Indonesia
NovelToon NovelToon
Rose Of The Underworld

Rose Of The Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:496
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.

Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

Keheningan malam di lantai tiga Blackwood Manor terasa begitu pekat hingga detak jarum jam dinding kuno berbunyi seperti ketukan palu yang konstan.

Cahaya merah redup dari kayu bakar di dalam perapian memproyeksikan bayangan-bayangan panjang di atas plafon kamar yang tinggi.

Evangeline berbaring telentang di sisi kiri tempat tidur berseprai hitam. Meski kelopak matanya terpejam, seluruh indranya tetap bekerja pada tingkat kewaspadaan maksimal.

Setengah meter di samping kanannya, Dominic Blackwood terbaring tenang. Napas pria itu teratur dan dalam, seolah-olah ia telah tertidur lelap.

Namun Eva bukanlah pembunuh amatir. Ia bisa merasakan fluktuasi kecil pada ketegangan otot bahu Dominic, tanda bahwa pria itu pun sama sekali tidak tidur.

Dua predator dalam satu ranjang, sama-sama memasang perangkap rahasia di balik napas yang dipalsukan.

Eva menggeser jemari tangan kanannya pelan di bawah selimut sutra. Ia merasakan lipatan sol sepatu botnya yang kini tersimpan di bawah sisi tempat tidur.

Di sana, pisau serat karbonnya telah disita oleh pengawal Dominic, tetapi akalnya sebagai seorang Ghost Rose tidak pernah kehabisan senjata.

Di balik manset gaun malamnya, Eva telah menyembunyikan sebatang jarum perak pengikat rambut berujung runcing yang sempat ia amankan dari meja rias tadi sore.

"Satu gerakan cepat ke arah arteri karotis di leher kanan Dominic," pikir Eva.

Namun logika dinginnya dengan cepat menekan dorongan impulsif itu. Membunuh Dominic malam ini di dalam kamar berpenjagaan ganda lantai tiga adalah tindakan bunuh diri taktis. Ia tidak akan pernah melangkah keluar dari manor ini hidup-hidup.

Lagipula, misteri tentang dokumen Divisi Eksekusi Khusus - 2012 dan keterkaitan antara almarhumah Lady Vivienne dengan ibunya belum terpecahkan.

Eva memutar tubuhnya perlahan memunggungi Dominic, menatap rintik hujan yang mengalir turun di atas permukaan dinding kaca antipeluru.

Tiba-tiba, sebuah gerakan halus terjadi di sisi kanan tempat tidur.

Kasur berbusa tebal itu sedikit melekuk saat Dominic memiringkan tubuhnya. Tanpa suara, sebuah lengan kekar terulur dari belakang, melingkari pinggang Eva dan menarik tubuh ramping wanita itu rapat ke dada bidangnya.

Eva membeku seketika.

Spontanitas refleks bertarungnya meledak. Jemari Eva mengencang pada jarum perak di mansetnya, bersiap memutarkan tubuh untuk menusuk mata Dominic. Namun sebelum ia sempat bergerak, suara dingin dan berat milik Dominic berbisik tepat di lipatan leher belakang Eva.

"Jangan bergerak," desis Dominic, suaranya sangat rendah dan jernih, mengindikasikan bahwa ia memang tidak pernah tertidur sekejap pun. "Sensor kamera termal di plafon sudut kanan sedang mengirimkan umpan langsung ke ruang pengawas bawah tanah."

Eva menahan napasnya. Sensasi hangat dari dada keras Dominic yang menempel pada punggungnya terasa seperti pijaran api di tengah dinginnya ruangan. Aroma tembakau halus dari tubuh pria itu mengepung seluruh ruang udaranya.

"Kau pikir aku menikmati ini, Nyonya Blackwood?" bisik Dominic lagi, jemarinya di pinggang Eva mengencang, memberikan tekanan yang cukup untuk menegaskan dominasinya sekaligus menjaga posisi mereka terlihat mesra di mata pemindai termal. "Tetua kelompok dan dua komandan pengawal senior sedang memantau apakah pernikahan ini asli atau sekadar sandiwara sandera."

