Indonesia
NovelToon NovelToon
Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14.

Tepat pukul satu siang, sebuah mobil mewah berhenti di depan Sweet Cake.

"Permisi. Saya ingin bertemu dengan Nona Viola," ucap pria seorang pria berkacamata dengan setelan jas yang terlihat rapi.

Rani dan Siska yang sedang mengisi ulang kue dan cake di etalase saling berpandangan. Rani kemudian meletakkan nampan di tangannya.

"Bu Viola ada di dapur. Sebentar saya panggilkan." Rani segera berjalan menuju dapur.

"Bu, ada tamu yang mencari Ibu."

"Siapa?"

"Pria berkacamata yang tempo hari ke sini," jawab Rani.

Viola yang sedang memeriksa adonan langsung menghentikan pekerjaannya. Ia mencuci tangannya sebelum keluar dari dapur.

"Tuan Kim? Anda benar-benar datang ke sini?"

Asisten Kim mengangguk sopan. "Benar, Nona. Saya diminta Tuan Han untuk menjemput dan mengantarkan anda."

Viola melirik jam di dinding. Waktu masih menunjukkan pukul satu lebih beberapa menit. "Baik. Tapi tolong tunggu sebentar. Saya perlu berganti pakaian."

"Silakan, Nona."

Viola mengangguk lalu berjalan keluar menuju tangga untuk naik ke lantai atas.

Asisten Kim memilih duduk di kursi dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat aktivitas toko yang masih berjalan seperti biasa.

"Silakan, Tuan." Rani meletakkan secangkir coffe latte di hadapannya bersama sepiring kecil croissant cokelat.

"Terima kasih." Asisten Kim mengangguk sopan.

"Bu Viola sendiri yang membuatnya. Kebetulan masih hangat." Rani tersenyum kecil sebelum kembali ke belakang etalase.

Asisten Kim menyeruput kopinya. Sesekali pandangannya beralih ke tangga, menunggu Viola turun.

Di balik kesibukan toko, waktu terasa berjalan lambat. Siska yang sedang menata kue melirik Rani. "Menurutmu Bu Viola mau pergi ke mana?"

"Entahlah." Rani mengangkat bahu. "Tapi sepertinya penting."

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari tangga. Viola akhirnya turun.

"Saya sudah siap."

Asisten Kim berdiri. "Kalau begitu, mari kita berangkat, Nona."

Viola mengangguk. Ia mengambil tasnya, lalu menatap dua karyawannya. "Saya pergi cukup lama. Tolong jaga dan tutup toko sesuai jadwal."

"Baik, Bu."

Setelah memberi sedikit intruksi dan mengingatkan hal-hal yang harus dilakukan sebelum menutup toko, Viola pun melangkah menuju pintu menyusul Asisten Kim yang sudah menunggu lebih dulu di samping mobil.

"Menurutmu, pria berkacamata tadi kekasihnya Bu Viola?" bisik Siska.

"Aku pikir juga begitu," jawab Rani tanpa mengalihkan pandangannya.

"Semoga setelah perjalanan mereka, Bu Viola bisa kembali ceria lagi." Siska tersenyum kecil penuh harap. Melihat atasanya terlihat murung membuatnya merasa tak nyaman.

"Kalian berdua lagi ngomongin apa?"

Rani dan Siska kompak menoleh. Dimas sudah berdiri di belakang mereka.

"Kamu bikin kaget aja." Rani mengusap dadanya sebentar. "Tadi ada pria berkacamata datang mencari Bu Viola. Tempo hari juga pernah datang. Sekarang dia pergi bersama Bu Viola."

"Mereka pasti mau ngedate," timpal Siska.

Dimas mengernyit. "Jadi kalian pikir kalau Bu Viola dan pria berkacamata itu pacaran?"

"Bisa saja, kan?" Siska mengangkat bahu.

"Menurutku juga begitu." Rani ikut berkomentar. "Bu Viola cantik, pria tadi juga ramah dan tampan. Mobilnya juga bagus, pasti orang kaya."

