~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33 MIMPI DARI UTARA
****
Hening.
Putih.
Dingin.
Darian membuka matanya perlahan. Langit di atasnya kelabu, dan hujan salju turun begitu lembut seperti debu yang melayang dalam pelukan waktu. Namun, ia tak lagi merasakan luka atau pedih yang tadi mengoyaknya di medan perang. Tak ada darah. Tak ada jeritan. Hanya sunyi yang menyelimuti lembah salju perbatasan seperti pelukan seorang ibu.
Langkahnya membawa dia menyusuri jalanan berbatu menuju Kastil Ravengard—kediamannya yang megah di utara. Tapi kastil itu tidak terlihat seperti biasa. Tidak suram, tidak dingin. Sebaliknya, cahaya hangat keluar dari jendela-jendela kaca patri, dan aroma harum kue kayu manis melayang di udara.
Lalu dia melihat sosok itu.
Di tengah taman yang dipenuhi mawar salju yang hanya mekar di musim dingin terkeras, berdiri seorang wanita. Gaunnya berwarna ungu muda, kontras dengan rambut peraknya yang panjang dan berkilau seperti serpihan bulan. Mata violetnya menatapnya dengan kedalaman yang tak bisa Darian ukur dengan logika—mata itu menenangkannya, sekaligus membangkitkan sesuatu di dalam dirinya.
"Iris..."
Suaranya serak, nyaris tak terdengar, tapi wanita itu tersenyum lembut seolah sudah mendengarnya sebelum ia berbicara.
"Kau datang juga akhirnya," ucap Iris, suaranya lirih namun jernih seperti lonceng perak yang berdenting di kejauhan.
Darian melangkah mendekat, namun langkahnya terasa berat, seperti dihantui oleh masa lalu yang membekukan hatinya bertahun-tahun lamanya.
"Aku... seharusnya tidak di sini," gumamnya. "Aku seharusnya...."
"Bertarung? Membunuh? Mengorbankan dirimu untuk kehormatan Ravengard?" potong Iris lembut, namun nada suaranya menyiratkan luka yang tertahan lama. "Kau selalu begitu, Darian. Bahkan ketika aku mencoba masuk ke duniamu, kau selalu berdiri dengan pedang di tangan dan jiwamu jauh dariku."
Darian menunduk. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa rapuh. Tak ada baju zirah. Tak ada mahkota kehormatan. Hanya dirinya—seorang pria yang gagal memahami makna cinta.
"Aku pikir itu cara terbaik menjaga dirimu dari luka," katanya pelan. "Aku tak pernah tahu bagaimana caranya mencintai. Ayahku... keluargaku... mereka tak pernah mengajarkannya. Dan kau... kau terlalu indah. Terlalu lembut. Aku takut jika aku mencintaimu, aku akan hancur."
Iris mendekat. Salju tak menempel di sepatunya, seolah bumi sendiri menolak mengganggu langkahnya. Ia menyentuh pipi Darian, dingin dan kasar, namun kini ada air mata yang jatuh dari matanya dan itu membuat tangan Iris gemetar.
"Aku tidak meminta kesempurnaan darimu," bisiknya. "Aku hanya ingin menjadi bagian dari duniamu. Aku ingin melihatmu tersenyum saat pulang dari peperangan. Aku ingin mencium tanganmu sebelum kau pergi. Aku ingin menjadi istri... bukan sekadar Grand Duchess yang berdiri di sampingmu saat pesta dansa kekaisaran."
Darian menggenggam tangannya. Hangat. Itu pertama kalinya ia merasa hidup sejak darahnya tumpah di perbatasan utara.
"Aku tak pernah berhenti mengingat wajahmu. Bahkan saat luka menoreh tubuhku, hanya kau yang kupikirkan. Senyummu. Cara kau tertawa pelan saat membaca buku di perpustakaan. Bahkan caramu marah saat aku pulang larut dan tak menjawab surat-suratmu."