Eva memiringkan wajahnya sedikit, mata hazelnya berkilat tajam di dalam temaram ruangan. "Kau bisa mengusir mereka dari ruang pengawas jika kau memang penguasa di rumah ini, Blackwood."

Dominic terkekeh pelan, sebuah getaran rendah yang terasa langsung di punggung Eva. "Di dalam kekaisaran mafia, rasa curiga adalah cara bertahan hidup. Mereka ingin memastikan bahwa calon pengantin baruku tidak menggorok leherku saat aku terlelap."

"Saran yang sangat rasional dari mereka," balasan Eva dingin, membiarkan jarum perak di tangannya tetap tersembunyi. "Karena itu yang memang ingin kubuka sejak awal."

"Cobalah," bisik Dominic, bibirnya hampir menyentuh daun telinga Eva. "Dan lihat seberapa cepat kau menjadi bangkai sebelum sempat melangkah keluar dari ranjang ini."

Ketegangan listrik berpanas tinggi menyelimuti mereka berdua. Kontak fisik yang intens ini menciptakan ilusi keintiman yang berbahaya, memancing adrenalin yang bertolak belakang antara dorongan membunuh dan kesadaran.

Eva memutuskan untuk memainkan perannya. Ia menyandarkan punggungnya sedikit lebih rileks pada dada Dominic, memalsukan ketundukan seorang istri, seraya berbisik pelan.

"Kalau begitu, berhentilah bernapas terlalu keras, Tuan Blackwood. Kau mengganggu konsentrasiku menyusun rencanaku membunuhmu."

Dominic menyunggingkan senyum tipis di kegelapan. Ia tidak melepaskan pelukannya di pinggang Eva hingga larut malam membebat seluruh Manor dalam keheningan yang panjang.

...****************...

Pagi hari menyingsing di atas Blackwood Crest dengan warna abu-abu keperakan. Kabut tebal masih menggantung rendah di antara ranting-ranting pohon pinus ketika lonceng kediaman berdentang lima kali.

Eva sudah terbangun sepenuhnya sejak sebelum fajar. Saat ia membuka mata, posisi Dominic sudah kosong. Sisi kanan tempat tidur telah rapi, dan suara gemericik air terdengar dari balik pintu kaca buram kamar mandi utama.

Eva bangkit berdirinya, merapikan gaun malamnya, dan melangkah pelan menuju sudut ruangan tempat meja rias berada. Ia memeriksa jarum peraknya, masih terselip aman.

Klek.

Dominic keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk hitam di pinggangnya. Tetesan air mengalir turun dari dada berototnya yang dipenuhi beberapa bekas luka tembak dan sabetan senjata tajam masa lalu, bukti nyata dari kehidupan berdarah yang ditempuhnya untuk mencapai puncak kekuasaan.

Dominic melirik ke arah Eva yang berdiri di dekat meja rias. Pandangannya bergeser pada leher mulus wanita itu yang kini bebas dari liontin mawar.

"Jamuan makan siang dengan pimpinan tiga faksi utama akan dilaksanakan pukul satu siang di ruang makan utama," kata Dominic datar seraya mengambil kemeja putih bersih dari lemari dinding. "Kau akan duduk di samping kananku."

Eva mengamati garis-garis luka di punggung Dominic saat pria itu mengenakan kemejanya. "Siapa saja tiga faksi itu?"

Dominic memutar tubuhnya, mengancingkan kemejanya dengan gerakan cepat dan teratur. "Faksi Rossi dari wilayah pelabuhan, Konsorsium Valenti dari distrik keuangan, dan Faksi Vane keluarga dari kepala pengurus rumah tangga kita, Madam Vane."

Eva menaikkan alisnya halus. Madam Vane?

"Madam Vane bukan sekadar pengawas pelayan di manor ini," lanjut Dominic, matanya menyempit dingin.

"Keluarganya memegang kendali atas jaringan logistik dan penyelundupan senjata di distrik barat. Nenekku memberinya posisi di manor ini sebagai bagian dari perjanjian damai sepuluh tahun lalu."

Informasi ini dengan cepat dicatat oleh memori Eva. Rumah ini bukan sekadar benteng tempat tinggal, ini adalah sarang ular tempat berbagai faksi saling mengintai dan menanamkan mata-mata.