"Tapi menurutku tidak seperti itu." Dimas menggeleng pelan.

"Kenapa?"

"Entahlah. Rasanya pria itu datang untuk hal lain," jawab Dimas.

Rani hendak menjawab, tetapi beberapa pelanggan tiba hampir bersamaan.

"Kita sambung lagi nanti. Pelanggan datang." Mereka bertiga segera kembali bekerja. Obrolan tentang Viola pun terpaksa berhenti di tengah jalan.

***

Sementara itu, perjalanan menuju pusat kota berlangsung dalam diam.

Viola duduk di kursi belakang sambil memandangi jendela. Pikirannya masih dipenuhi rasa penasaran tentang tujuan mereka. Ketika mobil mulai mendekati kawasan pusat kota, Viola akhirnya membuka suara.

"Tuan Kim seharusnya tidak perlu repot menjemput saya. Jarak dari pusat kota ke tempat tinggal saya cukup jauh. Itu pasti sangat merepotkan."

"Sama sekali tidak merepotkan, Nona. Tuan Han sendiri yang meminta saya untuk menjemput, Anda." Asisten Kim melirik sekilas ke melalui kaca spion sebelum kembali memperhatikan jalan.

Viola menghela napas. "Kalau begitu, saya jadi merasa tidak enak."

"Anda tidak perlu merasa sungkan."

Viola hanya mengangguk. Setelah itu, ia kembali diam.

Beberapa menit kemudian, mobil berbelok memasuki sebuah kawasan yang terasa begitu familiar.

Viola mengangkat wajah. "Tempat ini ...." Ia bergumam dalam hati.

Mobil terus melaju hingga akhirnya berhenti di sebuah bangunan modern dua lantai.

Viola membeku. Ia mengenal tempat itu. Bangunan yang kemarin ia datangi dan sempat membuatnya membayangkan Sweet Cake pindah ke sana. Namun, sayangnya bangunan itu sudah terjual.

Asisten Kim turun lebih dulu. "Silakan, Nona." Ia membukakan pintu mobil.

Viola turun perlahan. Tatapannya tidak lepas dari bangunan di hadapannya. "Kenapa kita datang ke sini?"

Asisten Kim tidak menjawab. Ia hanya mempersilakan Viola berjalan lebih dulu medekati bangunan itu.

Beberapa orang sudah menunggu di depan bangunan. Mereka menyambut Viola dengan sopan sebelum Asisten Kim mengajaknya masuk.

"Bangunan ini memiliki dua lantai. Lantai bawah cukup luas untuk dijadikan area toko."Asisten Kim menunjuk ruangan di sisi depan.

"Bagian ini bisa digunakan sebagai dapur produksi. Sementara area depan cukup untuk etalase dan beberapa meja pelanggan."

Viola memperhatikan setiap sudutnya. "Bagaimana dengan bagian belakang?" Ia semakin tertarik dengan bangunan itu.

"Di sana ada rumah yang bisa digunakan sebagai tempat tinggal."

Viola kembali terdiam. Tempat itu bahkan lebih baik daripada yang ia bayangkan.

"Area rooftop bisa juga digunakan untuk tambahan tempat duduk pelanggan atau keperluan lain." Asisten Kim berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Halaman juga terbilang luas. Bisa digunakan untuk parkir kendaraan atau diberi sentuhan lain untuk memperindah toko."

Viola mengangguk pelan. Semakin jauh ia berkeliling, semakin sulit baginya untuk menyembunyikan ketertarikannya. Tempat ini benar-benar cocok untuk Sweet Cake.

Setelah lebih dari setengah jam berkeliling, mereka kembali ke bagian depan bangunan.

"Bagaimana menurut Anda, Nona?"

Viola menarik napas. "Tempatnya sangat bagus." Ia menatap bangunan itu sekali lagi. "Tapi saya ingin bertanya sesuatu."