Iris tertawa kecil, lalu menarik Darian ke pelukannya. Dadanya serasa diremukkan oleh kelembutan itu. Seumur hidupnya ia hanya tahu medan perang dan bau darah. Tapi sekarang, ia ingin tahu bagaimana rasanya damai. Bersamanya.
"Darian..." Iris memanggil lembut. "Jika kau ingin kembali... kau harus hidup."
"Aku ingin hidup. Untukmu. Untuk anak kita."
Ia menenggelamkan wajahnya ke dalam rambut perak itu, menahan perih di dadanya yang terasa seperti akan pecah oleh penyesalan dan rindu.
"Maafkan aku," bisik Darian, "karena selama ini membuatmu menunggu dalam sunyi."
"Aku tidak pernah benar-benar sendiri," jawab Iris. "Karena kau selalu ada... di sini." Ia menempelkan jemarinya di dada Darian. "Aku tahu hatimu sedang mencari jalan pulang."
Langit mulai berubah. Warna kelabu berganti dengan semburat oranye lembut seperti fajar. Salju masih turun, tapi kini tak lagi dingin. Ia seperti air suci yang memurnikan. Seolah dunia telah menerima pengakuan Darian dan mengizinkannya untuk hidup... bukan hanya sebagai Grand Duke, tapi sebagai pria yang bisa merasakan cinta.
"Iris... tunggulah aku di Ravengard. Aku akan kembali. Kali ini, bukan sebagai lelaki yang membeku oleh dendam, tapi sebagai suamimu."
Iris tersenyum, lalu menjauh perlahan. Bayangannya mulai memudar, tapi suaranya masih menggema:
"Kami akan menunggumu. Seperti selalu."
Kembali ke Dunia
Tubuh Darian menggigil. Darah masih menempel di pipinya. Salju membungkus medan perang, namun detak jantungnya terdengar kembali.
“Yang Mulia! Dia masih hidup!”
Seseorang berteriak. Seorang prajurit utara menangis saat menyentuh wajah pemimpinnya yang masih bernapas meski hanya setipis helaian es.
Darian membuka matanya. Mata kelabunya memantulkan langit putih di atasnya.
Dan di sana, dalam benaknya, Iris tersenyum.
Ia tahu kini ia akan pulang. Bukan hanya ke Ravengard. Tapi ke rumah. Ke hati yang selama ini menunggunya dalam sunyi, dengan sabar, dan cinta.
**
Malam telah larut di paviliun Timur Istana Valeria. Langit gelap tak berbintang, dan udara musim panas menggantung lembap di jendela-jendela istana yang tertutup kelambu halus. Di kamar Grand Duchess, tirai tipis berkibar lembut ditiup angin lembut yang entah bagaimana menembus celah-celah jendela, seolah mencari sesuatu… atau seseorang.
Di atas ranjang lebar dengan selimut putih gading, Iris menggeliat pelan. Raut wajahnya yang biasanya lembut kini meringis gelisah. Keningnya berkerut, tangan kirinya mencengkeram sprei.
Dalam mimpinya, ia melihat salju.
Medan perang membentang putih pekat, tapi tak membawa kedamaian. Mayat-mayat bergelimpangan di sekelilingnya. Kabut darah membubung di antara serpihan salju. Di tengah semua itu, berdiri sosok yang begitu ia kenal.
"Darian…" bisiknya dalam tidur.
Darian, dengan mata kelabunya yang tajam, tubuh bersimbah darah dan luka, berdiri sendirian. Pandangan mereka bertemu dari kejauhan. Ia tersentuh, senyuman itu… senyum yang selalu membuatnya merasa aman. Namun, tiba-tiba tubuh itu limbung.
“DARIAN!”
Iris terbangun.
“Haah… haah…” Napasnya memburu, matanya mencari-cari, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Tangannya memegangi perutnya yang kian membesar.
Pintu terbuka dengan cepat.