"Apa yang kau harapkan dariku di meja makan itu?" tanya Eva.

"Bermainlah sebagai wanita anggun yang jatuh cinta padaku," sahut Dominic sinis, melangkah mendekati Eva seraya memasang jam tangan emasnya.

"Faksi Valenti dan Vane menaruh kecurigaan besar pada identitas aslimu sebagai Evie Thorne. Mereka akan memprovokasi dan mengujimu. Jika kau menunjukkan sedikit saja gestur bertarung atau penyamaranmu terbongkar..."

Dominic menyentuh dagu Eva pelan, menatap matanya dari jarak dekat. "...mereka akan menuntut eksekusimu di tempat berdasarkan hukum konsorsium, dan bahkan nenekku tidak akan bisa membatalkannya tanpa memicu perang terbuka."

Eva membalas tatapan itu dengan senyuman anggun yang sangat memikat, senyuman yang telah dipikirkannya matang-matang untuk penyamaran tingkat tinggi.

"Jangan khawatir, Suamiku," bisik Eva dengan nada suara yang berubah menjadi begitu lembut dan penuh kepatuhan. "Aku adalah aktris terbaik yang pernah kau temui."

Dominic menatap wajah anggun Eva selama beberapa detik. Ada riak keterpukauan yang tertahan di balik mata kelamnya sebelum ia berpaling dan berjalan menuju pintu kamar.

"Ganti pakaianmu. Gaun untuk makan siang sudah disiapkan di ruang ganti," tutup Dominic sebelum melangkah keluar.

Pukul satu siang.

Ruang makan utama Blackwood Manor adalah sebuah aula megah beratap tinggi dengan dinding berlapis kayu jati ukir dan meja makan panjang dari kayu mahoni utuh yang sanggup menampung tiga puluh orang. Di atas meja, deretan perlengkapan makan dari perak murni dan gelas kristal tersusun rapi.

Di ujung meja utama, duduk Dominic Blackwood sebagai tuan rumah. Di sebelah kirinya duduk Lady Eleanor yang tampak anggun dengan gaun beludru hijau zamrud, sementara Eva duduk tepat di sebelah kanan Dominic, mengenakan gaun berpotongan tinggi berwarna merah marun yang mempertegas keanggunan wajahnya.

Tiga pemimpin faksi telah hadir di hadapan mereka.

Don Sergio Rossi, Pria paruh baya bertubuh tambun dengan kumis tebal dan mata licik, penguasa wilayah pelabuhan.

Vincent Valenti, Pria muda flamboyan berpakaian serba mahal, kepala konsorsium keuangan yang mengontrol pencucian uang.

Madam Vane, Kepala pengurus rumah tangga manor yang kini duduk sebagai perwakilan resmi Faksi Vane, mengenakan gaun hitam kaku dengan pandangan mata yang tajam.

Suasana makan siang berlangsung hangat di permukaan, namun sarat akan ketegangan mematikan di bawah meja. Denting pisau dan garpu perak beradu halus dengan piring porselen saat hidangan utama disajikan.

"Pernikahan yang sangat mendadak, Tuan Dominic," Vincent Valenti membuka percakapan, meletakkan gelas wine-nya seraya menatap Eva dengan pandangan menilai yang tidak sopan.

"Kami di distrik keuangan bahkan tidak pernah mendengar nama Nona Evie Thorne tercantum dalam daftar keluarga elit di pantai timur."

Dominic memotong daging stiknya dengan santai, tidak menoleh pada Vincent. "Cinta tidak membutuhkan pendaftaran aset di bankmu, Valenti."

Don Sergio Rossi terkekeh kasar, suara tawanya memenuhi ruangan. "Tapi hukum konsorsium membutuhkan transparansi, Dominic. Seorang gadis dari distrik luar mendadak masuk ke dalam kamar utama Blackwood Manor? Rumor di luar menyebutkan gadis ini ditangkap beberapa hari lalu di galeri seni sebagai penyusup!"

Lady Eleanor meletakkan serbet kainnya dengan gerakan tenang namun penuh wibawa, memotong tawa Don Sergio.

