Yun Luofeng dikenal sebagai sampah Klan Yun—tak bisa berkultivasi, tergila-gila pada Putra Mahkota, bahkan menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Kekaisaran.
Namun setelah sebuah percobaan bunuh diri, Yun Luofeng yang lama telah tiada.
Kini, di dalam tubuhnya hidup seorang genius medis dari dunia lain, membawa Kitab Dewa Medis dan rahasia yang mampu mengguncang Benua Longxiao.
Mereka bilang dia sampah? Dia akan menjadi kultivator yang membuat para genius menundukkan kepala.
Mereka menghina keluarganya? Dia akan membuat mereka membayar.
Dan Putra Mahkota yang membuangnya?
Maaf, bahkan untuk menjadi pelayannya pun belum tentu memenuhi syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwinanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 — HANYA AKU YANG BOLEH MELATIHMU
Perasaan aneh mengusik Yun Luofeng sepanjang perjalanan menuju kamarnya di pegunungan belakang.
Biasanya Yun Xiao akan muncul begitu dia kembali. Karena pria itu tidak terlihat malam ini, sempat terlintas kemungkinan sesuatu telah terjadi kepadanya.
Namun begitu Yun Luofeng mendorong pintu kamar, dia sadar kekhawatirannya sia-sia.
Cahaya bulan menerobos jendela dan menyinari sosok tinggi berpakaian hitam yang berdiri di dalam kamar. Yun Xiao menatapnya tanpa berkedip.
“Kau sudah kembali?”
“Ya.” Yun Luofeng mengangkat alis. “Kau menungguku?”
“Aku membawa sebuah buku.”
Yun Xiao mengangkat buku bersampul kuning di tangannya.
“Aku ingin mempelajarinya bersamamu.”
Tatapan Yun Luofeng jatuh pada buku tersebut.
Bukankah itu buku bergambar tentang hubungan pria dan wanita yang pernah ditanyakan Yun Xiao?
Dia kembali menatap pria itu dengan ekspresi aneh.
“Yun Xiao, kau sengaja membawa buku itu ke kamarku dan mengajakku mempelajarinya bersama?”
Yun Xiao mengangguk jujur.
“Benar.”
Yun Luofeng hampir tertawa.
Dia berjalan maju dan mendesak Yun Xiao hingga punggung pria itu menempel ke dinding.
“Apakah kau tahu isi buku yang sedang kau pegang?”
Yun Xiao akhirnya merasakan ada sesuatu yang salah.
“Lin Qiong yang memberikannya kepadaku. Dia mengatakan buku ini harus dipelajari oleh dua orang bersama-sama.”
“Lin Qiong?”
“Bawahanku.”
Yun Luofeng sebenarnya sudah menduga Yun Xiao bukan orang biasa. Namun karena Xiao Mo pernah memastikan pria itu tidak memiliki niat buruk terhadapnya, dia tidak pernah mendesak Yun Xiao mengungkap identitasnya.
“Jadi kau percaya begitu saja kepada bawahanmu?”
Yun Xiao terdiam.
Kedekatan mereka membuat tubuhnya kembali terasa panas. Aroma lembut dari Yun Luofeng memenuhi penciumannya, menciptakan sensasi asing yang belum pernah dia alami.
Yun Luofeng tiba-tiba teringat sesuatu.
“Yun Xiao, kebakaran di Kediaman Mu... apakah itu perintahmu?”
Pria itu tidak menyangkal.
“Mereka membuatmu tidak bahagia.”
Tatapannya tetap tenang seolah yang dibicarakan hanyalah persoalan sepele.
“Semua orang yang membuatmu tidak bahagia pantas mati. Tapi karena kau ingin membalas mereka sendiri, aku tidak membunuh siapa pun.”
Yun Luofeng terdiam.
Dia telah menjalani dua kehidupan, tetapi baru kali ini bertemu seseorang yang bisa mengatakan kalimat semacam itu dengan begitu sederhana.
Senyum perlahan muncul di bibirnya.
“Bukankah kau datang untuk mempelajari buku itu?”
Yun Luofeng mundur sedikit.
“Bukalah. Kalau ada yang tidak kau pahami, aku akan menjelaskannya.”
Yun Xiao menurut.
Begitu halaman pertama terbuka, tubuhnya langsung membeku.
Gambar di dalamnya membuat pria yang biasanya sedingin es itu akhirnya memahami bagaimana Lin Qiong telah mempermainkannya.
“Lin Qiong...”
Nama itu keluar dari mulutnya dengan suara rendah.
Jari-jarinya mencengkeram buku semakin erat.
Sementara itu, Yun Luofeng memperhatikannya dengan senyum geli.
Yun Xiao hendak menjelaskan, tetapi ketika menoleh, dia justru bertemu dengan tatapan penuh godaan Yun Luofeng.
“Masih ingin mempelajarinya bersamaku?”
Wajah Yun Xiao tetap kaku, tetapi telinganya mulai memerah.
Gambar-gambar yang baru dilihatnya mendadak muncul kembali dalam pikirannya. Ditambah kedekatan Yun Luofeng, ketenangan yang selama ini selalu dimilikinya mulai goyah.
Yun Luofeng melihat perubahan tersebut dan akhirnya mundur.
“Anggap saja ini hukuman karena datang ke kamarku membawa buku semacam itu.”
Dia terkekeh.
“Lain kali jangan sembarangan mempercayai Lin Qiong.”
“Baik.”
“Kalau kau tidak menyukainya, aku bisa mengusirnya,” jawab Yun Xiao serius.