“Yang Mulia!” seru Lisa, pelayan kepercayaannya, sambil berlari masuk membawa nampan berisi teh herbal. “Ada apa?! Anda berkeringat dan…”
“A-aku melihatnya…” suara Iris serak, penuh kepanikan. “Aku melihat Darian… Dia berdiri… lalu tumbang…”
Lisa meletakkan nampan terburu-buru, berlari ke sisinya. “Tenanglah, Grand Duchess. Mungkin itu hanya mimpi buruk…”
“Tidak,” potong Iris, matanya kini menatap lurus ke depan, pandangannya kosong namun jauh. “Itu bukan mimpi. Aku tahu… aku bisa merasakannya.”
Perutnya kembali berdenyut nyeri. Ia meringis, tubuhnya sedikit membungkuk.
“Yang Mulia! Anda kram lagi? Tolong izinkan saya memanggil tabib!” Lisa panik, tangannya hendak berlari ke pintu.
“Tidak… bantu aku berdiri. Sekarang.”
“Tapi....”
“Bantu aku ke balkon, Lisa. Sekarang!”
Lisa tertegun. “Tapi angin sedang kencang. Badai panas malam ini tidak biasa…”
“Justru karena itu…”
Dengan berat hati, Lisa meraih lengan Grand Duchess dan memapahnya. Iris berjalan perlahan, kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer dingin, gaun tidurnya menyapu ubin seperti kabut. Satu tangan masih menahan nyeri di perutnya, tangan lain mencengkeram bahu Lisa.
Saat pintu balkon dibuka, angin menerjang dengan kasar, hampir menerbangkan segala yang ada.
Lisa terpekik. “A-Anginnya terlalu kuat! Grand Duchess....!”
Namun Iris… berdiri tegak. Langkahnya mantap, wajahnya tenang. Mata violetnya menatap angin itu seperti menatap sahabat lama.
“Diamlah…” bisiknya.
Dan angin… melambat.
Lisa membeku. Matanya membelalak melihat pemandangan luar biasa—Grand Duchess berdiri di tengah balkon, diterpa badai malam musim panas, namun seolah angin itu menari di sekitarnya, bukan melawannya. Seolah menyambutnya pulang.
Langkah kaki terdengar di belakang. Kapten Arven masuk dengan tergesa bersama dua pengawal.
“Yang Mulia!” serunya. “Kami mendengar teriakan! Apakah Anda baik-baik saja?!”
Lisa menggeleng lemah, masih tak percaya. “Lihat sendiri…”
Arven menatap sosok Iris di tengah balkon, lalu merunduk hormat, menyadari bahwa ini bukan saat biasa.
Iris memejamkan mata. Tangannya yang bebas terangkat ke dada. Angin mulai berputar lembut di sekelilingnya, seperti pusaran pelindung.
“Wahai angin… aliran dari darahku, dari utara yang dingin dan menggigit… Dengar permintaanku…”
Dia membuka mata perlahan, matanya kini bersinar samar oleh sihir yang diwarisi dari garis bangsawan kuno.
“Sampaikan rinduku. Sampaikan doaku. Pada lelaki yang berdiri di antara kehidupan dan kematian di tanah bersalju itu…”
Angin mulai membawa partikel kecil bercahaya, seperti serpihan salju yang menyala lembut.
“Lindungi dia. Lindungi Darian. Bawa pesan ini padanya... bahwa aku menunggu. Kami menunggu. Bahwa kekuatan hidupnya… juga adalah aku.”
Sebuah desahan halus keluar dari bibirnya. Badai angin menghilang pelan, menyisakan keheningan yang menyentuh jiwa.
Kapten Arven tak bisa berkata-kata. Lisa menangis perlahan. Angin membawa pesan batin dari seorang istri yang tak tahu bagaimana nasib suaminya… namun tetap percaya.
Iris memegangi perutnya erat. Tersenyum samar.
“Kau mendengarku, bukan… Darian?” bisiknya.
Dan di dataran bersalju perbatasan utara, di antara salju yang menutupi tubuh terluka Grand Duke Darian, angin hangat menyapu pipinya. Di ujung kesadarannya, ia mendengar suara lembut yang dikenalinya lebih baik dari siapa pun.
Aku menunggumu, Darian.
Dan dalam remang antara hidup dan mati, Darian tersenyum… lalu perlahan membuka matanya.
****
Bersambung