti saat mendengar suara gelak tawa melengking dari arah ruang tamu.

Fitri melangkah pelan mendekati ruangan itu. Betapa terkejutnya ia saat mendapati Rosa sedang duduk santai di sofa utama, menyilangkan kaki mulusnya sembari menyeruput teh manis. Di sampingnya, Adam tersenyum lebar, tampak begitu menikmati obrolan mereka.

Darah Fitri serasa berhenti mengalir. Perjanjian satu tahun yang mereka sepakati kembali terbayang di benaknya. "Jangan pernah membawa Rosa ke rumah ini". Itulah satu-satunya syarat tegas yang ia minta dari Adam demi menjaga perasaan Bu Rahma.

"Mas Adam..." suara Fitri bergetar menahan amarah, memecah keceriaan di ruangan itu.

Adam dan Rosa kompak menoleh. Raut wajah Adam seketika berubah tegang, sementara Rosa justru melempar senyuman penuh kemenangan.

"Kenapa kamu bawa dia ke sini, Mas?" tanya Fitri, menatap Adam lurus tanpa berkedip. "Kamu lupa sama janji kita?"

Sebelum Adam sempat menjawab, Rosa berdiri dari duduknya. Ia merapat ke lengan Adam, memasang raut wajah memelas yang dibuat-buat. "Fitri, tolong jangan salahkan Adam. Hujan di luar deras banget, terus perutku mendadak sakit dan mual. Adam cuma kasihan sama aku, makanya dia ajak aku mampir sebentar..."

"Sakit perut tapi bisa tertawa terbahak-bahak?" potong Fitri tajam, matanya menatap tajam ke arah Rosa. "Rosa, kamu tahu betul di rumah ini ada Ibu yang sedang sakit parah di kamar. Apa kamu sengaja datang ke sini cuma buat memamerkan keberadaan mu?"

"Fitri! Cukup!" bentak Adam keras, berdiri membentengi Rosa di belakang tubuhnya. "Rosa ini sedang tidak enak badan! Jangan mulai bikin keributan cuma karena rasa cemburu mu yang picik itu!"

"Cemburu?" Fitri tertawa getir, air mata tertahan di sudut kelopaknya. "Aku tidak cemburu, Mas. Aku cuma menagih janjimu! Rumah ini adalah benteng terakhir tempat Ibu merasa tenang. Apa kamu tidak punya sedikit saja rasa empati sama Ibumu sendiri?"

"Jangan bawa-bawa Ibu buat menutupi sifat jahat mu!" balas Adam penuh emosi. "Rosa cuma mau minum teh hangat sebentar! Kamu yang kekanak-kanakan dan egois!"

Rosa diam-diam tersenyum sinis di balik bahu Adam. Ia kemudian memegang kepalanya berpura-pura pusing. "Mas Adam, kepalaku makin sakit... Aku pulang saja ya, daripada bikin rumah tangga kalian hancur. Aku gak mau dianggap wanita jahat..."

"Nggak, Rosa. Kamu tetap di sini sampai hujannya reda," tahan Adam penuh perhatian. Ia lalu menoleh pada Fitri dengan tatapan dingin. "Kamu masuk kamar sekarang! Jangan bikin suasana makin panas!"

Fitri mengepalkan jemarinya kuat-kuat sampai kukunya memutih. Hati wanita mana yang tidak hancur saat suaminya sendiri melanggar janji demi memanjakan wanita selingkuhan di rumah mereka sendiri? Namun, Fitri menolak untuk menangis di hadapan mereka. Ia menarik napas panjang, meredam seluruh sesak yang menghimpit dadanya.

"Baik," ucap Fitri singkat dengan suara teramat dingin. "Silakan nikmati waktu kalian. Tapi ingat satu hal, Mas... Setiap rasa sakit dan pengkhianatan yang kamu goreskan hari ini, tidak akan pernah bisa kamu hapus begitu saja di masa depan."

~Bersambung~

1
sunaryati jarum
Rasain Adam,kau kan sudah diberi kenikmatan selangkah Rosa jadi nikmati 😂😂
sunaryati jarum
Makin tidak tahu malu, Adam.Lihat dulu kelakuan kamu gimana pada Fitri, Adam,? Sekarang kau mengemis padanya.Segera resmikan kalian dr Danu dan dr Fitri agar dr Danu punya hak dan kewajiban melindungi kamu dan Aiden dengan penuh.Sepertinya Adam mulai tidak waras, kalian harus waspada, jangan sampai Adam berbuat nekat.
sunaryati jarum
Tidak sadar diri Adam,itu hanya akan menggali kuburan kamu sendiri.Kamu lihat dari jauh saja.Apa yang kau rasakan itu dulu juga dirasakan oleh Fitri.Ingat saat kamu selalu memberikan perhatian pada Rosa.Bagaimana kabar Rosa,ya.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
sunaryati jarum
Tidak akan menang, sampai uangmu habis Adam.Selembar tes DNA yang kau gunakan sebagai senjata tidak akan mempan.Anak di bawah umur akan ada di bawah hak asuhnya apalagi riwayat Aiden dari kandungan sampai dua tahun ini tidak ada andil dari kamu, apalagi pekerjaan kami yang tidak akan mungkin bisa merawat Aiden.Sadar diri Adam!!
sunaryati jarum
Silahkan tes DNA toh tidak merubah apapun, seharusnya kamu terima kenyataan itu akibat kesombongan dan pengabaian,serta pengkhianatan kamu pada Fitri dan mendiang ibumu
sunaryati jarum
Adam tingkahmu menunjukkan rasa tidak bersalah, malah merasa jadi korban,lebih dewasa' dari dr Fitri tapi malah labil dan plin-plan
sunaryati jarum
Sekali , Fitri kamu jangan mau diajak balikan / rujuk sama Adam.Dia ingat kamu karena ekspektasinya pada Roda tidak sesuai harapan.Jika dia bahagia sama tidak akan ingat kamu.Kamu wanita berharga bukan barang,jika mau dipakai dicari sudah tidak dipakai dibuang.Emak suka cerita ini,tapi jika kamu rujuk sama Adam,emak berhenti mengikuti kisahmu
sunaryati jarum
Jangan sampai balikan ke Adam, berikan jodoh lain, jika Adam tahu ada anaknya jangan sampai ada perebutan hak asuh anak yang dimenangkan Adam
sunaryati jarum
Makan tuh Penyedalan, itulah jika mengabaikan amanah ALMH ibumu
sunaryati jarum
Ternyata banyak yang melindunginya ,Adam
sunaryati jarum
syukurin tuh makan sampah
sunaryati jarum
Baru mampir
Lee Mba Young
aku suka Fitri teges banget. 👍. keren
Lee Mba Young
bagus Fitri. jng smp kalah.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.
aku
aq salah baca ato apa. ahr bab sbelumnya bukane udh diusir, rosa bw koper gt ya 🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!