“Tidak perlu.”
Yun Luofeng kembali mendekat dan menatap langsung ke matanya.
“Ingat saja satu hal.”
Senyumnya berubah penuh arti.
“Kalau menyangkut hal seperti ini, hanya aku yang boleh melatihmu.”
Setelah puas melihat Yun Xiao kembali kehilangan ketenangannya, Yun Luofeng melepaskannya.
“Sudah. Aku ingin tidur.”
Yun Xiao menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan kamar.
Begitu pintu tertutup, suara Xiao Mo langsung terdengar dalam benaknya.
“Nona! Kesempatan sebagus itu kenapa dilepaskan?”
Yun Luofeng tertawa kecil.
“Yun Xiao masih terlalu polos.”
“Tapi dia patuh kepadamu, kuat, fisiknya istimewa, dan belum pernah dekat dengan wanita lain. Apa lagi yang kurang?”
Xiao Mo terdengar benar-benar tidak mengerti.
Terlebih lagi, konstitusi Yun Luofeng dan Yun Xiao sangat cocok. Kultivasi berpasangan bahkan bisa memberikan manfaat besar bagi perkembangan kekuatan mereka.
“Memangnya aku harus melakukan sesuatu hanya karena itu menguntungkan kultivasi?”
Yun Luofeng merebahkan tubuh di tempat tidur.
“Aku memang tertarik kepadanya, tetapi belum sampai pada tahap itu. Biarkan semuanya berkembang dengan sendirinya.”
Xiao Mo akhirnya terdiam.
***
Di halaman Kediaman Yun, suara air mendadak memecah kesunyian.
Yun Xiao menjatuhkan dirinya ke dalam danau yang dingin.
Beberapa saat kemudian, barulah kegelisahan dalam tubuhnya perlahan mereda. Dia keluar dari air dengan pakaian hitam yang basah kuyup dan rambut meneteskan air.
“Lin Qiong.”
Suara dinginnya terdengar di tengah malam.
Sebuah bayangan muncul tidak jauh darinya.
“Tuan.”
“Tambah hukumanmu.”
Tubuh Lin Qiong menegang.
Dia tidak perlu bertanya untuk memahami penyebabnya.
“Baik, Tuan.”
Bayangan itu segera menghilang.
Yun Xiao hendak pergi ketika melihat buku kuning yang tadi dilemparkannya di tepi danau.
Dia menatapnya cukup lama.
Akhirnya pria itu membungkuk, mengambil buku tersebut, lalu membawanya pergi.
***
Keesokan paginya, Paviliun Medis kembali dipenuhi pengunjung.
Sejak Ramuan Pengumpul Energi mulai dijual, hampir setiap hari para kultivator datang sejak pagi demi mendapatkannya sebelum persediaan habis.
Di ruangan bagian dalam, Tetua Rong sedang menerima dua tamu.
Mereka adalah Tetua Ning dan cucunya, Ning Xin.
Tetua Rong memperhatikan wajah sahabat lamanya dengan heran. Lelaki tua yang sebelumnya selalu terlihat sakit-sakitan kini tampak jauh lebih segar.
“Melihat keadaanmu, sepertinya perjalananmu tidak sia-sia. Kau sudah menemukan tabib?”
Tetua Ning tertawa.
“Benar. Aku menemukan seorang tabib luar biasa. Dia memang bukan orang yang kita kenal sebelumnya, tetapi kemampuannya jauh melampaui perkiraanku. Penyakitku hampir bisa dianggap menemukan jalan menuju kesembuhan.”
Tetua Rong terlihat lega.
“Baguslah. Selama ini aku merasa bersalah karena Paviliun Medis tidak mampu menyembuhkanmu.”
Kemudian senyum misterius muncul di wajahnya.
“Namun sebenarnya, aku juga baru menemukan seorang tabib genius. Aku baru kembali pagi ini setelah mengurus beberapa hal berkaitan dengannya.”
Tetua Ning mengangkat alis.
“Tabib genius?”
“Benar.”
Nada Tetua Rong dipenuhi kekaguman.
“Usianya masih sangat muda, tetapi pengetahuannya luar biasa. Bahkan Racun Man Luo yang membuat Paviliun Medis tidak berdaya berhasil dia pecahkan.”
Tetua Ning terkejut.
Kebetulan yang menarik.
“Longyuan rupanya menyembunyikan lebih banyak genius daripada yang kukira.”
Dia mengelus janggutnya sambil tersenyum.
“Tabib yang kutemui juga seorang gadis muda yang luar biasa. Dia sudah berjanji akan menyembuhkan penyakitku sepenuhnya, jadi aku tidak perlu merepotkan tabib yang ingin kau kenalkan.”
Tetua Rong tertawa.
“Kalau begitu, aku malah penasaran. Tabib mana yang lebih hebat—orang yang kau temukan atau genius yang kukenal?”
Tetua Ning ikut tertawa.
“Kalau ada kesempatan, kita bisa mempertemukan keduanya.”
Ning Xin yang duduk di samping hanya tersenyum mendengar percakapan mereka.
Tak seorang pun di ruangan itu menyadari betapa lucunya perbandingan tersebut.
Tetua Rong membanggakan tabib misterius yang mampu memecahkan Racun Man Luo.
Tetua Ning membanggakan gadis yang menyelamatkan nyawanya hanya dengan beberapa jarum.
Namun tabib yang sedang mereka perdebatkan sebenarnya bukan dua orang berbeda.
Keduanya sedang membicarakan gadis yang sama.
Yun Luofeng.
......................
Bersambung...