"Rumor itu disebarkan oleh orang-orang bodoh yang tidak tahu cara menghormati privasi keluarga kami, Don Sergio," kata Lady Eleanor tegas. "Evie adalah tamu kehormatanku. Dia berada di galeri seni atas undanganku."

Madam Vane yang sejak awal memperhatikan cara Eva memegang pisau makan tiba-tiba angkat bicara. Suaranya yang nyaring dan dingin memotong percakapan.

"Nona Evie..." kata Madam Vane, matanya yang tajam mengunci mata hazel Eva. "Cara Anda memegang pisau daging itu sangat menarik. Jemari Anda menempel pada pangkal bilah dengan posisi fleksor yang sangat ketat, posisi yang biasa digunakan oleh para eksekutor lapangan untuk melancarkan tusukan cepat."

Ruang makan mendadak hening seketika.

Don Sergio dan Vincent Valenti memicingkan mata mereka, sementara para pengawal yang berdiri di sepanjang dinding ruangan secara refleks meraba sarung senjata di balik jas mereka.

Dominic menahan gerakan pisau makannya. Pandangan mata kelamnya melirik tajam ke arah Eva dari sudut matanya, menguji bagaimana wanita itu akan keluar dari jebakan pertanyaan Madam Vane.

Eva tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.

Dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang, Eva meletakkan pisau dan garpu peraknya di atas porselen dengan ketukan pelan yang halus. Ia merapikan gaun merah marunnya, lalu menatap lurus ke dalam mata Madam Vane dengan senyuman tipis yang memikat.

"Anda memiliki pengamatan yang sangat cermat, Madam Vane," suara Eva terdengar lembut, merdu, dan penuh percaya diri. "Almarhum ayah saya adalah seorang ahli bedah di distrik luar. Sejak kecil, beliau mengajari saya cara memegang pisau bedah dengan presisi agar tangan tidak gemetar saat memotong jaringan halus."

Eva memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya bergeser menatap tiga pemimpin faksi itu satu per satu dengan ketenangan.

"Apakah ada aturan di konsorsium ini yang melarang putri seorang dokter bedah untuk mencintai pimpinan kalian?" tanya Eva pelan namun menusuk.

Lady Eleanor menyunggingkan senyum puas yang lebar, sementara Dominic menarik napas pelan, terkesan oleh kebohongan spontan Eva yang begitu rapi dan tidak bisa dibantah di tempat.

Madam Vane memicingkan matanya keras, namun ia tidak memiliki bukti fisik untuk menyangkal alibi tersebut. "Tentu saja tidak, Nyonya Muda. Saya hanya kagum pada ketenangan Anda."

"Terima kasih, Madam Vane," sahut Eva manis.

Namun sebelum ketegangan di meja makan melunak sepenuhnya, seorang pengawal bergegas masuk dari pintu samping aula. Pengawal itu membungkuk di samping kursi Dominic, membisikkan sesuatu dengan raut wajah yang sangat cemas.

Garis rahang Dominic mendadak menegang keras. Mata kelamnya mendadak meletupkan kilatan bahaya yang murni.

Dominic berdiri dari kursinya, membuat seluruh tamu di meja makan menatap ke arahnya.

"Ada gangguan kecil di gudang sektor empat," kata Dominic dingin, suaranya mengandung ancaman yang membuat udara di ruang makan membeku.

"Jamuan makan siang selesai. Para pengawal akan mengantar kalian ke kendaraan masing-masing."

Dominic memutar tubuhnya, namun sebelum melangkah keluar, tangannya meraih pergelangan tangan Eva dan menariknya ikut serta.

"Kau ikut denganku, Nyonya Blackwood," bisik Dominic di telinga Eva dengan nada yang sangat serius.

Eva mengikuti langkah cepat Dominic menuju koridor belakang yang sepi. "Apa yang terjadi di sektor empat?"

Dominic berhenti di depan pintu lift pribadi, membalikkan tubuhnya dan menatap Eva dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Seseorang baru saja membobol gudang arsip lama kita di pelabuhan," desis Dominic rendah. "Dan pengusung yang tewas di sana... dibunuh menggunakan belati bertakik lima duri."

Jantung Eva berdesir hebat. Belati lima duri, Simbol pembunuh ibunya

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!