"Silakan."

"Siapa sebenarnya pemilik bangunan ini? Saya dengar pemilik sebelumnya baru saja menjualnya kemarin."

Asisten Kim terdiam sejenak.

"Tuan, Saya perlu bertemu dengan pemilik barunya untuk bernegosiasi mengenai harga sewanya," desak Viola tak sabar. "Tolong antar saya menemui beliau."

Ia berharap bisa bertemu langsung dengan pemilik baru bangunan tersebut dan mendapat harga sewa yang cocok.

Asisten Kim berdehem sejenak sebelum berkata. "Nona, sebenarnya pemilik baru bangunan ini adalah Tuan Han sendiri."

Viola membeku. Matanya perlahan melebar, seolah baru saja menyadari sesuatu yang sejak tadi luput dari pikirannya.

"Tuan Han?" tanya Viola memastikan.

"Benar, Nona. Tuan Han baru membelinya dari pemilik sebelumnya," jawab Asisten Kim.

**** Bersambung.

1
-Thiea-
Istighfar seokjin. Nara udah jadi milik orang lain.. /Gosh/
Aegis
itu aja pendapat gue. Sebagai orang yang lebih menikmati kisah yang ada latar belakang dan proses, mending gua baca yang alya aja.
Aegis
iya, pas masih lajang ae bisa jaga jarak, sekarang malah ngrangsek🥴
Aegis
nah, pelecehan seksual
Aegis
terlali denial si seok jong un ini🥴
Aegis
kali ini saya akan lawan🥴🥴🥴
Aegis
udah gue duga, gue paling gak suka sama seok jong un, terlalu gajelas alang ujurnya, makanya gue mutusin gak baca sekuel ini. Soalnya menuruku emang hubungan viola ama seok jong un terlalu dipaksakan. Soalnya di cerita sebelumnya mereka juga gadak kontak sama sekali. Kayak dua kutub magnet yang saling tolak menolak tapi terus didorong, ya jadinya ancur🥴. Ini cuma pendapat pribadi.
Teteh Lia: coba cermati judul na..
total 1 replies
Aegis
udah rusak sih kalo menurut pembaca cowok, gak tau ya kalo cewek. Soalnya rerata pembaca cowok kalo tokoh ceweknya udah disentuh tokoh cowok lain, ya dianggep bekas atau Latjur.🥴 mungkin sebaliknya juga gitu🥴 ini jenis nyesek yang tergantung gender.
Aegis
nah, nyeseknya lebih kerasa di sagara kalo gue.
Aegis
di sini seok jong un udah gak terlalu obses ke nara, kalo dibikin obses, mungkin bakal lebih nyelekit buat viola.
Aegis
kalo penjabarannya lewat berita, pembaca juga cuma kayak lagi baca berita, coba pendekatan konfliknya lebih ke personal, lebih langsung, mungkin bakal lebih kerasa, walau gak secara universal.
Aegis
kalo beneran kejadian, itu ngerusak cerita ini dan sebelumnya
Aegis
paling abid gelud kek biasa
Aegis
karena gue udah tau hubungan antara nara ama seok jong un, terlebih sebagai cowok, gue gak bisa terlalu ngerasain yang dirasain viola, mingkin pembaca cewek lebih ngerti ... di otak gw udah tau, ah palingan salah paham. Kalau beneran kejadian, lebih kerasa nyeseknya ke sagara.
Lisa
Wah jadi kacau semuanya..Seokjin seharusnya bisa mengendalikan dirinya..moga sj berita itu dpt dihentikan
mama Al
ya karena Seok Hyeon mencintai Nara. makanya Poto itu di biarkan di sana
mama Al
iya malas nunggu kalau masih lama
mama Al
Viola sejak ketemu Opa Han jadi sering bepergian ya.
mama Al
iya di beli si Han buat kamu viola
mama Al
Viola belom cerita sama mereka tentang kontrak gedung kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!